Jumlah Tuhan, Pemaksaan Beragama dan Penyerangan terhadap PKS

Sebenarnya posting ini adalah jawaban untuk untuk para komentator di postingan saya tempo hari, dimana saya mempertanyakan jumlah tuhan yang diyakini Pak Hidayat Nur Wahid.

Saya jawab disini karena Opera Mini saya ternyata bermasalah, tak bisa dipakai komen di halaman yang ukurannya sudah terlalu besar.

Ditujukan untuk anda semua yang:

* Ngotot bahwa Tuhan ada lebih dari satu dan hanya Tuhan anda yang tidak memaksa dalam beragama.
* Menganggap saya hanya mengutip kitab saat mengatakan bahwa Tuhan tidak memaksakan agama.
* Menganggap saya sudah menyerang PKS.

Jadi gini….

Anggaplah anda benar soal adanya banyak Tuhan, lalu Tuhan manakah yang pernah memaksa manusia dalam beragama? Apa ada Tuhan yang melakukan hal senista itu?

Yang saya tahu, ada banyak manusia tak waras yang merasa dirinya adalah Tuhan, lalu main paksa dan sok ngatur keyakinan sesamanya.

Dari pengamatan macam diatas, ditambah sedikit berpikir, tentu tak perlu kutapkutipkitab hanya untuk tahu bahwa Tuhan tidak memaksakan agama.

Saya tidak mengerti teologi atau tuhanologi. Saya hanyalah seorang korban cuci otak yang telah beberapa lama diyakinkan bahwa Tuhan itu sejatinya cuma ada satu.

Karena cuci otak itu, Jika bertemu orang yang kelihatannya memuja api, atau menyembah patung cowo telanjang atau merapal huruf ruwet atau bahkan bersujud dan menciumi batu dekil di tengah gurun pasir, saya ga merasa perlu untuk usil ikut ngatur, apalagi sok jadi juru selamat. Saya anggap semua itu adalah cara unik mereka dalam memuja Dia Yang Tidak Beragama.

Menurut saya, separah dan sesinting apapun perbedaan konsep tentang Tuhan diantara umat manusia, mereka semua sebenarnya sama saja. Walau beda konsep dan medium, mereka sama-sama berusaha menyembah, mengagungkan dan berserah diri pada Dia Yang SAYA Sembah. :-D

Jadi untuk urusan jumlah Tuhan, sebaiknya kita sepakat untuk tidak sepakat saja. Karena saya masih meyakini bahwa ga ada lagi Tuhan selain yang itu.

Mengenai tuduhan penyerangan terhadap PKS, saya menerimanya sebagai peringatan, agar lain kali bertanya dengan cara yang lebih santun :-).

Btw, sementara sebagian kita meributkan jumlah Tuhan dan merumus taktik untuk memaksakan agama, disini BBM sudah melewati harga 13000 Rupiah PER LITER. Kalau mau harga normal harus di SPBU yang jaraknya 60km dengan antrian yang panjangnya mengerikan.

Sekian dulu, terimakasih.

34 Tanggapan ke “Jumlah Tuhan, Pemaksaan Beragama dan Penyerangan terhadap PKS”


  1. 1 tukangobatbersahaja Mei 21, 2008 pukul 14:43

    Jadi Tuhan nya Guh ama saya kembaran :)
    Btw, dari pada pusing mikirin 1300 rupiah per liter mendingan naek sepeda. sehat. irit.

  2. 2 ulan Mei 21, 2008 pukul 14:46

    lah emang sapa yang bilang Tuhan itu banyak om??
    13.000?? mmm.. untung aku bisa terbang..
    *di kemplang*

  3. 3 danalingga Mei 21, 2008 pukul 16:16

    Walah, digelar lagi ini. :lol:

    Berhubung nama saya juga dibawa-bawa di komen tersebut maka saya jadi ingin ikut nimbrung menambahi.

    Bukankah rancu namanya ketika kita meyakin sesangat-sangatnya bahwa Tuhan itu satu, lalu kemudian menganggap orang lain punya Tuhan yang berbeda. Padahal sama sama mengaku mempunyai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu ini.

