Event Olahraga Munafik

Barusan saja –yap, ini bukan scheduled post– saya baca sebuah komentar yang mencerahkan dari seorang Fertob yang akhirnya mau diajak kopdar. Sebuah pernyataan bahwa “Olahraga tidak bisa dikaitkan dengan HAM, karena itu adalah sesuatu hal yang sangat berbeda.” Lengkap dengan contoh yang cukup meyakinkan.

Membaca itu saya langsung ingin membantah. Maka bersegeralah saya mengambil wudhu dan membuka berbagai arsip dalam kepala.

Sayang sekali. Ternyata fakta yang saya temukan malah sangat mendukung beliau. Dalam ingatan saya, walaupun sarat dengan kepentingan politis dan ekonomi, event-event olahraga ternyata bukan hanya TIDAK BERKAITAN dengan HAM, tapi bahkan dengan KESEHATAN pun hampir ga’ nyambung!

Di berbagai kampus, even olahraga hampir selalu disponsori oleh PABRIK ROKOK. Haha, aneh sekali bukan? Anda yang sudah lulus S3 atau yang pernah naik Haji pasti tahu dong efek rokok bagi kesehatan? Bukankah hal itu adalah sesuatu yang sangat aneh? *bahkan paragraf ini pun harusnya terasa aneh*

Sambil nonton basket, futsal atau apalah itu event yang digemari, para perokok sejati diantara penonton dengan seenaknya melanggar HAM orang sekitarnya lewat semburan beracun yang berasal dari rokoknya. Menakjubkan.

Mungkin anda anggap itu wajar karena terjadi dalam lingkungan kampus, dimana pikiran anak-anak itu kan belum distempel/disyahkan kualitasnya lewat label Sarjana. Tapi sekarang coba lihat di dalam kotak TV, ternyata hal yang sama juga terjadi, berbagai event olahraga (biasanya sepakbola), selalu disponsori pabrik rokok.

Perhatikan: Sebuah event olahRAGA disponsori dan dipenuhi iklan dari Pabrik Candu. Pabrik yang terang-terangan mengakui bahwa produknya bisa menyebabkan kanker, impotensi dan gangguan janin (janin=cikal bakal manusia). Tidak kah itu aneh?

Sampai disini anda mungkin berpikir: Disponsori oleh pabrik perusak kesehatan yang tidak peduli jika produknya sudah membantu penistaan terhadap HAM, maka sebuah event yang mengatasnamakan Olahraga tentunya bisa disebut event MUNAFIK. Benar kan?

Sekarang ijinkan saya membela para atlet dan olahragawan:

Anda perlu melihat event-event itu sebagai kompetisi murni. Tak lebih dari sebuah kompetisi adu cepat, adu kuat, adu hebat yang ditunggangi berbagai kepentingan politik dan ekonomi. Tidak perlu dikait-kaitkan dengan urusan HAM, kemanusiaan atau bahkan dengan kesehatan. Yang terjadi disini murni adu fisik, mungkin juga adu licik. Anda tak perlu memikirkan kemanusiaan, nurani atau apalah itu hal-hal tak penting. Dengan mendukung event-event itu, maka anda sudah menghargai hak-hak asasi para atlet, para sponsor, para advertiser dan tentu saja para buruh pelinting rokok melarat yang jumlahnya luar biasa banyak.

Sekian dulu.

*ditulis saat seorang guru les yang pintar dan sangat seksi sedang sibuk dengan papan tulisnya*

29 Tanggapan ke “Event Olahraga Munafik”


  1. 1 ManusiaSuper April 27, 2008 pukul 12:32

    Justru karena produk mereka merusak kesehatan dan syahwat, maka pengusahanya berusaha menyeimbangkan hidup dengan memberikan sebagian keuntungan untuk olahraga yang menyehatkan…

    YIN…

    YANG…

    Note: ngomongin apa aja sama mas TObing?

