Dukung Penertiban Rumah Ibadah

Masih ingat kasus GKI Yasmin? Itu lho Gereja yang dilarang oleh Diani Budiarto sang hyang walikota Bogor.

Sampai kemarin juga masih bermasalah. Sepertinya memang akan dibiarkan berlarut-larut karena Bapak chubby nan tak tegas dari Cikeas tidak tampak bakal melakukan sesuatu yang keras. Mungkin beliau mencontoh prilaku Tuhan yang gemar membiarkan konflik, tidak pernah turun menengahi, terutama ketika semua pihak yang bertikai sama-sama mengatasnamakan namaNya.

Dan konflik sejenis pasti akan terus berulang selama aturannya tidak jelas.

Menurut saya, harus segera dibuat peraturan yang tegas dan jelas serta keras untuk menertibkan rumah-rumah ibadah. Tidak terbatas pada gereja, tapi juga terhadap masjid dan rumah-rumah ibadah dari agama dan sekte apapun. Terhaadp semuanya tanpa pandang bulu.

Harus diatur jarak yang aman dari pemukiman/peradaban, terutama soal berapa besar gangguan yang boleh ditimpakan pada lingkungan sekitar.

Misalnya urusan parkir, mungkin punglinya menyenangkan tukang parkir liar, tapi separah apa kemacetan yang dihasilkan? Harus diatur supaya tidak jadi ajang pamer mobil mewah yang diparkir sampai ketengah jalan.

Juga masalah polusi suara. Sebagian besar umat mungkin yakin bahwa semakin keras kita berdoa maka bakal semakin didengar Tuhan. Tapi kegiatan doa harus diatur agar tidak mengganggu ketenangan atau bahkan merusak kesehatan organ pendengaran warga sekitar.

Dengarkan doaku, Lah!!!

Khusus untuk polusi suara dari rumah ibadah, saya termasuk salah satu korbannya. Kebetulan dibeberapa tempat dimana saya numpang tidur selalu dekat rumah ibadah yang jamaahnya rajin sekali berdoa pakai pengeras suara yang disetel sekeras-kerasnya.

Dari jarak kira-kira setengah kilo meter lebih, menggunakan aplikasi Sound Meter, saya coba ukur berapa desibel polusi suara yang dipancarkan. Ternyata radiasi yang diterima masih lebih dari 70dB. Seorang ibu bahkan dapat berdoa dengan kekuatan lebih dari 80dB nonstop selama lebih dari satu menit. Dan biasanya, acara doa berlangsung lebih dari 2 (dua) jam!!! Betapa sangat amat tidak nyaman di telinga. Bayangkan jika di sekitar rumah ibadah ada warga yang  sakit gigi atau kanker darah dan sangat butuh beristirahat.

Jika punya akses ke gadget ber-Android, cobalah Anda install aplikasi yang dibutuhkan, lalu ukur berapa kekuatan doa yang dipancarkan rumah ibadah sekitar Anda. Semoga nanti bisa kita jadikan masukkan untuk Pak Dian yang sedang bersemangat menertibkan rumah-rumah ibadah. Jika perlu, kita ajukan juga datanya ke DPR plus media mainstream agar dapat segera ditindaklanjuti dan dipublikasi secara nasional.

Yuk, mari kita dukung penertiban rumah-rumah ibadah yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan umat manusia.

Link terkait:

- – - – - – -

Btw, gambar ilustrasi dicomot dari Weasel Zippers

Menuju DPD yang Eksis dan Bermanfaat

Seandainya saya menjadi anggota DPD RI, pertama-tama saya akan malu. Karena sebagaimana kita lihat di lapangan, banyak yang tak tahu DPD itu apa dan untuk apa. Sangat amat tidak eksis di hati rakyat.

Bagi sebagian dari yang tahu, DPD hanyalah simpul aneh birokrasi yang menghabiskan uang rakyat tanpa punya manfaat  jelas. Hanya magabut. Makan gaji buta. Bahkan lomba “Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI” juga dituduh sekedar ritual menghabiskan sisa anggaran akhir tahun, sebagaimana yang biasa terjadi di berbagai departemen negara ini.

Tentu tak semua salah DPD. Yang menganggap magabut mungkin belum tahu bahwa  keterbatasan dan ketidakjelasan dari fungsi, tugas dan wewenang memang dapat dijadikan pembenaran untuk magabut. Magabut sambil menunggu “orang pusat” yang kerjanya luar biasa lambat.

