Merasa Tercerahkan #1

Kenapa saya jadi malas menulis?

Ada beberapa jawaban yang bisa dijadikan pembenaran
Pertama, karena saya kehabisan waktu (terimakasih pada manajemen waktu yang buruk)
Kedua, karena saya tercerahkan.
Ketiga, karena saya memang aslinya malas.

Dalam tulisan ini, saya memilih jalan tengah, pembenaran kedua. Karena keren. Ngaku “tercerahkan” itu rasanya keren keren gimanaaa gitu…

Jadi inilah asal muasal segala kemalasan ini…

Sejak membaca sedikit rahasia terlarang, saya jadi benar-benar berpikir kembali. Terutama tentang ide bahwa ‘setiap orang berhak membual apapun tentang apa yang tidak bisa dibuktikan. Dalam hal ini, tentang akhirat dan tuhan. Dua hal yang jadi kekuatan utama dari hampir setiap agama.

Silakan baca dulu kalau belum, pendek kok. Sebentar lagi link itu mungkin expired karena domainnya membasi. Bakal rugi kalau tak anda klik sekarang. Maksudnya saya yang rugi. Hehe.

Sudah?

Nah, kita hangatkan lagi.

Intinya tulisan itu, berdasarkan pemahaman saya. begini:

Saya bisa katakan pada anak gadis anda seperti ini : “Adik manis yang seksi, nanti setelah mati, ada telaga penuh siksa yang akan menyiksa kamu jika kamu tidak menuruti apa yang saya katakan, dan ada surga yang bisa kamu nikmati jika kamu jadi anak baik dan mau menuruti segala keinginan saya, terutama untuk mengangkang.”

Dan, saya juga bisa ajarkan pada anak perawan anda bahwa “Tuhan yang maha bening itu biru, sukanya putih butek, dan benci jika kamu metalik.”

Saya bebas ajarkan apapun, seabsurd apapun, sekontradiktif apapun. Pun jika saya cukup cerdas, saya akan sisipkan beberapa hal untuk menimbulkan kesan logis, adil dan bijak.

Anak gadis anda itu tidak akan pernah bisa membuktikan benar atau salahnya pernyataan apapun yang saya buat tentang akhirat. Kecuali dia MATI dulu, melihat akhirat dan membuktikannya sendiri. Saat itu tentu sudah sangat terlambat. Daripada hidup tanpa pegangan, maka bocah seksi itu saya beri saran bijak: “Percaya saja lah, nothing to loose kok. Manut saja sama saya. Kalau nanti ternyata yang saya bilang benar, kamu akan selamat dari pedihnya api neraka.”

Sebenarnya setiap orang punya hak mengarang yang sama. Tapi untungnya kreatifitas orang berbeda-beda. Karena kebetulan anak gadis anda itu tidak hanya vaginanya saja yang masih perawan, tapi pikirannya juga, maka saya rayu dia dengan keseksian saya yang kharismatik. Keperawanan otaknya saya perkosa berulangkali, saya hujami dengan doktrin, dan dalam gelinjang imannya, saya buat semakin basah dengan semburan ajaran. Tentunya dengan konten yang saya yakini akan menguntungkan seluruh umat manusia, dimulai dari menguntungkan ego saya.

Setiap orang yang meragukan cerita saya, dengan mudah saya todong dengan pernyataan : “Kalau kamu tidak percaya pada kemahabenaran saya, coba saja mati dan buktikan sendiri. Berani hah? Hah? HAH? Nah, tidak berani kan? Kamu takut kan? Itu lah… Tuhan Yang Maha Benar memang selalu menyelipkan rasa gentar pada setiap orang yang sesat, yang tidak punya pegangan, yang tidak berpegang pada buhul yang kuat! Seluruh kulit mereka akan bergetar karena takut!! Keringat dingin mengucur!! Degup jantung berantakan! Makanya, jangan berani-berani meragukan kebenaran saya yang sejati banget inih!! Akulah sang hyang tukang penyelamat, kamu jangan berani macem-macem!”

Errr… Barusan itu hanya untuk menjelaskan lho. Cukup Jelas kan?