    Bukankah rancu namanya ketika Tuhan menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama. Dan Tuhan juga telah menyediakan konsekuensi dari tidak beragama itu, yakni siksaan nan pedih di neraka sana. Kok kita malah memaksa orang beragama sesuai dengan keinginan kita? Bukannya malah melangkahi Tuhan itu?

    Logika saya jadi jungkir balik nih memikirkan hal di atas. kan. Atau memang benar beragama itu tidak usah pake logika sama sekali ya?

    Waduh, jadi puyeng euy. *minum obat sakit kepala*

  4. 4 danalingga Mei 21, 2008 pukul 16:18

    @Btw, sementara sebagian kita meributkan jumlah Tuhan dan merumus taktik untuk memaksakan agama, disini BBM sudah melewati harga 13000 Rupiah PER LITER. Kalau mau harga normal harus di SPBU yang jaraknya 60km dengan antrian yang panjangnya mengerikan.

    Memburu minyak di pasar bursa. :lol:

  5. 5 agiek Mei 21, 2008 pukul 16:32

    @danalingga
    that’s right brader, agama = mesin pembunuh logika.

    Jadi ingat postingan sang ‘Nabi’ Blog (Al Habib Syech Notorious Geddoe) tentang korelasi antara tingkat intelegensia dengan religiousitas (baca:mengaku umat beragama) sebuah negara. :mrgreen:

  6. 6 Kopral Geddoe Mei 21, 2008 pukul 16:38

    Ada yang ingin panggil Tuhan untuk menjelaskan sendiri?

    *los pokus*

    Yang bikin saya bingung adalah, banyak di antara yang misuh-misuh adalah yang mengaku “beriman” akan Tuhan. “Beriman” dalam artian mendasarkan kepercayaannya di atas “iman”, alias bukan atas bukti empiris, alias tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (tentunya bukan berarti itu tidak sah). :) Misalnya tiap kali tersudut oleh sains, mereka akan berlindung di balik alibi, “yang penting saya percaya” atau “tetap inilah yang saya imani.

    Tentunya terserah kalau mau berpendirian begitu, mungkin memang sains masih belum mancapai apa yang disebut Tuhan itu. Tapi kalau memang hanya bermodal “percaya” saja, ngapain mengadu-adu kepercayaannya dengan orang lain? Iman orang dan iman kita, ya setara saja otoritasnya. :)

  7. 7 daeng limpo Mei 21, 2008 pukul 16:40

    di Pekanbaru SPBU banyak yang tutup….pada plangnya tertulis “PREMIUM HABIS”, heran juga saya padahal Propinsi Riau adalah penghasil minyak terbesar di Indonesia…..? apa ada nyang minum premium ya…? :D

  8. 8 Nazieb Mei 21, 2008 pukul 17:21

    <oot>
    What?? Jadi Tuhan itu jumlahnya ada 13.000??

    *distorsi informasi
    </oot>

    Ehm, dan yang paling saya benci adalah ketika mereka sudah terpojok dalam sebuah perdebatan, mereka akan berkata:

    “Ya itulah bedanya agama dan logika. Dua hal itu memang tak mungkin bersatu”

    Argh!! :evil:

    Bikinin postingan soal itu donk Om Teguh..

  9. 9 Nazieb Mei 21, 2008 pukul 17:22

    Eh, saya tadi bermangsud meneruskan komennya Om Geddoe :D

  10. 10 CY Mei 21, 2008 pukul 17:51

    13.000 /liter dan masih langka??? David Copperfield kalah pamor dan ilmu tuh… :mrgreen:

  11. 11 Catshade Mei 21, 2008 pukul 18:48

    “Beriman” dalam artian mendasarkan kepercayaannya di atas “iman”, alias bukan atas bukti empiris, alias tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (tentunya bukan berarti itu tidak sah). :) Misalnya tiap kali tersudut oleh sains, mereka akan berlindung di balik alibi, “yang penting saya percaya” atau “tetap inilah yang saya imani.