Padahal, DPD itu perwakilan yang (harusnya) paling dekat dengan rakyat.

Sekarang, dengan segala keterbatasan dan ketidakjelasan yang ada, apa yang dapat dilakukan agar manfaat dan eksistensi DPD dapat lebih dirasakan rakyat?

Caranya dengan mengajak semua anggota DPD untuk dengan segala cara segera mewujudkan beberapa poin berikut ini:

  1. Hubungkan setiap desa dengan internet, tentunya dengan kecepatan yang sesuai perkembangan zaman. Yang wajib terhubung pertama kali adalah kantor desa dan sekolah-sekolah. Sediakan wifi dan fasilitasi warga yang belum mampu terhubung dengan hardware sendiri.
  2. Latih setiap aparat desa hingga efektif menggunakan internet terutama untuk menyampaikan perkembangan terkini pada ‘kita’. Berhasil sampai poin ini saja akan membuat DPD selalu awas akan perkembangan terkini dari tiap pelosok yang diwakili. DPD segera tahu apa yang harus diperbaiki, dikembangkan, dipromosikan, dipasarkan. Semuanya tanpa boros keliling secara fisik.
  3. Pandu dan fasilitasi warga untuk memanfaatkan internet dalam menemukan informasi-informasi yang dapat meningkatkan usahanya, lingkungannya dan kualitas hidupnya. Misalnya, hubungkan petani secara online, selain dengan sesamanya juga dengan pakar-pakar pertanian, sumber bibit, penjual pupuk dan pestisida termurah terbaik, hingga ke informasi pemasaran. Itu akan menekan biaya tanam, membebaskan dari ketergantungan pada tengkulak yang zalim, meningkatkan kualitas panen, memudahkan pemasaran dan akhirnya meningkatkan kualitas hidup mereka.
  4. Buka portal untuk mendengar aspirasi rakyat (sekaligus untuk kontrol atas kinerja aparat di lapangan). Pastikan nasib suara rakyat yang masuk lebih baik dari yang selama ini ternistakan di SMS9449. Libatkan pakar yang ahli dalam bidang “customer care”. Publikasikan juga hasil kerja DPD disitu secara buka-bukaan. Poin 4 ini terpenting karena akan membedakan nasib kita dari negara macam USA dimana internet lebih merata tapi korup dan budegnya pemerintahan tetap luar biasa.

Terwujudnya 4 poin diatas akan membuat DPD mampu mendengar dan merespon aspirasi rakyat dengan lebih cepat.

Lebih dekat dengan rakyat, DPD akan jadi lebih eksis dan lebih bermanfaat.

Oh, untuk menekan biaya secara luar biasa dan menjauhkan calo, konsultasi dan libatkan orang-orang seperti Onno Purbo. Biaya yang harusnya milyaran untuk setiap menara komunikasi dapat ditekan hingga puluhan juta saja. Turunnya nilai rupiah tentu tidak  disukai oleh oknum-oknum yang biasa mendapat sekian persen dari total transaksi. Tapi sekali-sekali, semua bekerja serius untuk rakyat kan bakal terlihat bagus :)

Sekian, terima kasih.

Indahnya Keberagamaan

Klik gambar untuk memperbesar

Rencananya, jika natal nanti Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin menggelar puji-pujian untuk Tuhan, maka sekitar 2000-3000 massa Keluarga Muslim Bogor (KMB) sudah siap untuk bergabung dan ikut menggelar puja-puji bagi Tuhan di depan bangunan gereja.

Indah sekali bukan? Walau beda agama, beda doktrinasi, beda cara, sering bertengkar, tapi akhirnya sudi menggelar puji-pujian bersama di lokasi yang sangat berdekatan. *terharubiru*

Malam itu pasti akan banyak yang terharu karena fenomena kebersamaan yang sangat tidak biasa. DAN pasti banyak yang bakal terperangah karena agama mulai berubah, yang tadinya cuma pupuk fanatisme, alat pemicu konflik, dan senjata pengalih perhatian mainan penguasa… ternyata mulai berubah menjadi alat pemersatu rakyat !

Keren.

Tuhan pasti juga akan bergembira ria karena bergelimang pujian dari ribuan manusia yang berkumpul  di sana :))

Selamat Natal,
Selamat Tahun Baru,
Semoga kedamaian…
dan akal sehat selalu mewarnai setiap langkah kita
.

