Dari situs Pak Hidayat Nur Wahid, saya membaca sabda beliau:
Jakarta - Ketua MPR Hidayat Nurwahid menawarkan solusi cepat untuk jamaah Ahmadiyah. Mereka cukup memilih siapa nabi mereka.
“Jika menghendaki menjadi bagian dari komunitas Muslim, sebaiknya mengakui nabinya adalah Muhammad dan bukan Mirza Ghulam Ahmad,” kata Hidayat disela peluncuran buku di Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (20/4/2008).
Namun lanjutnya, jika Mirza tetap menjadi nabi mereka, Ahmadiyah bisa mendeklarasikan keluar dari Islam. Jika keluar dari Islam, maka umat Islam harus mendukung keberadaan mereka.
“Umat yang lain yang berbeda Tuhan dengan umat Islam kan tidak ada masalah,” jelasnya.
Hidayat tidak setuju kalau ada masyarakat yang main hakim sendiri. Ahmadiyah harus diselesaikan dari kaca mata hukum.
“Umat jangan terprovokasi untuk bertindak anarkis,” pungkasnya.
Membaca berita itu, saya yang selama ini sok bertauhid jadi bertanya-tanya:
- Yang dimaksud dengan “berbeda Tuhan” itu apa? Apakah itu berarti Tuhan lebih dari satu? Bila ternyata beliau menemukan bahwa ternyata Tuhan ada lebih dari satu, maka kita harus mendukung (dan memaksa) beliau untuk membeberkan fakta ini ke seluruh dunia, biar orang-orang yang gemar barbar sambil mengatasnamakan Tuhan bisa tercerahkan, dan bisa kita arahkan untuk memilih Tuhan yang lebih baik.
- Dari cara berita itu ditulis, tampak seperti mengatakan secara implisit bahwa Muhammad dan Mirza Ghulam Ahmad itu berbeda Tuhan. Atau malah mereka itu Tuhan yang harus dipilih? Ini juga harus dijelaskan, sebenarnya Tuhan mana mengutus siapa.
- Mungkin harus konsultasi pada Roy Suryo, apakah mungkin ada seekor blogger/ hacker/ pakar negatif yang berhasil menyusup masuk ke situs HNW lalu memposting berita yang menyesatkan/membingungkan?
- Apakah ada kesalahan pemberitaan? Semoga ini lah yang terjadi. Jadi cukup kelarifikasi, tuntut sana sini kalau perlu, dan masalahpun akan selesai. Rakyat pun tak perlu merasa gundah karena merasa punya ketua MPR yang aneh.
- Yang terakhir ini sebenarnya pertanyaan untuk umum: Saya penasaran, ingin tahu bagaimana caranya menguasai dan memonopoli Tuhan, kalau bisa sekalian mengendalikanNya sehingga bisa kita peralat, kita tunggangi untuk memenangkan keinginan-keinginan dan tujuan-tujuan politik kita.
5 Pertanyaan diatas sudah saya kirim melalui kolom komentar. Kenapa? Karena buat saya ini bukan masalah sepele, seandainya Pak HNW itu cuma blogger ga penting yang malas update seperti saya, mungkin berita itu tidak perlu dijadikan masalah. Tapi anda tahu kan beliau itu siapa?
Beliaw itu KETUA MPR bok!! MPR dari sebuah negara berlandaskan PANCASILA yang BERKETUHANAN YANG MAHA ESA. Negara yang katanya ber Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa!
Jadi? Bagaimana dengan anda para pembaca? Apakah berita tersebut memicu lecutan elektron dalam otak anda? Apakah menggaruk hati anda yang mungkin sudah penuh luka itu? Silakan bertanya langsung pada yang mulia Pak HNW. Saya juga sedang menunggu jawaban atas pertanyaan telah saya kirim.
- - - - - - - - -
Tulisan yang tidak Terkait:
Ketua MPR kita Hidayat Nurwahid berkata: “Jika menghendaki menjadi bagian dari komunitas Muslim, sebaiknya mengakui nabinya adalah Muhammad dan bukan Mirza Ghulam Ahmad”.
Memang semudah itu ya mencirikan islam dan non islam? sempit banget, apa jadinya kalo ada yang mengakui guhpraset menjadi nabi?? KTP mesti ganti nih.
Kali aja yang dimaksud itu tuhan dalam hal penafsiran, Guh. Kita juga bukan tuhan untuk tahu pasti definisi kata Tuhan menurut tuan Hidayat Nur Wahid itu ;)
Loh, “Tuhan kita memang berbeda” kok.
Sepertinya harus diganti menjadi bekeTuhanan yang maha banyak. :lol:
Ahmadiyah kan memang mengakui Nabi Muhammad. Cuman ada tambahan nabi lagi. Apa Pak Nur nggak tahu ya?
“Umat yang lain yang berbeda Tuhan dengan umat Islam kan tidak ada masalah,”
Kalo yang tidak punya tuhan gimana ya?
Yang jelas jumlahnya akan bertambah satu, karena saya juga mau jadi Tuhan jugak :mrgreen:
Ah, mungkin pak Nur ini yang bisa mengajari saya cara menghitung Tuhan .
hihihih giblig juga tu ketua MPR, eh tapi sapa tau beliau benar, bahwa Tuhan orang Islam beda sama Tuhan orang Kristen, etc.
Ya… iyaaaaa….. laaaaaa….chhhh….. :mrgreen:
Sesuatu yang sudah jelas, tapi dijadikan masalah. Memang Gus Praset ini hobinya “bahsul masail (cari masalah)”. Saya muslim, Tuhan saya Allah. Saya punya teman non muslim, ada yang tuhannya Yesus, Sang Hyang Widhi, dll.
Salah satu pernyataan saya sebagai muslim adalah 2 kalimat syahadat. Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Jika ada yang selain itu, jelas bukan muslim.
Ada berapa Tuhan? Bagi saya dan Pak Hidayat sebagai muslim tentu hanya ada satu. Tapi realitas kita di Indonesia dan dunia, ada non muslim yang tuhannya lain. Apa kita harus bunuhi mereka? Nanti disalahkan lagi, katanya kita harus menghargai pluralitas.
Gus Praset, mengenai Tuhan dan Nabi, itu sudah jelas dan clear, bahkan crystal. Mohon jangan macem-macem, kecuali anda memang suka mancing-mancing dan cari masalah.
Ngomong2 soal Tuhan, ini ada berita ttg “Tuhan” yang ditangkap polisi:
http://beritamaya.wordpress.com/2008/05/02/mengaku-wujud-allah-dukun-ditangkap/
Aneh2 saja tuh orang…. dasar!
Viva Tuhan Yesus!
he.he guh praset menggigau nih.. kayak nggak tau aja
dalam UUD
ketuhanan yang maha esa itu kan sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing…
kalo islam esanya ALLAhu ahad SWT
kristen Tritunggal
Hindu Sang hyang widhi
dst
nah kalo yan katanya nggak bertuhan..(memegang teguh ketak bertuhanannya) ya tuhannya adalah pikirannya itu
yang repot kan dan yang bikin masalah adalah dia ngaduk-ngaduk kepercayaan / agama itu ….
coba kalo ada yang mnyebarkan keyakinan baru dengan nambah2 tuhan baru, nama tuhannnya DEWA BLOGGER…
tapi katanya itu agama HINDU yang benar, dan kalo dewanya nggak DEWA BLOGGER itu bukan HINDU … Ribut pasti tuh di BALI…
jadi cukupkanlah dengan agama kita masing2 jangan nambah-nambah
Guh, frasa “berbeda Tuhan” tidak serta merta mendefinisika jumlah kan? Kan makna “Bhinneka Tunggal Ika” itu “Berbeda tetapi tetap satu jua” kan?
saya rasa itu solusi baik yg utarakan pak HNW, buat mencegah aksi2 kekerasan sendiri koq.
Hm… menarik juga. Yah… anggep aja pak HNW salah ucap dan kita pun salah mengartikan. Soalnya komen Amed juga ada benarnya tuh. Jangan-jangan tuhan kita uang atau harta lagi :)
“God is in our mind”
@Tukang Obat, makanya jangan mengakui sebagai nabi, sebagai tuhan aja sekalian. Tapi jangan lupa minta ijin dulu sama Pak HNW ;)
@Tgk. Alex, Tuhan = Penafsiran? Ah, saya yakin pak HNW itu lebih pintar dari kita berdua dalam masalah tata bahasa.
@Emanuel Setio Dewo, itu menarik, bisa anda jelaskan? Ping mungkin?
@Danalingga, maha banyak apanya? banyak namanya, banyak wujudnya, atau banyak keributan yang ditimbulkannya? :P Saya kok masih yakin kalau beliaw cuma satu.
@Kabarihari, Joyo, makanya itu saya sertakan link yang kalau diklik langsung ke situs beliau, silakan tanya langsung sama beliau. Saya yakin itu gunanya ada kolom komentar terbuka disana.
@Ibn, halo salafy ;)
@Ali Basuki Rochmad, Selamat datang Pak ;)
Belum-belum sudah menyerang dan mengancam orangnya, itu ajaran dari partai ya pak? Kapan-kapan Share dong gimana tips2 dan triknya di blog bapak.
Menanggapi komentar anda, saya bertanya-tanya seperti diatas karena saya masih percaya kalau sesuatu yang Maha Ada dibalik semua hal, yang kita kenal sebagai Tuhan itu sesungguhnya hanya satu. Tapi setiap budaya, setiap agama punya labelisasinya sendiri, punya dongeng-dongengnya sendiri tentang Tuhan. Maka itu sepanjang sejarah dan diberbagai belahan bumi Dia dikenal dengan berbagai nama, konsep dan atau gambaran yang berbeda-beda.
Saya sangka Pak HNW juga punya keyakinan yang sama, maka itu saya bingung dan bertanya-tanya.
