3 Langkah Menjadikan Tuhan sebagai Tunggangan Politik

  1. Dibonsai dulu

    Tuhan boleh Maha Besar, tapi untuk mencapai tujuan anda, Dia tidak boleh lebih besar dari Agama. Dengan cuci otak atau cara apapun, anda harus berhasil meyakinkan umat bahwa Tuhan HANYA bisa disembah dan diagungkan lewat cara tertentu berdasarkan agama tertentu. Tentunya tidak asal agama, tapi harus agama yang sesuai dengan penafsiran dan pemahaman dari pihak tertentu.

    Yang saya maksud sebagai “pihak tertentu” ini bisa seorang bertitel nabi atau siapapun. Kalau ternyata nabi sudah terlalu lama mati maka anda bisa kultuskan yang masih hidup. Bisa diri anda sendiri atau segerombolan orang yang ada dalam kendali anda. Jadikan pihak ini sebagai penafsir tunggal yang Paling Benar. Dimana tafsir mereka harus dijadikan satu-satunya pedoman dalam menyembah Tuhan.

    Selanjutnya pihak yang anda tentukan itu bisa disebut sebagai Penguasa Agama. Apapun yang dikatakannya akan dibenarkan dan dipatuhi sepenuh hati oleh umat. Menentang Penguasa Agama berarti blasphemy. Sama saja melecehkan Tuhan. Ciptakan UU khusus blasphemy bila perlu.

  2. Gunakan sebagai alat kontrol sosial

    Agama yang sudah berhasil anda gunakan untuk membonsai Tuhan ini sekarang bisa digunakan sebagai alat kontrol sosial. Tuhan dalam kerangkeng itu akan jadi sumber energi luar bisa bagi fatwa apapun yang dibuat oleh sang penguasa agama. Kenapa? Karena cuci otak yang anda lakukan membuat umat tetap merasa sedang menyembah Tuhan, padahal sebenarnya mereka sedang menyembah agama. Tanpa menyadari bahwa agama itu dikuasai oleh sang Penguasa Agama. Akhirnya apapun titah yang di sabdakan penguasa akan dilaksanakan seperti melaksanakan perintah Tuhan.

    Dengan kekuatan super ini, anda bisa menunggangi umat untuk melakukan apapun. Membakar dan merusak apapun yang anda suka, menyerang dan membungkam setiap musuh yang mengganggu kenyamanan anda. Berkah “Kekuatan Tuhan yang Maha Besar” akan selalu menolong anda dalam melibas dan menyingkirkan semua lawan.

    Jangan lupa untuk memaksakan keseragaman. Mulai dari cara menyembah tuhan, cara berpikir, berpakaian sampai cara bersetubuh, semua harus sesuai dengan cara-cara yang anda suka. Tentunya disampaikan dengan perantara Penguasa Agama. Kalau kata anda pink, ya semua harus pink. Yang tidak mau ngepink silahkan hengkang, membangkang sama saja cari gara-gara dan harus siap jadi korban pemaksaan plus tindak kekerasan. Gerombolan yang seragam sampai ke tingkat cara berpikir tentu lebih mudah dikendalikan.

  3. Jual sebagai dagangan partai

    Setelah keampuhan kuasa anda terbukti, sekarang saatnya melangkah ke permainan yang lebih besar dengan penuh rasa percaya diri.

    Tuhan terbonsai dalam kerangkeng akan jadi sumber Energi Maha Dahsyat yang melesatkan partai anda ke puncak kekuasaan. Para penyembah Tuhan yang berhasil anda tipu untuk menyembah agama (dan tanpa sadar juga menyembah penguasa agama), sekarang tanpa sadar akan ikut menyembah partai anda dan mendukungnya sepenuh jiwa dan raga, melambungkan anda sampai ke puncak kekuasaan!

    Saat berhasil melakukan semuanya, maka itulah saat seluruh jagat raya mengucapkan selamat pada anda. Anda yang Maha Kuasa. Yang mampu menbonsai Tuhan dan menungganginya untuk mencapai kekuasaan yang anda inginkan! Selamat!

Bagaimana, kelihatan sederhana bukan? Mungkin para penguasa wannabe tertarik untuk mencoba? Atau malah sedang?

Sebenarnya sih tidak semudah itu. Anda perlu kesabaran luar biasa. Mencuci otak umat supaya mau menyembah tuhan bonsai dalam kerangkeng agama itu perlu waktu yang tidak sebentar. Menjanjikan vagina bidadari surga yang selalu perawan atau ancaman neraka yang sangat pedih saja tak cukup untuk melakukan cuci otak. Semua harus disertai pembodohan yang sistematis dan berkesinambungan.

Ah, sekian dulu. 3 langkah diatas hanyalah garis besarnya saja. Untuk lebih jelas lagi anda bisa kursus lebih serius, mungkin nanti akan saya adakan seminar atau kursus online dengan tarif beberapa juta Dinar. *becanda*.

Oh iya, kalau mengenai cuci otak, tips trik melakukannya, diagnosa atau malah cara pengobatannya bisa anda tanyakan pada pihak-pihak yang berkompeten. Misalnya seperti Tante Maya, Bang Pyrrho, Mbak Nini (link?), atau yang lain yang mempelajari bidang itu.

68 Tanggapan ke “3 Langkah Menjadikan Tuhan sebagai Tunggangan Politik”


  1. 1 Tgk. Alex Mei 5, 2008 pukul 12:46

    Ehm…
    Apa postingan ini juga tidak sedang menjual menjadikan Tuhan sebagai tunggangan blog, Guh? :mrgreen:

  2. 2 Tgk. Alex Mei 5, 2008 pukul 12:58

    Ah… saya lupa kenapa saya tadi menuliskan kata ‘blog’.
    Karena blog juga merupakan salah satu media politik. Liat saja itu bekas menteri sama beberapa petinggi negara juga sudah nge-blog. Motif politik di blog demikian tercium juga di hidung anjing saya ini :P

  3. 3 Tgk. Alex Mei 5, 2008 pukul 13:01

    Ah ya, satu lagi:
    Dengan membawa Tuhan sebagai tema untuk mengggugat jual-beli Tuhan itu sendiri, dengan penolakan pada keseragaman dan kampanye tentang kebebasan untuk lepas dari keseragaman, bukannya kita justru sedang mendagangkan Tuhan agar orang-orang seragam dengan kita untuk seragam pula dalam menilai Tuhan?

    Nah lho? Gimana itu?

    Bingung sayah…

    Eh… kok jadi hetrik begini? :P

  4. 4 Chocoholic Mei 5, 2008 pukul 14:57

    hetrik itu apa sih?

    guh, hal ini memang dimana mana terjadi, dari dulu malah. tapi disaat di barat yang beginian ini udah ‘gak penting banget gitu lho’, di indonesia baru mulae.. maklum lah, endonesah selalu ketinggalan jaman dan salah informasi… kaya keledai yang nyeradak nyeruduk sana sini. untung masih ada satu, dua (ratus mungkin ribu) orang yang ‘melek’ dan menyadari hal ini. semoga makin banyak yang bikin bunyi soal ini biar ‘kemelekan’ ini tertular ke mana-mana. udah dibodoh2i penjajah ratusan tahun, dibodoh2i pemerintah 63 tahun, mosok iya mau dibodoh2i oknum2 tidak bertanggung jawab yang salah kaprah make kata-kata andalan, “Tuhan memerintahkan umatnya agar …(isi sendiri)…”

    manusia indonesia ini sudah terlalu lama terlena dan membiarkan orang berpikir untuk mereka, sudah saatnya mereka bangun tidur dan sadar bahwa semua punya otak dan boleh berpikir sendiri, tanpa takut dimarahi dan disentil pemerintah maupun ‘Tuhan’ ..

  5. 5 petroek™ Mei 5, 2008 pukul 15:11

    kasihan sekali Tuhan selalu di jadikan tunggangan blog..eh politik….

  6. 6 Tgk. Alex Mei 5, 2008 pukul 15:29

    @ Chocoholic

    Nona Rima, izinkan saya bicara :)

    hetrik itu apa sih?

    Hetrik itu istilah kalo ada komen tiga kali berturut-turut dari orang yang sama. Yaa… semacam gol kalo di sepak bola.

    Ah, untuk komen anda berikutnya, meski agaknya itu ditujukan untuk Guh, karena anda membawa-bawa Indonesia, boleh ya saya bicara?

    tapi disaat di barat yang beginian ini udah ‘gak penting banget gitu lho’, di indonesia baru mulae.. maklum lah, endonesah selalu ketinggalan jaman dan salah informasi…

    Benar, Nona. Dan tahukah anda kenapa Indonesia selalu ketinggalan jaman dan informasi?
    Karena sejumlah WNI-nya kabur keluar negeri, memuja kehidupan asing, lupa bahwa di sini tanah kelahirannya. Bagi saya sama saja apakah kehidupan asing itu bentuk Barat atau Arab.

    Dan WNI yang kalo ngomong itu selalu melecehkan Indonesia sendiri, justru tak bikin apa-apa selain ngeluh di luar sana. Mereka pintar dan sebenarnya bisa jadi ‘messiah’ untuk turun ke masyarakat dan mengubah apa yang dianggapnya harus diubah. Sayangnya, mereka sudah nyaman di luar sana. Kalau pun pulang, cuma seperti alien kesasar di perkampungan udik.

    kaya keledai yang nyeradak nyeruduk sana sini. untung masih ada satu, dua (ratus mungkin ribu) orang yang ‘melek’ dan menyadari hal ini. semoga makin banyak yang bikin bunyi soal ini biar ‘kemelekan’ ini tertular ke mana-mana.

    Dan - baik di luar atau dalam negeri - orang-orang seperti para pemuja kebebasan pun tak beda juga. Seperti keledai nyeradak-nyeruduk sampai masuk ke wilayah personal orang lain, sebuah keluarga lain yang bernama umat (persetan apa pun arti umat itu sendiri) di mata saya. Mereka beranggapan bahwa mereka begitu berkuasa untuk mengubah keyakinan orang lain. Mereka daulat diri mereka sendiri menjadi tuhan-tuhab baru di depan altar tuhan-tuhan besar bernama demokrasi, liberalisme, pasar bebas, globalisasi dan HAM. Apa bedanya? Tell me.

    udah dibodoh2i penjajah ratusan tahun, dibodoh2i pemerintah 63 tahun, mosok iya mau dibodoh2i oknum2 tidak bertanggung jawab yang salah kaprah make kata-kata andalan, “Tuhan memerintahkan umatnya agar …(isi sendiri)…”

    Yang ini saya setuju.
    Membuat orang menjadi kritis dan melek terhadap diri dan dunia di sekitarnya itu perlu.

    Tapi, jika anda lihat kenapa saya menjadi seperti devil’s advocate di blog Guh ini, karena saya tak menolak pembenaran untuk mendefinisikan kebenaran menurut persepsi satu orang, lalu melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain.

    manusia indonesia ini sudah terlalu lama terlena dan membiarkan orang berpikir untuk mereka, sudah saatnya mereka bangun tidur dan sadar bahwa semua punya otak dan boleh berpikir sendiri, tanpa takut dimarahi dan disentil pemerintah maupun ‘Tuhan’ ..

    Manusia Indonesia yang mana?

    Jangan menggeneralisir Nona. Coba anda tunjukkan satu pihak secara objektif dan berikan solusi yang menurut anda bagus untuk diterapkan. Syukur-syukur anda mau balik ke negeri ini dan membentuk barisan untuk mengubah keadaan negeri yang - memang sejujurnya - kalang kabut ini.

    Tahukah anda, bahwa ada juga orang yang bisa menyalahkan kebebasan berpikir yang anda dan saya (dan Guh juga agaknya) sepakati? Tahukah anda bahwa masyarakat sampai di desa-desa saya cenderung sederhana dan menertawakan dengan sedih betapa demokrasi dan pembebasan yang dielu-elukan hingga terjadinya reformasi 1998 tak banyak mengubah nasib? Mereka bisa berargumen bahwa karena demokrasi yang kebablasan itulah maka gejolak muncul dimana-dimana.

    Atau misalnya kasus begini:

    Having false mannered well-behaved children is something of a general obsession among Indonesian parents that they cannot understand white kids with their free and liberal ways.

    Anda tahu darimana saya dapat itu?
    Anda tahu, bahwa tidak semua orang di Indonesia suka atau siap untuk ditundukkan pada apa yang dianggap mesti di luar sana. Ada nilai-nilai yang sudah ada di Indonesia yang tak bisa diukur dan dipaksa dengan nilai-nilai luar.

    Ide-ide progresif demikian itulah yang membuat gejolak ada. Mungkin anda, Guh dan saya termasuk yang bertanggung jawab dengan ide-ide demikian. Dengan liberalisme anda, dengan konsep sosialisme saya atau Teguhisme-nya Guh.

    Dan sekarang hasrat-hasrat pembesan demikian mau cuci-tangan dengan menyalahkannya pada rakyat Indonesia? Ironis…

    Apa yang terjadi di Indonesia ini bukanlah krisis demokrasi atau kebebasan berpikir seperti yang anda atau Guh kira menyebabkan penindasan kebebasan itu. Apa yang terjadi ini justru erupsi demokrasi yang masih mencari penyesuaiannya sendiri. Jika ada ekses, ada reaksi, itu adalah gejolak alamiah. Semua tergantung pada - utamanya - seberapa banyak orang-orang melek, cerdas dan kritis seperti anda dan Guh bisa perbuat untuk mengendalikannya.

    Mengkritik is oke. Saya juga melakukannya. Sayangnya… kolong langit di nusantara ini sudah dipenuhi oleh banyak kritikus yang bisa muncul di talkshow sambil cengar-cengir bicara “BBM sepantasnya naik” tanpa beban atau “agama itu sama semua… itu aja kok repot” tanpa sadar, bahwa di lapisan bawah pernyataan mereka itu menimbulkan gejolak yang tumbalnya adalah masyarakat.