Yang bisa berbuat seperti itu bukan hanya saya. Tapi setiap orang bisa mengarang, meyakini dan menceritakan ceritanya pada siapapun disekitarnya. Awalnya memang sesederhana itu.

Saat ego, keinginan berkuasa ikut serta dalam permainan, maka semuanya menjadi sedikit lebih rumit. Orang mulai mengarang cerita dengan kadar menakut-nakuti yang lebih intens, dengan tujuan utama membuat orang “bersujud”, “takluk” dan  “manut-semanut-manutnya” pada tuntutan cerita. Beberapa yang lebih ceria memaksimalkan konten “janji muluk”. Sedangkan para moderat dan kompilator ulung yang datang belakangan menggabungkan keduanya untuk mengendalikan manusia. Semuanya berebut umat.

Ego pula yang membuat para pengarang cerita (atau plagiator kreatif) dan peyakinnya merasa cerita mereka lebih baik dari cerita yang lain. Yakin Paling benar. Paling agung dan mulia. Yang lain hanya ecek-ecek, kelas monyet, berasal dari tingkat peradaban yang lebih jahiliyah. Keributan sering terjadi, karena siapa pula yang rela kalau keyakinannya dianggap ecek-ecek atau produk bullshit jahiliyah?

Para Politisi yang kebetulan jadi Penguasa ikut membuatnya jadi benar-benar rumit. Hayalan tentang tuhan dan sesuatu setelah kematian digunakan untuk memperalat manusia. Untuk membuat titah yang mengatur hidup manusia. Sering kali mereka memperlakukan manusia sebagai hewan tak berakal atau lebih rendah dari itu. Yang bisa dikendalikan dengan hanya dengan ancaman-ancaman dan janji-janji muluk yang adanya hanya dalam pikiran..Ancaman dan harapan yang kebenarannya hanya bisa dibuktikan oleh orang yang mati, atau dimatikan.

Menggunakan tuhan dan akhirat sebagai alat bertitah memang cara yang praktis. Misal, saat kita bersabda agar rakyat membuang sampah plastik pada tempatnya, kita tak perlu repot menjabarkan latar belakang titah itu. Cukup ancam dengan api neraka bagi pembangkang, janjikan surga bagi penurut, maka mayoritas akan manut. Ini juga efektif ketika digunakan untuk membuat manusia mau melakukan hal-hal yang absurd, seperti misalnya agar meneriaki atau meledek sesuatu yang mereka yakini sendiri sebagai tuhan.

Apakah dengan ini saya sedang meledek agama, tuhan, dan umatnya sekaligus? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak.

Saya justru sedang tercerahkan, ternyata semuanya itu sama-sama benar. Maksud saya, semua klaim tentang akhirat, segala cerita surga dan neraka di alam sana itu ternyata semuanya benar. Tidak mungkin salah. Seatheis apapun, seskeptis apapun anda, anda tak akan pernah bisa membuktikannya salah. Kecuali anda sudah sampai disana, melihatnya sendiri. Setelah membuktikannya pun, anda hampir tidak mungkin kembali untuk berkoar-koar. Kalaupun kembali, anda akan kesulitan untuk membuktikannya. Setiap orang tetap bebas membuat, memilih dan meyakini cerita yang disukai.

Dengan meyakini sesuatu, kita akan merasa punya pegangan. Silakan sebut itu fiksi ilusif. Tapi dalam hati anda pasti akui bahwa  kita  perlu banget yang namanya pengangan, sesuatu yang bisa menenangkan/menyenangkan kita. Sesuatu yang bisa kita yakini sebagai “kebenaran sejati”, yang bisa melindungi kita dari kegelisahan akan “ketidaktahuan” dan “ketidakpastian”. Kita semua perlu pegangan. Seringkali kita juga suka dipegang-pegang :)

Sampai disini, apakah anda setuju bahwa semua ‘kebenaran’ itu sama benar? Jika tidak, apakah anda dapat membuktikan adanya kesalahan dari satupun klaim-klaim tentang akhirat dan tuhan?

