Peringatan: Tulisan ini dibuat dengan kadar jaim yang minimal.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman sempat bimbang karena ternyata ongkos mengirim coklat lebih mahal dari harga coklatnya sendiri. Akhirnya tetap dia kirim juga, karena makna pengiriman itu baginya lebih berharga dari uang berapapun. Di kampung sebelah, seorang kawan terharu dan kehabisan kata akibat sebuah posting manis dan penuh sayang dalam blog kekasihnya. Sedangkan di Sunter, si semprul yang perokok belum merokok lagi sampai sekarang, tak berhenti senyum dan matanya terus berbinar-binar, ternyata cintanya dibalas seorang gadis yang tak suka bau rokok.
Yang jelas beberapa hari ini ada banyak sekali senyum, ada banyak hati yang berbunga, ada banyak terimakasih dan rasa syukur merekah dari jiwa-jiwa yang mendadak lembut karena cinta.
Sementara itu di saat yang sama… di berbagai sudut suci…
Manusia-manusia religius ramai mencak-mencak, dengan garang dan penuh semangat sibuk mengharamkan perayaan kasih sayang. Bahkan ada yang menjatuhkan vonis murtad pada teman seagama yang berani merayakannya.
Keganjilan yang rutin setiap tahun ini tak hanya membuat orang bingung, tapi juga memicu gelak tawa. Setiap tahun perdebatan yang sama selalu berulang, topik yang masih itu-itu juga, pro kontra diantara dua golongan yang tak saling memahami.
Kali ini ijinkanlah saya menjadi pahlawan kesiangan dan mempersembahkan sebuah tulisan, yang semoga saja bisa membuka jalan damai bagi semua pihak untuk bisa saling memahami sumber masalah dan akhirnya bisa menentukan bagaimana harus mengambil sikap.
Hubungan Religiositas dan Kemesuman
Sekarang, mari kita simak dulu teori berikut ini. Sebagai catatan, saya tak tahu siapa pencetus teori ini, semoga segera ada yang mengaku sebelum saya klaim sebagai karangan saya sendiri.
Sejalan dengan meningkatnya level religiositas, maka hati manusia akan semakin keras; makin mudah marah dan makin mudah mengutuk; makin fanatik dan semakin merasa paling benar sendiri; semakin maniak dengan keseragaman hingga menumbuhkan sifat anti keberagaman dan permusuhan terhadap manusia/golongan lain yang berbeda pemahaman. S
etelah mencapai level tertentu, pada bagian dahi akan muncul bundaran-bundaran gelap seperti akar tanduk yang tak kasat mata.
Semakin seseorang menjadi semakin religius, maka libidonya juga akan semakin menggebu-gebu. Nafsu seksnya semakin meninggi hingga apapun yang dilihat, didengar dan dipikirkan akan selalu dikaitkan dengan urusan selangkangan, urusan SEKS.
Untuk alinea pertama, mungkin anda sudah mengangguk-angguk karena sering melihat kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bagaimana dengan alinea kedua?
Buktikan Sendiri!
Jadilah orang religius dan tingkatkan terus religiositas anda. Buktikan sendiri apakah nanti anda jadi semakin mesum.
Atau, daripada kelamaan, sambil menunggu religiositas anda meningkat, cobalah bertanya pada guru anda yang jujur, juga pada catatan-catatan sejarah maupun berbagai arsip berita disekitar anda: Bagaimana prilaku seksual tokoh-tokoh top religius di dunia ini?
Anda tak perlu mencari contoh jauh-jauh ke Timur Tengah, India atau Cina. Mulailah dari sekitar kita saja, top religius nasional atau top religius lokal di dusun anda. Bagaimana prilaku seksual mereka? Atau… sebaiknya jangan sih… tapi kalau berani silakan tengok juga top religius di Dewan sana, lihatlah siapa yang fokusnya selangkangan melulu? Perhatikan juga bagaimana prilaku seksualnya?
Anda lihat sendiri kan? Semakin tinggi level religiositas maka manusia akan semakin tergila-gila pada seks. Ada para pemberani yang terang-terangan menambah koleksi partner seks, malah menggunakan agama untuk membenarkan. Ada pula yang sok jaim tapi diam-diam selingkuh di belakang layar, padahal ketahuan juga. Sisanya yang tidak laku (atau tak mampu) akan bertingkah sok suci seolah mereka antiseks, tapi sambil melampiaskan ledakan energi mesumnya kedalam wujud lain yang beraroma kebencian, seperti aksi pengerusakan, disintegrasi bangsa, terrorisme dan menebarkan ancaman seperti menulis blog religius yang penuh dengan ancaman dan kutukan.