  2. 2 chrisibiastika April 27, 2008 pukul 12:50

    lagi-lagi paradoks yang aneh, yang - menurut komen di atas - sifatnya menjadi (dipaksakan) komplementer. ya inilah hidup yang superkomplekas itu…

  3. 3 rajaiblis April 27, 2008 pukul 15:20

    Guh, yang namanya bertanding pasti ada yg pegang peran baek dan ada yg pegang peran buruk !

    tapi, selama saya nonton pertandingan tenis wimbledon, belum ada yg menghisap rokok di sana … ! gak tau kalo mereka menghisap sambil ngumpet !

  4. 4 Mihael Ellinsworth April 27, 2008 pukul 16:00

    Perasaan sih, yang applicable dan ada contoh konkrit untuk kaum perusak kesehatan itu, baru saat pertandingan bola dan basket saja. Basket juga sepertinya tidak semuanya, wong ruangan indoor. :-?

    Kalau soal sponsor, kayaknya agak nista pakai produk rokok. Tetapi dilihat dari fulus, kayaknya tidak terbantahkan. Pasti dipakai juga.

  5. 5 alex April 27, 2008 pukul 18:36

    Jadi spikless…

    Saya dari dulu mo bikin itu postingan free tibet, ndak jadi-jadi :(

    Btw, benar-benar sedang sibuk kah, Guh? :|

  6. 6 erander April 28, 2008 pukul 8:43

    Dulu .. ketika minyak dunia naik, formula 1 sempat diwacanakan untuk dihentikan. Tapi sejalan dengan waktu .. formula 1 tetap saja berlangsung dan malahan harga minyak sudah gila-gilaan, tidak terdengar lagi wacana untuk menghentikan formula 1.

    Memang .. kita harus arif bijaksana dalam memandang suatu masalah. Tidak asal gupyah uyah *halah* boso apa ini rek hehehe .. dan tidak asa beda, tidak asal berpendapat. Tapi kalo buat guyon-guyonan mah, ayuukk aja .. dan tidak selamanya guyonan itu tidak mencerdaskan. Banyak sekali kritikan disampaikan dengan irama lawakan hahahah :D

    *olah raga koq saya malah ngebahas lawakan*
    :evil:

  7. 7 Pyrrho April 28, 2008 pukul 10:22

    Hampir semua event olahraga tidak lepas dari pertarungan kepentingan, Guh. Termasuk kepentingan bisnis, yang bisa saja bisnis rokok masuk didalamnya. Juga kepentingan politik dan HAM. Bahkan kepentingan para pembuat obat doping.

    Tapi coba kita pandang dari sudut pandang atlet. Apakah itu berarti mereka tidak boleh berprestasi dengan bakatnya ? Lagi-lagi karena banyak kepentingan lain, yang terkadang tidak sesuai dengan nilai-nilai yg kita anut, terlibat didalamnya ?

    Ironis memang kalau olahraga yang menyehatkan raga harus terlibat dalam semuanya itu. Hakekat olahraga bukanlah bisnis/ekonomi, bukanlah HAM/politik, dan bukanlah hal-hal lain yang sering dikait-kaitkan dengannya. Olahraga adalah olahraga, tempat seseorang menyehatkan badan dan berprestasi, lepas dari segala kepentingan bisnis, HAM/politik, dan lainnya.

    Saya juga tidak setuju ketika olahraga dilibatkan dalam semuanya itu. Tapi sering kata orang, “inilah bisnis, jika olahraga ingin berkembang maka ikutilah jalan yang sudah ada.” Lalu olahraga diseret-seret jadi pertarungan kepentingan sambil melupakan apa hakikat olahraga itu sendiri.

    Dengan mendukung olimpiade tidak berarti kita mendukung pelanggaran HAM yang dilakukan oleh China. Tidak berarti kita mendukung Coca Cola, Samsung, bahkan AirAsia kalau mereka menjadi sponsor acara itu. Mendukung olimpiade berarti mendukung olahraga sebagai sarana berprestasi melalui media fisik. Itu saja.

