Nenek Durhaka dan Cucu Jahanam

Nenek Durhakan (ND>Nda) : “Shalat sana, Cu! Orang yang tidak shalat maghrib bisa sakit dan tidak sembuh-sembuh lho!!” Kata nenek sambil keluar kamar; dahinya memancarkan cahaya keimanan.

Cucu Jahanam (CJ>Sije) : “Ah, masa si Nek? Trus harus di opname dong?”

Nda : “Iya! Kalo ga keburu dijemput malaikat maut”

Sije : “Duh… Trus kalo diopname ga sembuh-sembuh, rumah sakitnya untung dong??”

Nda : “Iya!!”

Sije : “Wah, bakal perlu obat juga tuh. Industri obat, mulai pabrik, detailer sampai pemilik apotek juga ikut untung ya??”

Nda : “IYAAAA!!!! DAH SANA AMBIL WUDLU!” Sambil merampas gamepad.

Sije : “Eits…” Sambil berusaha mempertahankan gamepad. “Nenek tahu ga? Orang yang suka nyuruh-nyuruh shalat itu bisa mati lho, trus mayatnya dipendam dalam tanah, trus ditinggalin sendirian! Sendirian lho nek, padahal yah… itu dipendemnya kan di kuburan! Hiiiiiy sereeeem!!”

Nda : “Hey, anak yang ga mau gantian kayak kamu itu juga bakal mampus trus dimakan belatung tau!!!”

Sije : “haha… ya udah, kita main yang bisa dua player aja gimana??”

Dan negosiasi ganjil itu berakhir beberapa detik kemudian.

*cerita diatas murni fiksi belaka, jika ada kesamaan dengan satu atau beberapa kejadian, memang disengaja.

7 usulan fatwa yang tidak mesum

  1. Haram mencampur sampah organik (yang mudah terurai secara alami) dengan sampah non organik (plastik dkk yang sulit terurai). Harus dipisah untuk memudahkan pengolahan. Melalaikan masalah sampah itu merusak alam. Merusak alam adalah maksiat.
  2. Haram mendukung pemimpin yang tidak peduli pada kelestarian alam terus berkuasa. Pemimpin seperti itu kalau tidak bisa disadarkan harus segera disingkirkan demi keselamatan generasi selanjutnya. Mendukung pimpinan yang keji sama saja berkomplot melakukan kekejian, maksiat.
  3. Haram mengambil keuntungan dari kebodohan orang-orang yang gampang membudak pada pemuka agama/siapapun yang ngaku paling tahu soal Tuhan. Mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain adalah biadab. Maksiat.
  4. Haram mendukung pemerintah yang gemar menggunakan isu agama untuk membuat rakyat sibuk saling bunuh agar tak sempat mengendus perselingkuhannya dengan korporasi rakus perampok kekayaan alam. Pembodohan, adu domba dan perampokan macam itu maksiat. Maksiat banget.
  5. Haram bergosip tentang Tuhan, apalagi menuduh dan memfitnah-Nya tanpa bukti. Mengatakan beliau sebagai begini atau begitu, tanpa pernah melihat sendiri, murni hanya berdasarkan gosip belaka, sama saja menyebarkan fitnah. Fitnah lebih keji daripada pembunuhan, ini sudah maksiat. Jika dilakukan terhadap Tuhan, ini jadi Maha Maksiat.
  6. Haram berdoa dengan cara yang sangat berisik, ini membuat Tuhan tampak seperti Maha Tuli lagi Maha Budeg yang  Maha Tak Mampu mendengar tulusnya doa dalam hati. Merusak nama baik Tuhan itu (harusnya) juga maha maksiat.
  7. Haram membuat fatwa aneh yang membuat para pengarangnya jadi tampak seperti gerombolan usil tukang ngatur dan hobi ikut campur, yang sangat terobsesi seks hingga selalu melihat kemungkinan termesum dari kegiatan apapun yang dilakukan oleh orang lain. Membuat diri tampak konyol adalah hak pribadi, tapi mengatasnamakan label agama atau menjual nama umat agar tampak sekonyol dan semesum diri pribadi itu (harusnya) dianggap perbuatan maksiat.