    Ehm, dan yang paling saya benci adalah ketika mereka sudah terpojok dalam sebuah perdebatan, mereka akan berkata:

    “Ya itulah bedanya agama dan logika. Dua hal itu memang tak mungkin bersatu”

    Di sisi lain, mereka mempercayai sains yang mendukung keyakinan mereka. “Big Bang? Embryology? Ooooh, itu sudah diberitahukan sejak dulu lho oleh kitab agama saya. Itulah bukti bahwa kitab agama Tuhan saya memang satu-satunya yang nyata dan benar.” Hipokrit?

  12. 12 alex® Mei 21, 2008 pukul 20:07

    @ Guh

    Anggaplah anda benar soal adanya banyak Tuhan, lalu Tuhan manakah yang pernah memaksa manusia dalam beragama? Apa ada Tuhan yang melakukan hal senista itu?

    Soal banyaknya Tuhan atau banyaknya “persepsi” tentang Tuhan, Guh? Ini diperjelas kalau bisa.

    Masalah Tuhan mana yang memaksa. jawabannya ada di ucapanmu sendiri yang saya sendiri setuju :lol:

    Yang saya tahu, ada banyak manusia tak waras yang merasa dirinya adalah Tuhan, lalu main paksa dan sok ngatur keyakinan sesamanya.

    Itu dia jawabannya :P

    Nah, sekarang kembali lagi saya tanya: waras-tak-waras itu dalam bentuk gimana, Guh? Saya bisa jadi termasuk yang tak waras karena meyakini adanya Zat yang absurd dan tidak (atau katanya belum) terbukti secara empiris.

    Tapi dari sudut lain, yang ngotot menolak sesuatu yang absurd itu juga bisa disebut tidak waras karena inginnya semua terpapar secara empiris.

    Itu yang sering membuat adanya front berhadapan, Guh.

    Setiap orang bisa merasa menjadi Tuhan atau setidaknya merasa terusik karena Tuhan yang diimaninya terlecehkan. Dan itu termasuk Guh sendiri dengan postingan2 kemarin. Termasuk saya yang berdiskusi di sana. Bahkan termasuk yang tidak percaya Tuhan sekalipun sudah menjadi Tuhan ketika memaksa ketidak-adaan Tuhan itu.

    Komentar Guh, kata teman saya yang di PKS sini, juga termasuk sok ngatur. Ini saya cuma nyampein pendapatnya saja lho. Saya bukan orang PKS, beda metode sosial saya dengan mereka.

    Terkadang Guh, tidak mudah membuat semua orang memahami keinginan kita. Kata-kata yang bombastis akan menuai reaksi yang bombastis. Kita bisa saja memperpanjang dalih atau argumen. Tapi akhirnya kalo batasannya sepakat utk tidak sepakat, cuma akan jadi debat kusir, meski mungkin ada nilai2 pencerahan tersendiri :)

    @ Geddoe

    Yang bikin saya bingung adalah, banyak di antara yang misuh-misuh adalah yang mengaku “beriman” akan Tuhan. “Beriman” dalam artian mendasarkan kepercayaannya di atas “iman”, alias bukan atas bukti empiris, alias tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (tentunya bukan berarti itu tidak sah). :)

    Benar, Ged. Tapi nalar manusia dan kecerdasan persepsi yang berbeda-beda juga membuat yang mengaku beriman kebingungan dengan alasan ilmiah demikian. Kebingungan kenapa dengan alasan empirisme, maka tak boleh ada kepercayaan terhadap Iman yang abstrak?

    Itu tak bisa diseragamkan, bukan?

    C’mon… tak semua orang membaca atau menerima karya Dawkins, misalnya. Tak semua orang juga mesti berpikir serunut itu. Terkadang hal paling sederhana menjadi cara paling mudah mencari tujuan menurut masing-masing :P

    Misalnya tiap kali tersudut oleh sains, mereka akan berlindung di balik alibi, “yang penting saya percaya” atau “tetap inilah yang saya imani.

    Itu dikategorikan benar atau salah? Benar salahnya kita lihat darimana, Ged? Saya bingung sendiri ini. Karena terkadang saya sendiri menyalahkan sikap demikian, tapi pada kasus lain saya bisa membenarkan.