    Kalau kita menempatkan satu nilai diatas nilai-nilai lain maka seluruh nilai-nilai itu berada pada subordinat satu nilai tersebut. Misalnya kita menempatkan nilai HAM diatas segala-galanya. Maka yang terjadi adalah bisa seperti ini :

    -Ngapain dukung olimpiade, bukannya China melanggar HAM. Berarti kita mendukung pelanggaran HAM mereka dong…!!
    -Ngapain cari investor ekonomi dari China, bukannya itu berarti duit yang mereka investasikan berasal dari darah rakyat yang ditumpahkan mereka ?
    -Ngapain melakukan pertukaran budaya/pelajar dengan China. Bukannya mereka melanggar HAM, dan tentunya kita tidak ingin dituduh mendukung pelanggaran HAM mereka dgn program pertukaran budaya ?

    Akhirnya semua hal selalu dikaitkan dengan nilai HAM. Nilai-nilai lokal dalam olahraga, misalnya, menjadi hilang dan diabaikan. Karena ukurannya selalu ada yang lebih tinggi.

    Mengapa Jesse Owens mau mengikuti Olimpiade Berlin 1936, sementara dia tahu kalau Hitler sangat anti kulit hitam ? Dalam biografinya dia menulis bahwa dia ingin menunjukkan pada Hitler bahwa ideologinya itu benar-benar sampah. Bahwa ras lainnya bisa mengungguli ras Arya. “I show you my achievement, and what do you say ? Did I still “a garbage” in your pathetical ideology ?”

    Atlet tidak mengurusi HAM didalam keikutsertaan mereka dalam event olahraga, bahkan yang munafik sekalipun. Karena nilai yang mereka anut adalah nilai olahraga itu sendiri. Diluar itu, bisa jadi (dan sudah banyak terbukti) bahwa mereka sangat mengecam pelanggaran HAM di China.

    Banyak atlet, dari berita-berita yang saya dapat, yang turut mengecam dan membentuk opini publik melawan penindasan China di Tibet, tetapi ketika mereka ditanya apakah mereka akan ikut olimpiade Beijing, mereka katakan YA. Apakah mereka munafik ? Tidak. Karena mereka bisa membedakan dalam kapasitas apa mereka beropini. Apakah sebagai atlet yang menghargai nilai sportivitas dan prestasi olahraga, atau sebagai aktivis HAM yang menghormati hak-hak asasi manusia. Dengan kata lain, mereka juga turut berjuang dalam perannya sebagai seorang manusia.

    Misalnya ada sebuah event olahraga disponsori oleh perusahaan rokok. Apakah event olahraganya yang kita batalkan ? Apakah event olahraganya yang kita abaikan karena ada ‘pengrusakan’ dari pihak luar ?

    Apakah bukan perusahaan rokoknya yang kita “bantai” saja, atau peraturan sponsor olahraga yang kita batasi dengan aturan produk-produk ‘perusak’ tidak boleh menjadi sponsor olahraga ?

    Mana yang lebih “masuk akal” ?

    Saya cuma berusaha membedakan, mana masalah utamanya dan mana masalah lain yang dilibatkan/dikait-kaitkan dengan masalah utama. IMHO. :)

    *ditulis saat seorang guru les yang pintar dan sangat seksi sedang sibuk dengan papan tulisnya*

    Nitip mata, Guh… :mrgreen:

  8. 8 Guh April 28, 2008 pukul 13:30

    @Manusiasuper, untuk olah raga, atau untuk advertising dan menjaring lebih banyak pecandu?

    @Chrisibiastika, memang superkompleks, dan kita sebagai manusia punya kebebasan untuk menutup mata terhadap sisi manapun yang kita tidak suka.