    Maaf. Ini cuma pendapat saya. Saya harap kita cukup liberal utk menerima perbedaan bukan? ;)

  7. 7 Tgk. Alex Mei 5, 2008 pukul 15:33

    Koreksi:

    Tapi, jika anda lihat kenapa saya menjadi seperti devil’s advocate di blog Guh ini, karena saya tak menolak pembenaran untuk mendefinisikan kebenaran menurut persepsi satu orang, lalu melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain.

    Mestinya yang ditebalkan itu saya tulis, menolak. Jadinya

    Tapi, jika anda lihat kenapa saya menjadi seperti devil’s advocate di blog Guh ini, karena saya menolak pembenaran untuk mendefinisikan kebenaran menurut persepsi satu orang, lalu melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain.

    Demikian :)

  8. 8 tukangobatbersahaja Mei 5, 2008 pukul 16:15

    Om Teguh serius banget tentang cuci otaknya. Saya udah jawab mengenai metode ampuh untuk cuci otak tanpa obat. Kalo ga percaya lihat sendiri…
    yang penting informasinya harus disampaikan secara berulang-ulang. ingat “vagina bidadari surga yang selalu perawan”.

  9. 9 danalingga Mei 5, 2008 pukul 18:20

    Sebenarnya sih tidak semudah itu. Anda perlu kesabaran luar biasa. Mencuci otak umat supaya mau menyembah tuhan bonsai dalam kerangkeng agama itu perlu waktu yang tidak sebentar. Menjanjikan vagina bidadari surga yang selalu perawan atau ancaman neraka yang sangat pedih saja tak cukup untuk melakukan cuci otak. Semua harus disertai pembodohan yang sistematis dan berkesinambungan.

    Gampang kok guh. Kan tinggal memanfaatkan saja masyarakat yang kebanyakan memang sudah dicuci otaknya sejak dari beberapa generasi kebelakang. Jadi tinggal berusaha agar mereka tidak sadar. Beres dah. Tinggal terima manfaatnya, tapi jangan lupa berterimakasihlah pada orang-orang terdahulu. Itu semua jasa mereka. :lol:

  10. 10 102FM ITB Mei 5, 2008 pukul 20:44

    Ngomong2x apa udah ada balesan dari HNW? Kok dah bikin topik lagi tentang “Tuhan”?

    Ngomong2x Guh ini punya agama?

    Ngomong2x Kenapa harus dikaitkan dengan hal-hal jelek dari politik? Tidakkah lebih baik jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

    Btw (ngomong2x) :p
    saya menangkap sinyalemen Anda tidak setuju jika partai2x yang ada di Indonesia berlandaskan pada agama tertentu. Benarkah? Kalo iya, berarti demokrasi telah Anda bonsai sendiri. Kalo nggak, tulisan Anda memang bikin bingung, gak jelas maksudnya.

    He..he.. peace ah, jangan pipis sembarangan… ^_^

  11. 11 102FM ITB Mei 5, 2008 pukul 20:47

    Oh nggak ding, mungkin saya terlalu bodoh untuk bisa mengerti tulisan Guh… He..he.. maaf kalo dah nge-junk

  12. 12 Chocoholic Mei 5, 2008 pukul 21:22

    Tgk. Alex: Peu haba? Haba geut, saya harap?

    wah… lagi banyak waktu ya bang sampe ngomentarin tulisan saya saja semangat 45 gituh.. hehehe..

    saya juga lagi banyak waktu nih, jadi saya jawab.. kita berbalas pantun saja lah hari ini, ok? :)

    Bang Alex bilang :
    Dan tahukah anda kenapa Indonesia selalu ketinggalan jaman dan informasi?
    Karena sejumlah WNI-nya kabur keluar negeri, memuja kehidupan asing, lupa bahwa di sini tanah kelahirannya. Bagi saya sama saja apakah kehidupan asing itu bentuk Barat atau Arab.

    Saya bilang: lho, banyaknya WNI yang ‘kabur’ keluar negeri itu emang berjodoh untuk tinggal/kerja disana. Saya sendiri sih tidak memuja kehidupan asing (untuk saya asing non-Arab, tapinya), memuja is such a strong word, mungkin lebih tepat mengagumi, kok mereka bisa hebat gitu yah? dan ujung2nya berharap bisa belajar dari situ.

    Bang Alex bilang :
    Dan WNI yang kalo ngomong itu selalu melecehkan Indonesia sendiri, justru tak bikin apa-apa selain ngeluh di luar sana. Mereka pintar dan sebenarnya bisa jadi ‘messiah’ untuk turun ke masyarakat dan mengubah apa yang dianggapnya harus diubah. Sayangnya, mereka sudah nyaman di luar sana. Kalau pun pulang, cuma seperti alien kesasar di perkampungan udik.

    Saya bilang: Saya waktu pulang dua tahun lepas memang seperti alien kesasar, tapi bukan seperti alien kesasar di perkampungan udik, lebih tepatnya orang udik terdampar di metropolitan. Gila saja, sudah biasa hidup di negara yang tidak ada mall, yang diskotiknya sedikit sekali, yang orang-orangnya tidak konsumtif dan lebih mementingkan hal-hal perlu (necessities) dibanding luxuries, pulang ke Jakarta bengong melihat mall/diskotik/apartemen dan manusia manusianya (di Jkt) yang Wow! semua penampilannya. Bukan alien bang, berasa TKI yang pulang dan kesilauan. Justru lebih nyaman tinggal di Jakarta kelihatannya, tapi sayangnya tidak ada yang mau memperkerjakan saya.

    Bang Alex bilang:
    Dan - baik di luar atau dalam negeri - orang-orang seperti para pemuja kebebasan pun tak beda juga. Seperti keledai nyeradak-nyeruduk sampai masuk ke wilayah personal orang lain, sebuah keluarga lain yang bernama umat (persetan apa pun arti umat itu sendiri) di mata saya. Mereka beranggapan bahwa mereka begitu berkuasa untuk mengubah keyakinan orang lain. Mereka daulat diri mereka sendiri menjadi tuhan-tuhab baru di depan altar tuhan-tuhan besar bernama demokrasi, liberalisme, pasar bebas, globalisasi dan HAM. Apa bedanya? Tell me.

    Saya bilang:
    Wow.. saya nyaris tidak mengerti kata katanya bang Alex, mungkin saya kurang intelek. Namun saya rasa semua orang ingin memiliki kebebasan dan hak (to an extent), tapi saya tidak merasa nyeradak nyeruduk ke wilayah personal orang lain, saya berkomen di blognya mas Guh yang so far saya liat tidak merasa wilayah personalnya di invasi. Ya gak mas Guh? Yang jelas saya tidak punya kuasa apa apa, tapi sama dengan Bang Alex dan MUI dan Bush dan Pope dan FPI dan Al Qaeda, saya tentunya boleh ber expresi dan mengeluarkan pendapat saya kan? Toh saya tidak membunuh/membom siapa siapa. Senjata saya hanya kata-kata tidak penting.
    HAM, globalisasi, liberalisme, pasar bebas dan demokrasi apabila dijalankan dengan baik adalah hal yang sangat baik untuk semua orang di dunia ini. Memang saat ini semua hal hal itu masih jauh dari sempurna, tapi masih jauh lebih baik dibanding oppression. This I tell you from the point of view of a woman and an ex Muslim. Before you know how it feels like to be a woman (be it Muslim or not) in a man’s world with half of a man’s right, do not patronize me with words like this. You are free to patronize other non-suspecting women, but not me.

    Bang Alex bilang:
    Tapi, jika anda lihat kenapa saya menjadi seperti devil’s advocate di blog Guh ini, karena saya menolak pembenaran untuk mendefinisikan kebenaran menurut persepsi satu orang, lalu melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain.

    Saya bilang:
    Apabila anda pikir saya telah melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain, lucunya anda juga telah melakukan itu dengan komen-komen anda di atas. Tapi masalahnya saya sekedar komen di suatu blog, mengemukakan opini saya, and it’s impossible to please everyone. Maka pasti ada yang merasa dilecehkan, apapun opini saya, dan saya tidak ambil pusing dengan itu.

    Bang Alex bilang:
    Manusia Indonesia yang mana?

    Saya bilang: Manusia Indonesia kebanyakan. Apalagi yang kurang berpendidikan.

    Bang Alex bilang:
    Jangan menggeneralisir Nona. Coba anda tunjukkan satu pihak secara objektif dan berikan solusi yang menurut anda bagus untuk diterapkan. Syukur-syukur anda mau balik ke negeri ini dan membentuk barisan untuk mengubah keadaan negeri yang - memang sejujurnya - kalang kabut ini.

    Saya bilang: Lho, kenapa saya dilarang menggeneralisir? Memang faktanya begitu kok?
    Plus, anda juga menggeneralisir kami kami WNI yang ‘kabur’ keluar negeri, ‘memuja kebebasan dan kehidupan asing’, ‘melecehkan Indonesia’, dan ‘tak bikin apa-apa selain ngeluh di luar sana’. Anda bukan hanya generalisir tapi memvonis dan menuduh tanpa kenal dan tahu latar belakang/alasan kami di luar, dan kehidupan kami disini. Tahu darimana anda bahwa orang orang di luar negeri itu tidak melakukan apa apa? Apakah anda sudah jadi ajudan Tuhan hingga bisa memejamkan mata dan langsung tahu kita ini lagi ngapain?

    Satu contoh: pemerintah kita yang terus terusan mengisi kepala rakyat dengan hal hal absurd dan ditelan bulat-bulat oleh rakyat tanpa dicerna dan dimengerti apakah itu benar atau baik. (baca artikel saya berjudul Wag the Dog a la Indonesia di IndonesiaMatters) Solusi? Terus terang saya tidak bisa memberi solusi, karena keadaan negara kita sudah seperti benang kusut, prioritas pemerintah sudah upside down, yang tak penting diurusi, yang penting ditidak acuhkan.

    Bang Alex bilang:
    Tahukah anda, bahwa ada juga orang yang bisa menyalahkan kebebasan berpikir yang anda dan saya (dan Guh juga agaknya) sepakati? Tahukah anda bahwa masyarakat sampai di desa-desa saya cenderung sederhana dan menertawakan dengan sedih betapa demokrasi dan pembebasan yang dielu-elukan hingga terjadinya reformasi 1998 tak banyak mengubah nasib? Mereka bisa berargumen bahwa karena demokrasi yang kebablasan itulah maka gejolak muncul dimana-dimana.

    Saya bilang: Ya tahu lah. Namanya manusia itu tukang breaking the rules, pastinya hal sebaik apapun ada yang menyalah gunakan utk kepentingan pribadi dan golongan. Saya tahu benar betapa demokrasi dan reformasi di Indonesia itu gagal total dan menyebabkan negara jatuh ke lubang yang lebih dalam. Reformasi dan demokrasi memang bagus, tapi bangsa kita belum siap untuk hal itu, dan pada waktu demokrasi dan reformasi di elu-elukan di thn 1998, mereka yang di belakang itu tidak memiliki keinginan untuk benar2 memperbaiki negara namun memiliki agenda tersembunyi dan kepentingan pribadi. Jadi di Indonesia itu bukan hanya Tuhan yang ditunggangi politik, namun demokrasi, reformasi, harga pangan, TV, Koran, Blog dan masih banyak lagi.

    Bang Alex bilang:
    Atau misalnya kasus begini:
    Having false mannered well-behaved children is something of a general obsession among Indonesian parents that they cannot understand white kids with their free and liberal ways.

    Anda tahu darimana saya dapat itu?
    Anda tahu, bahwa tidak semua orang di Indonesia suka atau siap untuk ditundukkan pada apa yang dianggap mesti di luar sana. Ada nilai-nilai yang sudah ada di Indonesia yang tak bisa diukur dan dipaksa dengan nilai-nilai luar.

    Ide-ide progresif demikian itulah yang membuat gejolak ada. Mungkin anda, Guh dan saya termasuk yang bertanggung jawab dengan ide-ide demikian. Dengan liberalisme anda, dengan konsep sosialisme saya atau Teguhisme-nya Guh.

    Dan sekarang hasrat-hasrat pembesan demikian mau cuci-tangan dengan menyalahkannya pada rakyat Indonesia? Ironis…

    Saya bilang: wow, I am flattered I have gained a new fan who even quotes my other blog (stuffindonesianslike.blogspot.com). Bang, tulisan2 yang saya publish di blog itu isinya becandaan semua, sarcastic and witty humor if you please. Mirip seperti Stuffgodhates, stuffwhitepeoplelike, stuffeducatedblackpeoplelike, stuffasianpeoplelike dan kini, saya buat yang versi Indonesia. Isinya walopun ada benernya (sedikit) tapi hiperbol dan sarkastis yang tujuannya bikin orang mesem mesem, bukan utk argument support. lol.

    Bang Alex bilang:
    Apa yang terjadi di Indonesia ini bukanlah krisis demokrasi atau kebebasan berpikir seperti yang anda atau Guh kira menyebabkan penindasan kebebasan itu. Apa yang terjadi ini justru erupsi demokrasi yang masih mencari penyesuaiannya sendiri. Jika ada ekses, ada reaksi, itu adalah gejolak alamiah. Semua tergantung pada - utamanya - seberapa banyak orang-orang melek, cerdas dan kritis seperti anda dan Guh bisa perbuat untuk mengendalikannya.

    Saya bilang: ya, saya setuju

    Bang Alex bilang:
    Mengkritik is oke. Saya juga melakukannya. Sayangnya… kolong langit di nusantara ini sudah dipenuhi oleh banyak kritikus yang bisa muncul di talkshow sambil cengar-cengir bicara “BBM sepantasnya naik” tanpa beban atau “agama itu sama semua… itu aja kok repot” tanpa sadar, bahwa di lapisan bawah pernyataan mereka itu menimbulkan gejolak yang tumbalnya adalah masyarakat.