    Bagi saya justru aneh, jika kita mendesak jenis yang beriman begini untuk mencabut perlindungannya. Itu haknya dia tho? Apa jadi masalah karena misi keintelektualan kita rasanya terganggung seperti coitus interuptus? Terlalu egois jika dengan kebenaran kecerdasan kita, kita mendesak mereka sedemikian. Biarkan saja kalau memang mau meyakini apa yang ingin diyakininya :)

    Tapi kalau memang hanya bermodal “percaya” saja, ngapain mengadu-adu kepercayaannya dengan orang lain? Iman orang dan iman kita, ya setara saja

    *lol*

    Ini analoginya gini lho:

    Mahasiswa pertanian pulang ke kampung dan ngoceh depan petani kampung tentang teknologi canggih untuk mempercepat panen dalam tempo sehari saja.

    Idenya menarik. Ide yang dipercayai si mahasiswa seperti iman.
    Tapi petani ini imannya lain pula. Ia tetap percaya dengan tradisionalnya penggarapan lahan dia.

    Siapa yang salah siapa yang benar?
    Dan yang utama: siapa yang memulai? :)

    Terkadang tipikal mahasiswa pertanian ini sering lupa bahwa ia bicara dalam bahasa yang canggih dan rumit. Apalagi ketika mendesakkan diktat pertaniannya pada mereka yang merasa sudah lama berkecimpung di lumpur sawah, Ged.

    Mahasiswa itu sendiri bukan baik atau buruk yang dinilai, caranya. Cara dia menerapkan idenya itu.

    Jika terlalu frontal, maka konsekuensinya adalah sabit si petani terangkat. Apa itu 100% salah si petani? :lol:

    Lebih rancu lagi ketika menyadari bahwa otoritas iman sama, tapi mendesakkan sesuatu di luar iman untuk mengkritiki iman itu sendiri. Apa bukan suatu paradoks itu namanya, Ged? :?

    *bingung* :|

    @ catshade

    Di sisi lain, mereka mempercayai sains yang mendukung keyakinan mereka. “Big Bang? Embryology? Ooooh, itu sudah diberitahukan sejak dulu lho oleh kitab agama saya. Itulah bukti bahwa kitab agama Tuhan saya memang satu-satunya yang nyata dan benar.” Hipokrit?

    *ngakak*

    Hipokrit itu bisa manusiawi. Apa ada yang bisa benar2 memegang satu sisi atau berdiri di satu pihak dengan konsekuen dan tidak hipokrit?

    Setahu saya, yang konsekuen cuma orang mati *lol*

    Lagipula…. bukankah setiap agama - bahkan sekedar kepercayaan pada Tuhan pun - sepertinya memiliki kecenderungan dogmatis untuk menipu diri sendiri?

    Hipokrit anyone?

    :P

  13. 13 ghaniarasyid™ Mei 21, 2008 pukul 20:35

    @ Guh :
    Mohon diperjelas BBM yang Rp 13ribu itu apa.
    Masa’ segitunya?
    13 ribu?!!!
    Premium???!!! :evil:

  14. 14 Kopral Geddoe Mei 21, 2008 pukul 21:53

    @ alex

    Ya saya sendiri rasanya di pertanyaan itu lebih ke nada bertanya, deh. :) Saya sendiri bukannya menyerang sikap “yang penting ini yang saya percaya!” itu (walau saya tidak setuju), bukan itu.

    Melainkan, lebih ke tidak konsistennya apabila menyerang iman orang lain padahal sendirinya menganut kepercayaan itu. Lha, kan menolak teori empiris karena menghargai “iman” manusia? Silakan, kita terima itu, tapi kenapa tiba-tiba ngotot menginvasi “iman” orang lain? Apa “iman” kita lebih berharga? ;)

    Intinya ya, kalau iman kita tidak boleh diusik (oleh sains misalnya), ya jangan mengusik iman orang lain (yang percaya si nabi dari Qadian misalnya). Bukan berarti kita mesti percaya, toleransi saja. :)

  15. 15 Iman Brotoseno Mei 21, 2008 pukul 22:10

    sebenarnya ini masalah persepsi sebagian orang di luar sana yang tiba tiba menjadi sensitif, bahkan beringas kalau sudah bicara agama. Kapan bisa belajar dialog dan menerima perbedaan persepsi.
    * Merenung

  16. 16 goldfriend Mei 21, 2008 pukul 22:13

    Hehehe…itu masih soal “Tuhan” yang katanya dikenal. Bagaimana dengan Tuhan Yang Tak Dikenal ?