Diskriminasi HIV Don Bosco dari berbagai sudut

Immi batal sekolah di Don Bosco karena Ayahnya mengidap AIDS/HIV positif.

Dilihat dari pihak keluarga Immi, ini jelas diskriminasi. Yang HIV positif kan hanya Ayah, kenapa Immi yang sehat dan bebas HIV tidak boleh sekolah di situ?

Ini SMS pemecatan yang diberitakan Detik:

Yth Bpk/Ibu orangtua Zipporah Imogen Divine. Setelah rapat dengan Team dan Koord Penerimaan Siswa Baru yayasan kami dengan berat hati memutuskan bahwa kami membatalkan keputusan menerima Imi sebagai calon siswa SDDon Bosco 1 Kelapa Gading. Hal ini disebabkan beberapa calon orangtua siswa lain menolak keberadaan Imi. Mohon maaf dan pengertiannya. Hartanto SD DB 1.

Immi sudah diterima sebagai siswa, sudah siap-siap jadi murid di sekolah yang sepertinya keren. Tapi karena ada beberapa calon orang tua siswa lain menolak, dia pun batal diterima di sekolah impian.

Sebagai orang empatik, saya jelas prihatin…

Tapi saya juga lumayan rasional, karena itu saya juga mencoba melihat (dan menduga-duga) bagaimana jika kasus ini dilihat dari sudut-sudut yang lain.

Pertama, mencoba memahami pikiran orang tua murid yang menolak Immi.

Mungkinkah mereka khawatir anaknya ketularan HIV? Kira-kira apa sih pembenaran penolakan itu?

Kemungkinannya kecil sekali jika anak usia SD bakal ngeseks sembarangan dengan sesamanya. Kemungkinan yang lebih besar mungkin justru dari resiko si anak jadi korban pelecehan seksual bertema agama. Tapi kasus macam itu pelakunya pasti orang yang lebih tua dan lebih ngerti agama, bukan anak seumuran.

Oke, kemungkinan tertular lewat aktivitas seks memang kecil. Tapi kan HIV juga menular melalui kontak darah!! Siapa tahu suatu hari ada wabah zombie, lalu Ayah yang sudah jadi zombie menggigit Immi, lalu Immi yang kemudian berubah jadi zombie tetap berangkat sekolah dan menggigit semua guru dan teman-temannya… Darah-darah berceceran dan muncrat kemana-mana… Tuh, bisa ketularan HIV juga kan?

Aih… Alasan gila nan paranoid itu tentu saja bikinan saya  sendiri. Tapi ketakutan memang bisa dimengerti kok.

Namanya orang tua pasti selalu khawatir dengan keselamatan anak-anaknya. Pasti ingin melindungi anaknya dari segala ancaman, mulai dari penyakit hingga api neraka. Bahkan kalau perlu akan melakukan kekerasan dan mengorbankan pihak lain, sebagaimana yang beberapa orang tua lakukan terhadap Immi. Kalau ketakutan sudah terlalu pekat, pasti sulit bikin keputusan menggunakan akal sehat.

Kedua, sekarang lihat coba dari sudut pandang bisnis.

Andaikan saya pedagang yang punya pelanggan cuma sekian ratus. Lalu sebagian konsumen bersepakat untuk memaksa saya berhenti menjual pada seseorang, sebutlah namanya X. Menurut Anda, apa pilihan saya?

Jika saya membela hak X, sekelompok konsumen pemaksa tadi mungkin akan berhenti jadi pelanggan saya dan beralih ke pedagang lain. Lebih parah, mungkin menyebarkan kebenciannya dan memprovokasi konsumen lain untuk beramai-ramai meninggalkan dagangan saya. Bisnis saya terganggu. Dapur saya terganggu. Kelangsungan hidup saya terancam.

Demi kelestarian hidup saya, pasti saya cenderung untuk patuh. Daripada bisnis terancam lebih baik mengorbankan si X.

Segitu tanpa sedikitpun membahas alasan ketidaksukaan pada X lho!

Dan mungkin memang tak perlu alasan. Karena alasan se-rasional atau se-absurd apapun, ancaman yang ditimbulkan terhadap kelangsungan bisnis saya sudah sangat jelas. Dan itu akan jadi pertimbangan utama saya dalam membuat keputusan.

Wajar sih. Lembaga apapun dimanapun, pasti cenderung bikin keputusan yang berpihak pada kelestarian diri. Lembaga agama, sampai negara sekalipun selalu berusaha menjaga kelestarian dirinya. Dengan segala cara.

