Beda tingkat Pemahaman

Seperti halnya tubuh, pemahaman pikiran tentang segala hal juga terus tumbuh.

Contoh…

  1. Pada awalnya kita begitu lugu dan polos. Bisa berteman dan beramah tamah dengan semua orang, tanpa peduli latar belakangnya.
  2. Setelah mendapat pendidikan agama kita mulai berkembang, bisa memilah mana teman yang kafir, mana yang seiman. Tapi tetap bisa berteman secara wajar.
  3. Semakin pemahaman kita berkembang, kita mulai memahami kenapa kita harus mewaspadai, mencurigai dan membenci siapapun yang tidak seiman. Kita mulai memilih yang seiman, dan jika tidak bisa mengubahnya, kita dapat menyingkirkan yang tak seiman.
  4. Pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi lagi, kita bisa membenci, bahkan membantai orang tidak seiman karena (di belahan bumi yang lain) orang-orang yang tidak seiman sudah menganiaya dan membunuhi orang yang kita anggap seiman. Kita bahkan melakukannya dengan senyum sambil merasa sudah membela Tuhan dan Agama.

Semakin jauh perbedaan tingkatnya, maka akan semakin sulit untuk saling memahami.

Dulu saya menduga bahwa kesulitan ini selalu dialami oleh pihak yang pemahamannya lebih rendah. Saya membayangkan anak TK yang akan sulit memahami pemahaman mereka yang sudah Mahasiswa. Saya salah. Ternyata Mahasiswa pun tak selalu berhasil memahami jalan pikiran anak TK. Jangankan yang berbeda level, sesama Mahasiswa saja sering sulit paham.

Banyak orang ‘lupa’ bahwa mereka pernah ‘berkubang di dalam comberan yang sama’. Tidak ingat jika dirinya juga pernah berada pada tingkat pemahaman (yang sekarang dianggapnya rendah) dan begitu betah berlama-lama disana.

Tidak hanya betah, tapi saat diingatkan juga membangkang karena merasa dirinya lebih benar dari yang mengingatkan. Kadang justru yang masih berkubang menarik paksa orang-orang yang sudah bersih, dengan niat dan semangat menolong.

Sebenarnya siapa yang lebih tinggi? Siapa yang lebih benar? Mana yang lebih berkembang? Bahkan dalam mengurutkan 4 poin yang dijadikan contoh diatas pun kita bisa tidak sepaham. Dan untuk sedikit memperumit… Sang Dualisme sialan telah menyediakan kebalikan dari setiap keadaan, seperti mundur untuk maju dan susut untuk kembang.

Selamat tidur.

– – – – –

*Tulang Bawang – hampir setengah 3 pagi, tak lama setelah menamatkan Dragon Ball Z Saga bajakan.*

Tag:, , ,

19 responses to “Beda tingkat Pemahaman”

  1. Emanuel Setio Dewo says :

    Kalau sudah begitu sebenarnya terjadi kemunduran ya?

  2. Mbelgedez™ says :

    .
    Tulang Bawang ???

    (Lokasimu jauh banget ya boss…)

  3. ManusiaSuper says :

    The more you know..
    The more you realized you dont know..

    *ngutip ngawur*

  4. agorsiloku says :

    Tingkat pemahaman dan pengetahuan kan tidak identik dengan toleransi dan intoleransi. Banyak sekali orang dengan tingkat pengetahuan yang tinggi dan kekuasaan paling tinggi membangun satu peradaban baru yang menurutnya paling baik, suku bangsa paling baik, paling cerdas, dan karenanya bangsa lain harus dihancurkan dan dimusnahkan. Intinya ada pada keangkuhan golongan. Ini terjadi dari berbagai sudut ideologi dan pemahaman : apakah karena agama, ras, atau kontrak sosial yang terjadi.

    Karena itu ranah berpolitik (atas nama ideologi agama, ideologi sosialis, liberalis) yang berujung pada hasrat kekuasaan cenderung untuk bertindak kotor dan intoleransi.

    Justru agama dalam pemahaman kebertuhanan yang berorientasi pada amal shalih, yang berposisi atau memposisikan dirinya sebagai hamba akan mengurangi secara terus menerus peran serta ranah kekuasaan dalam dirinya. Sedangkan kepentingan golongan dan ideologi justru memposisikan dirinya untuk selau mengatur dan berbenturan.
    Karena itu, dalam pemahaman wali, pemahaman makrifat, pemahaman di sekitar ini, maka penyakit kebencian akan terkikis oleh cinta.

    Salam… agor.

    • Guh says :

      Jadi memposisikan diri sebagai hamba, melayani dengan cinta, akan mengikis hasrat berkuasa. Gitu ya.

      btw, untuk “beramal salih” tidak harus beragama kan?

  5. dony says :

    saya juga susah sepaham dengan dia :)
    hehehehehehe

    *benerjauhtulangbawang*

  6. 848 says :

    emang susah kalo dasarnya udah bar barian … :? apalagi kalo sudah “pokoknya” barbarian ya barbar !

  7. bodrox says :

    masih bisa ditambah gak listnya mas?
    tingkat kesadaran apa lagi yah yang lebih tinggi dari Genoside :(

  8. chamid says :

    bahasanya serem

  9. chiw says :

    mungkin memang yang maha suka mengatur mengkondisikan demikian Guh…

    :D

    entah apa tujuannya…

  10. CY says :

    Kata kuncinya kan “semakin pemahaman kita berkembang” Guh, nah berkembangnya itu kearah negatif atau positif?? Kalau yg ke arah negatif itu pasti ada unsur “bantai membantai nyawa” nya. Krn pencerahannya terbalik hehehe…

  11. lovepassword says :

    Saya rasa yang dibahas memang 2 topik yang berbeda. Toleransi, dll tidak mesti dikorelasikan dengan berpengetahuan atau tidak. Masalahnya di dalam proses belajar itu sendiri kan ada seleksi atas apa yang dipelajari

  12. r1ngpiston says :

    mas guh,

    apakah yang di luar kubangan dan hendak menolong itu lebih paham dari yang didalam kubangan? jawabnya tidak kan? (sama spt anak kuliahan yang tidak bisa mengerti jalan pemikiran anak TK)

    apakah di luar kubangan selalu lebih “positif” daripada di dalam kubangan? tidak juga kan bro?

    trus mending mana di dalam atau di luar kubangan bro??? hehehe *mbuletisasi* kah??

    apakah yg merasa *mbuletisasi* itu lebih tidak paham daripada yg mengerti?? huehehehehe

    menurut gue, sebenarnya semuanya satu bro, ada pria ada wanita, ada hitam ada putih, ada negatif ada positif

    jadi, kita semua disini saling koment satu sama lain dgn tujuan yg sama dgn tujuan ditulisnya artikel ini, yaitu semuanya saling menghargai dan saling melengkapi, jadi boleh saja semakin mendalami pemahaman apapun, tapi musti saling menghormati dan menghargai, jangan minta semuanya sama, jangan minta seluruh dunia menjadi satu warna, karena kalau gitu ntar semua keturunan kita bakal jadi buta warna…. hehehe

  13. watonist says :

    Kadang justru yang masih berkubang menarik paksa orang-orang yang sudah bersih, dengan niat dan semangat menolong.

    keburukan memang tidak pernah mampu mendapatkan pembenaran secara kualitas, maka diambillah jalan lain … pembenaran secara kuantitas.

    kebenaran tidak hanya dimonopoli oleh mereka yang agamis, bukan pula oleh mereka yang non agamis … tetapi adalah pasti hak dari mereka-mereka yang jujur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s