Memanjat Antena Parabola

Jadi tadi emak mengeluh, tiap malam atau tiap kali hujan, TVnya nyaris tak berfungsi. Stasiun favoritnya berubah jadi layar biru. Banyak stasiun tak tertangkap lagi.

Saya sebenarnya malah bersyukur. TV yang seringnya menampilkan program sampah itu sebaiknya dijual saja sekalian. Tapi ya tetap saya periksa.

Perkabelan dan koneksi oke. Kotak entahapanamanya juga tampak baik tanpa bau hangus. Lalu saya urut sampai belakang. Ternyata parabola telah berubah jadi tampah yang penuh dengan rontokan daun pohon sekitar.

Apa hubungannya daun dengan sinyal? Bukankah daun tembus sinyal? Iya mudah kalau kering kerontang. Tapi saat basah, itu daun jadi lebih sulit ditembus. Makin sulit kalau daunnya berlapis-lapis.

Saya pernah nyasar agak parah sewaktu masuk belantara pohon karet setelah hujan. Walau langit sangat bening, GPS yang mestinya jadi penyelamat malah gagal locking karena sebab serupa, terhalang daun basah yang rimbun. Padahal waktu panas terik mudah saja akurat sampai 5 meter. Ah, ini tentu sok tahu saya saja otak atik gatuk, supaya tampak pintar. Padahal belum googling penjelasannya.

Jadi saya pun manjat-manjat, berbekal sapu lidi menyingkirkan semua kotoran itu. Badan dipaksa bergerak ke berbagai postur yang tak biasa demi terlaksananya misi sambil menghindari pecahan kaca dan tanpa terjatuh. Paha harus diangkat-angkat sampai menggencet perut yang usianya sudah tiga puluhan. Tangan harus menggelantung sambil akrobat membersihkan, sedemikian rupa agar semua selamat termasuk parabolanya.

Baru separuh bersih, sudah terdengar teriakan bahwa teori saya terbukti benar. TV mulai berfungsi kembali. Saya yang mulai diserang malas jadi semangat lagi.

Selesainya badan lumayan berkeringat. Otot yang tersiksa tampak mekar dan saya merasa lebih muda beberapa tahun :)

Gila ya, padahal cuma mau cerita kalau tv ngeblank, cek antena. Tapi panjang sekali ceritanya. 

Sekian. Ini sebenarnya sambil mencoba aplikasi wordpress untuk android di tablet pinjaman dari mbak seksi kecamatan sebelah. Ternyata asik banget, saya nulis cuma pakai dua jempol aja bisa terlalu panjang begini. Semoga yang baca tidak (terlalu) menyesal :p

Btw, sekarang saya agak menyesal. Polusi dari sinetron dan tv sekelas TV One akan kembali meracuni rumah, untung saja tak lagi ditambah YKS.

Sebaiknya saya segera pulang ke Bogor.

Saya pindah dulu, sempatkan mampir yaa :)

WordPress.com adalah platform terbaik untuk ngeblog, saya tidak membantah itu. Dashboard nyaman, komentar mudah, anti spam super, following gampang sampai broadcast update otomatis ke setiap jejaring sosial membuat posting apapun dengan mudah terekspos di mesin pencari dan mendapat traffic. PLUS: WordPress menyediakan aplikasi untuk smartphone, sehingga dari manapun kita bisa manage blog dengan nyaman, dari mana saja. Saya sudah coba versi androidnya, menyenangkan banget.

Tapi semua itu tidak menghalangi saya untuk pindah rumah dulu ke blogspot. Tenaaang, bukan karena saya bermutasi jadi blogger komersil yang tega memajang segala iklan MLM atau segala hal yang akan menyakiti mata dan kantong anda… Di blogspot juga akan tetap non komersil dan adfree. Kepindahan sementara ini hanya karena sedang ingin berpetualang saja, biar merasa awet muda, haha.