    @Rajaiblis, baik buruk itu kan di film, kalo di pertandingan biasanya kalah menang dong. Mohon maaf atas sempitnya wawasan saya, saat menulis posting diatas, saya tidak ingat sekali kalau ada yang namanya tenis :P

    @Mihael Ellinsworth, uang adalah tuhan :D

    @Alex, ya ga harus spik spik, tulas tulis aja gpp kok. Sya tidak sibuk kok, hanya masalah fakir benwit dan manajemen waktu yang busuk.

    @Erander, Saya ga guyon pak, ini saya cukup serius.

    @Pyrrho, tidak ada yang melarang para atlet untuk berprestasi.

    Apakah kompetisi di olimpiade bagi sang atlet murni hanya kepentingan prestasi dan kesehatan? prasangka saya sih tidak, dibaliknya ada kepentingan gengsi politik ekonomi materi juga. Bayangkan apa yang terjadi kalau mereka sok-sokan teriak HAM lalu mboikot olimpiade, mau makan apa bulan depan? Apalagi kalo skill yang dimiliki cuma ngeblog (misalnya atlet ngeblog). Itu baru atlet, belum negara partisipan, mungkin mereka juga punya ketakutan/alasan tersendiri. Plus berbagai pembenarannya.

    Kalau intinya cuma pengen sehat, dilakukan dikamar terkunci juga bisa sehat. Kalau niatnya mau kompetisi atau cari gengsi, sama tetangga sekelurahan juga bisa, kalau perlu ngundang atlet-atlet dari seluruh dunia, tentunya tanpa harus melibatkan pabrik rokok sebagai sponsor. Kalau demi kemanusiaan, kesetaraan dan kebersamaan bangsa-bangsa merdeka diseluruh bumi… ya.. saya susah ngerti kenapa harus digelar di Cina yang terekspos kurang menghargai kebersamaan, kemerdekaan dan kemanusiaan. Tapi kalau memang cuma untuk merayakan “pencapaian badan” seperti yang saya lihat di wiki, ya ngerti..

    Semua memang selalu memilih, nilai apa yang akan tempatkan di posisi paling atas, apakah HAM, “Olahraga”, Kepatuhan pada Team leader, atau apapun. Pada akhirnya bisa dimengerti kenapa atlet memilih tidak mengurusi HAM. Atau walaupun mengecam, tetap saja ikut olimpiade. Dengan cara yang sama kita juga bisa merasa mengerti banyak hal, termasuk kenapa Amrozi meledakkan bali, mungkin itu karena dia mementingkan surganya sendiri diatas segala hal yang lain.

    Misalnya ada sebuah event olahraga disponsori oleh perusahaan rokok. Apakah event olahraganya yang kita batalkan ? Apakah event olahraganya yang kita abaikan karena ada ‘pengrusakan’ dari pihak luar ?

    Kalau event olahraga itu hanya sebagai kamuflase, atau sebagai tunggangan iklan dimana tujuan utamanya adalah promosi (misalnya iklan rokok untuk menambah jumlah pecandu baru, apalagi dari kalangan anak-anak/pelajar), maka YA, event itu sebaiknya diabaikan, diboikot atau dibatalkan sekalian. Menurut saya sih idealnya gitu.

    Saya cuma berusaha membedakan, mana masalah utamanya dan mana masalah lain yang dilibatkan/dikait-kaitkan dengan masalah utama.

    Saya justru berusaha mengait-ngaitkan. secara saya masih percaya kalau hampir semua hal di alam ini sebenarnya saling berkaitan dan saling mempengaruhi, walaupun mungkin tidak/belum kelihatan.

  9. 9 Tukang obat Bersahaja April 28, 2008 pukul 13:46

    Olimpiade dan para sponsor punya hubungan yang solid. Jangan jelekin sponsor terus, meski produknya ga nyambung atau malah merusak iman dan kesehatan yang penting uang ngalir bro..