CATATAN:

  • Sedikit pengakuan kepada anda yang terlanjur terpesona pada kemampuan saya membuat (usulan) fatwa yang tidak mesum: Sebenarnya saya belum pernah jadi santri di pesantren manapun, apalagi di pesantren yang usianya sudah ratusan tahun. Mungkin, mungkin lho… Mungkin itulah sebabnya saya masih bisa membuat usulan fatwa yang hampir tidak terkait urusan seks.
  • 7 fatwa diatas dikarang sebagai respon atas pernyataan seorang teman yang bilang kurang lebih begini “Tuh lihat, penampilan dan tutur kata sok alim ternyata hanya topeng, ternyata kemesumannya lebih binal dari yang normal, sampai-sampai bikin fatwa pun tak bisa jauh dari urusan selangkangan!”. Semoga tulisan ini bisa jadi bukti bahwa orang mesum juga bisa juga bikin fatwa yang tidak mesum, kalau mau. Eh, bukan berarti saya mesum lho… hanya kadang-kadang saja sedikit. Tulisan ini bukan untuk curcol, tapi lebih untuk memberi bahan pertimbangan pada para “pembuat fatwa wannabe” agar lebih kreatif dalam membuat fatwa. Tidak harus terkait selangkangan, tidak harus mengumbar kemesuman diri.

Berserah Diri Demi

M: Saya sedih, sepi, stress… saya ingin bahagia.
G: Kamu harus pasrah pada kehendak Tuhan.
M: Pasrah? Gimana caranya?
G: Dengan mendengarkan penjelasan saya, saya akan jelaskan apa itu Tuhan lengkap mulai sifat, hobi, sampai hal-hal yang beliau tak suka.
M: Lalu, bagaimana saya bisa mengetahui apa saja kehendak Tuhan?
G: Saya akan beri tahu kamu apa saja yang sedang Dia kehendaki.
M: Kenapa Tuhan tidak berkata saja langsung pada saya?
G: Dia berkata, selalu berkata, tapi kamu yang tidak mendengar!
M: Lho, kok bisa gitu?
G: Kamu tak akan bisa mendengar, karena kamu kotor, kamu penuh dosa, dan kamu kurang pasrah! Hanya mereka yang sudah bersih lahir batin dan pasrah yang bisa kontak langsung dengan Tuhan.
M: Aduh, saya sekotor itu ya…
G: Banget!
M: Jadi gimana saya bisa membersihkan diri saya?
G: Tuhan akan menunjukkan caranya…
M: Hmm…
G: Lewat saya…
M: Heh?!?
G: Ya mau gimana lagi, kamu tak punya pilihan, yang bisa kontak sama Tuhan itu kan saya, bukan kamu.
M: Tapi…
G: Ahh… kamu ini mau selamat tidak hah, Hah, HAH??
M: Ya mau lah…
G: Kalau gitu nurut sama saya, eh.. menurut lah sama kehendak Tuhan dong!! Saya ini kan hanya menyampaikan kehendak Tuhan!
M: Uhh.. tapi… nanti setelah bersih saya bisa komunikasi langsung kan?
G: Tentu saja!! Nanti suatu saat kamu akan bisa mendengarkan kata-kata Tuhan secara langsung. Kamu akan jadi bijaksana, lancar rejeki, kaya raya, dikelilingi banyak cinta!
M: Dan saya akan bahagia?
G: PASTI!! Ingat, barang siapa menemukan Tuhan, akan mendapatkan segalanya!
M: Waaaoooow… ya oqelah kalow begituh…

Dan sebuah perjuangan penuh kepatuhan demi kebahagiaan sejati pun dimulai.

Halaman Berikutnya »