Maaf, ini bukan tentang Para Penguasa Bijak yang membuat rakyatnya kekurangan kedelai, Ini hanyalah sebuah cerpen ringan tentang kematian Paman Gobel (bukan Gober, bukan pula Gobalgabel). Sedikitpun tak ada hubungannya dengan tahu dan tempe yang menghilang dari warung dan pasar.
Paman Gobel mati, isunya over dosis viagra. Tabloid relijius menyatakan beliau sebagai calon penghuni surga, karena meninggal saat menafkahi istrinya yang ketiga. Yang pasti, Paman Gobel tewas sambil tersenyum puas.
Persis seperti apa yang selama hidup dia yakini, sebelum masuk surga atau neraka, manusia harus melewati proses penghakiman. Yang berbeda adalah antriannya: tidak ada deretan panjang manusia bugil yang antri sambil berdiri. Dengan pakaian putih yang modelnya aneh, setiap orang cukup mengambil nomor lalu boleh duduk di tempat penantian yang sangat nyaman.
Gobel mengamati sekitarnya, dalam area yang bentuk dan luasnya tak bisa dijelaskan akal itu ternyata banyak juga orang-orang lain. Ada yang duduk serius sambil merapal mantra, ada yang nangis sesenggukan, ada juga yang tidur sambil mendesah seakan mimpi basah. Yang anehnya kebangetan, ada segerombol orang-orang ketawa-ketiwi, beberapa diantaranya ketak-ketuk Laptop, colak-colek PDA atau mijitin HP. Dalam hati Gobel menduga, pastilah mereka itu para blogger yang masih terobsesi mengupdate blog, sekalian kopdhar. Kopi ahirat.
Gobel duduk rileks menanti sidang. Tidak ada sedikitpun kekhawatiran dalam hatinya. Dia yakin, semua tingkah dalam kehidupannya kemarin telah sesuai aturan kitab yang maha benar. Dalam hidupnya, Paman Gobel menggaji banyak ahli agama, untuk memastikan agar setiap perbuatannya selalu sesuai dengan kitab. Apapun akan dilakukan, berapapun biaya akan dikeluarkan, asal setiap aksinya mendapat dukungan ayat.
———
Terkenang kehidupannya selama di dunia..
Paman Gobel memang super kaya. Walau caranya kaya tak sesuai hukum negara, tapi tak pernah melanggar hukum agama. Rajin pula mensucikan harta. Saking beliau terlalu kaya, tiap kali iring-iringan Land Cruiser-nya bertemu gentong/drum/ranjau ditengah jalan (pertanda ada rumah Tuhan butuh sumbangan), dia langsung berhenti, bertanya dana kurang berapa, lalu membayari semuanya. Tak heran kalau banyak rumah Tuhan yang mengabadikan namanya.
Urusan menyingkirkan saingan pun dilakukan sesuai anjuran agama. Tentara pribadi Paman berdisiplin tinggi, hanya menyerang musuh yang sudah dicap sesat atau kafir. Hanya membantai mereka yang dituduh sebagai musuh-musuh Tuhan. Dalam setiap penyerangan, pasukan Gobel tak lupa meneriakkan pujian-pujian pada Tuhan.
Begitu juga dalam urusan pemuasan hobi, menikmati tubuh wanita, selalu sesuai prosedur. Mulai dari aturan mahar, sampai jumlah maksimal wanita yang boleh dinikmati dalam satu saat, semuanya dipatuhi tanpa cela, sesuai perintah agama.
Paman Gobel sumringah, yakin betul akan mendapat sertifikat sebuah kapling di surga.
———
Sebuah suara dalam kepala memanggil nomornya, Paman Gobel bangkit, melangkah penuh wibawa, wajahnya cerah bercahaya, yakin tak punya dosa.
Sidang dimulai. Setiap pertanyaan dijawabnya dengan lancar jaya. Semua berkat tips, kisi-kisi dan bocoran soal yang pernah diterima dari guru-gurunya di dunia.
Sekarang giliran anggota badannya, masing-masing diinterogasi, apa saja yang pernah diperbuat. Dengan posisi berdiri seperti orang senam, kedua tangan lurus ke atas, semua organ tubuh bercerita satu persatu, menceritakan semua yang pernah dikerjakan, mulai dari ujung kaki.
Dalam hati Paman Gobel sudah tak sabar, “Huff… mau masuk surga aja kok refot!!” Di kepalanya sudah terbayang bidadari-bidadari yang selalu perawan. Semua bisa dinikmati tanpa harus berpoligami. Tak perlu khawatir dikejar-kejar wartawan, aman dari kritikan para blogger sesat yang kurang iman.
———
Singkat cerita, ternyata pengadilan menentukan Paman Gobel harus masuk neraka.
Tentu saja Paman Gobel murka tidak terima. Debat kusir pun terjadi, panjang kali lebar.
Berkat pola pikir “POKOKNYA!”, Paman Gobel selalu menang dalam setiap adu argumen. Lama tak berkesudahan. Akhirnya Tuhan sendiri yang menendangnya ke neraka.
Sebabnya masuk neraka ternyata sederhana,
Jemari paman gobel bercerita: Selama di dunia, jemari Paman Gobel sering dipakai ngeblog dan tebar komentar yang sia-sia, tak ada manfaat kecuali menghamburkan bandwidth.
Seringkali tulisannya malah berbahaya, isinya selalu mengajak manusia takut berpikir, rajin menebar permusuhan, memecah belah bangsa, mengadudomba, dan dengan arogan luar biasa menebar tuduhan kafir sesat kemana-mana. Yang paling parah, semua kerusakan itu selalu dilakukan dengan mengatasnamakan Tuhan. Padahal Tuhan belum sekalipun memberikan mandat.
- - - - Sekian - - - -
Mohon maaf atas ending yang melenceng dan dipaksakan, ternyata membuat cerpen liar, rasanya bisa sangat melegakan lho!! Tertarik mencoba?
Asal hati-hati, jangan sampai di ahirat nanti bernasib seperti paman Gobel :P
Komentar Terbaru