Dan setahu saya lagi, menanggapi orang bertanya biasanya dengan penjelasan yang baik-baik, bukan diancam-ancam. Ini juga memicu pertanyaan, kebiasaan mengancam dan menyerang pribadi, bukan pesannya itu ajaran Tuhan, atau partai pak? Saya serius mau baca tulisan bapak tentang tips-tips melakukan hal itu secara efektif dan efisien, soale saya juga punya beberapa pengganggu yang perlu diancam dan dibungkam.
@Doni, hehe, ngaku-ngaku sembarangan, orang itu benar-benar harus banyak belajar pada para ulama.
@Aldino, *mengigau*
@Amed, yakin? Bhineka Tunggal Ika itu kan ada banyak individu, banyak kepentingan, banyak orang? Apa anda ingin mengatakan bahwa tuhan itu semacam gerombolan yang sebenarnya tergabung dalam satu pemerintahan?
*mengingat-ingat apakah Tuhan pernah menyebut dirinya dengan “kami”*
*terkejut*
@aRuL, maksudnya kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang merasa lebih asli?
@Adieska, itu sih terserah anda, mau menuhankan duit, jabatan, nabi atau kitab juga urusan pribadi anda, tapi kayaknya yang sedang dibicarakan pak HNW bukan soal itu kan?
mungkin maksud pak HNW ini sama seperti.. ga mau ngakuin Isa sebagai Tuhan, ya monggo bikin Islam. ga mau ngakuin Muhammad nabi terakhir? ya monggo bikin agama Ahmadiyah..
loh ko’ kaya’ partai ya? :lol:
wadoueee …
bukannya tuhan emang cuma satu …
aya aya wae si Guh …
satu di bogor, satu di bandung, satu di ambon, satu di berlin …
wah … dah jam 2 ..
sori … aNE pamit dulu mo meeting ma tuhan …
wakkakakakakkaaa …
Ah… lebih pintar dari saya? Agaknya tidak. Sifat egois saya menyatakan kalau dalam hal bahasa agaknya saya lebih pintar, karena saya lebih
banyak bacritngoceh terhadap masalah made in dewek. dan itu bukan melulu masalah agama saja seperti sekarang ini.*sekali-sekali saya menyombong*
Masalahnya kan dia tidak menjelaskan tuhan dalam definisi yang bagaimana yang dimaksudkannya, Guh. Jika kita pun sepakat bahwa tuhan itu satu dan kita menganggap bahwa semestinya tuan HNW mesti berpikir dgn persepsi kita, banyak sekali yang harus kita luruskan. Sengotot apapun kita mengatakan bahwa Tuhan itu satu, tetap akan ada juga yang menolak klaim demikian.
Kita ini kan negara majemuk yang
menyembahmemuliakanpluralisme yang agungdemokrasi toh? Saya berbaik sangka saja bahwa pak HWN - dengan berpegang pada pemuliaan terhadap Pancasila yang tak mungkin salah itu - mencoba meredam aksi barbar macam pasukan jenggot onta yang kita sama-sama tidak setuju itu ;)yg jelas, si amediyah ini, masih mengakuwi kenabiyan orang laen setelah Muhammad SAW, meski di Islam sudah jelas dinyatakan bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir, itu khan mbudheg namanya. kalok masih nekat pengen menjura sama si mirza, mending bikin agama baru aja sekaliyan, gak usah nyangkut pautin sama Islam, dan jangan pulak bikin Islam Protestan, Islamirza, New Islam, Islam Mileniyum atau agama baru yg masih nyerempet2 Islam laennya… dan insha Alloh umat Islam nggak akan ribut2 lagi…
kalok masalah tuhan yg mendadak dangdut jadi banyak, itu kan masalah penafsiran masing2 nya aja. pak HNW kan ngomongin umat laen, yg tentu masing2 punya penafsiran akan tuhan, jadi seakan2 tuhan itu banyak, meski masing2 mempunyai penafsiran akan ke-ESA-an tuhan, tapi kalok masing2 itu ada 5 macem, ya bakal ada 5 tuhan yang ditafsirkan bukan?!
salam dari Padang :)
@Brainstorm, menarik itu, agama bisa diorganisir seperti partai, hehe.
@Rajaiblis, silaken.
@Tengku Alex, walaupun anda lebih pintar dari HNW, tetap percuma ngotot disini, karena anda bukan juru bicara pak HNW. Sudah lihat 5 pertanyaan yang saya kirim diatas? Mungkin anda bisa ikut bertanya pada beliau. Sebagai orang yang lebih pintar, apa anda tidak penasaran untuk tahu berapa Tuhan yang dilihat oleh Ketua MPR Indonesia? Apakah anda juga tidak tertarik dengan caranya beliau menangani masalah ahmadiyah dengan bikin pernyataan seperti itu?
@Titov, dengan tulisan ini saya bukan mau membela ahmadiyah. Saya hanya penasaran ingin tahu ada berapa Tuhan yang diyakini oleh pak HNW, plus beberapa hal yang tercakup dalam 5 pertanyaan diatas, sudah sempat baca kan?
Mungkin saya terkesan agak kurang ajar, kesannya kurang kerjaan ngurusi keyakinan orang, apalagi ini bukan negara agama. Tapi kalau ketua MPRnya ternyata ikut campur dalam masalah keyakinan. Kita sebagai rakyat mungkin perlu meneladani, dan boleh boleh dong ingin tahu sebenarnya berapa tuhan yang dilihat oleh pak HNW? Jangan-jangan beliau ter… ah, sudahlah, apa tidak sebaiknya anda ikut bertanya saja kesana?
Postingan yang bagus bung (Te?)Guh, saya juga melihat waktu HNW mengutarakan nya di tipi. Mustinya orang sekapasitas HNW (yang ketua MPR dan dedengkotnya PKS) bisa memilih kalimat yang lebih pintar..
Sebenernya agama-agama yang ada sekarang ini kan lebih ke label saja to? Cenderung institusional saja..dengan syarat-syarat ‘keanggotaan’ yang telah ditetapkan masing-masing..
Meski sesungguhnya Tuhan semua makhluk itu sama, karena agama yang kadung me-label tersebut maka klaim masing-masing muncul..Komentar HNW menguatkan hal tersebut..
Yang menjadi seperti kelihatan ‘bodoh’(atau kejam?) adalah memaksa Ahmadiyah memilih Tuhan yang lain atau membuat/mendirikan agama sendiri,misalnya agama Ahmadiyah (kok seperti bikin partai saja.
tuhan itu memang banyak, rek…., tapi bagi agama islam satu. makanya tidak ada tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah, dalam quran juga Allah mengatakan banyak tuhan, cuma tuhan-tuhan mereka ga ada manfaatnya.tuhan itu adalah = sesuatu yang di sembah. orang yang nyembah sapi juga dikatakan bahwa sapi tuhan untuk mereka.
ngoten lo mas kok bingung. pak HNW ga salah mas, bagi yang mau ngitung tuhan ya tinggal keliling aja sampean muteri ndunyo.
lho masalah ahmadiyah, itukan masalah aturan main,mas…. kalau islam ada aturannya, bagi yang melanggar aturan ya kena kartu merah. kalau main bola kaki mukulnya jangan pakai tangan. kalau mukul pakai tangan jangan pakai nama bola kaki, pakai nama bola tangan atau voli. kalau islam tuhannya Allah Nabinya Muhammad, kalau nabinya selain Beliau pakai nama lain agamanya.
aku bukannya bela HNW, tapi kita melihat permasalahan secara cerdas, biar tulisan kita agak seperti orang cerdas.biar ga ketahuan bodo kita, bagaimana mas….
Boleh nggak aku coba ngejawab ?;
Pertanyaan pertama, “berbeda Tuhan” bukan berarti tuhan itu banyak atau lebih dari satu. Karena setiap agama meyakini tuhannya masing-masing. Sejatinya, tuhan itu ya satu, Allah. Kalau pun allah mengatakan didalam Alquran, …..dan tuhan-tuhan yang lain…. (saya lupa surat apa, koira0kira artinya begitu) artinya, ada hambanya yang menyekutukan Dia.
dan juangan lupa Allah dalam surat yang lain juga mengatakan bahwa ia satu-satunya Rab. ….dan jika ada tuhan-tuhan lain, niscaya langit akan runtuh. (Lagi-kagi kurang lebuih begiut bunyinya)
So, berbeda tuhan tidak sama dengan tuhan itu banyak
Next….
pertanyaan kedua:
Muhammad dan Mirza GUlam Ahmad (MGA) bukan lah Tuhan. Muhammad SAW adalah manusis biasa, bedanya ia menerima wahyu. sementara MGA adalah thogut, ia jadi sesembahan lain bagi pengikutnya.
Pertanyaa ketiga —boleh juga usulnya, ayo pak Roy Suryo
Ini orang-orang pinter dan cerdas-cerdas lagi pada ngigau.Banguuuuun semuanya bangun udah siang tuh.
guh praset bangun ! ngigaunya kepanjangan tuh
malu-maluin aja.
Kalo hidupnya di Indonesia mestinya sudah tahu dong tuhan-tuhan yang ada di pelajaran PMP, tapi ahmadiyah ora ono tuh
lagi buat proposalnya kali ya! cuman kadang ada yang punya kelainan menuhankan nasab,harta,nafsu, dan menuhankan diri sendiri.sampe-sampe tuhan didikte agar mengikuti kemauannya,kalo kemauanya ga’ kesampean kecewa.
itulah namanya orang hebat tuhan saja bisa dikendalikan betul-betul cerdas..
Pertama, saya tetap merasa lebih pintar dari dia sebagaimana orang lain boleh juga mungkin merasa pintar untuk menentukan kesamaan persepsi macam apa yang diinginkannya.