Sudah ada beberapa konten yang bisa dipakai cemilan sambil menikmati segelas teh atau kopi:

  1. Surat untuk Master Abu Bashir: Surat yang ditujukan untuk Mbah Abu Bakar Ba’ashir yang terkenal itu.
  2. Jangan ganggu teman imajiner saya: Tulisan bukan curcol tentang tidak perlunya usil pada keyakinan orang lain, selama orang itu tidak mengganggu/memaksakan keyakinannya.
  3. Pernikahan yang katanya penuh hikmah: Untuk Anda yang gelisah belum dapat jodoh, dan makin stress gara-gara bacotan orang-orang sok bijak yang mempromosikan betapa penuh hikmahnya menikah itu. Daripada anda cari pelarian ga bener, mending baca ini dulu, telanjangi promosinya.
  4. Ya Allah, tahlilan itu menyebalkan: Surat terbuka untuk Allah, sudah lama dikirim, sampai sekarang belum ada respon.
  5. 3 Tips Jadi Perokok Keren: Tanpa satir, tanpa sarkas, murni petunjuk sederhana yang perlu dipromosikan oleh industri rokok agar umatnya mampu merokok secara keren. Mohon disebarkan ke seluruh perokok sejagat raya.
  6. Pembenaran Rektor soal Beasiswa dan Sponsor Rokok: Anda gelisah karena korporasi rokok dibiarkan mensponsori berbagai kegiatan pendidikan termasuk memberi beasiswa? Penjelasan rektor ini akan mencerahkan dan menentramkan jiwa anda.

Kalau sempat mampir yaaa… agar saya tidak terlalu kesepian :)

Terlalu Dewasa Untuk Memuja Kelamin

Kapan nih kita ketemuan? Udah lama tidak memuja kelamin bareng-bareng..

Bukankah kita sudah terlalu dewasa untuk itu?

Terlalu dewasa untuk memuja kelamin? Lu masih normal kan?

Ya masih. Tapi kita sudah dewasa, memuja-muja itu kan bagi mereka yang belum cukup umur.

Maksud lu?

Baca Lanjutannya…

5 Pertanyaan Tentang Ulama dan Pesan Sponsor

  1. Jika saya adalah seorang kapitalis bukan yahudi yang kaya raya dari jualan barang adiktif yang merusak kesehatan, bagaimana hukumnya itu kekayaan yang saya miliki, halal atau haram?
  2. Bolehkah atau pantaskah jika sebagian kekayaan itu digunakan untuk mensponsori kegiatan dakwah agama?
  3. Jika boleh, bolehkah saya menyumbang agama dengan uang hasil jualan narkoba, atau hasil korupsi?
  4. Apa pantas ulama yang baik mempromosikan sebuah brand yang cari uang dengan menjual produk yang merusak kesehatan?
  5. Kalau tidak secara langsung gimana hukum dan etikanya? Misalnya saya punya pabrik candu merek PUTAWALAH yang terkenal ke seantero jagat sebagai pabrik candu paling nasionalis karena paling banyak mempekerjakan kaum miskin sebagai kuli (sekaligus sebagai konsumen setia). Semua orang tahu kalau Putawalah pabrik candu, otak masyarakat sudah mengasosiasikan kata Putawalah = Candu surgawi. Nah, suatu hari saya bikin “PUTAWALAH Foundation” yang saya akui tak punya kaitan sama sekali dengan pabrik candu. Kegiatannya bagi-bagi beasiswa dan menyeponsori berbagai kegiatan termasuk agama. Entah kenapa, kata “Putawalah” sengaja saya tulis lebih mencolok di setiap penampilan, padahal saya tulus ndak niat iklan sama sekali. Nah, jika saya ingin iklankan yayasan saya itu di rumah ulama, hukumnya gimana? Apakah ulama yang baik akan merestuinya? Bukankah itu sama saja mempromosikan brand PUTAWALAH secara terselubung dan mendukung kelestariannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya berawal dari bisingnya masjid.

Lho, kok bisa?

Jadi ceritanya sore tadi, seperti biasa saya terganggu oleh ritual TOA sebelum magrib. Saat itu beberapa orang di beberapa masjid yang berbeda tapi lokasinya berdekatan, dengan sengaja dan bersama-sama melawan anjuran Quran 7:55 dan 7:205, mereka justru melakukan kebalikan dari apa yang dianjurkan: Memamerkan puja-puji terhadap Allah secara sangat berlebih-lebihan, dengan TOA yang disetel keras sekali sampai mengganggu warga sekitar.

Terpikir untuk untuk mengadukan masalah itu pada MUI.

Sialnya, walau sekarang sudah tahun 2012, situs Majelis Ulama Indonesia belum mau menyediakan halaman tanya jawab… yang bisa dimanfaatkan umat untuk bertanya. Masih khas ulama jadul, satu arah, cuma ingin didengar tanpa mendengar. Yang terkesan si begitu, hehe.

Lalu saya ingat almarhum Gus Dur, saya ingat dulu jaman beliau jadi presiden berani gelar open house dan merakyat banget, berani dengar keluhan dan pertanyaan dari rakyat. Konon beliau pemimpin NU, nah, mungkin situsnya NU juga lebih merakyat dan lebih dekat dengan umat.