  17. 17 alex® Mei 21, 2008 pukul 22:27

    @ geddoe

    Silakan, kita terima itu, tapi kenapa tiba-tiba ngotot menginvasi “iman” orang lain? Apa “iman” kita lebih berharga? ;)

    Benar… benar… Itu pertanyaan yang sama yang juga muncul di benak saya. :D

    Bukan berarti kita mesti percaya, toleransi saja. :)

    Seharusnya demikian memang. Seharusnya, menurut akal dan hati saya memang demikian harusnya.

    Tapi toleransi apa tidak terlalu menjadi sesuatu yang utopis, Ged ketika pernak-pernik iman ini mencuat ke publik? Persepsi yang tidak sama dan mungkin metode pendakwahan yang tidak mengena ke publik ini yang membuat satu ide dimusuhi.

    Saya bukannya tidak tertawa juga dengan sikap dari kelompok lain yang seolah-olah, maaf, Tuhan turun derajat menjadi seekor babi bunting mandi di comberan, karena ada yang mengimani dengan cara lain. :D

    Namun ketika ide-ide tersebut sudah memasuki ranah pemikiran ideologi lain, konsep lain, sehingga menggoyang fondasi pemikiran kelompok lain, hujjah dijawab dengan hujjah masih diterima sebagai diskusi, bukan?

    Kecuali… sudah main kayu. Kalo itu, saya sendiri jika tersudut akan ambil bagian. Dan itu tetap saja dengan pembelahan: Kalian, Saya dan Mereka.

    Hidup tetap saja pertarungan. Cuma membuat aturan main utk pertarungan ini yang sepertinya mesti dirembugkan lagi lho, Ged :P

    Oke…

  18. 18 Kopral Geddoe Mei 21, 2008 pukul 22:35

    Yup, masalahnya lebih kompleks dari itu. Sejauh ini prinsip saya hanyalah “jangan main kayu” itu tadi dulu. Soal diskriminasi bawah sadar, pemusuhan ide, itu nanti dulu. Toh sepertinya memang akan jadi masalah abadi. :)

    Jadi ya menurut saya sih ya sejauh ini jangan sampai ide-ide yang bertabrakan itu (yang mestinya tidak ada yang mendukung rusuh-rusuhan) jadi berbuntut pada pecahnya jendela dan kepala. Masalahnya terkadang; yang mayoritas terlalu rakus dalam menjaga pengaruh (”berangus saja daripada mempengaruhi generasi muda!”), dan yang minoritas terlalu nyentrik.

    Saya sendiri tidak punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Ada solusi? :)

  19. 19 alex® Mei 21, 2008 pukul 23:14

    Saya sendiri tidak punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Ada solusi? :)

    Menjadi evangelis yang turun ke jalan, mungkin? :D

    Karena saya sudah pernah mendakwahkan… ehm, sebut saja konsep sosialisme Islam saya, Ged. Dan tanggapan yang ada masih: Sosialis = Komunis = Atheis… :)

    Kenapa gagal? Karena cuma dalam bentuk diskusi di forum-forum, yang tak beda dengan eksklusifisme ala kelompok muslim yang lainnya. Yang cuma kompak di majelis ta’lim.

    Alhasil, konsep tidak pernah membumi.

    Namun ketika yang pertama dilakukan adalah pendidikan - istilah Guh mungkin PENCUCIAN OTAK - atau mungkin kaderisasi, agaknya lebih jalan. Ya, setidaknya saya boleh bilang ada pasukan yang utk fight kalo satu saat ada yang main kayu :P

    Lha? Ini Guh, misalnya, saya dorong2 jadi ulama ndak minat. Setidaknya kan bisa bikin pesantren pencerahan dengan metode satir yang bagus :P

    Simplifikasinya, Ged: kemiskinan dan kebodohan. Dua itu yang akhirnya membuat lebih banyak orang beragama yang menuhankan pemuka agama, dan merasa berarti dengan menjadi prajurit tuhan. Masi ingat makianku waktu kita ngobrol, saat di tipi sejumlah pembela agama ngobrak-abrik warung yang dituduh menjual miras?