Kedua, saya tidak merasa percuma ngotot. Jika sebuah komentar dianggap ngotot, sebuah postingan juga adalah kengototan juga, meski konon ada pertanyaan yang (konon juga) sudah disampaikan melalui jalur lain.
Ketiga, saya bukan juru bicara HNW dan saya tak punya urusan apa-apa dengan dia, sebagaimana seseorang bukan juru bicara umat muslim keseluruhan atau rakyat Indonesia yang maha plural ini secara keseluruhan juga. Kita juru bicara dari opini kita masing-masing.
Saya tidak ngotot mengatakan bahwa persepsi saya harus diikuti, sehingga untuk itu saya merasa perlu menggunakan kata Tuhan sedikitpun selain satu biji barusan, karena menggunakan kata yang satu itu utk perangsang sama saja bagi saya jika digunakan dalam politik - apapun jenis politik itu. Politik agamakah, pemerintahankah, atau politik ngeblog. Whatever.
Setidaknya ada orang yang membaca pernyataan saya di postingan anda ini, bahwa (IMHO) sebelum sebuah definisi jelas, maka persepsi siapapun tidak boleh dikedepankan sebagai keharusan persepsi bagi orang lain. Apakah dari HNW terhadap rakyat Indonesia, atau seorang Alex atau mungkin seorang Teguh terhadap HNW.
Lagian apa yang sebenarnya diinginkan? Bahwa beliau sebagai muslim yang memegang jabatan harus mendeklarasikan bahwa beliau setuju ada tuhan lain dengan sepenuh hati? Atau dalam kapasitas apa dideklarasikan? Sebagai ketua MPR atau sebagai muslim?
Yang dimaksud dengan “berbeda Tuhan” itu apa? Apakah itu berarti Tuhan lebih dari satu? Bila ternyata beliau menemukan bahwa ternyata Tuhan ada lebih dari satu, maka kita harus mendukung (dan memaksa) beliau untuk membeberkan fakta ini ke seluruh dunia, biar orang-orang yang gemar barbar sambil mengatasnamakan Tuhan bisa tercerahkan, dan bisa kita arahkan untuk memilih Tuhan yang lebih baik.
Definisi anda sendiri tentang “berbeda Tuhan” sendiri apa? Anda sendiri punya definisi tidak tentang “satu Tuhan” sehingga seseorang yang mengucapkan “Umat yang lain yang berbeda Tuhan dengan umat Islam kan tidak ada masalah,” bisa membuat anda merasa ketauhidan anda tersinggung?
Lepas dari yang mana yang akan didukung nanti, apakah “tuhan yang banyak atau yang satu” definisi yang menurut anda sendiri yang bagaimana? Anda konon kecewa karena Ketua MPR dari sebuah negara berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa mengucapkan kalimat demikian. Dan apa yang disebut dengan ’sok bertauhid’ menjadi bertanya-tanya… Kalimat yang aneh juga.
Saya membaca kesamaan - sebagaimana orang boleh membaca siapa saja - antara HNW yang mengaku muslim dan monotheis itu dan mengucapkan ucapan demikian dengan seorang lainnya yang juga mengaku (meski pakai kata SOK) bertauhid namun kemudian berkata, maka kita harus mendukung (dan memaksa) beliau untuk membeberkan fakta ini ke seluruh dunia, biar orang-orang yang gemar barbar sambil mengatasnamakan Tuhan bisa tercerahkan, dan bisa kita arahkan untuk memilih Tuhan yang lebih baik.
Sama ambigunya bagi saya itu. Mungkin yang jadi permasalahan hanya jabatannya saja. Tapi dari segi perkataan kedua orang tersebut terpublikasi, tetap saja sama. Sama-sama disampaikan ke publik.
Saya sudah melihat ke lima pertanyaan tersebut. Dan justru saya beranggapan bahwa pernyataan HNW lebih menyejukkan, meski sejumlah besar orang-orang kritis pantas untuk disanggah. Saya sepakat dengan komen Arul dengan kenaifan saya untuk melihat sisi baiknya saja: minimal kalimat itu bisa jadi pegangan utk kebhinekaan dan pluralisme yang
disembahada di Indonesia, sehingga golongan pengacung parang tidak segampang itu memaksa orang satu tuhan. Tuhan menurut persepsi mereka, bukan persepsi saya (atau mungkin juga anda?) .Tidak. Karena Tuhan yang saya yakini satu saja saya belum lihat, apalagi yang mempertanyakan berapa Tuhan yang sudah dilihat Ketua MPR itu.
Anda sendiri yang mengaku tauhid, sudah lihat Tuhan yang satu sisi anda tekankan sebagai satu, namun satu sisi anda sambut antusias untuk didukung (bahkan jika perlu paksakan, bukan?) kepada HWN untuk disebarkan ke penjuru dunia itu? Tuhan yang satu atau tuhan yang banyak yang sudah anda lihat?
Tidak terlalu, tapi bagi saya cara itu lebih baik, walau terkesan menyederhanakan masalah, daripada melakukan flame disaat situasi tidak begitu panas lagi. Apa yang diucapkan HWN dan apa yang dikatakan oleh Din Syamsuddin dari Muhammadiyah bagi saya memiliki manfaat dan bukan mudharat:
Apa kata Din Syamsuddin?
Kecuali jika memang ada kecenderungan untuk memancing jenis-jenis FPI itu kembali brutal terhadap kebebasan dan kemajemukan
yang selama ini menjadi tuhan-tuhan lain puladi negara ini, itu saya baru tertarik untuk mencari tahu demi menaikkan kepintaran saya ini :cool:tuhan ya ada satu,
kalo berbilang itu namanya makhluk..
:D
Ah ya, saya nyaris lupa bahwa di situs yang membuat ketauhidan terusik itu, ada pernyataan begini:
Bagi Guh, itu salah satu solusi baik apa tidak? Atau memang yang seru itu baiknya ada perang sehingga ladang jihad untuk menyadarkan puritan-anarkis-berjenggot itu menjadi lebih lama untuk kita nikmati?
Permasalahan tauhid bukannya - dalam kacamata kebebasan yang maha mutlak - adalah urusan personal? Sebuah bagian HAM? Bukankah itu sebuah anugerah Tuhan yang mana kebebasan itu lah (katanya) membedakan manusia dengan malaikat?
Secara keseluruhan, berita di situs itu cukup baik.
Kenapa berita itu tidak disebutkan, Guh?
Oh ya! Itu adalah hak empunya blog, tentu. Dan agaknya boss-nya MPR itu juga berargumen yang sama tentang hak mulutnya….
Dan … Oh, saya shock! Saya tersadar bahwa dia tidak bicara dalam kapasitas sebagai Ketua MPR saat itu! Bukan dalam geduh megah di Senayan itu setidaknya. Kecuali pemerintah lupa mengumumkan bahwa gedung MPR pindah ke alamat peluncuran buku tersebut.
Ah, dia bicara berapa banyak tuhan atau tidak, bagi saya itu urusan personalnya dia. Sama personalnya dgn urusan tiap individu yang berteriak-teriak meminta agama menjadi HAM masing-masing. Sepanjang bossnya PKS itu tidak membawa geng PKS untuk mendukung (atau bahkan memaksa) beliau menyebarkan paham tersebut ke penjuru dunia agar orang-orang yang gemar barbar sambil mengatasnamakan Tuhan bisa tercerahkan.
Dan itu sudah cukup bagi saya.
Perkara dia memberi opsi pada Ahmadiyah, itu pilihan. Apa Ahmadiyah akan menuruti opsi tersebut atau malah menambahkan opsi sendiri, itu hak Ahmadiyah pula.
Yang saya tahu, ucapan Hidayat Nur Wahid itu tidak akan menjadi undang-undang karena bukan sebuah keputusan resmi atas nama parlemen pemerintahan. Jadi, ketauhidan yang bertuhan satu dan yang bertuhan banyak relatif masih aman setidaknya hari ini. Entah Tergantung dari sudut mana “relatif aman” tersebut akan dipandang. Semuanya bisa benar di bumi ini.
meski telat, komentar ah..
Begini tentang masalah “Tuhan”
Tuhan sebagai rabb (pencipta, pemelihara, pengatur, dsb)itu satu, Ia yg menciptakan jagad ini dan seisinya: terserah para ciptaannya mo nyebut Ia apa. Islam, Nasrani, dan Yahudi sebagai agama langit; Allah, yg lain ane kagak tahu dah. Nah kalo ilah (tuhan sebagai sesembahan)bisa apa aja yang bisa diibadahi (ibadah dgn makna; takut, berharap, cemas, cinta, taat, dsb), bisa isi kepala kita, batu, setan, penguasa, logo, rezim atau apa sajalah.. Nah, yg beginian orang2 Arab mah gak mempermasalahkan karena mereka tahu apa arti Rabb dan apa arti ilah.
Dulu jaman jahiliyah semua mengaku Allah itu Rabb atu-atunya, hanya tentang ilah mereka tetap keukeuh…sesuai keinginan puser mereka sendiri-sendiri..(hi..hi..), makanya dari pada ngikutin maunya Muhammad ber-ilah cuma satu mendingan perang!! gitooo… wan kawan..
Saya minta maaf, saya silap tadi. Kalimat yang saya bold itu salah, seharusnya: Kenapa itu tidak diapresiasi, dihargai sebagai satu poin bagus,Guh?
.
Selain kalimat yang dibold, kalimat lain di komentar saya sebelumnya tetap. Dengan ini saya mohon maaf, semoga bisa diterima pembenaran duluan agar tidak
kentaraterlihat saya mencari-cari menambahkan topikgunjinganpembahasan ini.Sekian. Silakan bahas komen-komen saya yang saya ngototkan di sini itu, sebagai perwakilan ke-personal-an tauhid dan pemikiran saya sendiri. Sementara itu saya keluar dulu.