Lagi-lagi saya sial, tidak ada juga halaman untuk umat mengajukan pertanyaan. Bahkan ketika saya memaksakan diri untuk titip pertanyaan di artikel  “Hukum Bersetubuh Bersama-sama”, hasilnya cuma tampilan “parsel error” dan pertanyaanpun gagal diajukan.

Cari-mencari, akhirnya saya melihat ke bagian header dan JREEENGG!!!

Iklan di kanan atas itu, masih terkait rokok kan?

Tampaklah itu Djarum Foundation iklan banget di header situs ulama. Dan muncul deh pertanyaan-pertanyaan seperti barusan.

Karena tidak menemukan tempat bertanya, akhirnya saya tulis saja semua pertanyaan itu di sini. Cuma bertanya lho, tidak usah tersinggung, apalagi menuntut saya dengan hukuman seumur hidup karena pencemaran nama baik.

Semoga pertanyaan-pertanyaan tersebut bermanfaat dan dapat terjawab, sehingga dapat membantu meningkatkan daya kritis umat, agar tidak terlalu mudah dibodohi oleh pihak-pihak yang sangat berorientasi profit hingga bersedia mengorbankan apapun demi duit..

Amin.

Jadi sekarang kita harus mengadu kemana nih soal penyalahgunaan TOA?

Orang Kaya, Gengsi dan Teknologi Primitif yang boros BBM

Menganggap boros tidaknya sebuah kendaraan tentu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kewajaran setempat. Di tempat yang rata-rata kendaraan dapat menempuh 10-14 Km hanya dengan 1 Liter, maka kendaraan yang hanya mampu 6-8 Km per liter itu termasuk teknologi primitif kurang ajar yang sudah ketinggalan zaman.

Sebaliknya, 2 km per liter akan dianggap wajar oleh mereka yang hobi guling-gulingan di comberan pakai jeep super mahal…. Tapi soal itu tak ingin saya mengomentari,  kelakuan macam itu sudah di luar nalar saya. Yang saya perhatikan itu mereka yang berkeliaran di jalanan umum itu lho…. Apa tak ada cara lain yang lebih cerdas untuk pamer kekayaan?

“Mobil aing kumaha aing lah, gw mampu beli bbm kok, kenapa lu usil? Ga usah pasang muka miskin deh, dasar lu miskin lahir batin!!”

BBM itu harganya semakin tinggi karena stoknya semakin langka, sedangkan yang butuh makin banyak, betul? Nah, aksi buang-buang BBM sekedar untuk pamer kekayaan itu bukankah justru membuatnya semakin langka dan semakin cepat habis? Yang mampu beli mungkin tak masalah, tapi yang kantongnya tipis?

“Ya salahnya kenapa miskin. Pasti malas belajar, malas kerja keras dan malas berdoa. Iya kan? Dasar miskin nyusahin”

Justru itu, orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin semakin miskin karena akses terhadap energi yang penuh ketidakadilan. Ketika si kaya semena-mena buang BBM untuk pamer kekayaan, itu ikut membuat BBM semakin langka, semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh si miskin.

Ya orang miskin juga tidak ada gunanya kalau terlalu banyak. Cuma bikin rusuh saja kan? Biar saja semakin miskin dan sekalian mati kelaparan. Biar jumlahnya tak kelewat banyak.

Wow, jahat sekali. Tapi walaupun Anda sejahat itu, janganlah terlalu eksplisit dalam mendukung pemiskinan, tidak perlu pamer kekayaan dengan buang-buang bensin di jalanan.

Kenapa tidak? Toh miskin-miskin itu tak ada yang sadar waktu gw  foya-foya menghamburkan bbm di depan muka-muka miskin mereka.

Karena Anda lebih pintar, lebih beretika dan lebih berpendidikan dari mereka? Lagi pula, cukup sedikit provokasi untuk menyadarkan orang miskin bahwa kendaraan boros Anda layak dibakar karena dianggap menghina dan mendukung aksi pemiskinan.

Hmm, tiba-tiba saya merasa perlu cari kendaraan yang lebih canggih dan efisien.

Tentu saja. Sebagai orang kaya yang berpendidikan, Anda bisa pamer kekayaan tanpa mendukung pelangkaan bbm maupun pemiskinan. Sudah banyak kok mobil lumayan mewah, sangat nyaman dan sangat irit.

Ada saran? Merk dan seri apa gitu yang bisa saya beli sore ini?