    Dua-duanya dalam posisi yang sama: kebodohan dan kemiskinan. Satu pihak menebus dengan penebusan dosa pada Tuhan tapi membuat dosa sosial dengan ngemplang kepala orang yang cari makan. Satu pihak lainnya menebus kebodohannya dengan menutupi tambalan kemiskinan, meski haru jual miras.

    Kompleks, Ged. Sangat kompleks.

    Makanya, seperti saya sendiri, meski jijik dengan lumpur yang bernama politik dan organisasi, at least… bisa meracuni pikiran segelintir orang, mungkin lebih memudahkan ketika harus menjadi (atau dianggap menjadi) public enemy :)

  20. 20 Guh Mei 21, 2008 pukul 23:25

    @Tukangobatbersahaja, kembar itu berarti lebih dari satu ya :-P
    Itu 13ribu mbak, dan disini bukan dipake ngantor, tapi bawa banyak barang dan orang. Sepeda jelas bukan solusi sehat.

    @Ulan. Banyak, lihat aja di posting terkait. Maaf dari OM susah ngelink nih.

    @Danalingga, bukan “digelar lagi”, ini hanya menyarankan bersepakat untuk tidak sepakat.
    Supaya ga jungkir balik, pake iman aja :-P

    @Agiek. Apakah itu bisa diartikan logika sebagai musuh agama?

    @Kopral Geddoe,
    otoritas iman setara setara kan menurut pihak ketiga. Menurut yang terlibat, mungkin iman masing2 lebih juara dan boleh otoriter.

    @Daeng Limpo, entah. Mungkin komplikasi aksi beli, penimbunan dan pembatasan oleh pertamina. Disini tak hanya premium, tadi siang solar juga habis.

    @Nazieb, saya juga berpendapat agama dan logika tak mungkin bersatu. Semua ada tempat dan fungsinya sendiri, karena itulah saya setuju kalau agama sebaiknya tetap jadi urusan pribadi.

    @Catshade, Mungkin bukan hipokrit, tapi mengambil hanya hal-hal yang diperlukan untuk pembenaran.

    @Alex,
    Mungkin bisa anda simak lagi di TKP, saya sih nangkepnya mereka menyatakan tuhan itu banyak.

    Mungkin kalian, termasuk saya memang tidak waras karena meyakini adanya yang absurd. Yang saya sebut tidak waras disitu tentunya yang tidak warasnya melebihi kita. Yang suka
    ngatur dan MEMAKSAKAN cara berhubungan dengan sesuatu yang absurd tadi.

    Teman PKS bilang saya sok ngatur? Hehe. Terimakasih. Saya akan bercermin dengan lebih banyak gaya.

    Sepakat untuk tidak sepakat itu hanya dalam jumlah tuhan, dan baru sebuah saran. Apakah anda pikir jumlah tuhan masih bisa terus kita musyawarahkan? Silahkan. Lalu kira kira mufakatnya akan seperti apa ya?

    @Ghaniarasyid, ya tentu saja premium. Anda kira saya berdusta? FYI, saya nulis ini dari daerah Tulang Bawang, Lampung. Sepanjang Gunung Batin sampai Bandar Jaya malah bisa ditemukan eceran 15ribu per liter.
    Harga di SPBU tentu saja normal, tapi tidak ada barang. Selebihnya seperti yang saya tulis diatas :-)

    @Imam Brotoseno, nah, mungkin perlu dicari tahu dulu, kebiasaan jadi beringas dan anti dialog itu pengaruh dari siapa?

    @Goldfriend, terimakasih, nanti jadi bacaan sebelum tidur. Semoga itu bukan bacaan berbahaya.