*sulut rokok sebagai ritual personal*
Salam
Emmh mungkin solusi itu ada benarnya, katakanlah kalau tak bisa berislam dengan benar apalagi perbedaannya sangat mendasar mengenai akidah ya sudah jangan bawa2 nama Islam bikin aja kepercayaan sendiri, secara kalau masih nebeng dan bawa2 Islam (yang bener) jadinya kan ngacak2 agama Islam aja, bisa membingungkan orang yang awam tapi ingin belajar Islam dalam aqidah yang bener.
Btw salam kenal :)
kalau ada yang benar2 tahu mbok saya tenya orang2 Ahmadiyah itu syahadatnya bagaimana sih (syukur2 ada orang Ahmadiyah sendiri yang menjawabnya)?
hmm
bingung..
Saya justru menemukan beberapa Tuhan baru dalam dunia blogosphere, “kami” admin tunggal pemilik tulisan pada blog.
Diantara “Kami” punya kekuasaan yang besar untuk menulis apa saja, menghapus komen siapa saja, mengcounter semua komen yang gak “sepaham”.
Saya yang awam ini sebenarnya bisa menangkap maksud pak HNW, saya pikir beliau tidak bermaksud untuk “menghitung tuhan”. Hanya kalimat yang dianggap bisa dicerna oleh orang awam seperti saya, mungkin kalimat itu. Tetapi itu pendapat saya pribadi, mungkin pak HNW bisa menjelaskan….karena pendapat saya tidak mewakili pendapat beliau.
–salam–
waduh, ilmu saya ndak nyandak kalau ngomong nya udah kayak gini. Berat…
saya muslim, Tuhan saya Allah, Nabi pembawa Islam adalah Muhammad SWA. Itu aja lah……
@Padmasambawa, menarik juga mengamati bagaimana pemerintah kita merasa berhak memaksa orang supaya membuat agama sendiri. Saya sendiri ga ngerti alasan ahmadiyah kok tidak mau mengambil tawaran menarik itu.
@Rasio, aturan yang dipakai harus menurut tafsir siapa? Yang berhak memberi kartu merah siapa? Apakah ketua MPR? Apakah MUI / FPI?
Soal anggapan bodoh, mungkin semua orang seperti saya akan tampak bodoh dimata anda :) Hak anda untuk terus menggunakan kacamata seperti itu. Bagaimana kalau anda tuliskan pikiran anda yang jauh lebih cerdas itu di blog syariah anda. Berilah kesempatan pada orang-orang yang anda anggap bodoh untuk belajar pada anda.
@Rachmawan, siapapun boleh menjawab. Tapi tentu tidak saya anggap mewakili YM HNW yaa. Kecuali kalau ngaku jadi jubir ;)
Apa menurut anda dengan itu kita bisa menganggap bahwa “HNW menganggap umat beragama lain menyekutukan tuhan?”
@Masyeye, kalo malu yo monggo celananya segera dipake :P
Anda sepertinya paham betul soal Ahmadiyah. Itu pertanyaan yang berani sekali, sayang tanpa URL.
Soal monopoli, menguasai, dan menggunakan tuhan untuk tujuan-tujuan politik, mungkin itu pertanyaan cuma bisa dijawab oleh orang sekelas ulama dan HNW tahu bisa menjelaskan soal itu.
@Tengku Alex, kalau begitu perlu ditanyakan juga definisi Tuhan menurut HNW, ide bagus itu! Terimakasih.
Seperti yang saya katakan pada pak basuki diatas, menurut saya, sesuatu yang Maha Ada dibalik semua hal, yang kita kenal sebagai Tuhan itu sesungguhnya hanya satu. Tapi setiap budaya, setiap agama punya labelisasinya sendiri, punya dongeng-dongengnya sendiri tentang Tuhan. Maka itu sepanjang sejarah dan diberbagai belahan bumi Dia dikenal dengan berbagai nama, konsep dan atau gambaran yang berbeda-beda. Saya sendiri belum pernah ketemu dan melihat beliau (Tuhan), makanya saya tambahkan kata “SOK”, karena semua itu hanya berdasarkan katanya orang, kitab atau kira-kira.
Saya bukan hanya kecewa pada Pak HNW, tapi juga meneladani pak HNW yang sebagai ketua MPR sudah ingin tahu dan ikut campur soal keyakinan orang lain. San ya, yang jadi masalah adalah jabatannya, beliau itu ketua MPR dari sebuah negara yang bukan negara agama. Kalau pembenarannya karena beliau muslim yang kebetulan sealiran dengan MUI, saya rasa tidak pantas, sebab sebagai ketua MPR harusnya beliau tidak hanya membela kepentingan MUI atau FPI saja. Semua sama-sama bayar pajak, sama-sama nyumbang duit ke negara yang sebagian buat gaji beliau,
apalagi kaum yang merokok. Menurut saya harusnya agama ga perlu ikut campur soal keyakinan orang.FPI bisa terpancing oleh apa saja yang mereka mau, lalu apakah kita harus selalu menyalahkan pihak-pihak yang mereka anggap sudah memancing? Sebaiknya yang brutal itu yang ditindak. Negara ini bukan negaranya FPI saja.
Soal flaming, apakah maksudnya anda menganggap posting saya ini sebuah flaming?
Soal berita, itu saya copy paste semuanya di awal tulisan. Lalu yang tidak disebutkan yang mana? eh, sudah tersadar ya :)
Pernyataan itu tidak sebagai ketua MPR? Lalu wartawan nanya sebagai apa dong, apa menariknya tanya-tanya itu kalau beliau bukan ketua MPR. Mungkin wartawan dan media, termasuk situs HNW perlu menyertakan informasi bahwa kapasitas itu tidak harus dianggap serius, karena bukan dalam kapasitas sebagai ketua MPR.
Harusnya setiap individu yang waras dibumi ini berpikir seperti anda, jadi tidak ada lagi yang sok tau dan ikut campur ngurusi keyakinan orang, apalagi sampai maksa-maksa. Kalau saya tampak berkepentingan untuk tahu berapa banyak tuhan yang diamini oleh pak HNW, ya itu cuma dalam rangka mengikuti teladan pihak-pihak yang suka sok tahu, ngomentari dan ikut campur ngatur-ngatur keyakinan orang ;)
@Winsolu, amin. saya juga masih percaya itu.
@cKasih, maaf, spam jangan disini ;) silakan di ruang tamu atau di akismet saja.
@Masbadar, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, tapi lebih baik lagi kalau komentar dibuat dalambentuk artikel yang ngeping kesini, jadi opini anda bisa lebih mencolok dan terarsip google.
@Nenyok, Salam kenal
@Daenglimpo, benar juga yah ;)
@Faridyuniar, ga harus ngomong kok ;) nulis juga tidak.
Maaf, ralat: *ternyata ga bisa edit komen*
yang ditebalkan itu harusnya pernyataan.
ooh itu biasa mas Guh.. wajar dan normal sekali..
masih belum pede mo ngomong Tuhan itu berapa jumlahnya, karena belom beneran ketemu..
eh tapi apa iya begitu?
masih sering terjembab lidah.. bukan terpereset lagi namanya..
eh tapi apa iya begitu?
entahlah juga sih.. tapi apa iya begitu?
Kalau Tuhan itu ‘memang’ satu bisa jadi Tuhan dari semua agama itu memang ’sama’. Yang jelas secara logika dan historis ‘Tuhan’ dari agama Yahudi,Kristen dan Islam ‘mestinya’ sama.Kalau dari agama selain itu saya kurang tahu.Nah kalau memang sama berarti ? Ya tahu sendiri lah jawabannya.
Tuhan itu khan apa yang disembah. Yang Maha Esa itu khan Allah SWT, kalo mereka ga nyembah Allah, ya itu Tuhan mereka. Ada yang menuhankan duit, ada yang menuhankan patung…
masing-masing keyakinan punya tuhan yang berbeda. tapi intinya ada satu DZAT yang maha dari segala maha dan yang mampu mengendalikan segala sesuatu tanpa cela. itulkah tuhan. permasalahannya kita bisa tentukan sendiri. tuhan kita apa? uang, benda, atau dzat yang nggak bisa kita ungkapkan secara ilmiah dan lain-lain.
bagi orang islam seperti saya, tuhan nggak di sebut dengan tuhan. tapi ALLAH yang artinya yang disembah, yang di puja dan yang paling bisa dan sejenisnya. jadi tuhan orang masing-=masing ada satu.
nah kalau omopang ka. MPR, mungkin dia menocba untuk berbicara secara nasional dimana di indonesia ada bermacam keyakinan yang tuhannya berbeda-beda. jika kita atheis, tuhan ada lebih dari satu. tapi jika kita punya keyakinan beragama, saya yakin hanya ada satu tuhan
wallahualam bishawab
Payah, kalau ngomong dengan orang yang sudah benci…….
Maju terus HNW
setau gue ahmadiyah tuh ada 2
lahore ama qodian…
yang dilarang di indo tuh yang ahmadiyah yang mana ??
gitu aja kok repot
Maaf sebelumnya saya disini hanya memberikan opini pribadi berdasarkan keyakinan saya sebagai seorang muslim. Saya akan coba menjawab 5 pertanyaan di atas .
1.Begini singkatnya jika saya adalah seorang muslim maka saya tidak akan mengakui Tuhan lain selain Alloh SWT, tapi jika saya bertanya pada orang yang memiliki keyakinan lain dengan saya apakah beliau akan menjawab Tuhan yang sama dengan saya? tentu tidak. Tapi apakah saya akan memaksakan Tuhan saya kepada beliau (dalam Islam setahu saya tidak boleh memaksakan seseorang untuk meyakini jika tidak atas hidayah (kesadaran sendiri)).Mungkin ini yang dimaksud dengan berbeda Tuhan (karena setiap agama dan kepercayaan memiliki Tuhan sendiri).