Mari melenceng sebentar. Sedikit tentang kebiasaan kita melecehkan keyakinan orang. Tahukah anda darimana kebiasaan itu berasal? Ingatlah, saat kita kecil dulu, baik kecil secara umur maupun  jiwa, sebagian besar dari kita dicekoki dengan ajaran-ajaran relijius yang mengklaim dirinya sebagai si paling benar, dan yang lain pasti salah, kita yang paling agung dan mulia, yang lain hina nista. Itu semua tertanam dalam di otak kita. Kita selalu ingin jadi nomor satu. Kita ingin mendominasi, mengalahkan, menyingkirkan apapun yang tidak sesuai dengan agama kita. Ajaran ini terbawa terus sampai sekarang.

Mirip sekali apa kata sebuah iklan pasta gigi, ajarkan anak anda sejak kecil untuk merasa paling benar sendiri, membenci dan melecehkan yang lain, maka sepanjang hidupnya dia akan terus mengingat dan melakukan apa yang anda ajarkan. Membenci. Melecehkan. Merasa paling benar.

Ajaran untuk melecehkan yang lain sambil merasa paling benar sendiri ini, tanpa kita sadari, terus kita bawa dan amalkan sampai sekarang. Kita yang beriman, maupun yang atheis, seringkali terus menunaikan kebiasaan yang sama, merasa paling benar sendiri. Kadang, ada yang sudah mengaku atheis, agnostik, aini, aitu sampai asupun kelakuannya tetap saja seperti orang taat beragama, agama yang terus merasa paling benar sendiri sambil melecehkan dan menganggap sesat semua yang lain. Walau mungkin ada juga yang mengaku beragama, tapi entah lupa atau kurang imannya, dia tidak sedikitpun merasa lebih suci atau lebih benar dari yang lain.

Ok, sekarang waktunya kembali ke topik… Mengapa pencerahan ini membuat saya jadi malas menulis.

Selama ini, saya hampir selalu menulis bermodalkan friksi. Pertentangan. Keheranan. Kesoktahuan. Kesombongan. Terkait agama.

Tapi sekarang saya (sedang) tersadar, jadi memahami, ternyata semuanya benar. Ternyata tidak hanya pemuka agama (yang bisanya hanya meneruskan cerita-cerita dari seniornya untuk menguasai manusia), tapi juga *duh, maafkan saya* guru-guru spiritual sampai anda dan saya pun bisa mengarang cerita apapun tentang tuhan dan akhirat, beserta segala aturan terkait hal itu, dengan tingkat kebenaran yang setara. Bahkan sebagai orang bebas, kita bisa lebih kreatif dan mungkin malah lebih meyakinkan daripada orang-orang yang memilih terpenjara oleh institusi yang kolot, kaku dan mewarisi terlalu banyak aturan baku.

Kalau semuanya benar. Lalu kenapa harus saling melecehkan?

Kehilangan hal-hal yang saya anggap tidak “sebenar saya” membuat saya tak punya bahan untuk menulis. Membuat saya malas. Memberi saya alasan untuk menelantarkan blog ini.

Jika semuanya benar, kenapa susah sekali untuk saling menghormati?

Kita ingin kebenaran kita dihargai, kenapa tak mau menghargai kebenaran orang lain?

Kok masih ingin memaksakan kebenaran kita pada orang lain yang juga punya kebenarannya sendiri?

Bingung. Makin bingung, makin males nulis.

Males nulis, kok sampai sepanjang ini Guh?

Yak, sudah malam. sekian dulu.

Semoga kita semakin bisa merayakan kehidupan.

Tag:, , , , ,

38 responses to “Merasa Tercerahkan #1”

  1. tukangobatbersahaja says :

    Saya tercerahkan samapai tercengang heran…
    Benar-benar malas :)

  2. CY says :

    Sementara sampeyan malas menulis, coba berkunjung ke —–> http://nusantaranews.wordpress.com, ada bacaan bagus ;)

  3. Arshintadewi says :

    Home run :)

  4. CY says :

    Kita ingin kebenaran kita dihargai, kenapa tak mau menghargai kebenaran orang lain?