  10. 10 rajaiblis April 28, 2008 pukul 16:25

    Guh …
    dah 5 tahun ini aNE jarang olahraga …
    kalo dulu jogging + renang langganan 3 kali seminggu …
    cuma kepulan asep di mulut terus berjalan …

    sekarang ini …
    setelah 5 tahun berlalu …
    kembali ada waktu buat renang dan jogging
    dengan porsi mengepulkan asap 3 kali lipat dari sebelumnya …
    ooo iya … 5 tahun lalu porsi tidur harus 8 jam … bila kurang bisa fatal …
    but … dah 5 tahun belakangan ini porsi tidur malah makin berkurang … dapet 4 jam sehari dah bagus banget !

    ooo iya Guh …
    untuk jogging … dalam 10 menit dapet 5 putaran ring luar senayan !

  11. 11 no_mercy April 28, 2008 pukul 19:36

    hehehe… jadi keinget waktu kuliah dulu saat ada event liga sepakbola kampus… lari-lari sana sini kejar bola, bentar kemudian ke pinggir lapangan buat ambil rokok teman… sedot dikit… kejar bola lagi… priiittt… si wasit keluarin kartu merah, ternyata ada temen yang saking asyiknya tuh rokok di bibir dengan semangatnya ikut ke dalam lapangan hehehe… eh si temen malah marah2in si wasit, kata si temen tadi gak ada peraturan tertulisnya, kan acaranya juga disponsorin sama pabrikan rokok, sekalian dipromosiin secara langsung oleh pemain dong… grrrrrr :))

  12. 12 CY April 30, 2008 pukul 8:46

    Sayangnya cuman 1 persen orang yg berani melawan arus dan hanya 1 persen dari jumlah itu yang sampai dgn selamat keseberang Guh… :mrgreen:

  13. 13 geMbel elite™ Mei 1, 2008 pukul 21:17

    Produk apa segh, nyang bisa nyeponsorin gila-gilaan selaen rokok..???

  14. 14 joyo Mei 2, 2008 pukul 8:25

    saya kok masih nggak yakin klo rokok bisa menyebabkan kanker, impotensi dan gangguan janin.
    eh saya bukan perokok lho.

  15. 15 petroek Mei 2, 2008 pukul 10:30

    saya perokok, tapi kok nga kena kanker, impotensi (sudah terbukti), apalagi gangguan janin….
    Jangan2 tuh iklah bohong nkali yah…soalnya tipikalnya orang indonesia kan semakin dilarang malah semakin nekat dia….
    *pluss…pluss…*

  16. 16 calonorangtenarsedunia Mei 2, 2008 pukul 11:05

    Saya abis bikin event olahraga. Dan ga ada sponsor rokok. Karena kampus saya bikin peraturan bahwa di event apapun, ga boleh ada sponsor rokok, minuman keras, dan kondom. begitu lah. tapi tetep aja acara saya rame tuh..

  17. 17 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 12:33

    Ndak apa-apa disponsori rokok, kok. Karena sebanding dengan pameran aurat demi kebebasan dan hak asasi di even-even olahraga, yang bikin lumayan jadi candu lain utk untuk coli. Kan sesuai teori bahwa coli ada efek bagusnya juga buat meningkatkan jidat hitam tho, Guh?
    :lol:

    Saya dukung even rokok, seperti mereka yang mendukung kondom utk hak syahwat setiap orang kok :cool:

  18. 18 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 12:47

    Ah ya…
    Saya lupa mengungkapkan pikiran saya:
    Kenapa saya selalu menangkap generalisasi terhadap perokok seolah-olah menjadi orang paling brengsek di banyak postingan di banyak blog ya? Terlalu tendensius bagi saya. Tidak ada pemisahan mana yang merokok utk diri sendiri mana pula yang tidak.

    Bukankah dunia berbeda? Bukankah kita mestinya sepakat untuk tidak sepakat? Bukankah tiap individu punya kebebasan masing-masing?

    Ya, saya tidak setuju dengan orang yang merokok di depan orang lain yang non-perokok. Tapi, ayolah: benci sama rokok atau perokok tidak lantas menjadikan anti-rokok sebagai orang paling benar atau paling sahih berpendapat :)

  19. 19 danalingga Mei 2, 2008 pukul 15:20

    Lex, merasa merugikan diri sendiri nggak tuh kalo merokok?