2. Sudah jelas menurut saya jika Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan utusan Alloh tidak ada keraguan didalamnya. Jika memang ajaran Ahmadiyah meyakini ada utusan lain jelas itu bukan nabi. Karena jika memang seorang muslim yang taat akan Al-Qur’an tidak ada utusan lain selain Nabi Muhammad SAW dan merupakan penutup dari para nabi. Ini jelas bertentangan dengan kitab suci yang dianut oleh umat Islam.
3. Jika memang harus berkonsultasi dengan RS lebih baik dia ajarkan kami dahulu cara membuat blog yang baik, jangan bermain di milis, sms atau media tanpa memberi contoh yang baik.
4. No Comment
5. Jika anda berniat menguasai dan memonopoli Tuhan lebih baik anda jangan bermain-main dengan agama yang sudah ada. Ini masalah akidah dan kepercayaan berasal dari dalam hati. Ini yang kami sebut dengan iman dan taqwa.
Memang repot beragama… :(
rame, blogger ngomongin tuhan. kalo kata Cak Nur, tuhan dengan “t” kecil berbeda denga Tuhan dengan “T” besar.
bapak pluralitas agama aja ngomong begindang.. jadi makin bingung kan?
GuhPraset Yth.
Memaknai Tuhan YME tidak bisa semena-mena, karena tiap agama memiliki doktrin masing2. meski keyakinan saya denga GuhPraset sama: Bahwa TUHAN itu adalah SANG MAHA ADA dibalik semua keyakinan umat manusia, bukan sekedar warga negara Indonesia yang dibelenggu “agama yg diakui pemerintah”. Namun, lagi-lagi akan menjadi salah jika kita memahami ajaran agama kita secara betul. Sehingga “Lakum diinu kum wal yadiin”.
nah, terkait masalah perkataan Pak HNW. tergantung sudut pandang kita, memang kalo saya baca itu retoris juga. maksudnya (dlm pandangan saya), pernyataan beliau bermaksud membandingkan bahwa dengan yang “beda tuhan” saja Islam bisa akur, masa yang “beda nabi” tidak.
sepanjang yang saya tau, HNW berbicara sesuai dengan siapa yang dihadapinya (dlm hal ini yg bertanya). jawaban ini hanya untuk orang awam. bukan untuk GuhPraset, dkk. ataupun yang sudah memahami benar prinsip pluralitas kita “Bhineka Tunggal Ika”, juga “Laa kum diinu kum walyadiin” versi Islam. sayangnya HNW memang kurang peka, bahwa saat ini dia sedang menduduki posisi publik yang memerlukan perhatian lebih. terutama pada statement2 yang berkaitan dg hal2 perbedaan pendapat.
tapi, saya sepakat. kita sederhanakan masalah untuk Jemaat Ahmadiyah ini. seperti yang disampaikan HNW. alasannya: demi keberlangsungan bangsa Indonesia yang cinta damai dan demokratis. biarkan JAI memilih (tapi maksa harus milih, parah banget) diantara pilihan itu. akui Rasulullah SAW sebagai Rasul terakhir dan satu2nya panutan hidup, atau bikin agama baru tanpa menggunakan embel2 islam dsb. sehingga anak cucu kita kelak tidak dipusingkan dengan islam yang nabinya bukan Rasulullah SAW.
demikian, mohon maaf kalo ada kata yg kurang berkenan. tapi ketahuilah, Tuhan itu Maha Segala Maha. takan Ia terpengaruh oleh pembahasan semu kita. KemuliaanNya akan tetap ADA, dengan atau tanpa kita menjadi pengikutNya.
salamhangat
-drBelandaYgDingin
Klo di Islam itukan ada Syahadat (tau kan artinya)
salam knal ^^
Wah, Mas Guh… salam kenal…
Saya setuju dengan komentar bangzenk (bang rijal)…
Maaf kalo ada orang Ahmadiyah yang baca tulisan ini, tapi keluarga saya termasuk yang punya pengalaman buruk dengan mereka.
Suatu ketika ortu saya sholat di sebuah masjid, dan masbuk (terlambat). Setelah selesai, tinggallah ia sendiri di dalam. Beliau pun bergegas keluar, dan betapa kaget begitu melihat bekas tempat sholatnya (sajadah) langsung dicuci oleh mereka, tapi tidak dengan sajadah yang lain. Setelah cari tahu, ternyata masjid itu masjid Ahmadiyah, dan orang yang bukan anggota “ba’iat” mereka dianggap “belum suci”, artinya orang2x nonAhmadiyah itu “kafir”. Nah, bentuk-bentuk seperti itulah yang dianggap oleh masyarakat sebagai salah satu “penistaan” agama, selain fakta-fakta lain Ahmadiyah menganggap Mirza Ghulam sebagai Imam Mahdi yang setara dengan Rasulullah SAW dan beberapa cara peribadatan rahasia mereka yang menyerupai ajaran lain. Saya justru jadi aneh melihat mereka sekarang bersilat lidah menutupi fakta yang sesungguhnya terjadi di masyarakat. Mereka itu seperti sedang bersandiwara, mau ngibulin kita-kita, dan itu sungguh lebih menusuk hati, sama menusuknya dengan FPI busuk yang tukang bikin onar.
walah… gitu aja kok repot.. Allahuakbar..
Eh, maaf kalo komentarnya tidak pantas…
kembali ke gosip “ngomongin Tuhan” dan “HNW”; pertanyaan dalam tulisan Mas Guh yang No. 1 dan No. 2 itu saya rasa cuma interpretasi yang terlalu mendalam saja.
Begitu pertama tahu komentar HNW itu dari TV, maka “elektron” yang pertama kali terlecut dari otak saya cuma, “Oh… iya, Ahmadiyah emang beda ama Islam, kenapa kok jadi ngaku-ngaku Islam, semacam gak tegas gitu. Padahal udah jelas2x mereka juga mengafirkan orang-orang yang bukan golongannya” (lihat komentar saya sebelumnya bahwa Ahmadiyah saat ini sedang ngibul).
Untuk pertanyaan No.5, kok jadi kayak Ahmad Dhani aja… (Makhluk Tuhan paling axoxax) :mrgreen:
mending kita ngomongin sains aja yuk… mari…
salam hormat
kok bisa sih ada Tuhan yang ke-dua..
jujur gak bisa bayangin kalo ada 2 sosok sang maha kuasa
suatu hal yang tidak perlu dipermasalahkan mnurut saya…
assalamu’alaikum…
memang, Tuhan si Mirza Ghulam Ahmad itu sama kayak umat Islam.
Tapi yang salah itu dia dan pengikutnya…
Kok bisa-bisanya dia mengangkat diri sebagai IMAM MAHDI dan SETARA dengan RASULULLAH SAW??!!
Dalam hukum Islam… ini namanya udah murtad, harus baca syahadat dan bertobat ga ngelakuin itu.
wah…
Guhpraset pro Ahmadiyah ya?
Hati-hati lhoooo…
Sampeyan diacuhkan Rasulullah SAW waktu di padang mahsyar nanti.
Padahal Islam, ajaran yang dibawa beliau-lah yang bisa menyelamatkan umat manusia dari api neraka yang kekal.
hati-hati ya, mas…
boleh ngritik orang.
tapi ngritik agama itu berdosa kalo nggak bener atau nggak ada dalil sesuai Qur’an dan Hadits.
Barakallahu fiikum.
Tuhan kan kata orang Indonesia, kata orang Islam dinamakan Rabb,
Tuhan itu berbilang, BENAR, kalau kita tinjau secara umum.
Diluar agama samawi khan tuhannya macem-macem. Karena makna tuhan itu sesembahan, maka yang dia sembah itulah tuhannya. Ada yang nyembah fir’aun, ada yang nyembah gunung, api, laut, matahari dan lain-lain.
wasalam,
jadi inget analogi tentang matahari. kalo orang barat bilang itu sun. raa (zaman firaun), dsb. disini namanya matahari. ada yang bilang mentari, sang surya, srengge (bromo), matan ai (bali), dan masih banyak lagi lainnya, tergantung dimana manusia itu berada.
lain daerah akan lain pula budaya mereka “memperlakukan” matahari. di mesir dan inca sana disembah dipuja. di pantai mungkin dipuji dan dinikmati keindahannya, dan dibuat karya seni. sementara di tempat lain mungkin dipelajari segala sesuatu tentang matahari. intinya, mereka mengapresiasi dan berinteraksi terhadap matahari sesuai dengan akal dan kecerdasannya. contohnya, ga mungkin dengan mudah mengajarkan fenomena gerhana matahari pada suku di pedalaman kan? karena suku pedalaman “.
namun sayangnya, mereka lupa….. ketika orang-orang ini bertemu satu sama lain mereka meng-claim merekalah “pemilik” matahari. dan tidak layak menyebut apalagi memperlakukan matahari selain dengan apa yang mereka lakukan selama ini.
so, salahkah matahari??? salahkah orangnya???
disini aku cuma bisa menyimpulkan pemahaman mereka yang kurang. ketika akhirnya meraka keluar dari daerah mereka untuk pergi ke daerah orang lain maka disana mereka baru menyadari bahwa matahari yang sama juga ada. namun ya itu tadi dimaknai dan disebut berbeda.
kesimpulanku, Tuhan itu satu kok.
kayanya g’ ada yang salam ama ucapan pak hidayat n w.. kalau mereka masih mengaku bagian dari islam ya buktikan dunk…. jangan menyimpang…
satu kata. ANEH
mas. maaf sebelumnya kalo kata2 saya kurang baik. menurut saya permasalahan yang mas angkat kurang baik faedahnya. tendensinya terlalu menyudutkan HNW. Beliau adalah manusia biasa, jikalau menurut mas pernyataan yang beliau sampaikan salah, ya wajar saja. maaf, saya baca dari komentar2 mas juga sepertinya kurang pantas.Rasanya kurang baik kalo mengkaitkan beliau sebagai ketua MPR dalam masalah ini. Beliau adalah manusia biasa sama seperti kita. Trus apakah ketua MPR harus tampil perfect gitu. Kalo gitu gak mungkin ada yang sempurna. Kalo misalnya mas sanggup buat tampil perfect. aku dukung deh mas jadi ketua MPR yang baru. So buat apa kita permasalahkan lagi. lebih baik bantu buat cari jalan keluar dari masalah ini (red: ahmadiyah). . sekali lagi maaf ya mas. aku bukan ingin sok2an ikut campur tapi hanya sekedar saran. yupz salam kenal ya mas
Alhamdulillah kalau diterima sebagai ide bagus.