    Kok masih ingin memaksakan kebenaran kita pada orang lain yang juga punya kebenarannya sendiri?

    Itu krn pihak kita merasa sebagai pihak yg sdg dlm tahap menyelamatkan org lain itu.. gitu kan hehehe…

    • chiw says :

      hehe, emang sering banget kita merasa ingin menyelamatkan orang lain, tanpa kia tahu, sebenernya yang baik buwat orang lin itu apa.

      bukankah yang bagus buat kita, belum tentu bagus untuk orang lain ya?

  5. danalingga says :

    Tampaknya kita sama-sama tercerahkan *ngaku ngaku biar keren*

  6. cK says :

    hihihihi…tulisan ini ada benarnya.

    kita gak akan pernah tahu kalau tidak mengalami sendiri. tapi kesempatan hidup itu biasanya hanya satu kali. ketika mati, kita tentu akan menyesali apa yang telah dilakukan saat masih hidup.

    sayangnya gak ada kesempatan mengulang untuk memperbaiki kesalahan yang ada… :mrgreen:

    *lagi lemot, komen gak jelas*

  7. Kgeddoe says :

    Inspiratif +1.

  8. Nazieb says :

    Njrit, males nulis tapi kok panjang postinagannya..

    Katanya sih, hanya orang mati yang telah mengetahui kebenaran..

    Eh, tapi yang ngomong gitu kan orang hidup juga yah? Jangan-jangan bohong juga ituh..

    *bingung*

  9. dony says :

    jadi gitu yah guh ? ah pokoknya gitu dah
    :D benar2 tercerahkan hehehehe

  10. Mbelgedez™ says :

    .
    Congrats.
    Akhirnya kesampean juga mecahin bisul di pantat.

    ***berasa ikut lega***

  11. bodrox says :

    “merasa tercerahkan” itu beda loh om dari “tercerahkan”

    *ketawa sendiri*

  12. novita anggraeni says :

    Binun mo komen apa.. Nunggu chapter 2-nya aja deh.. :P

  13. almascatie says :

    chaos! msing-masing mendoktrin mimpi tanpa tau apakah nyata ataukah akan mendapatkan mimpi pulak..

  14. Emina says :

    saya menjadi bingung.
    apa itu berarti tidak tercerahkan? :mrgreen:

    mati itu memang selalu jadi rahasia, satu-satunya yang: kalau dicoba ga bisa milih untuk membatalkannya. soalnya klo udah mati kan ga bisa minta dibalikin lagi ke dunia. saya sih percaya bahwa semua yang dilakukan itu harus dipertanggungjawabkan, di kehidupan sekarang juga di kehidupan sesuda kematian nnanti ^^

    eh ini tentang mati kan? jgn jagnan ga nyambung

  15. Yari NK says :

    Kalau saya sih kayaknya kurang imannya, tapi nggak apa2 deh orang lain mau bilang apa juga, toh saya nggak butuh pendapat mereka. Kalau saya dibilang beriman, saya juga tetap nggak butuh pendapat mereka. Karena bukan mereka yang berhak menilai saya. Namun yang penting saya nggak lagi tidur. Kalau ada orang lain yang masih berkata saya tidur, ya nggak apa2, pasti ada yang lebih tidur lagi dari saya….. **nggak nyambung ya??** :lol:

  16. BudiTyas says :

    Lebih dari 4000 tahun masalah yg ginian tdk akan hilang. Dibahas berkali2, dari sudut manapun, manusia baru yang lahir harus memahami semua dari awal. Harus jd highlander yg hidup ratusan tahun kali biar budaya pemaksaan yg ‘religius’ itu sirna.

    • sitijenang says :

      setahu saya spiritualitas itu memang harus ditempuh seorang diri. jalan yg sunyi kalo kata orang-orang sufi. earn the knowledge ourselves, not just according what others claim.

  17. mathematicse says :

    Kenapa diangap ngarang sih? :)

  18. lovepassword says :

    Memang kamu itu males nulis. Lha saya juga males mbaca. Anehnya kok sama-sama panjang ya apa yang kamu tulis dan apa yang aku baca. Dasar sesama orang males. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s