    Saya bilang: Memang kritik is oke, dan saya tidak perlu ijin Bang Alex maupun bapak saya, makanya saya tukang kritik dan protes. Saya rasa BBM memang sepantasnya naik karena selama ini subsidi tersebut akhirnya menyubsidi ‘the haves’. Seharusnya ada semacam subsidi bagi mereka yang pendapatannya di bawah rata-rata, apalagi yang mata pencahariannya tergantung oleh BBM. Dan seharusnya lagi para the haves itu selain dikenai pajak pendapatan yang tinggi juga pajak kekayaan yang uangnya dipakai utk menyubsidi si kurang mampu, seperti di negara negara eropa yang saya ‘puja’ ini. Agama kalau buat saya sih sama semua, makanya saya enggan bergabung di agama manapun. Tapi berhubung saya tidak masuk talkshow jadi tidak menimbulkan gejolak di manapun kecuali di rumah bersama suami, saya rasa tidak menjadi masalah.

    Bang Alex bilang:
    Maaf. Ini cuma pendapat saya. Saya harap kita cukup liberal utk menerima perbedaan bukan? ;)

    Saya bilang: tentu saja, saya sangat menerima perbedaan. Selama blogging dan blog commenting, saya jarang sekali menerima orang yang sependapat dengan saya, maka perbedaan pendapat seperti saya dan Bang Alex bukan barang baru untuk saya.
    So let’s agree to disagree. ;)

  13. 13 yas Mei 5, 2008 pukul 21:25

    Agama dan masalah ketuhanan, memang suatu “alat” yang paling mudah untuk dijadikan tunggangan kepentingan, terutama kepentingan politik, karena agama merupakan masalah yang sensitif, dan orang akan merasa hebat kalau dirinya “tahu banyak” tentang agama yang dianut, dan orang lain pun akan menganggapnya hebat, dan dianggap lebih mulia dari orang lain yang lebih awam, sehingga orang-orang seperti itu banyak diikuti, dan orang yang awam, karena merasa dirinya tidak tahu apa-apa, maka ia ikuti saja semua perkataan “orang-orang alim” itu, selain itu mereka juga diiming-imingi surga yang luar biasa nikmat bagi yang menurut, dan neraka yang adzabnya pedih bagi yang membangkang, sehingga timbulah sikap fanatik buta diantara para pemeluk agama.
    wualah…:)

  14. 14 goldfriend Mei 5, 2008 pukul 23:29

    *lihat komentar Alex & Rima*

    Ini bicara tentang Tuhan ya ? Atau malah gosipin saya ? :mrgreen:

    @ Guh :

    Sedikit koreksi Guh, saya nggak pernah mencuci otak orang lain. Kalau sekedar “dibersihkan” dari pemikiran-pemikiran yang menyimpang, itu memang profesi saya. :)

    Saya jadi teringat akan adanya kecenderungan manusia untuk “menuhankan” segala sesuatu. Maksudnya begini, manusia itu cenderung untuk menjadikan sesuatu sebagai berhala, meskipun “sesuatu” itu adalah hasil dari pembongkaran atas tuhan-tuhan yang lain.

    Contoh nyatanya bisa seperti ini. Saya mengkritik pemahaman keagamaan orang lain yang menurut saya menyimpang. Yang saya kritik ada “pemberhalaan” atas suatu pemikiran yang dipuja melebihi yang lainnya. Tetapi kemudian, kritik saya itu oleh orang lain [dan juga oleh saya] dijadikan sebuah “berhala” baru yang dianggap sebuah kebenaran dan tidak boleh tersentuh kritik. Dan akhirnya ada orang lain yang mengkritik “pemberhalaan” pemikiran saya itu. Begitu seterusnya, seperti sebuah siklus.

    Itulah dinamikanya ketika kepercayaan menjadi bagian yang sangat penting bagi manusia. Dan bahkan kritikmu di blog ini bisa saja dijadikan sebuah “berhala” untuk diamini tanpa syarat. Dan lalu kemudian dibongkar oleh kritik lainnya, yang mendapat giliran untuk di”tuhankan” lagi.

    Saya terkadang berpikir, apakah saya bisa “terbang bebas” tanpa terikat pada suatu pemahaman atau apapun juga. Apakah saya bisa untuk tidak menancapkan kaki saya pada sebuah “pemikiran yang dijadikan kebenaran” ? Tapi ternyata memang sulit, karena mencari pegangan dan patokan akan sesuatu itu seolah menyatu dengan manusia.

  15. 15 RETORIKA Mei 6, 2008 pukul 2:11

    Ini terkait dengan postingan saia beberapa bulan yang lalu :

    http://retorika.wordpress.com/2007/10/30/stop-jual-nama-agama-demi-politik/

  16. 16 Tgk. Alex Mei 6, 2008 pukul 2:27

    @ Chocoholic

    Wow… sepertinya ini akan menjadi obrolan yang seru :P

    *isep rokok + siapin kopi*

    Oke… Kita mulai :

    Tgk. Alex: Peu haba? Haba geut, saya harap?

    Haba get, tentu saja :)
    Ehm, saya sedikit kaget juga anda tahu sapaan dalam bahasa Aceh. Ada orang Aceh kah di dekat anda di sana, Nona? :)

    wah… lagi banyak waktu ya bang sampe ngomentarin tulisan saya saja semangat 45 gituh.. hehehe..

    Dibilang banyak waktu… tidak juga. Saya malah semakin sedikit waktu beberapa bulan ini. Tapi berhubung saya sedang diberi kemewahan berinternet sama anak-anak di markas kami, ya sudah.. saya coba saja membalas komentar anda tadi. Semangat 45? Semangat 82 tepatnya, karena 45 saya belum lahir dan keskeptisan saya membuat saya meragukan seperti apa semangat 45 tersebut
    *kidding*

    saya juga lagi banyak waktu nih, jadi saya jawab.. kita berbalas pantun saja lah hari ini, ok? :)

    No problem. Saya siap melayani anda, lebih dari jargon kepolisian negara ini :D

    lho, banyaknya WNI yang ‘kabur’ keluar negeri itu emang berjodoh untuk tinggal/kerja disana. Saya sendiri sih tidak memuja kehidupan asing (untuk saya asing non-Arab, tapinya), memuja is such a strong word, mungkin lebih tepat mengagumi, kok mereka bisa hebat gitu yah? dan ujung2nya berharap bisa belajar dari situ.

    1st, anda katakan ‘berjodoh’? Well, walau kata itu berhak digunakan oleh siapa saja, setahu saya kata berjodoh cuma dipercayai oleh orang yang beragama. Karena berjodoh berarti ada ketentuan nasib atau takdir, AFAIK. Apa yang disebut ‘berjodoh’ itu bukan sesuatu yang bisa ditentang, kalo memang ada hasrat untuk memperbaiki negeri kelahiran, nona?

    2nd, Anda katakan asing non-arab? Bagi saya sama saja. Kenapa? Karena baik itu budaya ala para wahabbi dari saudi atau budaya pop ala eropa, sama saja asingnya dulu di Indonesia. Kenapa ini harus saya katakan, agar anda “tidak menggenaralisir lagi” nanti seolah-oleh budaya ala barbar padang pasir adalah budaya khas muslim di Indonesia.

    3rd, anda katakan anda tidak memuja? Ah.. bagus. Berarti anda masih menyisakan ruang untuk tidak mempertuhankan ideologi atau kebudayaan apapun, lalu tanpa sadar menciptakan agama sendiri, dengan ritual-ritual tersendiri, kitab sendiri, apapun.

    Masalah mereka hebat, well, Nona Rima, saya sendiri harus mengakui bahwa dalam hal musik dan teknologi, misalnya: Barat adalah kiblat saya saat ini. Saya tidak akan mengelak untuk mengagumi kejeniusan mereka dalam bidang-bidang tertentu. Saya memakai juga Linux yang kernelnya dibikin oleh seorang Finlandia. Saya menggunakan hp merek Nokia yang jelas bukan merek perusahaan dari Boyolali.

    Tapi tidak lantas saya membenarkan pendapat bahwa Barat - dimana anda sekarang berada - menjadi maju karena meninggalkan agamanya, maka umat beragama di Indonesia pun harus meninggalkan agamanya (apapun agama tersebut) untuk menjadi maju. Saya tidak merasa agama menjadi penghalang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Dan saya rasa itu bukan pendapat saya sendiri dari sisi seorang muslim, bahkan juga saudara-saudara lain yang berbeda agama. Sebagaimana saya tidak memiliki hak yang amat-sangat berkuasanya utk memaksa orang membenarkan pendapat saya ini, saya juga berharap bahwa yang berbeda pandangan dengan pendapat semacam saya ini juga sadar bahwa ia tidak memiliki hak yang amat-sangat berkuasanya untuk membenarkan pandangannya :)

    Saya waktu pulang dua tahun lepas memang seperti alien kesasar, tapi bukan seperti alien kesasar di perkampungan udik, lebih tepatnya orang udik terdampar di metropolitan. Gila saja, sudah biasa hidup di negara yang tidak ada mall, yang diskotiknya sedikit sekali, yang orang-orangnya tidak konsumtif dan lebih mementingkan hal-hal perlu (necessities) dibanding luxuries, pulang ke Jakarta bengong melihat mall/diskotik/apartemen dan manusia manusianya (di Jkt) yang Wow! semua penampilannya. Bukan alien bang, berasa TKI yang pulang dan kesilauan. Justru lebih nyaman tinggal di Jakarta kelihatannya, tapi sayangnya tidak ada yang mau memperkerjakan saya.

    *tertawa lepas*

    Bukan anda sendiri yang demikian, Nona. Rekan kerja saya, seorang bule atheis dari British, juga pernah ngomong seperti anda. Ia menggeleng kecut melihat anak-anak dibawah 17 tahun bisa nongkrong di diskotik di Medan sambil tenggak alkohol yang dosisnya bukan sekelas Heineken, tapi sekelas Red Labels atau Absolut Vodka kesukaan saya dulu misalnya. Atau bagaimana bocah-bocah remaja bisa bebas beli majalah porno di simpang lampu merah.

    Di luar sana, katanya dan saya sadari benar, yang demikian itu justru lebih didisiplinkan. Setahu saya, dan cerita bule-bule teman saya di sini, di negeri mereka, majalah porno dan minuman keras malah tak bisa sembarangan jual jika masih dibawah 17 tahun. Tapi di Indonesia?

    Kenapa bisa demikian? Karena propaganda kebebasan yang kebablasan membuat adanya pembenaran pada hal-hal demikian. Belum lagi globalisasi dan pasar bebas yang ‘memaksa’ pergantian identitas untuk meniru negara asing dengan alasan kemajuan zaman. Krisis moral dan identitas menjadi urusan kesekian dalam hal begini, Nona.

    [OOT]
    Masalah pekerjaan di Jakarta… err… saya kebingungan juga itu. Mudah-mudahan saja ada kawan-kawan dari Jakarta yang bisa membantu kita mendapat pekerjaan di sana :P

    *ditimpuk blogger Jakarta*
    [/OOT]

    Wow.. saya nyaris tidak mengerti kata katanya bang Alex, mungkin saya kurang intelek.

    Anda cukup intelek di mata saya. Jika anda bisa mendefinisikan tuhan seperti yang pernah saya baca, kiranya tidak sulit untuk mengerti apa yang saya maksud.

    Singkatnya, apapun dan siapapun bisa menjadi tuhan dan agama sekaligus. Apakah Allah yang dipaketkan dalam agama Islam, apakah Yesus yang ada dalam agama Kristen, hingga sosok Karl Marx, Lenin dan Stalin sendiri bisa menjadi tuhan bagi agama komunis. See? Bahkan komunis sendiri menjadi agama ketika sejumlah atribut dan kultus dan ritual menjadi sebuah keharusan.

    Namun saya rasa semua orang ingin memiliki kebebasan dan hak (to an extent), tapi saya tidak merasa nyeradak nyeruduk ke wilayah personal orang lain, saya berkomen di blognya mas Guh yang so far saya liat tidak merasa wilayah personalnya di invasi.

    Anda benar bahwa semua orang memiliki kebebasan dan hak (to an extent). Dan saya tidak menyebut anda nyeradak-nyeruduk ke wilayah personal siapapun. Apalagi anda komen di blognya mas Guh - meski saya tidak yakin seliberal apa Guh utk membuka wilayah personalnya sendiri hingga tidak merasa terancam atas kritik terhadap kritiknya.

    Tapi ketika berbicara tentang hal seperti agama dan tuhan, misalnya, dengan hasil pembicaraan tersebut terpajang di ruang publik, seberapa besar jaminan bahwa kebebasan kita yang personal itu tidak berbenturan dengan kebebasan personal orang lain?

    Itu bukan pertanyaan menuduh, Nona. Tidak :)
    Saya sendiri memiliki peluang bahwa pernyataan saya di blog saya sendiri misalnya, akan mengusik seseorang lainnya yang berbeda konsep dan pandangan dengan saya. Dan itu adalah konsekuensi dari sebuah keberanian beropini. Dan anda memiliki keduanya: keberanian berpendapat dan konsekuensinya sekaligus ;)

    Yang jelas saya tidak punya kuasa apa apa, tapi sama dengan Bang Alex dan MUI dan Bush dan Pope dan FPI dan Al Qaeda, saya tentunya boleh ber expresi dan mengeluarkan pendapat saya kan? Toh saya tidak membunuh/membom siapa siapa. Senjata saya hanya kata-kata tidak penting.

    Tentu saja boleh, Nona. Saya justru merasa dunia - terutama blog-blog yang ada - akan sangat sepi tanpa adanya pengeluaran ekspresi dan pendapat yang berbeda. Siapapun punya hak. Itu pendapat anda, pendapat saya, dan pendapat semua orang yang berpendapat ;)

    Membunuh dan membom? Hal brengsek demikian tidak pernah cocok bagi saya. Karena membunuh dan membom seseorang atau sekelompok orang, tidak akan melenyapkan kenyataan adanya perbedaan cara pandang. Seseorang bisa dibunuh, tapi pikirannya tetap akan hidup :)

    HAM, globalisasi, liberalisme, pasar bebas dan demokrasi apabila dijalankan dengan baik adalah hal yang sangat baik untuk semua orang di dunia ini. Memang saat ini semua hal hal itu masih jauh dari sempurna, tapi masih jauh lebih baik dibanding oppression.