    @alex vs geddo, gimana kalo salah satu membuka topik khusus cari formula solusi atas masalah intoleransi mayoritas dan nyentriknya minoritas atau apapun itu. Biar fokus. Saya mencium gejala kalian akan berpanjang lebar dan berat sekali. Kalau ga ada yang mau, saya bisa buka, tapi perlu judul yang ga bombastis, biar ga memancing respon bombastis, hehe.

  21. 21 alex® Mei 21, 2008 pukul 23:45

    Saya mencium gejala kalian akan berpanjang lebar dan berat sekali. Kalau ga ada yang mau, saya bisa buka, tapi perlu judul yang ga bombastis, biar ga memancing respon bombastis, hehe.

    *ngakak koprol*

    Gyahauhauahuaha… trauma sama postingan kemarin, Guh?

    Baru komen diskusi, belum diminta sumbang darah :P

    *dikemplang*

    Lha? Yang mau memperpanjang siapa? Secara garis besar, sikap Geddoe itu sudah pas bagi saya. Ndak perlu diperlebar lagi. Kecuali kalo salah satu dari kami ngotot mau benar, nah itu ndak akan ada titik temu.

    Yang paling bisa dilakuakan, Guh, cuma memperbesar kemungkinan agar ada kemungkinan untuk mungkin menerima kemungkinan-kemungkinan yang memungkinkan untuk dianggap sebagai kemungkinan bersama…

    *nah lho! bahasa saya jadi mblibet itu* :D

    Intinya ya itu: pengendalian diri *halahh…*

  22. 22 Oom Senang, Hati Riyang... Mei 22, 2008 pukul 5:44

    Tuhannya bengsin ajah….

    Barangkalee kalok rajin disembah harganya jadi turun….

    :D

  23. 23 sphere Mei 22, 2008 pukul 9:07

    ampuni saya. nyaris salah baca. PKS, saya kira PSK. maaf…

    salam kenal, mas Guh :)

  24. 24 goldfriend Mei 22, 2008 pukul 9:15

    @ Alex :

    Itu dikategorikan benar atau salah? Benar salahnya kita lihat darimana, Ged? Saya bingung sendiri ini. Karena terkadang saya sendiri menyalahkan sikap demikian, tapi pada kasus lain saya bisa membenarkan.

    Hehehehe… setahu saya setidaknya ada 2 “doktrin” dalam agama tentang “kebenaran” yang berpotensi menyebabkan masalah ketika dia ditampilkan keluar.

    1. Agama saya benar dan agama lain diluar adalah salah, dan
    2. Kebenaran dalam agama saya harus disebarkan pada orang lain.

    Memang itu dogmatis sekali karena biasanya adalah hal yang lumrah dlm agama. Tetapi jika salah menyikapinya, justru bisa berabe. Dan yang penting diingat kedua doktrin itu pakai logika “AND”. :)

    Karena saya sudah pernah mendakwahkan… ehm, sebut saja konsep sosialisme Islam saya, Ged. Dan tanggapan yang ada masih: Sosialis = Komunis = Atheis… :)

    Dan ditambah Marxisme, Leninisme, Maoisme, Radikalisme, Anarkisme, Che-isme, Castro-isme, Soekarno-isme, dll. Sepertinya bukan hanya fallacy yang perlu diajarkan sejak dini, tapi juga pengetahuan tentang isme-isme di dunia ini.

  25. 25 putradi Mei 22, 2008 pukul 10:24

    “sepakat untuk tidak sepakat saja” .. denger dimana gitu !

  26. 26 ard_ani Mei 22, 2008 pukul 14:55

    kalo tuhan ada banyak ..trus le ngatur alam iki gmn? ada yang pengen gini, satunya pengen gini…tapi paling semua pengen bunuh kamu!!!

  27. 27 jil Mei 22, 2008 pukul 22:28

    Hmmm, anggap saja sabda beliaw itu cara unik beliaw dalam meyakini Dia Yang Satu. Hehe, binun kan maxudny apa (?). Gw yg nulis aje binun :p
    Sepakat!!! …untuk tidak sepakat.