Buah dari Kesadaran : Larangan
Setelah memahami hubungan religiositas dengan meningkatnya gairah kemesuman, sekarang kita bisa mengerti kenapa manusia religius suka melarang-larang. Kenapa mereka penuh semangat dalam menutupi atau menyingkirkan setiap hal yang dianggap sebagai godaan.
Mereka melakukan itu karena mereka adalah orang-orang yang berkesadaran tinggi. Mereka sadar betul –ini sesuai dengan teori– jika pada level religiositas yang semakin tinggi, hasrat berbuat mesum jadi terlalu dahsyat, saat itu pengendalian diri menjadi sesuatu yang mustahil. Sedikit saja godaan sudah cukup untuk membuat manusia religius kehilangan kendali, berubah jadi buas dan liar.
Karena itulah perlu dilakukan preemptive attack, sejak awal singkirkan saja hal-hal yang dikhawatirkan akan mampu menggoda. Contoh: Daripada gagal mengendalikan diri lalu memperkosa orang gara-gara melihat pakaian agak terbuka, lebih baik semua wanita dibungkus rapat-rapat agar tidak menggoda lagi. Tak hanya wanita, bibir-bibir waria juga harus ditutup masker, semua lekuk pantat harus disembunyikan dibalik tirai, sampai telapak tangan (lelaki maupun perempuan) pun kalau perlu dibungkus karena bisa memicu hasrat bermesum. Undang-undang pun perlu disusun untuk memaksakannya terjadi.
Religiusnya Larangan Merayakan Hari Kasih Sayang
Kebencian yang amat sangat ditambah hasrat mesum yang meletup-letup membuat segala hal tampak seperti bahaya seksual yang mengancam.
Mungkin, mendengar kata “perayaan hari kasih sayang” saja sudah memicu hayalan seks yang ekstra mesum: Dalam imajinasi langsung terbayang anak-anak yang merayakan kasih sayang dengan saling peluk, cium, jilat, gigit, penetrasi atas-bawah-depan-belakang sampai ejakulasi dan squirting berkali-kali, cairan kelamin pun berceceran diantara cambuk, kondom, kitab, vibrator dan segala macam aksesoris pesta seks.
Jadinya sangat bisa dimengerti jika merayakan hari kasih sayang dianggap sangat biadab, berbahaya dan amat merusak moral.
Kesimpulan dan Saran
Jelas sekali bahwa pro-kontra rutin tentang perayaan hari kasih sayang ini disebabkan kesenjangan religius. Pihak yang level religiositasnya sangat tinggi dan pihak yang tidak religius gagal saling memahami. Semoga setelah membaca uraian tadi, sekarang kita semua bisa saling memahami.
Saran saya untuk kaum yang religius, sudahlah, tak perlu buang-buang energi dan menaikkan tensi. Mereka yang merayakan itu memang manusia-manusia kurang iman, tingkat religiositas mereka terlalu rendah, tak tertolong. Yang penting anda sudah memberikan peringatan. Tak usah memaksa-maksa apalagi sambil marah-marah, bukankah dalam agamapun tidak ada paksaan? Kalau mereka memang memilih masuk neraka ya mau bilang apa? Lebih baik anda fokus untuk berburu pahala agar nanti bisa menikmati tubuh bidadari-bidadari surga yang selalu perawan ;)
Saran saya untuk kaum yang tidak religius: Coba perhatikan teori diatas, ada yang bunyinya “merasa paling benar sendiri”. itu harusnya sudah cukup untuk membuat anda berhenti melakukan debat kusir yang sia-sia. Berhentilah memboroskan energi, lebih baik anda fokus meningkatkan kualitas pendidikan, agar generasi mendatang bisa tumbuh menjadi manusia-manusia yang lebih waras.
Penutup
Demikianlah penjelasan yang berasal dari pemahaman saya, semoga bisa berguna. Oh iya, anda tak harus menerima pemahaman saya. Sama halnya seperti sejarah, kenyataan pun bisa disangkal lalu diputarbalikkan. Kenyataan yang saya lihat seperti itu, kenyataan yang anda lihat mungkin jauh berbeda
Siapa tahu anda punya penjelasan yang lebih benar? Silakan berbagi secara bijaksana dan bijaksini. Silakan diluruskan jika ada hal-hal yang kurang lurus. Jangan biarkan kesoktahuan berkembang menjadi fitnah, apalagi fitnah yang sifatnya broad spectrum.
Mari kita bisa belajar bersama, semoga tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita, dan kalaupun terjadi semoga kita bisa saling memaafkan.
- - - - - - - - -
Satu lagi pesan saya untuk umat yang merasa seksi dan baik hati: Berhati-hatilah kalau berurusan dengan orang mesum! Sebab bisa saja mesumnya itu adalah pertanda bahwa dia seorang yang religius seperti saya.
Wassspadalah
Komentar Terbaru