  20. 20 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 15:34

    @ danalingga
    Tergantung definisi rugi seperti apa.
    Dari kesehatan, iya.
    Dari keuangan, iya.

    Tapi saya butuh perangsang untuk bisa kerja dan mikir. Permasalahan apakah bagi orang seperti saya rokok itu menjadi candu, biarlah itu jadi urusan personal, seperti personalnya kebebasan berpikir, HAM etc-etc sejenis itu. Selama saya tidak klepas-klepus ngembus asap di depan orang, berarti saya punya hak terhadap tubuh saya sendiri, seperti punya haknya manusia terhadap pemikirannya sendiri. Benar tho? :P

    *pembenaran memang indah* :lol:

  21. 21 danalingga Mei 2, 2008 pukul 15:36

    Kekekekek…. dasar lo :P

    Saya sih cuma mendakwahi lex, ndak memaksa. Entah kalo si guh. :lol:

  22. 22 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 15:37

    Ah, saya lupa lagi. Semestinya saya cantumkan quote favorit saya: Segala sesuatu di dunia ini benar tergantung dari sudut mana anda melihat

    Saya harap sih, apa yang tidak disukai oleh seseorang tidak lantas menjadikan sudut pandangnya bisa menghakimi hak orang lain, sebusuk apapun hak tersebut. Tentu… tentu… selama ketertiban umum tetap terjaga bukan? :P

  23. 23 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 15:42

    @ danalingga

    Kekekekek…. dasar lo :P

    *nyengir*
    Kan pembenaran selalu diperlukan. Saya ndak perlu ngutip ayat-ayat dari langit utk itu, kan?

    Saya sih cuma mendakwahi lex, ndak memaksa. Entah kalo si guh. :lol:

    *sujud syukur*
    Ah…saya sendiri suka juga sih didakwahi buat ninggalin yang kurang baik. Tapi kalo ndakwahinya sambil ngecam-ngecam, kok jadi kaya para khatib yang saya benci karena suka nuding2 orang yang tak sepaham ya?

    Kalo kotbah agama saja saya bisa Walk-Out karena yang ndakwahinya begitu, apalagi yang bukan kotbah agama. Ya, saya lawan. Dengan argumen saya tentunya :P

  24. 24 Guh Mei 2, 2008 pukul 16:16

    Heeee, justru saya membuka kolom komentar itu karena saya baik hati, memberi kesempatan pada pembaca untuk menghakimi berbagai penghakiman yang sedang saya lakukan. Ayo bersyukur!!!

  25. 25 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 17:59

    *kaget*
    Iya… Iya…, Guh
    Benar juga :lol:

    Ayo bersyukur!!!

    *komat-kamit bercukur* :mrgreen:

  26. 26 Faubell Mei 12, 2008 pukul 19:56

    Pembenaran adalah “masturbasi”. Jangan gitu ah..,nanti diketawain Raja Iblis.
    *Tengak-tengok kalau Raja Iblis muncul*