    Ah… yaa… tentu saja jika dijalankan dengan baik.
    Dan pandangan demikian bukan saja boleh dipakai oleh pegiat HAM, globalisasi, liberalisme, pasar bebas, dan demokrasi saja, IMHO. Seorang muslim biasa hingga kaum fundamentalis pun berhak mengucapkan kata yang sama, seperti, “Syariah Islam… perekonomian Islam, jika dijalankan dengan baik adalah hal yang sangat baik untuk semua orang di dunia ini”.

    Jika dan hanya jika anda menyalahkan pernyataan di atas, maka HAM anda sudah menindas HAM orang yang berpendapat demikian. Di posisi demikian, anda tidak beda dengan orang beragama yang menyalahkan orang lain karena kefanatikan pada agamanya sendiri.

    Dan saya harap anda tidak buta, bahwa sejarah hari ini menunjukkan bahwa hal seperti HAM, pasar bebas dan globalisasi tersebut menjadi pisau bermata dua. Atas nama HAM satu negara bisa dibom oleh negara yang mengaku menjunjung HAM. Atas nama globalisasi dan pasar bebas para masyarakat adat di daerah2 di Indonesia harus mengalah lahannya dirampas untuk eksploitasi korporasi dari luar sana. Saya tak tahu kata apa yang harus dipakai jika bukan oppression juga namanya.

    This I tell you from the point of view of a woman and an ex Muslim. Before you know how it feels like to be a woman (be it Muslim or not) in a man’s world with half of a man’s right, do not patronize me with words like this.

    Saya tidak kaget bahwa anda eks muslim. Karena rekan-rekan saya yang kecewa dan kemudian beralih pada feminisme liberal juga banyak yang dari bekas muslim.
    Mempatronis anda? Ah, Nona… saya harap anda tidak merasa saya patronize. Saya tidak peduli apakah anda seorang perempuan atau laki-laki. Meski saya tidak mutlak penganut paham kesetaraan gender, tapi hak perempuan dan laki-laki sebagai manusia sama di mata saya.
    Juga kewajibannya, kalau perempuan tidak keberatan :)

    You are free to patronize other non-suspecting women, but not me.

    I did it?
    Jika iya, tolong ditunjukkan di bagian mana, agar bisa saya koreksi atau saya buat pembenaran utk hal itu.

    Apabila anda pikir saya telah melecehkan kebenaran yang dipegang orang lain, lucunya anda juga telah melakukan itu dengan komen-komen anda di atas.

    Disinilah paradoks demokrasi beropini itu, Nona. Kebenaran itu begitu relatif. Saya bisa menganggap anda atau yang mulia Guh melecehkan sesuatu hal yang menjadi personal bagi orang lain, dan anda atau yang mulia Guh bisa menganggap anggapan saya itu melecehkan pandangan anda. Tergantung darimana sudut mana kita berdiri melihatnya.

    Konsekuensi dari beropini adalah adanya perbedaan pandangan dan kesiapan untuk dilecehkan. Sayang sekali Tuhan tidak menyamakan persepsi dan pandangan manusia sehingga

    Tapi masalahnya saya sekedar komen di suatu blog, mengemukakan opini saya, and it’s impossible to please everyone. Maka pasti ada yang merasa dilecehkan, apapun opini saya, dan saya tidak ambil pusing dengan itu.

    Benar. Tak pernah ada satu opini pun yang akan membuat semua orang senang. Bahkan jika seorang Nabi sekali pun :D

    Bagus jika anda tidak ambil pusing. Tapi tidak ambil pusing tidaklah berarti bahwa kita bisa melenggang begitu saja setelah mengeluarkan pendapat kita.

    Saya tidak melihat kelemahan mencolok dalam opini anda kok, Nona. Jujur saja, saya melihat anda bicara secara umum. Tak ada hak saya sebagai muslim, misalnya, untuk tersinggung pada anda karena anda tidak menyerang agama Islam secara khusus. Swear! ;)

    Hanya saja, sebagai sesama orang yang berpikir dan beropini, saya ingin … sebut saja beradu argumen dengan anda sedikit. Mudah-mudahan saya bisa dapat pencerahan, juga (syukur-syukur) bagi anda.

    Manusia Indonesia kebanyakan. Apalagi yang kurang berpendidikan.

    Ah… inilah kekurangan tanah kelahiran anda ini, Nona. Banyak sekali yang kurang pendidikan, sehingga otot dan fanatisme menjadi bakat keseharian rakyat anda dan rakyat saya ini. Mungkin karena orang-orang pintar seperti kita meletakkan diri di menara gading kecerdasan dan tidak mau turun memberikan pencerahan? Entah.

    Yang jelas, saya melihat bahwa blog seperti milik Guh, anda, dan saya, sedikit banyak berbuat untuk memajang pencarahan di internet, sehingga syukur2 ada yang mau kritis dan belajar utk lebih pintar, bisa membacanya, bukan? Termasuk debat kita ini :)

    Lho, kenapa saya dilarang menggeneralisir? Memang faktanya begitu kok?

    Anda tidak dilarang menggeneralisir, sepanjang anda bertanggung jawab dengan seberapa akurat fakta tersebut. Saya sendiri mengakui bahwa fakta demikian anda, tapi saya sendiri tidak mau menyamakan semua rakyat Indonesia demikian. Kenapa? Karena ada sikon-sikon tertentu dan motif-motif tertentu di balik “keterlenaan” manusia indonesia kita ini. Keterlenaan yang coba untuk dibangunkan oleh kanjeng Guh ini melalui tulisan-tulisannya, agaknya.

    Plus, anda juga menggeneralisir kami kami WNI yang ‘kabur’ keluar negeri, ‘memuja kebebasan dan kehidupan asing’, ‘melecehkan Indonesia’, dan ‘tak bikin apa-apa selain ngeluh di luar sana’.

    1st, Yang pertama menggenalisir anda sendiri, Nona. Coba di-scroll-up urutan komentar di sini. Dan konsekuensi demikian adalah an eye to an eye yang saya sendiri tak begitu suka gunakan.
    2nd, Lho? Kenapa saya dilarang menggeneralisir juga? Memang faktanya juga begitu, kok.
    *dijitak karena plagiat komen*

    Ya, sudut pandang masing-masing lagi kan pada akhirnya? Anda melihat kondisi Indonesia dari luar, dan saya melihat dari Indonesia pandangan anda terhadap kondisi di sini. Di sini kita berbenturan.

    Anda bukan hanya generalisir tapi memvonis dan menuduh tanpa kenal dan tahu latar belakang/alasan kami di luar, dan kehidupan kami disini. Tahu darimana anda bahwa orang orang di luar negeri itu tidak melakukan apa apa? Apakah anda sudah jadi ajudan Tuhan hingga bisa memejamkan mata dan langsung tahu kita ini lagi ngapain?

    Anda bukan hanya menggenaralisir tapi juga sudah memvonis dan menuduh dari sudut pandang anda juga, Nona. Mungkin idem dengan Guh yang tidak mau repot-repot melihat latar belakang seorang HNW di postingan sebelum ini, misalnya.

    Masalah tahu darimana saya juga bisa menanyakan hal yang sama pada anda dan sekaligus bantahannya tersendiri. Kalau untuk saya, karena saya melihat sendiri beberapa rekan saya yang bertahan di luar dan mengganti identitas demikian.

    Ya, itu dilingkungan saya. Tidak menjadi sebuah landasan valid utk mengukur bagaimana sejumlah WNI lainnya di luar sana. Karena saya harus akui, ada beberapa rekan ‘pelarian’ yang masih berbuat di luar sana, yang bergerilya dari NGO hingga ke PBB demi apa yang terjadi di Indonesia ini.

    Seperti anda bertanya apakah saya jadi ajudan Tuhan, maka saya katakan TIDAK. Kalau saya sudah jadi ajudan Tuhan, mending saya nongkrong di surga sambil ngerokok dan cengar-cengir melihat dunia ini. Nah, saya saya juga bertanya hal yang sama pada anda. Seberapa pasti anda tahu Indonesia ini hingga ke pelosok-pelosok kampung? Apa ada ajudan Tuhan yang meng-update anda dengan berita2 fresh tiap menit? Apa ajudan Tuhan itu bernama media? Ah, sayang sekali jika namanya adalah media dalam wajah televisi dan berita. Karena keobjektifannya sama relatifnya dengan opini kita masing-masing, Nona.

    Satu contoh: pemerintah kita yang terus terusan mengisi kepala rakyat dengan hal hal absurd dan ditelan bulat-bulat oleh rakyat tanpa dicerna dan dimengerti apakah itu benar atau baik. (baca artikel saya berjudul Wag the Dog a la Indonesia di IndonesiaMatters)

    Ya, benar.
    Saya juga prihatin dengan pemerintahan tolol kita ini. Dan untuk itulah, pencerahan-pencerahan seperti perdebatan saya, Guh dan anda, misalnya, mesti ada di ruang publik ini. Agar rakyat Indonesia bisa membacanya.
    Ah, ya artikel itu sudah saya baca, makanya agak lama saya balas komen anda ini. Artikel yg menarik. Really. Cuma saya belum menyiapkan artikel tanggapan dari saya utk artikel itu.

    Solusi? Terus terang saya tidak bisa memberi solusi, karena keadaan negara kita sudah seperti benang kusut, prioritas pemerintah sudah upside down, yang tak penting diurusi, yang penting ditidak acuhkan.

    Errr…
    Saya tidak akan memaksa anda memberi solusi. Saya sendiri tidak punya solusi ampuh untuk skala nasional. Tapi jika sejumlah konsep-konsep kecil kelas kabupaten, ya… cuma itu yang bisa saya gerakkan di sini.

    Tidak juga saya katakan dgn demikian anda tidak berbuat sebenarnya. Anda mengenalkan Indonesia di blog anda, itu sudah satu poin bagus bagi saya.

    Ya tahu lah. Namanya manusia itu tukang breaking the rules, pastinya hal sebaik apapun ada yang menyalah gunakan utk kepentingan pribadi dan golongan. Saya tahu benar betapa demokrasi dan reformasi di Indonesia itu gagal total dan menyebabkan negara jatuh ke lubang yang lebih dalam. Reformasi dan demokrasi memang bagus, tapi bangsa kita belum siap untuk hal itu, dan pada waktu demokrasi dan reformasi di elu-elukan di thn 1998, mereka yang di belakang itu tidak memiliki keinginan untuk benar2 memperbaiki negara namun memiliki agenda tersembunyi dan kepentingan pribadi. Jadi di Indonesia itu bukan hanya Tuhan yang ditunggangi politik, namun demokrasi, reformasi, harga pangan, TV, Koran, Blog dan masih banyak lagi.

    Ahh… kita sepakat untuk ini. Pandangan yang sama.

    wow, I am flattered I have gained a new fan who even quotes my other blog (stuffindonesianslike.blogspot.com).

    Ya. Anda boleh sebut saya fans anda sejak kemarin sore :)

    Bang, tulisan2 yang saya publish di blog itu isinya becandaan semua, sarcastic and witty humor if you please.

    Lho? Saya tidak mengatakan tulisan itu menghina, toh? :?
    Kenapa saya ambil, sebagai sampel saja, bahwa tolok ukur dari kebudayaan itu memang tidak bisa dipandang dari satu sisi. Apa yang dianggap wajar di satu titik bumi, tidak lantas harus menjadi hal yang wajar di titik bumi lainnya.

    Mirip seperti Stuffgodhates, stuffwhitepeoplelike, stuffeducatedblackpeoplelike, stuffasianpeoplelike dan kini, saya buat yang versi Indonesia. Isinya walopun ada benernya (sedikit) tapi hiperbol dan sarkastis yang tujuannya bikin orang mesem mesem, bukan utk argument support. lol.

    Nona… saya tidak terlalu picik untuk menolak tulisan hiperbol dan sarkastis demikian. Serius. Saya hanya akan menolak jika - lepas dari gaya penulisannya - sebuah tulisan dijadikan sebuah argumen untuk diterapkan pada individu lain. Apa tulisan nona termasuk yang demikian, saya tidak bisa memfatwakannya. :D

    Oh ya… bicara masalah tulisan2 yang sarkastis demikian, saya sendiri bisa tertawa-tawa membaca tulisan tentang Islam dari situs favorit saya, yang bisa bikin gerombolan puritan di sini asah parang kok :lol:

    ya, saya setuju

    *sujud syukur karena disetujui* :P

    Memang kritik is oke, dan saya tidak perlu ijin Bang Alex maupun bapak saya, makanya saya tukang kritik dan protes.

    Ahahaha…
    Bahkan jika anda meminta izin pada saya, anda akan saya tertawakan. Serius. Kita di posisi yang sama dalam hal ini. Saya bahkan bisa meng-anjing-anjing-kan para orang tua di lingkaran kerabat saya, kalau memang perlu dalam hal kritik dan protes begini.

    Saya rasa BBM memang sepantasnya naik karena selama ini subsidi tersebut akhirnya menyubsidi ‘the haves’. Seharusnya ada semacam subsidi bagi mereka yang pendapatannya di bawah rata-rata, apalagi yang mata pencahariannya tergantung oleh BBM.

    Ah, ini mengingatkan saya pada pendapat Faisal Basri. Ada benarnya memang bahwa subsidi dinikmati oleh ‘the haves’ selama ini. Bahkan yang semacam subsidi itu pun kalangan ‘the haves’ yang menikmati.

    Dan seharusnya lagi para the haves itu selain dikenai pajak pendapatan yang tinggi juga pajak kekayaan yang uangnya dipakai utk menyubsidi si kurang mampu, seperti di negara negara eropa yang saya ‘puja’ ini.

    Ah… tidak semua laki-laki negara Eropa semulia itu setahu saya, Nona. Masalah memuja, saya sendiri terpukau betapa sebuah Finlandia yang lautnya tak seluas Indonesia, nelayan di sana bisa lebih makmur daripada di sini. Tetap saja ada yang saya kagumi

    Agama kalau buat saya sih sama semua, makanya saya enggan bergabung di agama manapun. Tapi berhubung saya tidak masuk talkshow jadi tidak menimbulkan gejolak di manapun kecuali di rumah bersama suami, saya rasa tidak menjadi masalah.

    *keselek rokok*

    Ah.. apa tadi saya menyebut anda sebagai kritikus yang cengar-cengir di talkshow? Mohon maaf jika anda tersinggung. Karena kritik terhadap para kritikus itu juga menjadi kritik bagi saya sendiri. Tentu saja saya tidak memaksa anda harus menerima kritik demikian.

    Di situ juga saya harus jujur ada generalisasi saya terhadap kritikus-kritikus - yang ironisnya termasuk saya sendiri - yang berasal dari kekecewaan saya melihat sejumlah kritikus besar negeri ini bisa bicara nasib Indonesia seperti prediksi ramalan cuaca pawang hujan utk sebuah hajatan belaka. Kritikus yang sama yang kemudian masuk ke pemerintahan dan menjadi juru bicara presiden kantor-kantor pemerintah. Tak beda dengan beberapa tokoh agama yang cipo’an selingkuh dengan saudagar yang menjabat penguasa negeri ini.

    Kenapa agama harus menjadi masalah bagi saya, jika anda sudah memutuskan menolak bergabung dengan agama manapun? Tidak jadi masalah besar juga bagi saya bahkan ketika anda kemudian ikut bicara tentang agama, karena anda masih mau berdialog yang artinya anda bertanggung jawab terhadap opini anda. :)

    Dan, saya harap juga tidak menimbulkan gejolak sama suami di rumah. Amin.. :)

    tentu saja, saya sangat menerima perbedaan. Selama blogging dan blog commenting, saya jarang sekali menerima orang yang sependapat dengan saya, maka perbedaan pendapat seperti saya dan Bang Alex bukan barang baru untuk saya.

    Ah, syukurlah kalau anda menerima perbedaan :P

    Ya, resiko kita blogging dan blog commenting akan selalu ada perbedaan pendapat, Nona. Tapi… bagi saya tidak semua pendapat anda bersebarangan, seperti halnya ada pendapat saya yang anda setujui, bukan?

    So let’s agree to disagree. ;)

    Sisi demokrasi yang indah itu jika kita sepakat pada kalimat tersebut. Dan saya termasuk yang sepakat, Nona.

    Ah…. senang diskusi dengan anda, Nona Rima. Ini jadi komen terpanjang saya dalam sejarah nge-blog. Agaknya juga bagi Guh yang terhormat.

    Guh… maaf sudah menjadikan kolom komentarmu seperti bulletin board :lol:

  17. 17 Tgk. Alex Mei 6, 2008 pukul 2:35

    komentarnya dimoderasi, Guh? :|

  18. 18 Tgk. Alex Mei 6, 2008 pukul 2:46

    @ goldfriend

    *lihat komentar Alex & Rima*

    Ini bicara tentang Tuhan ya ? Atau malah gosipin saya ? :mrgreen:

    Bicara tentang banyak hal, Bang. Yaa… sesekali menjadikan blog sebagai bulletin board :P

    Eh? Gosipin Bang Fertob?
    Wah, kalo topiknya filsafat, saya ndak keberatan meletakkan bang fertob sebagai ‘tuhan’ saya untuk skala temporer :lol:

    Untuk komentar terhadap Guh itu… Ya, pandangan saya juga demikian, meski untuk itu saya harus mencopot atribut religius saya sendiri. Apapun bisa dituhankan dari ukuran kelas bantam hingga kelas berat. Jangan tertipu dengan istilah tinju itu… itu cuma bahasa saja.. :D

  19. 19 heri mulyo Mei 6, 2008 pukul 8:26

    wah.. memang “berdagang Tuhan” bisa masuk BOTD wordpress …. :P

    http://hmc.web.id (blajar inggris pake nasyid)

  20. 20 daeng limpo Mei 6, 2008 pukul 12:26

    Tuhan “ditunggangi” ah….yakin ?, bukannya seakan-akan “menunggangi”?. Kalau seorang Sutradara bisa ditunggangin ama pemainnya, bisa-bisa semua sinetron judulnya “kuda lumping”. :D

  21. 21 dobelden Mei 6, 2008 pukul 12:28

    klo berdagang ada harganya dong….

    bonsai harganya mahal lagee… :D:D

    kayaknya bakal laku menjelang pemilu 2009

  22. 22 daeng limpo Mei 6, 2008 pukul 12:49

    wah mengenai “cuci otak”, saya pikir anda juga mungkin menawarkan “pencuci otak” yang lain. Tapi ingat aturan pokok dunk!!! bahwa sesama “pencuci” dilarang saling menjelekkan produk. :D

  23. 23 kamal87 Mei 6, 2008 pukul 13:01

    @tgk alex: ya ampun… komen koq panjang2 bner bner. mbok ya bikin posting aja sendiri daripada manjang2in kolom komentar orang lain :)

    saya cuma mo komen saya sangat tidak sepakat dengan yg nulis tulisan diatas. Biar gimanapun, menggunakan agama/tuhan sebagai tunggangan politik gak akan pernah berhasil memberikan kekuatan politik yang besar untuk kita. Tapi klo kita bertolaknya dari agama. Dari keyakinan bahwa ajaran tuhan itu benar2 akan membawa manusia pada kesejahteraan hakiki, baru deh… kekuatan politik akan kita dpatkan dengan sendirinya…

    yakin deh… sekulerisme dan liberalisme dan segalam macem produk2 barat itu cuma bikin dunia makin ancur gak karuan

  24. 24 danalingga Mei 6, 2008 pukul 13:15

    @kamal87

    Kami butuh bukti!

  25. 25 muziqcantiq Mei 6, 2008 pukul 15:06

    bingung aq, tolong pencerahannya donk :)

  26. 26 Chocoholic Mei 6, 2008 pukul 15:19

    Tidak ada orang Aceh sekitar saya disini tapi Bapak saya di Jakarta orang Aceh, turunan Arab.

    - berjodoh boleh dipercayai siapa saja, hak tiap orang. saya tidak beragama tapi percaya Tuhan dan destiny.

    - Buat anda asing non arab dan arab sama saja, buat saya tidak. titik. saya tidak menggenalisir ’seolah-olah budaya ala barbar padang pasir adalah budaya khas muslim di Indonesia.’ dont put words in my mouth.

    - saya tidak memuja apapun kecuali Tuhan, dengan cara saya sendiri. masalah ideologi dan kebudayaan dan ritual saya, itu personal, bukan urusan siapa2 kecuali saya dan tuhan.

    - masalah hebatnya barat (dan jepang) anda mau mutar2 kaya gimana pun kenyataannya bukan hanya dalam musik dan teknologi mereka hebat, tapi dalam banyak sekali aspek kehidupan. dan mereka bisa maju karena mereka meninggalkan agamanya, at least mereformasi ajarannya agar lebih klop dengan masa (seperti yang pernah dilakukan oleh katolik dan pecahannya yang menjadi protestan). Kalau anda tidak merasa begitu, ya itu perasaan anda saja ;)

    - Di indonesia, dari dulu, jauh sebelum terdengar reformasi dan demokrasi, saat saya masih SD lah, awal tahun 80an (ketauan saya umur berapa nih kira kira.. hhehe)jual porno/minuman keras dll tidak ada peraturan yang jelas. jangan salahkan ‘propaganda kebebasan’ itu terjadi jauh sebelum orang indonesia mengerti soal beginian. berhubung alex seumur dengan adik saya yang paling kecil, berarti pas awal 90an alex masih kecil sudah denger2 soal ‘kebebasan’, tidak begitu halnya dengan ketika saya masih kecil. bukan globalisasi dan pasar bebas yang ‘memaksa’ pergantian identitas apalagi utk meniru negara asing, itu hanya mentalitas orang indonesia saja yang tidak pede dengan kebudayaannya hingga senang mengimpor segala sesuatu asing baik barat maupun timur tengah.

    - krisis moral di indonesia? itu sangat bertambah parah setelah suharto turun. Di harian the jakarta post 27 apr 2008, ada seorang novelis yang berkata : “sangat menarik menyaksikan fenomena di Indonesia mengenai masalah moralitas. Orang Indonesia selalu mengasosiasikan moralitas dengan sexualitas, cara berpakaian, porno atau tidak dan sejenisnya, namun jarang yg mengaitkan moralitas dengan korupsi, kejujuran, rasa keadilan dan sejenisnya.”
    nah itu kalo alex mau menyalahkan lagi barat, terserah lah, tapi kita semua tau dari dulu orang kita krisis kejujuran dan keadilan. dan itulah sebetulnya yang paling parah.

    - anda bilang: Tapi ketika berbicara tentang hal seperti agama dan tuhan, misalnya, dengan hasil pembicaraan tersebut terpajang di ruang publik, seberapa besar jaminan bahwa kebebasan kita yang personal itu tidak berbenturan dengan kebebasan personal orang lain?
    saya bilang: diskusi dan ide2 yang ‘nyeleneh’ adalah foreplay untuk mind arousal. ini lah yang merupakan latihan agar kita bisa thinking out of the box. apabila ada yang tidak suka atau merasa tidak sanggup, tidak usah baca. masalah berbenturan dengan kebebasan personal orang lain, seriously dude, apakah anda hidup dalam utopia where everything is green and colorful and nice? di satu keluarga saja, benturan itu akan ada, apalagi orang lain?

    - masalah HAM, pake saja common sense lah. apabila sudah pake common sense anda masih bilang itu tidak baik, berarti sense kita berbeda. masalah syariah baik, itu baik bagi umat islam, tapi tidak baik utk umat non islam, namun ham, globalisasi, demokrasi dll itu tidak berlandaskan agama manapun, ini common sense saja (yahudi dan kristen saja agak bertentangan dengan itu kalo dilihat dari kitabnya.) jadi jelas lebih obyektif, maka saya bilang baik.

    - anda bilang: Dan saya harap anda tidak buta, bahwa sejarah hari ini menunjukkan bahwa hal seperti HAM, pasar bebas dan globalisasi tersebut menjadi pisau bermata dua. Atas nama HAM satu negara bisa dibom oleh negara yang mengaku menjunjung HAM. Atas nama globalisasi dan pasar bebas para masyarakat adat di daerah2 di Indonesia harus mengalah lahannya dirampas untuk eksploitasi korporasi dari luar sana. Saya tak tahu kata apa yang harus dipakai jika bukan oppression juga namanya.
    saya bilang: negara dan oknum yg memakai ham dll utk menyerang negara lain itu bangsat. sama saja dengan teroris memakai nama agama atau tuhannya utk membunuh. bedanya, ham/globalisasi/demokrasi tidak ada kitabnya dan tidak ada sedikitpun ayat yang menganjurkan utk menyerang, APAPUN ALASANNYA. jadi sekali lagi, negara atau oknum yang melakukan kejahatan atas nama ham dll adalah bangsat.

    - masalah patronizing, saya hanya merasa beberapa kata-kata anda patronizing ke saya kemaren, seakan-akan saya ini naive sekali. tapi setelah saya pikir lagi hari ini, itu hak anda dan mungkin saya agak over-react. jadi saya minta maaf apabila terlihat agak emosi, mungkin karena PMS juga (inilah tidak enaknya dan enaknya jadi wanita, ada pms yang bikin mood dan emosi meninggi, namun bisa memakai pms sebagai excuse lol). fyi, saya bukan feminist, saya sadar kodrat wanita dan pria berbeda, tapi yang jelas 1 pria tidak berharga 2 wanita. 1 pria sama dengan 1 wanita.

    - anda bilang: Disinilah paradoks demokrasi beropini itu, Nona. Kebenaran itu begitu relatif. Saya bisa menganggap anda atau yang mulia Guh melecehkan sesuatu hal yang menjadi personal bagi orang lain, dan anda atau yang mulia Guh bisa menganggap anggapan saya itu melecehkan pandangan anda. Tergantung darimana sudut mana kita berdiri melihatnya.
    saya bilang: masalahnya, saya tidak ambil pusing duluan siapapun yang melecehkan opini saya, apalagi karena opini2 saya itu saya taruh terbuka dan tidak anonim on the web, siapapun bisa akses. tapi ketika anda membalas komen saya dan ’seperti orang protes’ karena pendapat saya ‘merambah wilayah personal’ orang lain, disitu saya bingung. apakah hanya satu pihak saja yang boleh beropini? disinilah indahnya demokrasi beropini, apabila semangat utk menanggapi bisa berdiskusi, apabila sudah malas dan tidak mau, tidak usah lagi baca atau dengar. simple saja.

    - anda bilang: Konsekuensi dari beropini adalah adanya perbedaan pandangan dan kesiapan untuk dilecehkan.
    Benar. Tak pernah ada satu opini pun yang akan membuat semua orang senang. Bahkan jika seorang Nabi sekali pun :D
    Bagus jika anda tidak ambil pusing. Tapi tidak ambil pusing tidaklah berarti bahwa kita bisa melenggang begitu saja setelah mengeluarkan pendapat kita.
    saya bilang: saya tahu konsekuensinya makanya saya bolak balik ke blog ini, kalo saya tidak tanggung jawab seperti lelaki yang telah menghamili seorang gadis dan kabur begitu saja, tentunya saya tidak akan balik lagi. ‘melenggang’ if you will.

    - Setiap hari saya berdiskusi dengan siapapun saya mendapatkan pencerahan. Ada seorang bijak yang berkata bahwa kita dapat belajar dari semua orang, yang lebih pintar maupun yang tidak. itu saya percaya benar, dan saya terus terang termasuk orang yang haus pengetahuan dan interaksi saya merasa dapat belajar dari mana saja, termasuk berdiskusi dengan anda. apalagi anda seorang agama yang cukup moderat, saya enjoy diskusi dengan anda.

    - anda bilang: Yang jelas, saya melihat bahwa blog seperti milik Guh, anda, dan saya, sedikit banyak berbuat untuk memajang pencarahan di internet, sehingga syukur2 ada yang mau kritis dan belajar utk lebih pintar, bisa membacanya, bukan? Termasuk debat kita ini :)
    saya bilang: benar sekali

    - anda bilang: Anda tidak dilarang menggeneralisir, sepanjang anda bertanggung jawab dengan seberapa akurat fakta tersebut. Saya sendiri mengakui bahwa fakta demikian anda, tapi saya sendiri tidak mau menyamakan semua rakyat Indonesia demikian.
    saya bilang: generalisir itu terjadi apabila lebih banyak yang seperti itu ketimbang yang tidak. tentunya saya tidak bilang 100% rakyat indonesia begitu, (tapi juga tidak bilang 68% hehehe) tapi mayoritas lah, karena mayoritas kurang berpendidikan.

    - anda bilang: 1st, Yang pertama menggenalisir anda sendiri, Nona. Coba di-scroll-up urutan komentar di sini. Dan konsekuensi demikian adalah an eye to an eye yang saya sendiri tak begitu suka gunakan.
    2nd, Lho? Kenapa saya dilarang menggeneralisir juga? Memang faktanya juga begitu, kok.
    *dijitak karena plagiat komen*
    saya bilang: saya menggeneralisir sesuatu yang telah menjadi rahasia umum. siapapun orang indonesia akan berpendapat bahwa kita (rakyat indonesia) sekarang ini lemah dan terlalu lama terlena. dulu terlena dengan pimpinan suharto yang walaupun opresi tapi ekonomi dan urusan perut tak terabaikan, sekarang terlena dengan entah apa, mungkind dengan harapan pemerintah akan tiba tiba berubah dan mengurusi rakyatnya. tapi anda tidak menggeneralisir, anda seakan menuduh kami yang tinggal di LN yang tidak2. fyi, suami saya orang indonesia, saya kesini utk S2, dan thn ini akan ambil S2 lagi, hidup saya disini penuh dengan rintangan, sama saja dengan anda dan orang indonesia di indonesia, bukan ‘penuh kenyamanan’ seperti yang anda kira. dan saya kesini juga bukan ‘kabur’ tapi yah nasib saya dan suami saja akhirnya berumah tangga dan tinggal disini. Dan satu lagi, persembahan kita terhadap negara itu macam-macam, bukan berarti yang ‘bergerilya’ di NGO atau PBB itu lebih berarti dari TKI yang tiap bulannya mengirim uang ke indonesia.

    - Saya bukan ajudan Tuhan, dan saya tidak begitu percaya dengan media di Indonesia. Saya dapat laporan dari teman teman, dari saudara2 saya yang unfortunately bukan golongan ‘the haves’ dan banyak juga yang tinggal di luar Jakarta, (di sigli, banad aceh, medan, surabaya, bali, balikpapan dll)

    - anda bilang: Errr… Saya tidak akan memaksa anda memberi solusi. Saya sendiri tidak punya solusi ampuh untuk skala nasional. Tapi jika sejumlah konsep-konsep kecil kelas kabupaten, ya… cuma itu yang bisa saya gerakkan di sini.
    saya bilang: good for you, saya senang sekali mendengar bahwa anda at least masih menggerakan sesuatu mau di wilayah kabupaten atau RT sekalipun. it is better than nothing. Saya berhubung jauh, cuma bisa gerakkan jari di tuts keyboard dan mengirimkan semampu saya per bulannya ke keluarga di indonesia. mungkin suatu saat saya bisa berbuat lebih. semoga saja.

    - Anda bilang: Ah… tidak semua laki-laki negara Eropa semulia itu setahu saya, Nona.
    saya bilang: *sambil bingung* siapa yang bilang laki2 di negara Eropa mulia? hehhehe.. Anda pikir saya kesini karena kawin sama bule? Saya cinta produk dalam negeri, suami saya asli Toraja 100%. Laki laki Indonesia jauh lebih TOP dibanding bule. Saya yakin anda setuju dengan ini :p

    - anda bilang: Ah.. apa tadi saya menyebut anda sebagai kritikus yang cengar-cengir di talkshow? Mohon maaf jika anda tersinggung. Karena kritik terhadap para kritikus itu juga menjadi kritik bagi saya sendiri. Tentu saja saya tidak memaksa anda harus menerima kritik demikian.
    saya bilang: saya tidak tersinggung, dan kalau saya dikritik, apalagi yang membangun, saya ok ok aja. saya juga tukang kritik kok.

    - anda bilang: Ah…. senang diskusi dengan anda, Nona Rima. Ini jadi komen terpanjang saya dalam sejarah nge-blog. Agaknya juga bagi Guh yang terhormat.
    saya bilang: likewise, saya juga senang diskusi dengan anda, alex, dan saya juga yakin Guh tidak apa apa dengan ‘bulettin board’ a la alex dan rima (eh, iya kan mas guh? jangan saya geer sendiri ngirain mas guh gak apa apa, padahal kesel.. jangan kesel yaaa?? hehhehehe).. senang malah dapat teman baru via comment boards. ini indahnya internet :)

  27. 27 Chocoholic Mei 6, 2008 pukul 15:26

    sorry lupa, komen saya di atas ditujukan utk Tgk ALEX. sorry for any inconvenience ya Guh!

  28. 28 alex Mei 6, 2008 pukul 16:24

    @ Chocoholic

    Tidak ada orang Aceh sekitar saya disini tapi Bapak saya di Jakarta orang Aceh, turunan Arab.

    Aceh turunan Arab? Saya harap bukan itu alasan bahwa anda menolak saya sebut Arab adalah orang asing juga :)

    berjodoh boleh dipercayai siapa saja, hak tiap orang. saya tidak beragama tapi percaya Tuhan dan destiny.

    Meskipun konsep ini ’sukar saya terima’, tapi ya… ada benarnya. Tentu saja anda berhak mempercayainya anda.

    Buat anda asing non arab dan arab sama saja, buat saya tidak. titik. saya tidak menggenalisir ’seolah-olah budaya ala barbar padang pasir adalah budaya khas muslim di Indonesia.’ dont put words in my mouth.

    Saya tidak meletakkan kalimat saya seolah keluar dari anda. Dengan sedikit generalisasi (again?) saya cuma melakukan tindakan preventif saya, karena biasanya yang demikian merupakan anggapan - baik dari dalam atau dari luar - terhadap kekerasan di Indonesia atas nama agama. Apa saya mengatakan bahwa kalimat itu dari anda? Tidak bukan?

    saya tidak memuja apapun kecuali Tuhan, dengan cara saya sendiri. masalah ideologi dan kebudayaan dan ritual saya, itu personal, bukan urusan siapa2 kecuali saya dan tuhan.

    Bukan urusan saya juga, tentu. Saya juga sadar.
    Tapi anda dan saya, IMHO, sama. Meletakkan hal demikian sebagai hal personal, namun dengan sadar dan tidak sadar ikut berbicara terhadap masalah ideologi dan kebudayaan dan ritual di luar fisik kita sendiri. Jadi tidak ada namanya personalitas absolut. CMIIW

    dan mereka bisa maju karena mereka meninggalkan agamanya, at least mereformasi ajarannya agar lebih klop dengan masa (seperti yang pernah dilakukan oleh katolik dan pecahannya yang menjadi protestan).

    Dan menurut anda itu harus mutlak dilakukan juga oleh umat beragama di Indonesia?

    Kalau anda tidak merasa begitu, ya itu perasaan anda saja ;)

    Tentu saja. Sebagaimana perasaan anda bahwa agama terlalu dangerous bagi anda.

    jangan salahkan ‘propaganda kebebasan’ itu terjadi jauh sebelum orang indonesia mengerti soal beginian.

    Meski saya kelahiran 82, bukan berarti saya menganggap ‘propaganda kebebasan’ yang saya sebut itu hal baru. Tidak, memang. Sejak impor kebudayan pop-nya The Beatles, hal-hal demikian sudah ada di Indonesia. Saya tahu yang demikian karena orang-orang yang lebih tua dari saya dalam lingkungan saya mengakuinya sendiri.

    berhubung alex seumur dengan adik saya yang paling kecil, berarti pas awal 90an alex masih kecil sudah denger2 soal ‘kebebasan’, tidak begitu halnya dengan ketika saya masih kecil.

    *lol*
    Ah… masalah kecil dan besar.. masalah usia…
    Tapi mungkin karena perkembangan zaman. Di eranya anda, informasi agaknya tidak seperti 90-an. Jadi wajar saja jika anda demikian.

    bukan globalisasi dan pasar bebas yang ‘memaksa’ pergantian identitas apalagi utk meniru negara asing, itu hanya mentalitas orang indonesia saja yang tidak pede dengan kebudayaannya hingga senang mengimpor segala sesuatu asing baik barat maupun timur tengah.

    Apa yang dikatakan novelis itu benar. Salah satu dari barisan novelis yang berkata demikian, AFAIK, Ayu Utami.

    nah itu kalo alex mau menyalahkan lagi barat, terserah lah, tapi kita semua tau dari dulu orang kita krisis kejujuran dan keadilan. dan itulah sebetulnya yang paling parah.

    Saya menyalahkan Barat?
    Bisa ya bisa tidak. Karena kesalahan dari Barat tidak akan pernah terjadi jika tidak ada kesalahan dari sini juga utk menelan mentah-mentah segala yang datang dari sana.

    Saya bukan fobia pada Barat, itu harus saya tegaskan. Cuma bagi saya, apapun yang berasal dari luar, mesti ada filter dengan standar nilai-nilai di sini. Bahkan jika tuduhan ortodok akan datang sekali pun.

    diskusi dan ide2 yang ‘nyeleneh’ adalah foreplay untuk mind arousal. ini lah yang merupakan latihan agar kita bisa thinking out of the box.

    Sepakat.

    apabila ada yang tidak suka atau merasa tidak sanggup, tidak usah baca.

    Benarkah?
    Masalahnya akan berbeda Nona, jika apa yang kita tuliskan dari ide kita itu tidak dipajang di ruang publik. Kita tidak bisa cuci tangan dengan mengatakan “Kalau tidak suka jangan dibaca”. Akan beda masalahnya jika kita memperlakukannya seperti buku harian, yang ditulis lalu dikunci dalam lemari. :)

    masalah berbenturan dengan kebebasan personal orang lain, seriously dude, apakah anda hidup dalam utopia where everything is green and colorful and nice?

    What about you?
    Bagi saya tidak. Dan justru karena TIDAK itulah yang membuat saya merasa aneh bawah sementara kebebasan personal seseorang bisa membuatnya melontarkan opini, di sisi lain ia akan menolak kebebasan personal orang lain. Ah, jangan katakan ini menyerang anda lagi. Saya tidak menyebut anda termasuk dalam tipe seperti ini. Anda dan Tuhan saja yang tahu tentang ini.

    di satu keluarga saja, benturan itu akan ada, apalagi orang lain?

    Nah. Anda setuju dengan itu. Saya juga.
    Jadi saya harap, seperti kasus agama yang sedang terjadi di Indonesia dengan tindak represif terhadap Ahmadiyah, misalnya, tidak ada kecaman terhadap pihak-pihak yang berseberangan, bukan?

    masalah HAM, pake saja common sense lah. apabila sudah pake common sense anda masih bilang itu tidak baik, berarti sense kita berbeda.

    Agaknya sense kita memang berbeda. Karena HAM itu sering bermakna ambigu bagi sense saya.

    masalah syariah baik, itu baik bagi umat islam, tapi tidak baik utk umat non islam, namun ham, globalisasi, demokrasi dll itu tidak berlandaskan agama manapun, ini common sense saja (yahudi dan kristen saja agak bertentangan dengan itu kalo dilihat dari kitabnya.) jadi jelas lebih obyektif, maka saya bilang baik.

    Wow. Anda bisa langsung menghakimi demiian?

    Seyakin apa anda bahwa HAM, globalisasi, demokrasi dll itu juga akan baik terhadap umat Islam?

    Karena tidak berlandaskan agama? Ini lucu… ketika HAM, demokrasi dan globalisasi itu sudah dibungkus dengan teori, aturan dan pengikut, apa yang membedakan hal-hal demikian dengan agama? Sama saja.

    negara dan oknum yg memakai ham dll utk menyerang negara lain itu bangsat. sama saja dengan teroris memakai nama agama atau tuhannya utk membunuh. bedanya, ham/globalisasi/demokrasi tidak ada kitabnya dan tidak ada sedikitpun ayat yang menganjurkan utk menyerang, APAPUN ALASANNYA. jadi sekali lagi, negara atau oknum yang melakukan kejahatan atas nama ham dll adalah bangsat.

    *tertawa senang*

    Saya yakin anda orang objektif, setidaknya orang baik, jika membaca kalimat anda di atas. Sepakat :)

    masalah patronizing, saya hanya merasa beberapa kata-kata anda patronizing ke saya kemaren, seakan-akan saya ini naive sekali. tapi setelah saya pikir lagi hari ini, itu hak anda dan mungkin saya agak over-react. jadi saya minta maaf apabila terlihat agak emosi, mungkin karena PMS juga (inilah tidak enaknya dan enaknya jadi wanita, ada pms yang bikin mood dan emosi meninggi, namun bisa memakai pms sebagai excuse lol). fyi, saya bukan feminist, saya sadar kodrat wanita dan pria berbeda, tapi yang jelas 1 pria tidak berharga 2 wanita. 1 pria sama dengan 1 wanita.

    Tidak. Tidak over-react. Karena kita melihat kalimat2 itu dari sudut berbeda. Itu saja :)
    Uhm… masalah 1 pria sama dengan 1 wanita - dengan mengenakan jubah agama HUMANIS saya - saya katakan saya setuju.

    tapi ketika anda membalas komen saya dan ’seperti orang protes’ karena pendapat saya ‘merambah wilayah personal’ orang lain, disitu saya bingung. apakah hanya satu pihak saja yang boleh beropini?

    Tidak. Siapa saja boleh. Karena itulah saya menanggapi anda. Jika saya beranggapan bahwa cuma saya yang boleh beropini, saya tak mau repot-repot berkomentar. Karena kita dua orang yang beropini dengan pikiran masing-masinglah, makanya saling protes atau saling sepakat itu ada. Anda setuju? :)

    disinilah indahnya demokrasi beropini, apabila semangat utk menanggapi bisa berdiskusi, apabila sudah malas dan tidak mau, tidak usah lagi baca atau dengar. simple saja.

    Sekali lagi kita sepakat :)

    saya tahu konsekuensinya makanya saya bolak balik ke blog ini, kalo saya tidak tanggung jawab seperti lelaki yang telah menghamili seorang gadis dan kabur begitu saja, tentunya saya tidak akan balik lagi. ‘melenggang’ if you will.

    Ehm… saya tidak pernah menjadi laki-laki begitu itu, Nona Rima :lol:
    *just kidding*

    Ya. Saya bisa lihat bahwa anda responsible dalam bersikap. Dan itu sebabnya saya tidak merasa rugi buang waktu utk berdiskusi begini :)
    Karena apa? Karena saya merasa kita sama-sama mencari pencerahan di atas jalan masing-masing. Benar bukan?

    generalisir itu terjadi apabila lebih banyak yang seperti itu ketimbang yang tidak. tentunya saya tidak bilang 100% rakyat indonesia begitu, (tapi juga tidak bilang 68% hehehe) tapi mayoritas lah, karena mayoritas kurang berpendidikan.

    Ahahaha…
    Argumen demikian juga argumen yang saya pakai sendiri jika menggeneralisir sesuatu. Meski dengan pengakuan bahwa argumen tersebut tidak valid 100%. Ya, sulit bagi kita utk melihat apa yg ada di balik kata “kebanyakan” itu. Posisi anda dan saya sama dalam hal ini.

    saya menggeneralisir sesuatu yang telah menjadi rahasia umum. siapapun orang indonesia akan berpendapat bahwa kita (rakyat indonesia) sekarang ini lemah dan terlalu lama terlena.

    Ya. Menjadi pengetahuan bersama, malah. IMHO.

    tapi anda tidak menggeneralisir, anda seakan menuduh kami yang tinggal di LN yang tidak2.

    Posisi anda saat menganggap saya menyerang orang yang tinggal di luar negeri, bagi saya sama ketika anda menyebut manusia Indonesia dari luar sana. Saya rasa cukup fair, meski bukan berarti benar :)

    hidup saya disini penuh dengan rintangan, sama saja dengan anda dan orang indonesia di indonesia, bukan ‘penuh kenyamanan’ seperti yang anda kira.

    Saya juga tidak akan ngotot mengatakan bahwa yang hidup di luar sana melulu dalam kenyamanan. Saya juga tahu diantara yang hidup di sana ada yang seperti para TKI juga nasibnya. Lagipula, saya bukan penggemar sinetron yang mengangkat tema elitnya kehidupan orang Indonesia borjuis di luar sana :lol:

    dan saya kesini juga bukan ‘kabur’ tapi yah nasib saya dan suami saja akhirnya berumah tangga dan tinggal disini.

    Saya ulangi lagi: posisi anda saat merasa diserang oleh kalimat saya adalah sama terhadap posisi saya saat anda menyebut manusia Indonesia. Saya tidak tahu pasti seperti apa hidup anda di sana. Seperti saat anda melakukan generalisasi terhadap orang Indonesia, anda juga tidak tahu pasti bahwa ada orang seperti saya juga di sini. Saya kira kita bisa bersikap fair bahwa tidak melulu hasty generalization bisa disamakan dengan serangan terhadap individu.

    Apa saya mengatakan anda kabur? Sejauh komentar saya tidak diedit, saya berani katakan tidak pernah saya menulis demikian. Pernyataan yang sama bisa juga saya katakan pada anda tentang penyamarataan manusia Indonesia, bukan?

    Dan satu lagi, persembahan kita terhadap negara itu macam-macam, bukan berarti yang ‘bergerilya’ di NGO atau PBB itu lebih berarti dari TKI yang tiap bulannya mengirim uang ke indonesia.

    Tentu saja tidak.
    Bicara ttg TKI itu, AFAIK malah para TKI itu yang jadi pahlawan devisa negara yang sesungguhnya :D

    Saya bukan ajudan Tuhan, dan saya tidak begitu percaya dengan media di Indonesia. Saya dapat laporan dari teman teman, dari saudara2 saya yang unfortunately bukan golongan ‘the haves’ dan banyak juga yang tinggal di luar Jakarta, (di sigli, banad aceh, medan, surabaya, bali, balikpapan dll)

    Demikian juga saya, Nona Rima.
    Sudut pandang kita melihat ini yang berbeda. Sehingga kita berbenturan, meski bagusnya anda orang yang enak diajak berdiskusi :)

    mungkin suatu saat saya bisa berbuat lebih. semoga saja.

    Amen to that, sister. Amen.
    Masing-masing kita melakukan apa yang kita bisa. Sekecil apapun, setiap orang memiliki fungsinya masing-masing.

    *sambil bingung* siapa yang bilang laki2 di negara Eropa mulia? hehhehe.. Anda pikir saya kesini karena kawin sama bule? Saya cinta produk dalam negeri, suami saya asli Toraja 100%. Laki laki Indonesia jauh lebih TOP dibanding bule. Saya yakin anda setuju dengan ini :p

    Untuk ini saya benar-benar harus tertawa, Nona Rima.

    Jika anda cermati, kata “laki-laki” itu saya coret. Tidak ada maksud apa-apa selain keisengan tergelitik lagunya Basofi Sudirman :lol:

    Saya tidak keberatan orang Indonesia nikah dengan siapapun. Itu hak individu masing-masing ;)

    saya tidak tersinggung, dan kalau saya dikritik, apalagi yang membangun, saya ok ok aja. saya juga tukang kritik kok.

    Syukurlah, Nona.
    Saya sempat meng-scroll=up komen saya, apakah ada kalimat yang terlalu tendensius. Jika ada, saya benar-benar minta maaf :)

    likewise, saya juga senang diskusi dengan anda, alex, dan saya juga yakin Guh tidak apa apa dengan ‘bulettin board’ a la alex dan rima (eh, iya kan mas guh? jangan saya geer sendiri ngirain mas guh gak apa apa, padahal kesel.. jangan kesel yaaa?? hehhehehe).. senang malah dapat teman baru via comment boards. ini indahnya internet :)

    Err… masalah bulletin board… mudah-mudahan saja saya tidak ditendang ke neraka akismet-nya Guh karena sudah menjadikan kolom komentar berubah fungsi :P

    Benar-benar diskusi yang bagus.

    Saya harap suatu saat saya juga bisa keluar dari sini dan mencoba melihat negeri ini dari koordinat yang berbeda. Sehingga saya bisa tahu sebenar atau sesalah apa saya dalam beropini dan berargumen selama ini.

    Saya tetap berharap opini dan argumen-argumen berbeda akan datang. Apkah suatu hari nanti dari orang yang berbeda pula. Setidaknya saya tidak kesepian mencari tandem utk mengeluarkan beropini begini :)

    Guh: maaf bro, kalau kami sudah kelewatan berargumen di blogmu :P Sabar-sabarkan saja. Nanti kalo saya bisa nongkrong di surga, saya ajak nginap. Mudah-mudahan juga masih ada hubungannya dengan postinganmu. :P

  29. 29 alex Mei 6, 2008 pukul 16:28

    Aduh!
    Blockquotenya berantakan :|

    Mohon dimaafkan, Guh.

  30. 30 alex Mei 6, 2008 pukul 16:38

    @ kamal87

    @tgk alex: ya ampun… komen koq panjang2 bner bner. mbok ya bikin posting aja sendiri daripada manjang2in kolom komentar orang lain :)

    Hehehe… saya juga jadi ndak enak ini sama empunya blog. Bisa-bisa dimasukkan neraka akismet saya :lol:

    Tapi kenapa saya tidak mau (benarnya tidak sempat) menulis di blog, karena saya tidak mau kehilangan komentar saya putus dari sumber asalnya. Keluarnya komentar kan karena ada postingan ini. Jadi, ya saya pikir biar di sini sajalah. Lagipula blog saya - dan blog Rima juga agaknya - memiliki konsep blog yang berbeda dengan Guh.

    Mudah-mudahan tidak merasa terganggu ya? :P
    Kalo merasa terganggu saya fatwakan darahnya halal loh :lol:

    yakin deh… sekulerisme dan liberalisme dan segalam macem produk2 barat itu cuma bikin dunia makin ancur gak karuan

    Saya tidak meminati sekulerisme dan liberalisme, kawan. Tapi saya harus sadar, bahwa saya tidak bisa melihatnya secara hitam-putih dan mendesakkan ketidak-cocokan saya itu pada mereka yang pro-sekuler atau pro-liberal.

    Di satu sisi enaknya bertentangan dengan pro-liberal dan pro-sekuler adalah adanya pengakuan kebebasan dan hak untuk berbeda.

    Tidak enaknya, jika liberal dan sekuler itu menjadi dogma yang diikuti dengan taqlid tersendiri untuk menindas paham diluar dua hal tersebut.

  31. 31 Chocoholic Mei 6, 2008 pukul 20:04

    @ Tgk. Alex

    - Jadi tidak ada namanya personalitas absolut. CMIIW <– Betul, juga tidak ada kebenaran absolut dan absolut absolut lainnya, kecuali vodka. karena segala sesuatu yang absolut itu hak Tuhan.

    - Dan menurut anda itu harus mutlak dilakukan juga oleh umat beragama di Indonesia? (soal reformasi agama)
    tidak mutlak, tapi apabila kita manusia indonesia sadar bahwa untuk maju itu kita harus memakai otak dan logika dan bukan melulu kepercayaan buta terhadap suatu agama, hingga bisa belajar toleran dengan kaum/ras/suku lain dan bersama membangun negara dengan baik karena masing2 merasa sama sama memiliki negara dan yakin bahwa each have the other’s backs, itu suatu hal yang bagus karena agama itu terutama saat ini, merupakan hal yang malah memecah belahkan bangsa, dan kita butuh sesuatu dasar in common untuk kembali me’lem’ bangsa, dan agama bukan hal yang tepat karena di indonesia agamanya lebih dari satu, jadi jurang perbedaan itu akan selalu ada apabila fokus ke agama terus.

    - Saya kira kita semestinya bisa tahu limit kita sendiri. Saya sendiri sih bisa meninggalkan suatu situs atau blog apabila saya rasa isinya tidak sesuai dengan selera tanpa harus komen apa apa, walaupun ditaruh di ruang publik. Salah saya hanya expecting other people to do what I do.

    - Saya sih tidak menolak kebebasan orang lain, semoga tidak lah, kalo secara tidak sengaja mungkin pernah. namanya juga manusia. Hehehe
    - Saya yakin bahwa HAM, globalisasi, demokrasi dll itu juga akan baik terhadap umat Islam maupun Hindu, Kirsten, Konghucu, Bahai, Scientology, Shinto, Kejawen dll. Di Indonesia umat Islam bisa hidup dengan tentram karena HAM dan demokrasinya memihak mereka. Apabila tinggal di Arab Saudi, belum tentu, karena yang diutamakan tentunya umat Islam aslinya yang orang Arab (seperti yang hitam diperlakukan tidak baik oleh yang putih di Sudan, padahal sama agama misalnya)

    - ketika HAM, demokrasi dan globalisasi itu sudah dibungkus dengan teori, aturan dan pengikut, apa yang membedakan hal-hal demikian dengan agama? Karena hal hal ini tidak absurd dan menguntungkan satu pihak sementara merugikan pihak lain, dan karena ini berdasarkan logika bukan percaya buta/iman/faith.

    - Alex bilang: Posisi anda saat menganggap saya menyerang orang yang tinggal di luar negeri, bagi saya sama ketika anda menyebut manusia Indonesia dari luar sana. Saya rasa cukup fair, meski bukan berarti benar :) <– saya ralat ucapan saya karena salah dan terkesan sombong sebelumnya, jadi ‘kita’ para manusia Indonesia bukan ‘mereka’.

    - saya langsung copy paste jawaban alex tadi, hingga coretan di kata laki-laki itu tidak terlihat lagi ketika di paste.

    - alex bilang: Saya harap suatu saat saya juga bisa keluar dari sini dan mencoba melihat negeri ini dari koordinat yang berbeda. Sehingga saya bisa tahu sebenar atau sesalah apa saya dalam beropini dan berargumen selama ini. <– semoga alex bisa dapat kesempatan untuk keluar dan melihat. Saya rasa disini kita tidak ada yang salah atau benar secara absolute, karena berbeda sudut pandang dan memang kebenaran dalam hal begini sangat relative dan tergantung anda dimana dan diantara siapa.

    Sekali lagi guh, maaf kepanjangan. Alex, kayanya next time kalo mau argument lebih lanjut saya undang untuk melakukannya di blog saya saja, di guest book yang saya akan sediakan untuk apa saja.

  32. 32 Alex Mei 6, 2008 pukul 21:05

    @ Chocoholic

    Saya komentari dua ini saja dulu, karena dua ini, IMHO, core dari diskusi kita.

    Betul, juga tidak ada kebenaran absolut dan absolut absolut lainnya, kecuali vodka. karena segala sesuatu yang absolut itu hak Tuhan.

    Saya tak memiliki cadangan kata “tidak” untuk menolak pendapat tentang hal-hal absolut tersebut apalagi absolut vodka, selain kata “Sepakat”. ;)

    Saya rasa disini kita tidak ada yang salah atau benar secara absolute, karena berbeda sudut pandang dan memang kebenaran dalam hal begini sangat relative dan tergantung anda dimana dan diantara siapa.

    Benar, Nona Rima. Begitu relatif semuanya dalam kerelatifan pandangan masing-masing :)

    Dulu pernah ada seorang ‘messiah’ di kalangan blogger Indonesia yang mempunya kalimat pegangan nge-blognya, “semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat”.

    Saya bersepakat dengan kalimat tersebut, sebagai tandem almarhum saat itu. Sudah rest in peace sih blognya. Tapi kalau di suatu tempat ia reinkarnasi kembali, saya harap sih ia tidak lupa dengan syahadatnya yang satu itu :lol:

    *dicekik hantu blogger messiah ybs*

    Ah ya.. Sebelum benar-benar nanti komentar kita diceburkan ke akismet, mungkin suatu saat kita sambung lagi diskusi bagus ini di tempat lain :)

  33. 33 Guh Mei 6, 2008 pukul 23:58

    @Semua yang menuduh saya menunggangi Tuhan untuk update blog.

    Kalau itu kalian anggap sebagai menunggangi, maka saya harus katakan TIDAK!

    Maksudnya, tidak hanya Tuhan, tapi mungkin ada juga beberapa pihak lain.

    Itu benar-benar berbagi tips saja, karena “the secret” ini sebaiknya disosialisasikan seluas-luasnya. Kenapa? Karena semakin banyak jumlah pembonsai, pedagang dan penunggang Tuhan, maka kita bisa lebih pantas berharap bahwa harga akan semakin bersaing. Akhirnya kan konsumen juga yang akan diuntungkan.

    *sambil mengenang banting2an harga pulsa yang akhirnya bikin IM3 jadi smakin irit, irit karena ga bisa dipakai telpon dan sms*

    @Alex
    Oh, soal orang indonesia yang minggat keluar, udah baca musibah bangaip?
    Dan disini tidak dimoderasi, tapi akismet memang pantas curiga pada komentar yang panjangnya mengerikan.

    @kang4roo, menebar iklan semena-mena itu namanya spamming. Tidak sopan. Akan saya tandai setelah sempat.

    @Chocoholic, indonesia sedang berlari juga kok, walau kadang sambil tertatih dan guling-gulingan. Mungkin bukan tertinggal, karena memang bergeraknya ke arah yang lain.
    Soal agama, barat mungkin punya trauma sendiri, makanya sekarang agama sering dianggap sampah. Semoga disini tidak sampai seburuk itu reputasinya, jadi sampai kapanpun agama akan tetap dihargai. Kalau dulu kita bisa damai walau agamanya berbeda-beda dan bersekte-sekte, kenapa nanti tidak bisa? Mari sama-sama bunyi dan lakukan apa yang bisa dilakukan supaya majunya Indonesia makin semangat.

    @Tukangobatbersahaja, iya, barusan dibaca. Itu memang yang saya mau, bagaimana menyembuhkan orang yang udah kena brainwash. ada?

    @Danalingga, terimakasih sudah diperingatkan. Saya memang agak durhaka, suka lupa berterimakasih pada orang2 dulu yang berjasa. :)

    @102FM ITB, anda luar biasa pintar kok. Buktinya menanyakan apakah saya punya agama.

    Ngomong2x Kenapa harus dikaitkan dengan hal-hal jelek dari politik?
    Tidakkah lebih baik jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

    Bisa juga, anda hanya perlu mengedit paragraf kedua pada langkah kedua (bagian kontrol sosial). Selebihnya saya rasa masih sama.

    saya menangkap sinyalemen Anda tidak setuju jika partai2x yang ada di Indonesia berlandaskan pada agama tertentu

    Justru sebaliknya. Seperti yang digeneralisasikan oleh chocolicious, kebanyakan masyarakat kita itu kurang berpendidikan, mungkin termasuk saya. jadi sangat mudah diperdaya untuk menyembah apapun. Mencegah pembodohan menggunakan agama dengan mencerdaskan orang sebanyak itu tentu sangat lama dan sulit sekali, jadi sambil menunggu, kita umbar saja tips diatas, dengn harapan semakin banyak yang menjual/menunggangi, maka harganya akan semakin bersaing. Tidak ada monopoli. Dan rakyat diuntungkan :)

    @Yas, begitulah adanya.

    @Goldfriend, memang itu yang saya maksud. Mohon maaf kalau kalimat diatas malah mengesankan hal yang terasa negatif. Tidak perlu saya edit kan?
    Mungkin selamanya kita tidak bisa terbang bebas, mungkin kita akan terus seperti kutu yang meloncat dari satu pemikiran ke pemikiran lain. apa seperti monyet ya? :P
    Mohon maaf, ide-ide dalam komentar anda terlalu mencerahkan, sepertinya saya agak silau nih. Perlu waktu untuk mencernanya.

    @Daeng Limpo, entah lah. Nyatanya sebelum ditunggangi dibonsai dulu. Setelah dijual pun laku keras. Mungkin karena itu bukan Tuhan yang sebenarnya.
    Menjelekkan produk? Coba dibaca lagi.

    @Dobelden, selama banyak yang beli, akan ada yang jual. yang jadi masalah kalau yang jual sedikit, bisa ngartel dan maenin harga. Karena itulah saya pikir tips macam diatas itu perlu disebarluaskan, biar rakyat punya pilihan.

    @kamal87, ya begitulah keyakinan anda. Selamat berkeyakinan.

    —–
    Untuk dua orang gila yang diskusi panjang lebar, terimakasih atas diskusi yang mencerahkan… nanti pasti saya simak lebih teliti. sekarang saya bermimpi dulu, apa mungkin suatu hari nanti para ulama kita bisa diskusi dengan pikiran seterbuka kalian, tanpa harus bakar-bakar rumah ibadah, tanpa harus saling ancam dan terror. Agama tanpa mutlak-mutlakan? hihi… saya makin mengantuk sekali. Besok sambung lagi…
    Mohon ampun atas keterlambatan dan ketidaklengkapan respon, saya sedang sok sibuk sekali :(

  34. 34 alex Mei 7, 2008 pukul 7:39

    Kalau itu kalian anggap sebagai menunggangi, maka saya harus katakan TIDAK!

    Meski tidak menuduh secara langsung, tapi… ah… masa iya sih, Guh? Kita nunggangi ‘tuhan’ sebagai pembenaran dalam kehidupan masing-masing kok. Ndak hanya di blog saja. Tapi juga dalam keseharian mungkin :P

    Maksudnya, tidak hanya Tuhan, tapi mungkin ada juga beberapa pihak lain.

    Oh…
    *manggut2*

    Oh, soal orang indonesia yang minggat keluar, udah baca musibah bangaip?

    Sudah pernah.
    Dan itu gejala yang sama dimana-mana. Gejala yang kita rutuki bersama setiap bulan puasa speaker mushala dan mesjid disetel seperti telinga kita sudah pekak.

    Tapi kalau saya pribadi masih tabah menghadapinya. Kalau ndak tabah, ya - seperti kata hadist yang sering dijadikan pembenaran kekerasan - saya ubah sama tangan juga. Tonjok saja kalo emang mengganggu :lol:

    Tapi, ya itu sih dari sudut saya pribadi, Guh. Kata “nonjok” saya itu ndak melulu sama tangan. Tapi dengan pendekatan hati-ke-hati. Bisa efektif juga saya kira. Saya juga ndak menyalahkan yang cabut karena ndak tahan dan memang udah gak bisa merubah agaknya :(

    Dan disini tidak dimoderasi, tapi akismet memang pantas curiga pada komentar yang panjangnya mengerikan.

    Baru komentar! Belum dimintai donor darah!

    Iya… sori… sori…
    Keenakan jadikan blogmu ini buletin board :P

    Untuk dua orang gila yang diskusi panjang lebar, terimakasih atas diskusi yang mencerahkan… nanti pasti saya simak lebih teliti.

    Njrit! Disebut orang gila….

    *clurit*

    sekarang saya bermimpi dulu, apa mungkin suatu hari nanti para ulama kita bisa diskusi dengan pikiran seterbuka kalian, tanpa harus bakar-bakar rumah ibadah, tanpa harus saling ancam dan terror. Agama tanpa mutlak-mutlakan? hihi… saya makin mengantuk sekali. Besok sambung lagi…

    Insya Allah, bisa. Saya yakin. Cuma perlu pelintir pemikiran orang-orang besarnya saja dan ndakwahi ke lapisan bawah. Karena kalau salah satu gak digarap, sulit. Sementara yang dibawah diberi pemahaman agama seperti yang dilakukan Emha Ainun Nadjib, tapi yang diatas terus nyetel-nyetel tanpa boleh ada diskusi, ya susah.

    Usahkan saja masuk ke petinggi ulama, Guh. Biar anda bisa bantu dari atas untuk menyegarkan pikiran yang di lapisan bawah ini.

    *meski pesimis, apa ente mau jadi ulama :lol:*

    Ya sudahlah. Saya juga mau tidur dulu. Gak tidur juga saya gara-gara menggerayangi kenikmatan Ubuntu Hardy yang bagus ini :P

  35. 35 petroek™ Mei 7, 2008 pukul 9:52

    Sebenarnya bukan Tuhan yang dijadikan tunggangan politik, tapi orang/tokoh yg percaya sama Tuhan dan telah dianggap ‘Tuhan’ (atau malah mengganggap dirinya sendiri Tuhan!) oleh pengikutnya yang dijadikan tunggangan tidak hanya politik, tapi bisa juga bisa juga dijadikan tunggangan untuk memperoleh kekuasaan, kekayaan dsb.

  36. 36 Nazieb Mei 7, 2008 pukul 15:50

    Lha, lantas kampanye bagaimanakah yang dilakukan Tuhan dulu saat dia mencalonkan diri jadi Tuhan? :roll:

  37. 37 Abeeayang™ Mei 7, 2008 pukul 19:06

    bukan hanya manusia sajah yang di jadikan tunggangan politik yaks?
    ampek2 Tuhan sgala di bawa2…
    satir nyang menggigit, bang

  38. 38 bangzenk Mei 8, 2008 pukul 6:42

    diskusi Tgk Alek dan Rima rame sekali,

    kali ini sy ga mo komen panjang ah (gi cape berat). menjadikan Tuhan sbg tunggangan politik, itu penistaan eksistensi Tuhan menurut sy.

    ingat kasus senior partai berbasis umat islam warisan orba yang ditangkap KPK? bagaimana dengan yg aktivis muda yg mngembalikan uang gratifikasi yg diterima fraksinya ke KPK? yang kedua ini partai berbasis Islam (bukan sekedar massa).

    kasus pertama, itulah yang mungkin Guh maksud. kasus kedua, sebaliknya menjadikan politik sarana mndptkn keridhaan Tuhan. sy salut dg yg kedua. karena kita butuh agen-agen perubahan bangsa Indonesia ke depan. tentu ke arah yg lebih baik.

    konsekuensinya, tulisan Guh ini. akan ada pandangan lain tt aksi politik para aktivis partai ybs (entah sedang naik daun kali ya?).

    @Rima Fauzi/Chocholic,

    sy tinggal di Eindhoven (Belanda), gimana kalo kita kopdar? bahagia rasanya jika bisa silaturahmi dg orang Indonesia di luar negeri.

    ditunggu kabarnya.

    salamhangat.

  39. 39 Chocoholic Mei 8, 2008 pukul 14:06

    @banzenk: halo… boleh aja, nanti lah kapan kapan.. 17 agustusan deh datang ke brussels, di kbri rame, kan 17 agustusannya hari minggu.. :)

  40. 40 CY Mei 8, 2008 pukul 15:16

    @Alex
    Sedikit2 main bakar dan hajar itu yg bikin org takut shg lari ke luar negri, setidaknya itu keluhan yg sering saya dengar dari teman2 relasi bisnis. “Perasaan aman” itu nggak ada Lex, saya katakan ini krn dulu saya pernah tinggal 2 tahun di luar negeri dan membandingkannya dgn di sini jauh beda.

    Sebagai contoh : di sini kalo jalan2 ketabrak nona manis, si nona marah2 dgn muka jijik memandang kita. Di luar sana, malah si nona yg duluan minta maaf.

    Di sini ngantri di Hypermart ada aja makhluk kekar/Ibu2 sangar yg nyelonong memotong antrian ,berhubung saya sdg menabung karma baik utk memperbaiki kwalitas hidup maka saya ngalah, kalo 5 tahun yg lalu mungkin tuh makhluk masuk ICU . Kalo diluar mana ada sih yg berani nyerobot antrian.

    Disini kalo nona manis jalan sendirian (malah ada yg gandengan sama pacar) di-suit2in sampe risih, malah ada yg di colek. Kalo di luar sana jgn coba2, bisa kena denda berjuta2 gara2 nyolek atau suit2 gituan. :lol:

    Jadi intinya “perasaan aman” itu Lex. Kami tidak mendapatkannya di-sini. Kekasih saya sampai hari ini kalo dengar suara rame2 lsg pucat sesak nafas gara2 trauma Mei 1998, sama seperti mama saya yg trauma saat sweeping di tahun 1965. Jadi ga bisa disalahkan juga kalo org2 berduit pada lari keluar.

    Kalo utk manusia seukuran Alex dan saya mungkin rasa takut itu tidak membebani krn memang street fighter . Tapi utk bbrp org yg nyalinya kurang, ya mo gimana lagi.. lari adalah jalan satu2nya. :)

  41. 41 alex® Mei 8, 2008 pukul 15:43

    @ CY

    Sedikit2 main bakar dan hajar itu yg bikin org takut shg lari ke luar negri, setidaknya itu keluhan yg sering saya dengar dari teman2 relasi bisnis. “Perasaan aman” itu nggak ada Lex, saya katakan ini krn dulu saya pernah tinggal 2 tahun di luar negeri dan membandingkannya dgn di sini jauh beda.

    Benar memang. Kebudayaan berpuak-puak dan bergerombolan utk sikat-sikut-bakar begitu itu masih ada dimana-mana. Saya juga dengar hal yang sama dari kawan-kawan, meski kasusnya berbeda-beda.

    Tapi kalau saya boleh berpendapat, kalau ada yang menyalahkan pada agamanya, wahh… sepertinya terlalu t