Omong Besar Susno Duadji belum terbukti

Saya mohon agar Pak Susno, juga oknum-oknum yang berencana menjilati beliau jangan langsung murka, karena di Kantor SAMSAT Kabupaten Bogor, omong besar KAPOLDA JABAR memang belum terbukti, sama sekali belum terasa efek positifnya.

Silakan perhatikan 11 keanehan yang saya alami sebagai rakyat yang berusaha taat membayar pajak di Kantor Bersama SAMSAT Kabupaten Bogor.

Jam 10:10, 27 Maret 2007 saya tiba di Kantor SAMSAT Kabupaten Bogor.
Dengan langkah optimis karena pernah mendengar janji KAPOLDA JABAR untuk memberantas semua Polisi Jahat, saya melangkah langsung ke loket pendaftaran. Lewat loket V yang bertuliskan “Tidak dipungut biaya apapun kecuali di loket IV”. Didalamnya ada beberapa polisi.

Keanehan Pertama

Di dalam loket pendaftaran ada beberapa orang polisi berdesakan. Pak IM yang berseragam polisi segera melayani saya. Saya jelaskan kalau mau bayar pajak kendaraan sambil menyerahkan STNK plus KTP asli. Beliau menerimanya dan dengan bersemangat sambil bertanya “Mau urus sendiri, atau mau dibantu? Kalau dibantu lebih cepat, 30 menit dijamin beres, tidak perlu repot. Sini biar saya hitung dulu” Sementara tangannya dengan gagah langsung menyobek plastik bungkus STNK. Padahal plastik itu masih bagus dan bisa dipakai lagi.

Keanehan Kedua

Begitu saya menjawab dengan “Mau saya urus sendiri saja Pak”, Pak IM yang sudah mau menghitung biaya berhenti mendadak, tidak jadi menghitung. Dengan mimik yang tak pantas dikenakan seorang polisi, beliau menyilakan saya “ke sebelah”.

Keanehan Ketiga

Saya langsung ke orang disebelahnya, selang satu orang. Polisi yang kulitnya lebih hitam. Dia ajukan pertanyaan yang sama, “mau dibantu atau urus sendiri?” Jawaban saya sama, tapi Polisi ini merespon dengan lebih kasar. Menyuruh saya keluar untuk beli map kuning dengan gaya seperti mengusir. Kantor terhormat sebesar itu tidak bisa menyediakan map untuk para pembayar pajak? Saya pun mundur melihat-lihat sebentar, ternyata di pojok tersembunyi ada satu loket pendaftaran lagi, isinya cuma satu orang kurus, tak berseragam polisi. Memberi saya formulir dan tetap menyuruh saya keluar untuk beli map kuning.

Keanehan Keempat

Kembali dari pedagang map kuning didekat gerbang Samsat, saya serahkan pada Pak Polisi bernama SK di loket pendaftaran. Tapi dengan mimik yang sangat menyebalkan (mungkin memang kesalahan genetik) beliau malah menyuruh saya untuk cari hekter dulu untuk merekatkan KTP dan STNK itu ke Map Kuning. Dengan ramah saya jawab “memangnya disini tidak ada hekter pak?” Dengan mimik yang semakin menjijikkan beliau pinjam hekter (stappler/pengokot) ke polisi disebelahnya. Dia beri saya sesobek kertas, jelek sekali dan tidak rapi, dan mengatakan dengan sangat tidak ramah agar saya menunggu panggilan di loket 4.

Keanehan Kelima

Saya menunggu lama di depan loket4. Sempat memperhatikan para calo yang bersliweran, bebas mengeluar masukkan berkas antar loket. Menyerobot antrian. Pantas saja bisa 30 menit selesai. Si botak dari tahun juga lalu masih disana, kali ini mengenakan pakaian yang lebih gaul, dan HP nya nokia mahal yang bisa jadi handycam.