Mungkin saja pihak yayasan juga merasa seperti itu. Mungkin tak ada gunanya menjelaskan bahwa Immi sehat dan kecil sekali kemungkinannya bakal menularkan HIV pada anak lain. Mungkin malah sudah berusaha menjelaskan, tapi apa daya, orang tua siswa lain sudah terlanjur dikuasai ketakutan hingga tidak mampu lagi menerima penjelasan rasional. Akhirnya mengorbankan Immi jadi satu-satunya pilihan demi keselamatan sebanyak mungkin pihak.

Ketiga dan terakhir deh, sudah mulai terlalu panjang nih.

Ini bagian yang paling saya suka. Dari sudut pandang saya sendiri. Setelah sok adil dan merasa sudah melihat dari beberapa sisi lain, sekarang waktunya bikin opini subyektif yang penuh penghakiman…

Menurut saya Immi sekeluarga tak perlu terlalu kecewa. Toh sekolah yang menolak Immi sepertinya tidak bagus-bagus amat. Paling tidak menurut penilaian saya begitu.

Bisa dicek di situs resminya. Halaman kurikulum agama jauh lebih diperhatikan daripada kurikulum ilmu pengetahuan yang lain. Halaman agama diisi penuh penjelasan, sedangkan halaman ilmu pengetahuan lain, terutama IPA dibiarkan kosong. Jika situs tersebut memang mewakili sekolah, sepertinya terlalu berat pada pelajaran agama. Setidaknya hingga jam 13 WIB, 2 Desember 2011 masih terlihat seperti itu.

Tentu tidak adil menilai sebuah sekolah hanya dari situs resminya. Tapi tetap saja, pengunjung kurang berpendidikan macam saya bakal tergoda bertanya, bagaimana sikap lulusan SD tersebut terhadap sains? Bagaimana pula opininya terhadap teori evolusi? Hehe.

Sedikit soal agama dan anak-anak. Setahu saya sih, doktrinasi agama tidak baik jika dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur. Penggunaan terror dan ketakutan untuk menguasai dan mengendalikan manusia itu klasik banget, sudah saatnya mulai kita tinggalkan… Kecuali kalau tujuan kita memang ingin membonsai dan memperbudak.

Sudah lah, kembali pada masalah Immi.

Soal Ayah akan menuntut, atau berbagai pemberitaan atau pemelintiran oleh media, atau DPR yang semoga serius dengan sikapnya, biarlah semuanya bergulir. Yang penting jangan lupa untuk segera cari sekolah pengganti.

Buat Immi, kalau bisa cari sekolah tuh yang siswa-siswanya punya orang tua keren, berpikiran terbuka dan tidak diperbudak oleh ketakutan.

Awas lho, anak-anak biasanya cederung mengikuti apapun contoh orang tuanya. Kalau orang tuanya pada baik, empatik, rasional dan apresiatif, mungkin sekali teman-teman kamu juga sifatnya baik hati, sekalipun bukan dari kalangan berduit. Sebaliknya, jika orang tuanya fanatik, kejam, tega atau sakit jiwa seperti dalam sinetron…? Hiiy, seraaam. Biar kaya raya, halus mulus seputih keramik tetep aja amit-amit, alamat buruk buat kesehatan jiwa dan pikiran. Jangan sampai terjebak dalam pergaulan dengan anak-anak seperti itu.

Ups… Barusan itu juga sebuah penghakiman tidak fair terhadap anak berdasarkan sifat orang tua lho… hehe. Sebenarnya hampir sama saja kok. Sebagaimana orang tua HIV belum tentu anaknya HIV,  maka orang tua bersifat jahat, belum pasti juga anaknya bakal mewarisi semua sifat jahatnya. Atau contoh lain: Emaknya matre tukang kawin cere temi harte, belum tentu putrinya yang jelita tumbuh jadi seorang matre yang gampang ganti cowo demi harte… *sumpah ini bukan curcol*. Tapi ya tetep sih, soal prilaku, pandangan hidup, religiusitas, yang namanya anak biasanya mengikuti contoh orang tua. Biasanya lho.

Yang penting jangan terlalu mudah menghakimi dan menggeneralisir, karena bisa saja saat kita dalam kondisi dan latar belakang yang sama, kita akan membuat keputusan yang sama persis dengan orang-orang yang saat ini keputusannya kita benci.