Ya gunakanlah kekayaan Anda untuk riset sedikit demi menjawab pertanyaan itu. Jangan seperti orang miskin informasi lah.

Eh, tapi itu di jalan juga banyak muka miskin berkeliaran naik motor yang super boros BBM. Gimana tuh?

Ya itu lah, mereka bukan cuma muka yang miskin, pendidikan dan kebijaksanaan juga masih miskin. Mereka ingin gaya-gayaan tapi ilmu tak cukup, akhirnya ditipu mentah-mentah oleh produsen-produsen yang jualan mesin primitif tapi berpenampilan menawan. Orang yang sudah kaya seperti Anda harusnya mampu berpikir secara lebih cerdas, tidak perlu jatuh ke dalam tipuan yang sama.

Itu lah tu. Coba lihat iklan motor. Cewe cantik dan homo ganteng lah dipajang-pajang, istilah-istilah  pseudoteknis lah diuntir-untir. Padahal cukup pamer max speed, max power dan berapa km/liter bbm yang diperlukan dalam menikmati semua itu.

Benar, selain handling dan kenyamanan yang harusnya dipamerkan lewat test drive. Dan penampilan juga penting sih, walau bukan terpenting.

Habis orang miskin mau membanggakan apa lagi kalau bukan penampilan? Uang, pendidikan, kebijaksanaan, karya? Kan miskin. Lagian kalau orang kaya beneran ga mungkin lah tergoda untuk pamer-pamer. Yang butuh pamer kan yang masih butuh pencitraan biar laku jual diri atau yang masih kuatir soal masa depan. Yang sudah kaya bakal terlalu sibuk berkarya, bukan cuma bekerja atau jual diri.

Kurang ajar, kamu nyindir  eh?!?!

Bukan gitu, maksud saya, kasih contoh lah. Jangan cuma kaya di duit, tapi juga kaya di kebijaksanaan dan kecerdikan. Jadilah teladan. Kalau semua orang sekaya Anda berhenti beli mesin-mesin primitif yang boros bbm, produsen dan penjual juga akan terpaksa mengembangkan teknologi agar lebih efisien.

Bandingkan dengan teknologi komputer, 3 juta perak beberapa tahun lalu cuma bisa beli komputer secepat 33 MHz, sekarang dengan rupiah yang sama kita bisa dapat lebih dari 2000 Mhz, multi-core pula. Tapi teknologi mesin dari merk-merk terkenal itu, apa yang mereka capai? Sebenarnya mereka itu jualan mesin canggih apa cuma jualan gengsi yang ilusif?

“Hmm… persuasif. Baiklah, sebagai orang kaya kita sebaiknya memang punya kelakuan yang berbeda dari orang miskin. Mari kita jadi contoh dan teladan yang baik”

Hoho, setuju banget gan!.

Btw, penonton, pakai kendaraan boros atau irit? Seliter berapa meter? Pakai merk dan tipe apa? Ngerasa miskin atau kaya? Kelakuan gimana? Hehe.

Malas Update Setelah Jadi Orang Tua?

Setelah menikah dan apalagi punya anak, blogger (terutama yang non-profit) biasanya jadi malas update. Sering malah sekalian berhenti. Menurut saya itu bukanlah pilihan yang tepat. Sebaiknya tetap menyempatkan diri untuk menulis, kalau harus dikurangi ya mulai dari dosis curcol dan curhatnya saja.

Kenapa?

Menulis yang agak serius seperti ini mengharuskan kita untuk terus berpikir kritis, terus belajar dan membuka diri terhadap hal-hal baru. Pernah ketemu tua bangka kolot yang hobinya ribut soal sepele? Nah, bertahan tetap menulis dapat menjauhkan kita dari bermutasi jadi mahluk yang seperti itu.

Klise? Ok deh, alasan yang berikut ini bakal lebih menarik dari alasan klise barusan…

Baca Lanjutannya…

Kenapa saya belum juga punya PIN

Sudah tahun 2012 tapi saya masih juga belum punya jawaban tiap ditanya PIN.

Alasan praktis biasanya “belum ada duit” atau kalau merasa perlu jaga gengsi ya jawabnya: “Belum perlu. Sementara pakai email, dropbox atau gdoc sudah cukup instan kalau hanya untuk kolaborasi dokumen.”

Tapi kadang ada saja tukang ngorek dan tukang kompor yang tidak mau makan jawaban klise begitu, mereka selalu ingin tahu alasan yang sebenarnya…

Inilah jawaban saya untuk golongan sulit itu… Baca Lanjutannya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.