Keanehan Keenam

Ruangan tempat menunggu itu penuh dengan ASAP ROKOK. Sebuah kantor yang terhormat, membiarkan rakyat yang taat membayar pajak diracuni oleh asap rokok dari orang-orang biadab!?!? Saya tak ingat apakah salah satu biadab itu juga seorang polisi.

Keanehan Ketujuh

Entah apa pertimbangan wanita muda di dalam loket 4, beliau memanggil para pembayar pajak dengan cara yang sangat konyol. Banyak orang dipanggil sekaligus, hingga menumpuk didepan loket.

11:10 saya dipanggil untuk membayar. Menghindari resiko yang tak perlu, saya serahkan tepat sejumlah yang tertulis di notice, sebanyak Rp 1.001.000 (Satu juta seratus ribu Rupiah). Walau caranya memanggil konyol, tapi beliau tidak minta tambahan. Berarti jiwa wanita muda itu lumayan bersih! :P

Keanehan Kedelapan

Saya ternyata masih harus menunggu lama. Pahal tadi sudah tampak tercetak. Perjalanan STNK dari loket 4 ke loket 5 entah kenapa lama sekali. Sementara itu orang-orang yang pakai calo sudah datang dan pergi silih berganti.

Keanehan Kesembilan

Menunggu… hingga 11:36 mati lampu. PLN yang parah itu efeknya juga sampai SAMSAT! Dan entah kenapa kantor yang melayani rakyat yang taat membayar pajak tidak punya generator listrik cadangan. Gelap, lama, mungkin pelayanan terhenti.

Keanehan Kesepuluh

Polisi-polisi yang berjubel di Loket 5 kenapa berkali-kali menerima uang? Kenapa menawarkan pengurusan STNK dan sebagainya kepada para pembayar pajak yang baru datang? Padahal jelas-jelas tertulis tidak memungut biaya kecuali di loket 4.

Keanehan Kesebelas

11:49 penderitaan di ruang tunggu penuh asap rokok itu selesai. STNK diserahkan tanpa plastik. KTP penuh lubang hekter. Saat saya tanya apakah tidak dapat plastik, polisi mengatakan agar saya beli sendiri diluar. Dalam hati tadi saya bertanya, kenapa tadi disobek-sobek oleh rekan anda yang CALO itu?

- - - - - - - - - - -

Itulah ceritanya, kenapa saya bilang omong besar Susno Duadji belum terbukti. Kantor SAMSAT tersebut masih saja kotor dan menjijikkan.

Katanya berani copot-copotan jabatan untuk membersihkan Korps Kepolisian? Tapi kenapa Samsat Kabupaten Bogor masih saja menjijikkan?

Jangan Pertahankan Komandan Yang Kotor

Pak Susno Duadji yang baik hati, kalau dalam sebuah rumah ada seekor kecoa yang bebas berkeliaran, setidaknya ada dua hal yang bisa dipastikan, pertama adalah penghuni rumah yang jorok, kedua adalah masih banyak kecoa lain yang bersembunyi. Kalau di dalam sebuah kantor megah dan terhormat, yang didalamnya ada banyak polisi berseragam, tapi tetap ada banyak calo yang bebas berkeliaran, apa yang bisa kita simpulkan? Siapa yang jorok? Siapa yang terlalu kotor? Kenapa masih dipertahankan?

Pak Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc. yang saya hormati, kami sungguh-sungguh berharap banyak pada Bapak. Tolong buktikan kalau Bapak memang serius saat mengatakan ingin membersihkan Kepolisian Indonesia dari para Polisi jahat.