    @Guhpraset
    Salam kenal

  27. 27 Ya Mei 12, 2008 pukul 23:33

    WAHAI ANAK BANGSA” BANGUNLHAH!,
    BUKALAH MATAMU!
    BERDIRILAH DENGAN KAKIMU, SING-SINGKAN LENGANMU,
    MARI BANGKIT! UNTUK INDONESIAMU TERCINTA
    INDONESIA KITA TIDAK PERNAH MERDEKA!
    INDONESIA KITA TERUS MENANGIS”
    INDONESIA KITA TERUS MERANA”
    INDONESIA KITA SELALU DI PERKOSA
    “PELAKUNYA ADALAH IMPERIALISME ANAK SANG KAPITALIS”
    NEGERI KTA DARI DULU SAMPAI SEKARANG TERUS TERJAJAH
    SADARKAH KITA BAHWA TIGA PEREMPAT KEKAYAAN NEGERI INI
    TELAH TERKURAS HABIS, OLEH SETAN IMPERIALISME
    NEGERI INI MENYEDIAKAN SELURUH KEKAYAAN BUMI, MEMILIKI
    SEJUTA PESONA, BAHKAN SEJUTA RASA.
    KITA PEMILIK SAH NEGERI INI, NAMUN TERPASUNG OLEH SISTEM
    IMPERILALISME MODERN, TERJEBAK OLEH SEKULARISME
    PARTIKULAR, TERLENA OLEH HEDONISME SEMU.
    SADARKAH KITA, SETIAP BANGSA BERHAK ATAS DIRI DAN
    TANAH AIRNYA, AKAKAH KAU GADAIKAN DEMI KENIKAMATAN
    SESAAT, TENGOKLAH KE BELAKANG!
    MAU JADI APAKAH NEGERI INI?
    BAGAIMANA NASIB ANAK CUCU KITA KELAK, JIKA KITA HARI INI
    TIDAK PERNAH MEMBERI MEREKA KEKUATAN UNTUK MENGUASAI
    NEGERI INI, DAN MENGOLAHNYA UNTUK KESEJAHTERAAN MEREKA
    SEPENUHNYA, BUKAN UNTUK NEGARA TETANGGA, BUKAN UNTUK
    ADI DAYA, DAN BUKAN PULA UNTUK INVESTOR.
    IMPERIALISME NEGERI INI SUDAH KETERLALUAN, SANGAT
    MENGERIKAN DAN MEMILUKAN, KITA TENTU TIDAK INGIN
    SELAMANYA MENJADI BANGSA TERJAJAH, TERHINA,
    TERLUKA DAN TIDAK MERDEKA.
    MARI SATUKAN TEKAD, BULATKAN NIAT!
    KITA HARUS MEREBUT KEMBALI SEMUA KEKAYAAN KITA,
    JANGAN BIARKAN SAWAH DAN LADANG KITA DI BAJAK
    ORANG, JANGAN BIARKAN LAUT KITA DI AMBIL ORANG,
    JANGAN BIARKAN HUTAN KITA DITEBANG ORANG,
    JANGAN BIARKAN BUDAYA KITA DICURI ORANG.
    MARI KITA RAMPOK SEMUA BANK, MARI KITA SEGEL
    SEMUA KANTOR PEMERINTAH, MARI KITA AMBIL ALIH
    SEMUA PABRIK, MARI KITA GANTI IDENTITAS NEGERI
    INI DENGAN BUDAYA KITA, BUDAYA TIMUR YANG SEJAK
    DULU MENJADI DARAH DAN INSPIRASI HIDUP KITA.
    PERSETAN DENGAN KEPERCAYAAN, PERSETAN
    DENGAN SEGALA BENTUK KEYAKINAN, YANG JELAS
    MEREKA TIDAK PERNAH MEMBERI KITA HARAPAN,
    APALAGI KEBAHAGIAAN!
    UNTUK MENJADI ORANG BAIK TIDAK PERLU PENGABDIAN,
    TAPI HARUS DENGAN PENGORBANAN, PEPERANGAN DAN
    MENEGAKKAN KEADILAN.
    YANG BISA KITA LAKUKAN HARI INI ADALAH :
    REVOLUSI

  28. 28 Gen Mei 18, 2008 pukul 11:33

    Cintaaaa…
    udah lama gak berkunjung ke blog ini ^^;

    maaf yah ikut ngomen tapi ga nyambung sama topik.. hehehe

    miss u :*

  29. 29 Guh Mei 18, 2008 pukul 19:23

    @Gen, dimaafkan. Miss u too :-*

    @Faubell, salam kenal juga.

    @Ya. Setahu saya budaya kita bukan perampok. Setuju dengan ajakan bangkit, tapi untuk merampok dan menyegel kantor tidak.

Tinggalkan Balasan




Arsip