*sujud syukur*
Karena saya juga mau lihat, Guh, HNW yang representatasi-nya PKS di parlemen itu kira-kira sebijak apa nantinya dalam mendefinisikan sesuatu yang fundamental bagi banyak rakyat Indonesia. Apa bisa melepaskan diri dari ciri pemikiran PKS saat bicara sebagai nasionalis yang duduk di MPR, atau tetap akan eksklusif dalam pembenaran opininya sendiri :P
Saya tebalkan. Berarti itu menurut anda. Menurut saya juga demikian. Untuk keeksklusifan tauhid saya, itu adalah kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu apakah oleh seorang HNW, seorang Guh, sekelompok MUI, segerombolan FPI atau FBR, tidak juga bahkan oleh ideologi bernama Pancasila itu, jika kata Bhinneka menjadi kata pemaksaan.
Ya, benar. Setiap agama punya labelisasi sendiri-sendiri. Ditambah lagi sekte-sekte dalam beberapa agama yang juga membuat labelisasi sendiri-sendiri dan argumen sendiri-sendiri, termasuk Ahmadiyah yang
beruntungsaat ini posisinya terzalimi dan mengundang simpati itu.Ah, ternyata kita sama: mengimani sesuatu yang absurd dan belum kita lihat sendiri. Tiba-tiba saya jadi iri pada keberanian (dalam legenda) bani Israel meminta bertemu Tuhan. Iri juga, karena mereka meminta bertemunya secara langsung, bukan meminta orang lain utk memaksa melihat Tuhan.
Saya memiliki banyak kekecewaan tersendiri juga pada orang yang satu itu. Cacatnya di mata saya juga lumayan tercatat, baik sebagai dia orang PKS atau sebagai orang parlemen. Tapi tidak lantas saya punya alasan untuk menekankan apapun, terutama dalam urusan tauhid yang (betapa paradoksnya saya) justru saya teriakkan sebagai hal personal di tempat dan waktu lain.
Pertama.
Jabatan itu memang menjadi masalah. Saya kira siapapun akan berada pada dilema yang sama kalau sudah duduk dalam posisi jabatan, apalagi kalau seseorang itu sudah kadung memiliki imej sendiri; dalam hal ini HNW imejnya adalah muslim yang parpolnya PKS dan duduk sebagai ketua MPR.
Dilema itu juga - dengan prediksi akal saya - saya jamin juga akan dialami oleh saya atau Guh sekalipun. Oleh seorang sosialis, liberalis, pluralis, agnostik atau atheis sekali pun.
Misal begini: Saya seorang atheis yang menjunjung tinggi toleransi
beragama, meski saya sendiri tidak memegang satu agama tertentu. Jika saya berada pada posisi HNW, saat diwawancara, menurut Guh saya harus mengeluarkan ucapan seperti apa?
Bisa jadi sebagai seorang agnostik saya, saya akan katakan: semua agama itu sama. Jangan main paksa. Tuhan itu satu, tapi boleh diberi nama macam-macam, boleh diperlakukan apa saja. Boleh dianggap abstrak, boleh juga diyakini sebagai seekor sapi atau babi sekali pun.
Untuk beberapa golongan, mungkin kaum pluralis atau agnostik, perkataan tersebut tidak menjadi masalah. Tapi kenyataannya, di sudut Indonesia lainnya, akan tetap ada yang bereaksi. Boleh jadi itu orang muslim, kristen, yahudi, hingga ke penganut agama kaharingan.
Lantas bagaimana? Apa saya mesti mengucapkan bahwa “Tuhan itu satu! No other choices!”
Lha? Apa itu tidak jadi dilema baru pula? Karena apa? Karena seperti kata anda itu: Negara ini bukan negara agama.
Dari sudut bukan agama itulah saya mentolerir ucapan HNW tersebut yang - utk saat ini - lumayan mengakomodir dengan kesediaannya mengakui bahwa “ada perbedaan tuhan-tuhan” dalam agama yang berbeda-beda dan majemuk di Indonesia ini.
Itu sudah saya jelaskan diatas. Anda menginginkan pembenaran sebagai apa? Sebagai nasionalis? Sebagai Pancasilais? Tetap akan ada reaksi tersendiri lho, dengan kemajemukan di negara ini.
Dan demi pembayar pajak itulah (secara pajak adalah aturan hukum) maka beliau menekankan pada hukum yang berlaku di negara ini.
baik pada kaum perokok atau fobia-perokok*ngakak*
Tolong carikan saya agama yang tidak mengatur keyakinan orang, Guh. Sebutkan agamanya, biar saya bisa mempelajari.
AFAIK, apapun yang bernama agama akan mencampuri keyakinan orang. Apakah itu pada pengikutnya atau kepada yang bukan pengikut. Cuma skala mencampurinya itu yang berbeda-beda. Lihat saja yang disebut dakwah, misionaris, zending atau bahkan agama HAM sendiri, semuanya merasa berhak atas keyakinan orang lain.
Tidak. Argumen seperti ‘boleh memelototi kelamin lawan jenis selama otak saya suci’ bisa kita terapkan di sini.
Tapi masalahnya adalah ada aksi ada reaksi. Kita sudah melihat apa yang terjadi pada Jemaah Ahmadiyah ketika aksi sejumlah provokator yang berlindung di balik ayat mengakibatkan rumah2 orang Ahmadiyah dirusak. Sebagai WNI yang memaki perusakan demikian, saya tidak bisa
tidak akan memberi poin kesalahan pada si provokator berjenggot itu.
Setidaknya, saya berharap ada yang meminimalisir jumlah provokator berserban demikian.
Dan utk itu ya mesti adil: Dari luar FPI sendiri ada yang memiliki ‘kemungkinan’ memancing tidak? Jika ada, maka mesti diminimalisir juga, demi ketertiban umum dan stabilitas nasional negara Pancasila ini.
Dan saya juga bisa mendengar argumen yang sama dari golongan-golongan FPI juga: negara ini juga bukan milik sekelompok penafsir Pancasila saja.
Argumen yang cukup adil saya kira.
Boleh jadi. Komentar saya sendiri bisa dikategorikan flamming oleh siapapun juga, tergantung dari mana sesuatu itu dipandang. Untuk pertanyaan ini biarlah saya menjadi seorang ambigu yang tidak menjelaskan posisi saya. Lebih aman demikian.
:lol:
Mata saya kecele tadi itu karena ketauhidan saya pada kopi dan rokok terusik stok kopi dan rokok yang minim, Guh :P
Wartawan ya bertanya sebagai seorang wartawan, Guh :lol:
*dijitak*
Boleh jadi wartawan bertanya karena posisinya sebagai Ketua MPR. Tapi boleh jadi juga wartawan itu kebetulan nongkrong untuk meliput pameran dan bertanya demikian untuk memenuhi liputan beritanya saja. Atau dia memandang HNW sebagai tokoh PKS, mungkin?
Ya. Mudah-mudahan keresahan kita dalam hal ini disikapi dengan bijak oleh pihak-pihak tersebut.
Ah, sebagai orang yang - alhamdulillah - anda katakan waras, mungkin saya justru akan bisa dianggap tidak waras jika saya mengharuskan pikiran seperti saya ini menjadi keharusan bagi semua individu agar individu tersebut bisa dibelah antara yang waras dan yang tidak waras. :)
*tercerahkan*
Benar… benar… Saya jadi sadar bahwa masih ada pihak-pihak yang bisa dituhankan juga sehingga mesti diteladani sepenuh hati dalam tindak-tindak dan ucapannya, meski mungkin akan jadi paradoks sendiri dalam sikap dan ucapan kita dalam masalah lain.
Ya, saya juga menjadi tampak berkepentingan, sok tahu, sok ngomentari dan ikut campur ngatur-ngatur keyakinan orang dengan berkomentar panjang lebar begini :D
Tapi ya disini inilah saya suka dengan demokrasi :P
Demokrasi memang indah ya, Guh? Apalagi jika demokrasi itu menjadi sejenis tuhan yang bisa dipakai menurut definisi dan maunya kita :P
Ah, ya. Kalau sudah sampai klarifikasi dari HNW atau pengurus parpol yang
memuja-muja kekhalifahan arabitu, dipublikasikan, Guh. Biar masalahnya bisa clear, atau mungkin bisa juga diperlebardengan mencari lubangpada klarifikasi yang - meski pesimis - akan ditanggapi itu. ;)ssssttttt …
tuhan bingung loh …
duch … tuch trophy mo dikasih ma siapa ya ?
Ah, saya kelewatan…
@ brainstorm
:lol:
Mungkin akan lebih enak kalau agama itu dianggap semacam ideologi partai saja, ya?.
Lha itu Ahmadiyah sendiri kan sudah begitu itu konsepnya, dengan dua macam aliran: Qadian sama Lahore.