Saran

Siapa tahu yang diatas barusan dianggap hanya ngritik aja tanpa memberi masukan, maka saya sertakan beberapa saran eksplisit…

  1. Jangan menyebut Nakal untuk Jahatnya penjahat. Nakal itu cukup disentil dan diperingatkan, tapi dalam seragam polisi mereka melecehkan dan mempersulit orang-orang yang berniat membayar pajak, itu harus disebut JAHAT, Penjahat, harusnya dipecat dan dihukum berat.
  2. Perlu dipelajari, mereka menjadi calo berseragam itu karena memang kesulitan cari makan, apa karena anaknya kelaparan, atau karena sifat bawaan genetik. Jangan-jangan karena sejak nenek moyangnya mereka memang doyan menyelewengkan jabatan.
  3. Perlu disadari, banyaknya anak buah jahat yang tetap berkeliaran dan memangsa para pembayar pajak itu disebabkan karena ketidakbecusan komandan, atau karena kebusukan komandannya komandan? Sampai kapan yang seperti itu mau dipertahankan? Mau pakai pembenaran apa lagi?

Sekian dulu, semoga Pak Susno Duadji, dan semua Polisi yang hatinya tidak jahat bisa semakin sehat, semakin bahagia dan semakin sejahtera. Dan semoga juga semakin berani bersuara dan bertindak untuk menghentikan rekan-rekan seprofesi yang ternyata tuna susila.

Terimakasih sudah membaca tanpa emosional :)

Dukung Kapolda Jawa Barat membersihkan POLRI dari Polisi Jahat!!!

- - - - - - - - -

Seperti biasa, keluhan tentang polisi ini pun saya forward ke POLRI.GO.ID

23 Tanggapan ke “Omong Besar Susno Duadji belum terbukti”


  1. 1 mrplagiator Maret 29, 2008 pukul 4:21

    pertamax……hehee….

    iyab benar juga si duadji memang bener - bener gak bener tuch, cuman omong doang, tapi kali aja dia “belum” aja membuktikan omongannya, kita lihat aja bulan depan apakah masih begitu apa ngga, mudah - mudahan ngga

  2. 2 Ojat Maret 29, 2008 pukul 8:33

    kita tunggu action beliau ya….emang parah deh kalo baca cerita ini..dimana2 sama…sudah dianggap biasa kali ya..dah ga pnya malu lagi

  3. 3 Kopral Geddoe Maret 29, 2008 pukul 9:27

    Walah, walah, ini jelas berupa suatu pencemaran nama baik™ atas pak Susno Duadji! :P

  4. 4 iman brotoseno Maret 29, 2008 pukul 9:50

    wah kalau pulisi,.semua pulisi sama saja..
    pulisi di jalanan , pulisi di kantor, pulisi di balik tikungan yang ngetem..
    Ini khan juga si pulisi bawahan melihat boss boss pulisi yang kongkalikong dengan pemalak hutan, penguasa HPH, pengusaha, bandar.

  5. 5 dobelden Maret 29, 2008 pukul 12:52

    wah alhamdulillah di samsat boyolali dah lumayan tertib tuh…

    antri 61 orang 45 menit kelar :)

  6. 6 sora9n Maret 29, 2008 pukul 14:40

    *baca-baca*

    Wah, saya jadi inget komik Batman kalo begini… :|

    “There’s something rotten in this city. It wears badge.”

    –Bruce Wayne

    :P

  7. 7 sufehmi Maret 29, 2008 pukul 17:09

    wah kalau pulisi,.semua pulisi sama saja..
    .
    Belum tentu juga pak :) kemarin ini kita tour ke Solo bersama keluarga besar. Tiba-tiba mobil pemandu (karimun) mogok, dan menghalangi nyaris seluruh jalur jalan.
    .
    Waktu kita baru mau mendorong mobilnya, tiba-tiba datang seorang polisi. Langsung kita semua waspada, hm ini mau apa ya? Mudah2an tidak ditilang :)
    .
    Ternyata saudara-saudara, pak polisinya langsung ikut mendorong mobilnya *gdubrak* :D
    .
    Saya ketawa dan langsung foto. Jadi kepastiannya bukan 68% lagi, tapi sudah 100% lho :D
    .
    Berkat bantuan pak polisi, mobil kita yang mogok itu tidak lama menghalangi lalu lintas.
    Terimakasih pak !

  8. 8 cK Maret 29, 2008 pukul 20:07

    hhmmm…kalau saya pernah perbaharui SIM A di polsek kemayoran, ga lama, cuma 20 menit. itupun sendiri, ga dibantu orang lain. entah kenapa ngerasa disini lebih teratur aja. ga ada calo pula…

  9. 9 RETORIKA Maret 29, 2008 pukul 22:58

    Itulah mengapa image polisi terus menerus menjadi pergunjingan di masyarakat. Seharusnya justru dibidang yang berhubungan langsung dengan masyarakatlah yang harus dibenahi. istilahnya Publik Relationnya kurang sekali :?

  10. 10 calonorangtenarsedunia Maret 30, 2008 pukul 11:41

    pegal hati kalo ngomongin kelakuan isilop2 itu.

    *cari tukang pijet*

    Seragam mereka itu kan memang untuk melegalkan suap menyuap dan calo mencalo. :mrgreen:

    Tapi selalu ada unsur masyarakat non-seragam yang ikut menyuburkan dengan tetap menggunakan jasa calo. Kesadaran belum tinggi, Guh.

  11. 11 uwiuw Maret 31, 2008 pukul 17:00

    hmm kayaknya polisi sudah ada perubahan contra kok…memang di bogor belum, tapi di daerah2 lain udah tuh (stidanya yg sy dengar)

    sementara kalau di daerah tempat sy tinggal, hmmm sy belum tau krn sy belum memperbaharui sim.

    artikel bagus!

  12. 12 masyarakat transparansi Maret 31, 2008 pukul 21:01

    Setau saya, beliau terkenal sebagai “polisi bersih”,
    tapi memang tidak mudah membalikkan situasi yang sudah mendarah daging di negara kita…
    ada pejabat yang mempunyai statement seperti itu saja saya sudah SALUT!!!!
    coba selain dia siapa lagi yang berani?
    cuman kan semua butuh proses….
    jadi kita sebagai rakyat jangan asal ngomel aja alias protes…
    beri kesempatan donk….
    mempangnya seperti membalikkan telapak tangan???
    kita saja kalo jadi beliau belum tentu bisa seperti itu

  13. 13 rajaiblis April 1, 2008 pukul 8:07

    Guh,
    ada bukti baik secara audio dan visual gak ?
    kalo ada diposting juga donk …
    dan sebaiknya bukti itu bisa di-donlot !
    atau kalo mo lebih bagus lagi, aNE bisa bantu edit mulai dari omongan atau statement yg menyatakan segala macam bentuk korupsi, pungli, atau kejahatan apalah namanya yg masih bersemayam di institusi kepolisian republik indonesia dan fakta lapangan.

    bukti tak harus dari handycam atau kamera mahal seharga ratusan juta rupiah. dari HP seharga 1 juta-an atau kurang juga gak masalah asal mendukung audio dan visual. ukuran pixelnya jg gak harus yg gede sehingga bisa ditayangkan dilayar tancep …

    kalo semua materi itu dah siap …
    kita liat action selanjutnya …

  14. 14 Gm. April 1, 2008 pukul 11:57

    Mengadunya jangan lewat web Polri mas Guh, gak akan efektif. Takutnya pengaduannya gak akan nyampe dan malah jadi arsip di database yg gak pernah dibaca-baca. Mending adukan di surat pembaca Kompas, atau langsung antarkan sendiri ke hadapan bapak Kapoldanya.

  15. 15 Mr. Fortynine April 1, 2008 pukul 21:32

    Seperti komennya Geddoe. inilah salah satu fungsi UU baru, anda bisa ditangkap karena ini.

    karena di kantor,para preman berseragam itu bisa saja merekayasa seolah olah apa yang anda jabarkan tidak pernah terjadi. sehingga mereka punya alasan untuk menangkap anda…

  16. 16 Moh Arif Widarto April 1, 2008 pukul 22:24

    Kok bayar pajak kendaraan bermotor nggak ke kantor pajak ya? Yang ngeluarin STNK memang Kepolisian. Akan tetapi, pajaknya mestinya kan langsung saja ke kantor pajak ya…

    Kalau aku sih bayar pajak motor lewat biro jasa saja. Sebagai buruh nggak punya waktu lebih buat antri di SAMSAT. Kalau biro jasa mengutip uang jasa itu wajar kan… Beda sama hongip yang jadi “penjual jasa bantuan” itu.

  17. 17 adi purnama April 15, 2008 pukul 14:31

    Saya amat sangat percaya kepada beliau, apalagi setelah membaca riwayat hidup beliau. Sehingga polisi yang lahir dari rakyat, untuk rakyat dan digaji oleh rakyat dapat dipercaya oleh rakyat serta dicintai masyarakat. Begitu juga harapan saya segera lahir Gubernur, Bupati, Walikota, Jaksa dan Hakim yang mempunyai komitmen memberantas korupsi sampai ke dedengkotnya. Semoga Mafia Peradilan segera dapat diberantas. Berantas korupsi, berantas korupsi, supaya rakyat Indonesia melek semua, jika ingin kaya harus jadi pengusaha/buka lapangan kerja. jangan jadi Pegawai Pemerintah.

  18. 18 adi purnama April 15, 2008 pukul 14:43

    A, lain kali jika ada pengalaman seperti ini catat nama-namanya.Laporkan saja ke Bagian pengaduan Bid Propam Polda Jabar, denger-denger sih Kabid Propamnya tegas sekali, untuk menjadikan Polri Polda Jabar ke arah yang lebih baik, yaitu Polisi yang dapat dipercaya masyarakat, kalau untuk menjadi Polisi yang dicintai masyarakat masih sangat jauh, karena bahannya juga belum banyak yang baik.Perlu diingat Polsi berasal dari Masyarakat dan nanti akan kembali ke masyarakat. Kalau bahannya masih jelek maka akan lahir Polisi-polisi yang jelek. Harapan saya semoga ada banyak orang-orang baik dan Mulia mau jadi Polisi. Karena Polisi ini milik kita semua.

  19. 19 nich April 18, 2008 pukul 17:47

    seperti kata “adi purnama” .. pengalaman ini seharusnya langsung aja dilaporkan, atau postingan ini diprint lalu dilayangkan ke kolom surat pembaca harian lokal.

    tentunya konsekuensi “siap menjadi saksi” juga harus siap dihadapi.

  20. 20 satriadhi April 28, 2008 pukul 10:34

    Memang-nya untuk mutasi SIM dari Kodya ke Kabupaten Bandung kena biaya Rp. 30.000,- ya? abis petugasnya minta saya minta resi nya bilang ga ada malah gelagapan? gimana nih Pak Kapolda?

  21. 21 nindityo April 29, 2008 pukul 4:45

    ya minimal sudah semakin banyak perubahan yang ada di polisi.
    lebih ramah.
    dan udah ada lho yang ganti nama.
    mungkin supaya keliatan cantik dan tidak terkesan garang,
    meninggalkan kesen jelek yang dulu dulu.
    bukti :
    - mobil hitam putih jadi orange, (mungkin atas saran madam ivan)
    - tulisan POLISI jadi POLICE, (analogi TONO jadi TINCE, JOKO jadi JOICE, Dono jadi DORCE, mungkin sama :P )

  22. 22 Hendri Purwakarta Mei 15, 2008 pukul 9:11

    BAGI YANG MENGALAMI KESULITAN MUNGKIN INI SUATU BALASAN, ATAU ANDA SENDIRI YANG SOMBONG DAN INGAT BAHWA KEMUDAHAN UNTUK ANDA TERGANTUNG AMAL-AMALANNYA SENDIRI, ORANG BAIK BAIK PASTI AKAN DILAYANI PULA DENGAN BAIK. ( MALU NICH YEEEEEE) BERTOBATLAH.

  23. 23 Anti_polisi Mei 15, 2008 pukul 15:37

    ^

    Ketauan tugh keluarga polisi :P Pisss

Tinggalkan Balasan




Arsip