Setelah berkerut jidat dan hati selama beberapa puluh jam, akhirnya saya mulai memahami maksud pelajaran hidup kali ini. Saya tuliskan disini dengan gaya sok tahu, siapa tahu bisa bermanfaat… Andai pun pemahaman ini salah, semoga anda yang lebih berpengalaman sudi untuk berbagi koreksi.
. . . . .
Untuk kamu semua yang sedang bimbang karena menemukan seseorang yang lebih berkualitas dan lebih menjanjikan dari pacar kamu yang sekarang.
Tanyalah pada akalmu, mana yang lebih mengerikan, terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang yang mengecewakan, atau dituduh tidak setia oleh seseorang (atau beberapa orang) yang ngakunya mencintai kamu?
Semua mahluk menginginkan kebahagiaan. Kamu juga. Lalu untuk apa menuhankan kata “setia” dan mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri?
Buang saja pacarmu yang kadaluarsa itu. Jangan sia-siakan kesempatan baik untuk memperbaiki nasib, meningkatkan kesejahteraan dan memburu kebahagiaan.
Tak usah kuatir urusan karma. Bukankah tak akan ada akibat tanpa ada sebabnya? Kalaupun si kadaluarsa yang kamu buang itu merasa sedikit sakit atau menderita karena kamu putusin, ya memang udah waktunya dia paying dues. Kamu hanya mengambil peran dalam sebuah proses yang memang harus dia jalani dalam melunasi utangnya yang sudah jatuh tempo. Kalau tahu diri, harusnya dia malah berterimakasih sudah kamu putusin.
Masalah mantan kamu ternyata misuh-misuh dan menuding kamu sebagai jahat dan tidak setia, tak perlu kamu pusingkan. Waktu yang dia butuhkan untuk pulih dan menemukan pengganti yang lebih baik dari kamu pasti jauh lebih singkat dari waktu yang dibutuhkan Telkomsel untuk memperbaiki layanan TelkomselFlash Unlimited-nya yang parah itu. Yakinlah kalau mantan kamu akan selalu baik-baik saja.
Ada kelahiran maka ada kematian. Ada pertemuan harus ada perpisahan. Ada yang pisah karena kematian, ada yang pisah karena salah satu menemukan pasangan yang lebih baik. Semua itu sebenarnya hal biasa dalam kehidupan, kita saja yang sejak kecil sudah dicuciotak hingga menganggap hal itu terlalu serius.
Saran ini berlaku juga untuk kamu yang sudah terlanjur menikah. Kalau mau cerai ya cerai saja, tak usah menipu diri dengan berpura-pura cocok padahal sudah tidak cocok.
Terlanjur punya anak pun tak masalah. Perceraian justru akan membantu anak kamu belajar menerima kenyataan.
Kenyataan bahwa “kesetiaan” bukanlah Tuhan.
Kenyataan bahwa perpisahan hanyalah hal yang biasa-biasa saja.
Kenyataan bahwa kematian akan selalu menghinggapi segala sesuatu yang hidup… termasuk juga cinta.
Sebelum protes, tanyalah pada diri sendiri, bayangkan kamu sudah punya seorang puteri kandung yang cantik jelita yang sangat kamu sayangi, yang berada dalam kembimbangan seperti diatas, apa yang akan kamu sarankan? Pastilah kamu akan menyarankan hal yang sama kepadanya: Buang saja pacar yang tak bermutu, singkirkan yang tidak menjanjikan, dan bookinglah yang oke-oke aja.
Makanya itu, jadilah orang yang berharga, jangan jadi sampah yang layak buang seperti itu.
*melirik cermin*
Eh… sharing ini memang TIDAK ditujukan untuk kamu yang bakat poligami atau poliandri, jadi kalau mau membanggakan berapa jumlah anak orang yang kamu pacari dalam satu saat atau jumlah kelamin yang sudah kamu nikmati, silakan tidak diruangan ini.
Terimakasih.
Komentar Terbaru