Ok deh. Untuk Immi dan semua Anak Manusia, juga semua Orang Tua, saya ucapkan selamat mencari dan mengusahakan lingkungan yang sehat untuk belajar.

- – -

Oh, gambar diambil tanpa ijin dari swishypunkgirl.

Update, link penting:

  • Twitter Ayah Immi: @fajarjasmin
  • Penjelasan beberapa mitos menakutkan soal HIV
  • Sekolah yang dimaksud: SD Don Bosco I
  • Masalah akhirnya selesai dengan baik, Pihak DB mengakui kesalahpahaman kemarin disebabkan pihak DB kurang memahami soal HIV. Setelah akhirnya mengerti, Immi pun bisa bersekolah di situ. Don Bosco bahkan berencana mengadakan seminar HIV untuk meningkatkan kesadaran para guru dan orang tua. Baguslah, ternyata label Don Bosco itu bukan cuma asal tempel :)

Ciri-ciri Rumah Sakit Maut

Berikut adalah hal-hal yang perlu diwaspadai, mungkin saja Rumah Sakit Anda termasuk yang mematikan:

Koordinasi yang buruk dan staf yang asal njeplak. Misal, pasien sudah disuruh puasa, katanya mau dibedah sore nanti. Setelah berlapar-haus dalam gelisah hingga petang, akhirnya bertanya kenapa belum dibedah juga. Satu staf bilang dokternya masih membedah pasien lain. Staf lain bilang si dokter sedang naik haji. Akhirnya datang staf senior menyuruh makan saja, karena dokternya sedang seminar dan baru akan datang beberapa hari lagi. Tanpa rasa bersalah, tanpa minta maaf.

Administrasi keuangan yang tidak beres. Misalnya, saat diminta rekap berapa dan untuk apa saja biaya yang dikeluarkan pasien, pihak administrasi perlu waktu berhari-hari. Saat akhirnya berhasil dicetak pun jumlahnya tidak sesuai.

Gemar Mempersulit Hidup Orang Lain. Kadang pasien yang sudah berhasil keluar hidup-hidup, masih perlu tanda tangan dokter atau cap dari pihak rumah sakit untuk urusan asuransi. Nah, untuk mendapatkan hal sesederhana itu saja perlu waktu berhari-hari.  Orang-orang ini mungkin tadinya bercita-cita jadi Polisi bagian administrasi atau Birokrat pemda agar bisa membaktikan diri secara full time dalam menyusahkan orang yang sedang susah, tapi karena sudah tak ada lowongan, akhirnya mereka menjangkiti rumah sakit.

Menyewa Dokter Pemburu Bonus yang pikirannya berada dibawah hipnotis sales/marketing Pabrik Obat. Dokter-dokter ini secara otomatis selalu meresepkan obat-obat paten (bukan generik) yang harganya jauuuh lebih mahal tanpa memperingatkan pasien. Padahal apa susahnya memberi penjelasan ke pasien bahwa: “Obat generik memang murah, tapi dosisnya payah, keampuhannya diragukan, nanti bukannya sembuh malah membusuk dan mati pelan dalam penderitaan, makanya kita HARUS pakai obat paten MERK YANG INI, walau mahal tapi lebih ampuh. Anda cepat sembuh, saya dapat bonus.” Dokter begituan mungkin juga bernafsu untuk meresepkan obat-obat yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien. Sangat berbahaya bagi jiwa, tubuh dan kantong Anda.

Kenyamanan Ruang Rawat Inap yang mengerikan, seolah dirancang untuk menghambat kesembuhan. Misalnya kasur yang sudah kempes banget di tengah tidak diganti walau sudah diminta. Akibatnya pasien yang terlalu lama berbaring di situ akan mendapatkan bonus cedera/kelainan baru di punggungnya.

Atau posisi lampu yang dirancang sedemikian rupa agar menyakitkan mata pasien. Kapanpun pasien membuka mata, cahaya lampu super terang yang tak boleh dimatikan akan langsung menusuk ke mata seolah sengaja supaya pasien kena glaukoma.

Atau mengijinkan terlalu banyak pengunjung berisik. Misalnya ibu-ibu numpang arisan dan anak-anak kesetanan yang gemar berteriak/menangis dibiarkan masuk dan berlama-lama. Ini sepele banget, tapi efektif mencegah pasien beristirahat, juga dapat meningkatkan stress.