Saya jadi mimpi mau lihat, apa kira-kira kalau nantinya ada konsep baru dalam dua aliran itu, sehingga Ahmadiyah pecah, akan ada yang bikin Ahmadiyah Perjuangan atau Ahmadiyah Reformasi? :lol:
Dan apa orang Ahmadiyah itu nanti bisa toleransi
seperti sayadalam membolehkan dogmanya itu diutak-atik?@ 102FM ITB
Saya sudah pernah dengar dan bahkan melihat sendiri juga bagaimana orang Ahmadiyah menganggap ‘kafir dan najis’ yang bukan golongannya.
Dari sudut ego saya: ngapain saya berlaku adil terhadap mereka, karena dengan doktrin demikian, bukannya saya sendiri termasuk kategori dinajiskan juga?
Tapi saya melihat itu sebagai warna saja. Menjadi seorang
fansnaif dengan mengelak mendekati jemaah mereka dan berharap mereka juga teguh untuk memisahkan diri dari para ‘kafir’ seperti saya.Untuk hal ini, kita sulit (atau dipersulit?) melihatnya dengan objektif.
Bersikap objektif, berarti kita mengkhinati nilai-nilai tauhid sebagai muslim yang berpegang pada syahadat, pada pengakuan bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir baik secara maknawi maupun secara hakikat. Kita juga menghadapi paradoks: apa dengan keobjektifan kita yang lalu membuat kita
dipaksa atas nama kebebasan dan kemajemukantidak boleh mengkafirkan mereka, akan mendapat timbal-balik yang sama?Saya tidak mau naif dalam hal ini: Adalah menyenangkan ketika kita menghargai orang lain maka orang lain akan menghargai kita. Adalah standar internasional - yang konon terakreditasi agung dan disebut Golden Rules - yang menyebut bahwa, “jika tidak ingin dicubit maka jangan mencubit.” Jadi, jika tidak ingin dikafirkan, ya jangan mengkafirka orang bukan?
Kita hargai keyakinan mereka, membelai-belai mereka, lantas apa mereka juga akan bersikap pluralis dengan tidak menyinggung perasaan kita dengan tidak mencuci sajadah seakan-akan yang diluar mereka itu seperti anjing?
Utopia, kalau menurut saya.
Nah, jika itu argumen anda dan saya, percayalah: kata SUBJEKTIF akan menjadi salah satu senjata yang ampuh untuk memelintir keyakinan kita, dan menundukkan kita ketauhidan di depan
berhala-berhala bernamakebebasan dan kemajemukan tersebut dengan semena-mena pula - yang ironisnya, dengan pemaksaan yang rapi dibalik kata “harusnya begini….”Jadi bagi saya begini sajalah, saudara:
Mari ikuti permainannya seperti apa. Saya tidak masalah, apakah tauhid dan agama dibahas sebagai dogma atau sebagai sebuah konsep yang membumi dan ‘mesti’ dalam jangkauan nalar dan logika. Saya malah lebih menyukai yang terakhir itu - yang menjadi candu kebebasan berpikir (yang sedikit banyak saya miliki juga) :)
Dengan asumsi agama adalah sebuah ideologi, seperti rumusan2 Ekaprasetya Pancakarsa yang konon mumpuni itu, maka sikap saya berada di tengah-tengah saja. Bukankah Islam itu adalah agama pertengahan, bukan? Tidak melulu bicara pernak-pernik surga-neraka, tapi juga bicara urusan dunia? ;)
Jadi… ya, beda prinsip adalah satu hal. Tapi menghakimi mereka, saya tidak suka. Dengan poin ini juga saya berharap seseorang juga tidak dihakimi karena prinsip-prinsipnya.
*lha! ini aku sedang menghakimi juga ya?* :lol:
katanya
Dana :lol:Tuhan itu ndak bisa diitung Guh…
Tuhan Sang Pencipta itu Satu (itu juga kalau memang Dia itu exist/ada). Tapi Tuhannya umat beragama sepertinya banyak, karena dari dasar pemahaman mereka atas Tuhannya masing masing saja sudah berbeda, maka sepertinya tidak mungkin Tuhannya sama, kecuali kalo Tuhan itu menderita multiple personality disorder.
Ada yang bilang perlakuan Ahmadiyya itu menusuk hati karena menganggap mereka yang non Ahmadiyya itu sebagai kafir. well.. welcome to the club .. karena non muslim pun diperlakukan sebagai itu oleh para muslim, dan itu juga menusuk hati, seharusnya moral primordial itu dimengerti oleh kaum beragama (do not do to others what you dont want to be done upon you/jangan lakukan kepada orang lain apa yang kau tak mau orang lain lakukan terhadapmu) mungkin apabila para umat beragama memiliki itu, dunia bisa agak tenang dan sejuk.
ada yang bilang jangan mengkritik agama apabila tidak didasari dalil kitab sucinya.. Tuhan memberi kita otak utk dipakai, wajar saja kalau kita kritik agama apabila ada yang absurd di dalamnya. Kecuali di agama itu harus percaya buta, tidak boleh mempertanyakan apapun, tidak perduli se absurd apapun, menyakiti siapapun, setidak bermoralnya pun ajaran itu. Tapi, apakah (apabila ada) ajaran semacam itu benar? akhirnya balik lagi ke kotak awal, kritik agama, dilarang, pusing akhirnya.. ke laut aja.
untung saya tidak beragama, kalo iya, saya ikut pusing. sekarang saya bisa ketawa saja melihat hal hal semacam ini, selayaknya infotainment, lucu sekali.
mas teguh, jangan bosan menulis.. topik anda lucu2 dan merangsang otak utk dipakai.. biar saja dikecam bahkan diancam, itu resiko seleb/pionir/pembaharu.. ;)
@Irdix, apa iya begitu?
@Oktara, saya ndak tahu pak.
@Kati4zee, abu zulfa, ada yang menuhankan seks, ada yg menuhankan ulama juga, atau bahkan agama juga bisa dituhankan.
@Ruangpena88, terimakasih.
@Joko, “melabeli jidat orang” itu memang cara yang enak untuk membuat diri menjadi nyaman. Terimakasih pelajarannya.
@Wewaits, mungkin begitu. saya tidak yakin, makanya bertanya pada beliau :)
Untuk nomor lima, itu hanya bertanya kok. Terimakasih ancamannya. Mungkin sebaiknya kata tuhan saya ubah atau lengkapi saja dengan kata agama ya.
@Bangzenk Yth, sudut pandang yang sangat sejuk :) Terimakasih.
@102FM ITB, wah, ahmadiyah seperti itu? Saya juga dengar cerita prilaku jamaah semacam itu, di Lampung ada yang disebut penduduk sebagai jamaah jahulak, setelah kita pergi maka bekas kita langsung dicuci seakan najis. Saya tak tahu kalau Ahmadiyah seperti itu.
Yang jelas saya setuju pembubaran atau pelarangan gerombolan manapun yang kerjaannya bikin onar. Kalau ahmadiyah, MUI atau FPI bikin onar ya harusnya ditindak saja, bubarkan sekalian kalau perlu.
Mungkin sebaiknya semua bersikap transparan saja ya, ahmadiyah silakan buka ajaran-ajarannya, bagaimana mereka menganggap umat lain, apakah benar bagi mereka umat lain senajis itu? Kalau iya… he he, mungkin yang terjadi sekarang sekedar hukum alam.
Tapi saya ga yakin kalau Ahmadiyah separah itu.
Untuk nomor lima, sebagai jamaah eh mahasiswa ITB, apakah anda tidak melihat gejala kesitu? bahwa tuhan dan agama diperalat untuk tujuan-tujuan politis?
@Ghaniarasyd, terimakasih peringatannya. pro atau tidak bukan topik yang sedang dibahas.
@Putu Gede Sudira, jadi yang salah orangnya ya?
@wiwit05nov87, bukan ingin menyudutkan, cuma ingin bertanya :) Gawat juga kalau setiap guru merasa disudutkan setiap muridnya bertanya. Terimakasih sarannya, salam kenal.
@Tgk. Alex, kalau seseorang diangkat sebagai ketua MPR dari sebuah negara berdasarkan agama, tentu dengan syarat-syarat tertentu yang memastikan bahwa orang itu bertingkah dan berpikir sesuai dengan agama yang menjadi dasar negara itu. Kalau kemudian tingkah polahnya ternyata tidak sesuai dengan agama yang menjadi dasar negara itu, sebaiknya diapakan ya?
Ah!! soal ini:
Itu benar-benar kesalahan yang luar biasa. Padahal yang saya maksud adalah, “negara harusnya ga perlu ikut campur soal keyakinan orang.”
Mungkin pak HNW juga salah seperti saya. Semoga beliau juga bisa meralatnya seperti saya meralat pernyataan saya yang aneh itu :)
Tentu saja, tapi siapapun yang brutal dan anarkis, itu yang harus ditindak. Bukan korbannya. Kalau ternyata memang ada yang mancing-mancing atau provokasi, ya itu juga harus kena tindak sesuai hukum yang berlaku.
@Chiw, mungkin beliau benar
@Rima, resiko yang sangat tidak menyenangkan. Padahal saya bukan seleb/pionir/pembaharu, kok masih diancam2 juga :P
Btw, tidak beragama??? Ahh… berarti anda adalah sasaran bagus untuk saya agamakan, supaya saya mendapat surga yang penuh bidadari selalu perawan!! *becanda deng*
@ rima
Tentu saja. Siapapun akan merasa sakit hati. Para muslim juga sakit hati dianggap sebagai kafir yang harus masuk dalam para infidel yang tersesat, yang harus diselamatkan.
Mau muslim, kristen, budha, hindu, sama saja. Semua akan tersinggung. Saya sangat sependapat dengan anda.
Jadi karena itu juga ucapan utk Ahmadiyah - sebagai today’s dialoque - juga samaL Well, welcome to the club juga Ahmadiyah! :)
[BIGOT MODE ON]
Apa Ahmadiyah sendiri memiliki moral primordial itu saat mengkafirkan yang diluar jamaahnya?!