  28. 28 petroek™ Mei 23, 2008 pukul 8:56

    jangankan 13.000/liter guh, 50.000/liter aja klo emang perlu di pake buat nyetarter motor or mobil, pasti di beli juga…
    *tul ngak?*

  29. 29 economatic Mei 23, 2008 pukul 9:24

    Tuhan memang tidak pernah memaksa, tapi hanya memberikan petunjukNya. Mau ikut yang mana terserah, tapi kalo nggak mau ikut manapun juga nggak ada yang maksa. Harga BBM?
    Salam http://economatic.wordpress.com/

  30. 30 rajaiblis Mei 23, 2008 pukul 9:47

    Guh …
    bener nech kalo tuhan tu cuma satu ? yakin ?
    apa kita “melihat” dan “mendengar” dari tuhan yg sama ?

    but …
    tuhan aNE itu pelit, kasar, sangar, dan mau menang sendiri !
    dan Guh … buat menghuni dunia aNE di suruh bayar !
    kalo telat dikit kasih upeti, udah melengos …
    apalagi kalo gak kasih upeti … alamak … bakal runyam urusannya !

    tuhan eNTE katanya maha baek ya ?
    gak minta macem2 … gak minta upeti …
    cukup nempelin jidad ke lantai semua urusan beres ?
    trus … dengan sedikit gaya berurai air mata hingga kering dan pasang wajah memelas sambil berdendang dari pagi hingga pagi lagi, semua keinginan bakal dipenuhi ?

    aaaa .. enaknya …
    sungguh Guh … tuhan aNE gak begitu !
    ntar deh … aNE ceritain lagi kekejamannya !

    wakkkakakakakaaa …

  31. 31 adit Mei 24, 2008 pukul 1:27

    iya nih BBM naek lagi..

    e … tapi setelah BBM bbrp kali naik bbrp tahun belakangan ini, tarif Kereta KRD Ekonomi Bandung Raya dari Kiaracondong ke Cimahi tetap saja Rp 1000…, so masih bersyukur ttng ini, walaupun harga2 lainnya dipastikan bakalan naik

    btw tuduhan penyerangan thdp PKS yah … ?, saya jd bertanya-tanya sebaliknya, apakah ada juga yg menuduh Hidayat Nur Wahid menyerang Ahmadiyah .. ????

  32. 32 ayahshiva Mei 24, 2008 pukul 12:22

    13rebu?
    emang didaerah mana tuh

  33. 33 Guh Mei 24, 2008 pukul 13:10

    @Alex, bukan trauma, hanya antisipasi.

    @Sphere, salam kenal juga.:-)

    @Goldfriend, nambah, bukan hanya isme, tapi perlu juga mengajarkan sejarah munculnya isme2 dan agama2.
    Semuanya diajarkan, tidak hanya yang sesuai label ktp.

    @ard_ani, semua tuhan pengen bunuh saya? Hehe, *tersanjung*

    @Jil, cara uniknya dengan memaksa?
    Sepertinya susah juga untuk mencapai kesepakatan. Apalagi bagi pihak yang dipaksa tapi bisa melawan.

    @petruk, bener banget. Apalagi setelah beberapa hari harga di kisaran 13rb, kalau sekarang jadi 7rb rasanya baik2 saja. Cerdik juga itu jakarta.

    @Economatic, salam. Edit profile aja pak, biar ga bolakbalik ngetik url.

    @Rajaiblis, tuhan yang bicara tentu saja sama, tapi karena receivermya beda, pemahaman atas pesan yang sama bisa berbeda. Saya melihatnya sebagai maha asik, anda melihatnya sebagai maha pelit. What to say? :-P

    @Adit, mungkin saja ada :-)

    @Ayahshiva, pulung kencana, tulang bawang, lampung, pak. Hari ini mungkin sudah “turun”.

  34. 34 rajaiblis Mei 25, 2008 pukul 8:31

    hahahahhahahaaa …
    rupanya tergantung receiver ya ?
    ya .. ya… ya …
    seperti yg kerap aNE bilang …
    karena pemahaman manusia yg cetek malah iblis yg dipenggal !

    wakkkakakakaaaa …

Tinggalkan Balasan




Arsip