Atau remote AC yang sulit ditemukan, karena satu rumah sakit cuma ada satu. Bahkan setelah seluruh penghuni kamar sepakat bahwa AC terlalu dingin/panas, tak seorangpun bisa mengubah setelan suhu karena harus menunggu perawat berpetualang mencarinya ke ruangan-ruangan lain.

Atau menyediakan TV yang isinya hanya sinetron, diletakkan di posisi luar biasa tinggi hingga sulit dimatikan.  Seperti AC, remotenya juga entah dimana. Tak perlu dijelaskan betapa buruk efek sinetron pada pikiran manusia. Bagi yang sehat saja merusak, apalagi untuk yang terbaring sakit. Maut.

Ikut campur soal agama berkedok bimbingan spiritual. Ini dilakukan pihak rumah sakit dengan mendatangkan pendakwah agama sesuai KTP pasien. Orang-orang menyebalkan akan datang tak diundang dan membacot terlalu banyak soal Tuhan. Dengan sok tahu dan tanpa bukti, mereka akan menuduh Tuhan bertanggung jawab atas segala derita yang dialami pasien, lalu mendakwahi pasien dengan nasihat-nasihat religius yang kurang ajar dan menyesatkan. Pasien datang untuk memperbaiki fisik, tapi pikirannya malah diracuni dan ditakut-takuti dengan dakwah agama. Semoga saja biayanya tidak dibebankan pada pasien.

Semoga Anda tidak pernah berurusan dengan Rumah Sakit seperti itu. Jika ternyata pernah, silakan berbagi, agar lebih banyak warga bisa lebih berhati-hati.

Waspadalah.

Peringatan Penulis: Tulisan ini bukanlah sebuah curcol atas layanan rumah sakit yang pernah dikunjungi. Hanya sebagai renungan dan pembelajaran saja bagi siapapun yang masih bisa merenung dan mengambil pelajaran.

Gambar dari NerdyNurse.

Tes ngeblog lewat wordpress for android

image

Kemampuan format teks, tebal, miring, garis bawah sampai tulisan coret juga bisa.

Tautan? Itu juga mudah dibuat.

Membuat kutipan:

Write new posts, edit content, and manage comments on your WordPress blog.

WordPress for Android is an Open Source app that empowers you to write new posts, edit content, view stats, and manage comments with built-in notifications

Semua fungsi yang tampak diatas dapat dibuat dengan mudah, cukup colak-colek tombol yang sudah disediakan. Tak perlu pusing dengan kode html.

Upload gambar, setel tag, kategori, sampai waktu terbit juga bisa di atur!

Kekurangan hanya tak bisa mengatur posisi gambar saja, hanya bisa pilih, mau di atas atau bawah tulisan.

Mantap, tinggal cari koneksi mobile yang layak nih.

Surat untuk Abu Bakar, Pemberitahuan Pindah

Saya rasa kita perlu membuat surat tokoh-tokoh pemimpin umat (terutama yang hampir expired) agar mau menulis dan berbagi ilmunya dengan masyarakat. Jadi ilmu mereka tidak hilang dibawa mati. Karena itulah barusan saya sudah menulis surat untuk Abu Bakar Bashir agar menjadikan kegiatan menulis sebagai bagian dari pengisi waktunya dalam penjara.

Satu lagi, ternyata kebiasaan saya mencoba-coba dan berpindah diantara layanan gratisan belum juga hilang. Jadi dengan posting ini saya memberitahukan keputusan saya untuk mencoba lagi coret-coret di blogspot-nya blogger.com, layanan gratisan dari Google.

Alasannya? Karena sekarang mereka tampil lebih keren. Lebih mudah gonta-ganti template sepuasnya secara jauuuh lebih mudah karena sekarang ada template designer. Plus bisa juga dipasangi kotak komentar yang nyambung ke Facebook. Tak kalah lagi dari “threaded comment” milik wordpress.com, bahkan sedikit lebih baik.

Jangan kuatir, mata Anda tak akan sakit tertusuk iklan, karena blogspot saya tidak dijejali iklan layanan masyarakat (maupun pembodohan masyarakat) sebagaimana umumnya laman-laman di blogspot.

Jika ada umur panjang, silakan mampir di tempat baru saya,
Alamat URL: guhpraset.blogspot.com
Alamat RSS: feeds.feedburner.com/blogspotguh

Terimakasih banyak sudah memperhatikan :)

Halaman Berikutnya »



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 190 pengikut lainnya.