Maaf-maaf saja. Saya ndak akan sebelas-kasih itu untuk memngasihi orang yang mengkafiri orang lain juga.
Adilkah jika di satu sisi ada yang merengek atau diwakili rengekannya untuk minta disejajarkan, minta diterima dalam sekelompok umat besar - apak bernama umat beragama atau bernegara - tapi di sisi lain malah mengkafirkan umat diluar jemaahnya?
[/BIGOT MODE OFF]
Ya. Anda benar. Saya juga
bermimpiberharap moral primordial itu dimiliki oleh siapapun. Siapa saja. Apakah beragama atau tidak beragama. Apakah banyak tuhan atau satu tuhan. :)Ah… betapa indahnya jika bisa demikian.
Marilah kita wujudkan dengan saling bertoleransi dari hal kecil dulu. Menghargai perbedaan wacana dan perbedaan definisi, misalnya. Pasti Indonesia akan sesejuk angin di puncak Jayawijaya… :)
@ Guh
Kalimat yang saya tebalkan itu rancu, kalau tidak bisa dikatakan kalimat bersayap. Bisa lebih dijelaskan lagi?
Saya sempat mempelajari serba sedikit konstitusi negara ini saat kuliah hukum
meski DOdulu. AFAIK, tidak pernah dicantumkan dengan jelas berdasar agama apa seseorang boleh jadi Ketua MPR. CMIIW.Berikutnya, untuk kalimat kedua yang saya tebalkan itu, agama yang menjadi dasar negara Indonesia ini apa?
Islam? Lho? Apa tidak akan dikatakan subversif dan mengganggu konstitusi NKRI dengan berargumen bahwa agama yang menjadi dasar negara ini adalah agama Islam? Saudara-saudara saya yang beragama lain bisa demo besar-besaran itu :D
Atau mungkin Guh beranggapan demikian? Atau cuma berasumsi bahwa HNW beranggapan demikian? Wah, jika memang boleh beranggapan demikian, konstitusi negara ini mersti dibongkar ulang. Secara Islam agama negara gitu lho, masa sih pada misuh-misuh kalau - misalnya - RUU APP disahkan atau Piagam Jakarta dicantumkan kembali. :D
Setahu saya sih, yang dianggap paling mantep jadi agama mendasar di negara ini adalah sekulerisme. Dengan itu, konon semua akan menjadi lebih baik.
Eh, benar nggak sih?
Apa sebaiknya kita bikin petisi online agar pemerintah merumuskan kembali agama apa yang harus menjadi dasar negara, Guh?
Saya pasti akan ikut kalo ada petisi online semacam itu. Tertarik? :P
Halah… saya lupa nutup tag :(
Nah, kalimat yang ditebalkan itu yang saya maksudkan dikomen sebelum ini. Demikian.
@Rima Yth,
sebagai orang yang sedang sama-sama berada di negeri orang (saya di Belanda dan saudari di Belgia) pembahasan saudari jadi menarik.
karena negeri kita, Indonesia. berbeda dengan kedua negara tempat kita berpijak sekarang. pluralisme di Indonesia dibalut dalam ke-bhineka-an.
“ada yang bilang jangan mengkritik agama apabila tidak didasari dalil kitab sucinya.. Tuhan memberi kita otak utk dipakai, wajar saja kalau kita kritik agama apabila ada yang absurd di dalamnya. Kecuali di agama itu harus percaya buta, tidak boleh mempertanyakan apapun, tidak perduli se absurd apapun, menyakiti siapapun, setidak bermoralnya pun ajaran itu. Tapi, apakah (apabila ada) ajaran semacam itu benar? akhirnya balik lagi ke kotak awal, kritik agama, dilarang, pusing akhirnya.. ke laut aja.”
wah, kata saudari tidak beragama.. tapi masih mengakui Tuhan memberikan otak. hehe.. jujur, saya banyak berinteraksi dengan atheis. dan saudari tak jauh beda, mengakui Tuhan tapi enggan menyembahNya. nah, agama inilah “The Way of Life”.
jadi, pandangan saudarilah yang saya kira “absurd” dan tak mendasar. mengkritisi agama adalah sah-sah saja. catatannya adalah, agama apa yang saudari anut?? nah, itu yang saudari mesti bisa sodorkan sebagai bukti. dan sekali lagi, inilah gunanya memiliki “The Way of Life”. sebagai bentuk syukur kita karena telah diberi otak.
kalo laptop aja ada yang buat, kok bumi gada yang buat. maaf, tapi pandangan atheis rata-rata malah membuat saya bingung. karena mereka selalu mengelak bahwa bumi itu ciptaan, sebagaimana diri kita.
(hahaha.. ini jadi ngebahas konsep ketuhanan).
yang ingin saya sampaikan, tidak bisa kita membual tentang Tuhan dan ajaran yang telah disebarkan orang2 pilihanNya tanpa kita memiliki keyakinan. karena Bhineka itu artinya berbeda, bukan bebas untuk golput (atheis).
salamhangat, saudariku.
@Tgk. Alek Yth
bicara tentang moral primordial, bahasan berat. kita hidup di Indonesia dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.
kita disibukkan dengan masalah JAI, kenapa?? padahal di banyak tempat, masyarakat kita bisa makan sehari aja udah untung. bagaimana dengan Ab*riz*l B*kri*?? menteri kesejahteraan kita?? usaha grupnya oke punya, ada imbasnya langsung buat rakyat?
moralitas manalagi ini?? jadi, jangan bawa dulu masalah moral primordial ke dalam konteks ketuhanan. karena secara bahasan berbeda. ini keyakinan hati.
masalah “sesejuk angin di puncak Jayawijaya” itu sudah pernah terjadi 14 abad yang lalu. dan bertahan selama 7 abad. Luar biasa bukan?? lantas kenapa sekarang seolah tidak bisa sesejuk itu lagi??
silakan, jawabannya bukan pada moral primordial. tapi karena keyakinan hati kita sudah dicampur dengan batas daya nalar kita. atau mungkin saudara punya pendapat lain?
SalamHangat.
@GuhPraset Yth.
Topiknya jadi melenceng jauh, tapi terima kasih telah diberikan tempat berbagi. saya tercengang karena tanggapannya hanya satu baris. hehehe..
Hormat saya,
-drBelandaYgDingin
Setahu saya sih tidak beragama tidak lantas menjadi atheis. :roll:
@ bangzenk
Jelas. Sangat berat memang. Karena saya melihat, sebagaimana klaim bahwa Tuhan dan Agama bisa jadi diperalat, Pancasila dan UUD 1945 itu sendiri sering menjadi pembenaran utk banyak hal. Apakah dalam hal agama, dalam politik, ekonomi. Apapun.
[BIGOT ON]
Namun, jika yang ayat dari kitab suci boleh dianggap sebagai fanatikus-religius dan mesti ditolak, kenapa hal yang sama tidak boleh ditujukan pada Pancasila dan UUD 1945 yang rakitan manusia tersebut? Apa Pancasila dan UUD 1945 sudah bertransformasi menjadi panduan suci sebuah agama lain pula?
[BIGOT OFF]
Tapi saya melihat, bahwa dengan UUD 1945 dan Pancasila itu jugalah maka moral primordial ini saya terima. Karena bagi saya UUD 1945 dan Pancasila - sesekuler apapun negara ini - masih mengaplikasikan nilai-nilai universal kemanusiaan yang diklaim ada di semua agama.
Ya. Saya sendiri lebih suka bicara masalah itu, bahkan kalau perlu turun untuk urusan semacam itu, meski bukan dalam skala nasional. :)
Jangan tanyakan pada saya. Karena saya seorang muslim yang meyakini Islam sebagai way of life yang membumilah maka saya juga mempertanyakan hal yang sama. Coba tanyakan pada orang-orang yang memuja demokrasi dan HAM, misalnya. Saya juga tidak mengerti kenapa setiap sudah menyangkut Tuhan dan agama, moral-moral terstandarisasi demikian seakan menjadi kebenaran mutlak yang seolah tak ada di dalam agama seperti Islam. Padahal, IMHO, ada. Meski tetap saja ada batasan tertentu, karena saya beranggapan Islam bukan agama yang terlalu utopis :)
Saya tak pernah ke Jayawijaya, karena itu ucapan saya demikian representasi impian saya yang diharuskan oleh paham kemajemukan dan kepluralan negara ini tentunya :lol:
Tentang apa yang sudah terjadi 14 abad yang lalu itu, maaf Mas, saya bukannya tidak tahu. Saya bahkan pernah menulis yang demikian di blog saya sendiri, meski dalam tema berbeda.
*spam* :P
Dan, masalah keyakinan hati sudah dicampur dengan batas daya nalar kita itu, saya tidak berada pada posisi yang terlalu keras menolak penggunaan nalar tidak juga menuhankan nalar itu sendiri. Saya pragmatis saja dalam melihat suatu permasalahan. Sederhananya, dlaam urusan tauhid ke dalam diri saya sendiri, saya bisa sangat eksklusif. Bagi saya, syahadat seorang muslim itu adalah ikrar hidup. Tapi dalam bermasyarakat, saya bisa bersikap inklusif terhadap siapa saja. Tentu… tentu dalam batas emosi dan intelegensi saya untuk membaca apakah orang-orang yang saya hadapi juga memiliki inklusifitas yang sama kepada saya?
An eye to an eye, bagi saya sesekali boleh diperlakukan, tergantung sikon. Sehingga saya tidak akan mengkafiri orang, jika saya tidak dikafiri. Tentu, setelah mencoba seobjektif mungkin melihat sikap orang yang berbeda pehaman agama - dalam hal ini Islam, saudara.
@ danalingga
Ya. Tidak otomatis, Dan. Agsnostik agaknya lebih cocok :roll: