Olimpiade Keji dan Pemilu 2009

Saya baru sadar bahwa saya belum beropini sama sekali tentang penindasan yang dilakukan RRC terhadap Tibet. Padahal sebagai seorang manusia Indonesia yang berketuhanan, adil dan beradab… yang juga blogger, sudah sepantasnya saya mewarnai blog ini dengan tulisan tentang hal tersebut.

Karena sudah terlalu malam, jadi pendek saja.

Coba anda bayangkan, manusia-manusia berotot, sehat, bugar, dan keren berkumpul mewakili bangsa-bangsa merdeka dari seluruh dunia, untuk berkompetisi di Olimpiade. Olimpiade yang digelar di RRC yang menginvasi dan menembaki orang-orang Tibet. RRC yang membunuhi orang-orang Tibet.

Kalau yang dibunuhi itu adalah ibu atau saudara kandung dari para atlet tersebut, apakah mereka akan tetap mendukung digelarnya olimpiade di RRC? Akankah mereka tetap mengikuti event tersebut? Mereka akan tetap berangkat jika yang bugar dan sehat itu hanya badan, tapi tak punya nurani.

Pemimpin Negara yang berprikemanusiaan yang adil dan beradab, punya hati, otak dan keberanian sewajarnya tak akan mengirim wakilnya ke negara zalim yang menginvasi negara lain dan membunuhi warga negaranya.

Menurut saya, kalau olimpiade tetap digelar, maka jelas sudah bahwa Olimpiade itu tak lebih dari acara mengadu manusia-manusia tanpa perasaan yang bertarung demi entah apa. Sedangkan negara-negara yang tetap ikut serta berarti menunjukkan bahwa pemimpinnya adalah manusia-manusia yang… hmm… anda akan menyebut apa? Kalau saya menyebutnya.. kalau bukan takut sama cina ya berarti memang tak punya rasa kemanusiaan.

Oh.. maaf… bukan rasis. Yang saya maksud sebagai Cina barusan adalah RRC. Saat demo pro Tibet kemarin, ada juga kok orang Indonesia etnis Cina yang bergabung, walaupun jumlahnya amit sangat sedikit. Apa mungkin kebanyakan mereka itu tidak peduli ya?

Satu hal yang bisa kita pelajari dari kasus ini: Nanti 2009 kita harus pilih orang yang berani ambil sikap, jangan pilih orang yang takut sama Cina (RRC), Arab, Amerika, Israel atau siapapun. Kita harus pilih pemimpin yang volume otaknya cukup, yang berani dan kompeten sebagai pandu bagi Ibu Pertiwi.

Demikianlah pendapat saya tentang masalah Tibet.

Semoga semua mahluk berbahagia. Amin.

16 Tanggapan ke “Olimpiade Keji dan Pemilu 2009”


  1. 1 qzink666 April 26, 2008 pukul 2:52

    Hwadoh, saya malah baru tahu tuh, om, kalo RRC bunuhin rakyat Tibet..
    Wah, ketinggalan info saya.. :(

  2. 2 mbelgedez April 26, 2008 pukul 8:06

    Sayah kok sangsi, boss….
    Nyang sayah tau, saat ini Indon dalam posisi tawar nyang sangat rendah terhadap bangsa laen….

    Jangankeun sama Amrik ato China, sama Singapore dan Malesa ajah kita ndak berkutik….

    ***Coba, mosok bangsa(t) sekecil S’Pore dan Malesa bisa mbeli BUMN kita. Keterlaluwan, kan ???***

  3. 3 Mr. Fortynine April 26, 2008 pukul 10:10

    Nanti 2009 kita harus pilih orang yang berani ambil sikap, jangan pilih orang yang takut sama Cina (RRC), Arab, Amerika, Israel atau siapapun. Kita harus pilih pemimpin yang volume otaknya cukup, yang berani dan kompeten sebagai pandu bagi Ibu Pertiwi.

    SETUJU!!!!! Tapi yang jadi pertanyaan, adakah orang Indonesia dengan kriteria di atas yang bakalan mencalonkan diri?

  4. 4 Emanuel Setio Dewo April 26, 2008 pukul 11:23

    Wah, janganlah mengadu domba. Sudah sebaiknya jika kita menuliskan kedamaian dari pada permusuhan. Aura tulisan ini (dan pasti komentar2nya) sangat bermusuhan dan jauh dari kedamaian.

    (** Kabur… **)

  5. 5 CY April 26, 2008 pukul 13:41

    Sebenarnya bukan takut sama Cina (RRC), Arab, Amerika, Israel atau siapapun. Tapi takut sama boss besar yg namanya “Uang” hehehe… :mrgreen:

  6. 6 Gm. April 26, 2008 pukul 16:05

    Ada saran kongkrit yang bisa langsung saya perbuat?

    Terus terang sebelum saya baca tulisan ini, saya malah mendukung penyelenggaraan olimpiade beijing & tidak peduli dengan isu kekerasan di Tibet.

  7. 7 lisfreswatr April 26, 2008 pukul 20:01

    pada saatnya bakal datang juga sang pemimpin, raja atw ratu adil itu… wahai cucu2koe!

  8. 8 yas April 26, 2008 pukul 22:36

    Setuju, sebaiknya negara-negara yang menyelenggarakan event-event besar apalagi olimpiade tidak mempunyai masalah dengan pelanggaran HAM berat, tapi kita hanya bisa “bersuara” karena semua sudah dipersiapkan, dan urusan dalam negeri kita pun masih semerawut, dan soal pemimpin yang berani ambil sikap tegas kepada negara manapun, itu akan ada. “jangan menyerah saudaraku harapan itu masih ada”.

  9. 9 cdsi April 26, 2008 pukul 23:16

    Sudah Saatnya Indnesia dipimpin oleh orang yang berani mengambil sikap….jangan memilih pemimpin yang mau tunduk sama kekuatan Imperialisme dan neokolonialisme, secara tidak sadar Indonesia saat ini sedang dijajah secara ekonomi sosial budaya oleh kekuatan asing baik yang berbasis barat maupun berbasis timur tengah. Indonesia memiliki falsafah kehidupan dan berkebudayaan sendiri, jangan sampai anak cucukita tidak tau lagi sejarah budaya dan kekayaan khasanah bangsa

  10. 10 Pyrrho April 27, 2008 pukul 0:39

    Saya hanya bisa bilang kalau persoalan HAM/politik dan olahraga itu adalah persoalan yang berbeda. Jalur perjuangannya berbeda.

    Ketika Jesse Owens menjuarai lari 100M di Olimpiade Berlin 1936, dia adalah salah satu atlit berkulit hitam yang secara langsung mempermalukan Hitler yang sangat mengagungkan ras Arya. Owens menunjukkan bahwa ideologi rasis gaya Hitler bisa dibantah lewat prestasi olahraga. Dan dia melakukannya persis di depan muka Hitler yang menonton final Lari 100M Olimpiade Berlin.

    Atlet tidak punya masalah dengan kebijakan negaranya dlm HAM. Memperjuangkan HAM bisa lewat olahraga, tetapi dengan jalan yang sportif sesuai sifatnya : SPORT. Bukan dengan cara boikot karena itu bukan jalurnya. AS memboikot Olimpiade Moskow 1980 dan dibalas oleh Uni Sovyet yang memboikot Olimpiade Los Angeles 1984. Apa yang didapat ? Tak ada.

    Ketika memperjuangkan HAM, lebih baik menggunakan jalur yang tepat. Olahraga adalah salah satunya, tetapi caranya adalah dengan prestasi dan bukan dengan yang lainnya. Berkumpulnya para atlet dari banyak negara yang berbeda ideologi, bermusuhan, dan sering bertentangan adalah bukti kalau mereka menghormati nilai sportivitas olahraga tanpa mencampuradukkannya dengan kebijakan negaranya.

    Bayangkan kalau atlet Israel dan Iran ketemu. Atau atlet AS dan Korut bertemu. APakah mereka harus “bunuh-bunuhan” demi mempertahankan kebijakan negaranya. Begitu juga dengan HAM.

    Olimpiade, dimanapun diadakan, tidak berhubungan dengan kebijakan HAM. ideologi, dan politik dari negara penyelenggaranya. Tindakan memboikot olimpiade hanya karena China melanggar HAM di Tibet bisa dianalogikan bahwa semua negara bisa memboikot negara-negara pelanggar HAM lainnya seperti Myanmar atau Sudan. Lalu mau kemana olahraga kalau dicampuradukkan seperti itu ? :-?

  11. 11 brainstorm April 27, 2008 pukul 0:57

    setuju sama fertob.. itu sudah

  12. 12 kw April 27, 2008 pukul 9:49

    presiden versimu itu hanya di negeri mimpi. presiden indonesia kelak pun akan susah bisa melawan amerika dkk…

  13. 13 Abeeayang™ April 27, 2008 pukul 10:57

    hmmmmmmm…pilih dari kalangan blogger ajah…. :P

  14. 14 rajaiblis April 27, 2008 pukul 13:13

    | Abeeayang |
    jangan … !
    bukankah blogger saat ini sudah berkonotasi negatif ?
    seorang pakar bahkan dengan jelas mengatakan blogger = hacker !

    bagaimana bila kita usulkan barrack obama yg menjadi presiden republik indonesia selanjutnya ? toh dia pernah dibesarkan oleh budaya dan lingkungan yg mengagungkan budi dan pekerti yg luhur.

  15. 15 petroek Mei 2, 2008 pukul 9:55

    saya kira memang kita perlu pemisahan yang jelas antara kegiatan olahraga dengan persoalan HAM. Persoalan HAM selama ini selalu dijadikan komoditas politik golongan/negara tertentu dengan agenda tujuannya sendiri. Ingat bagaimana amerika dengan alasan HAM (versi mereka) membombardir Vietnam, Irak, Sudan serta mengembargo Iran, Kuba bahkan Indonesia!, sekali lagi dengan alasan HAM !. Tapi tidak dengan israel yang telah membunuhi rakyat palestina, mereka hanya diam seperti kerbau. Olahraga malah menurut saya adalah kegiatan yang patut dibanggakan dengan tampa embel2 HAM. Dengan olahraga yg tentunya dapat membuat kita sehat (walaupun dengan sponsor rokok…)juga dapat mebuat suata negara dikenal dengan image yang positif.

  1. 1 Event Olahraga Munafik « Guhpraset Lacak balik pada April 27, 2008 pukul 11:51

Tinggalkan Balasan




Arsip