Menelan Buntelan Suci

Suatu hari di sebuah Gerai alat telekomunikasi ragawi:

“Mbak, kalau saya beli modemnya aja boleh ndak?” Tanya Mas Ganteng pada Mbak Seksi diseberang meja kaca tembus pandang.

“Maaf Bapak, tidak bisa. Modem ini bisa diperoleh jika bapak beli paket XXX unlimited” Jawab Mbak Seksi seraya sibuk merapikan rok mininya yang memang dirancang amat pendek.

Sambil berjuang untuk tidak menonton aksi upskirt, Mas Ganteng berkata lagi “Oooh… kalau saya beli paket XXX unlimitednya saja tanpa modem, gimana?”

“Tidak bisa juga, Bapak. Ini sudah paket, kalau ambil XXX unlimited, maka bapak dapat modemnya dengan harga khusus, kala….” Belum sempat mbak seksi melanjutkan, Mas Ganteng memotong “Kalau saya minta nomor HP anda, supaya nanti malam bisa telpon minta penjelasan lebih lengkap, boleh?” Si Mas Bertanya dengan suara yang tiba-tiba jadi bariton menenangkan.

Ok, cukup, cukup…

Sekarang kita perhatikan latar fragmen diatas: Trik penjualan dengan bundel, atau buntel…? Aduh maaf, karena saya bukan orang marketing, jadi boleh ignoran+sok tahu dikit soal ini, ya? Ok, apapun itu namanya, intinya adalah menggabung beberapa item sekaligus dalam satu buntelan, biasanya buntelan itu akan diberi label menarik seperti  paket “Huwemat Bwangedz”, lalu dijual per-buntel. Pembeli hanya bisa mendapatkannya sebagai satu buntelan utuh, tidak boleh per item.

Satu contoh lagi, sebuah vendor menjual paket berisi selusin Kondom bergerigi, satu Vibrator merk Jannah, Pelumas Derox, 2 batre AAA asli dumping RRC, dan secuil Bangkai Tikus Piti. Mereka namai buntelan itu sebagai “Paket sBulan sokSuci”. Anda sebagai pembeli tidak boleh beli vibratornya saja atau kondomnya saja. Walau anda tahu batrenya tak lebih dari sampah merkuri, dan cuilan bangkai tikusnya juga tak berguna, tetap saja anda harus membayar semuanya sebagai “Paket sBulan sokSuci”.

Walau tidak selalu, kadang-kadang tujuan pembuntelan macam itu memang untuk menjual barang-barang yang sulit dijual. Produk-produk yang jika berdiri sendiri tak bakal laku, setelah dimasukkan bundel bisa laris manis dipasaran.

. . . _ _ _ . . .

Trik yang sama terbukti bermanfaat dalam memasarkan produk-produk rohani dan sejenisnya.

Misalnya, produk yang ingin dipasarkan adalah pembodohan, terror dan kebencian. Maka siapkan saja sebuntel pasal sebagai berikut:

  • Jangan engkau mencuri, sebagaimana kaum sebelum kamu juga dilarang mencuri
  • Jangan makan daging manusia, pada hari ini, aku resmikan saran ini sebagai harga mati
  • Jangan meludah kearah datangnya angin, merugilah orang-orang yang tak menggunakan akalnya
  • Jangan kau menusuk dari belakang, karena rasanya sakit, sakit minta ampyun
  • Patuhi rambu-rambu lalu lintas saat ada polisi, sungguh beruntung orang-orang yang berpikir
  • Dan beberapa ratus pasal lain yang isinya dapat saja berupa anjuran logis sederhana. Yang penting disampaikan secara berbelit dan puitis sedemikian rupa hingga terasa surgawi dan multitafsir.

Kemudian sekian ratus pasal itu di buntel dan dilabeli sebagai “666 Perintah Dewi Pengulum Pedang(DPP)”, atau “Kitab Berkhasiat Si Maha Jenggot (SMJ)”, atau apapun. Yang penting kaitkan paket itu dengan siapapun yang sudah punya branding oke. Sesuatu yang diyakini punya kekuatan luar biasa.

Di pasar, para pembelinya akan menerima buntelan itu sebagai satu kesatuan yang utuh yang tak terpisahkan. Kenapa? Karena buntelan ini sudah dikaitkan erat dengan tokoh hebat yang punya branding luar biasa (DPP/SMJ), yang begitu hebatnya hingga tidak boleh dibantah apalagi diragukan keluarbiasaannya. Pokoknya, buntelan ini tidak boleh dibongkar untuk dikritisi isinya satu-persatu. Apalagi dipreteli dan disaring mana yang baik dan mana yang sampah. Dosa itu. Dosa banget.

Karena yang namanya buntelan (terutama buntelan suci) harus selalu ditelan bulat-bulat, maka terbukalah kesempatan untuk menyelipkan “inti sari” dari buntelan itu, yang tak lain adalah produk yang ingin dipasarkan, dalam contoh ini adalah kebencian, pembodohan dan terror.

Tentu perlu diselipkan juga beberapa pasal untuk kepentingan pemasaran (bonus bagi yang merekrut konsumen baru), menyerang kompetitor (cap sesat bagi jidat liyan) maupun untuk memastikan loyalitas pelanggan (eksekusi mati pembelot yang beralih ke produk lain) dan apapun apapun yang dianggap perlu.

Diantara sekian banyak pasal yang menganjurkan kebaikan-kebaikan praktis dan gampang dinalar, sisipan beberapa pasal ajaran keji tentu sulit disadari. Apalagi jika produk pembodohannya sudah dihayati.

Walau suatu ketika ada pembeli menyadari pasal-pasal mencurigakan, itupun tidak jadi masalah. Kan semuanya harus tetap ditelan. Menerima buntelan suci memang harus kaffah. Menolak satu saja dari isi buntelan, maka si penolak dianggap bukan umat yang baik, bukan konsumen yang loyal. Siapapun yang mengkritisi, apalagi menolak satupun pasal, akan didaulat sebagai pendosa yang sudah membangkang terhadap sabda DPP, atau SMJ. Jika para konsumen setia tidak berhasil menyakiti dia di dunia, maka siksa pedih menunggunya di neraka.

. . . _ _ _ . . .

Akhir kata, tulisan saya tutup dengan kesimpulan semena-mena: Buntelan tak hanya meningkatkan daya jual ‘produk sampah’ yang susah laku, tapi juga melindungi seluruh isi buntelan dari ancaman pikiran manusia yang sok kritis, liar dan kurang iman.

Sekarang, sadarkah anda apa saja isi dari buntelan yang terakhir anda telan?

Salam Indonesia!

Tag:, , , ,

27 responses to “Menelan Buntelan Suci”

  1. Zephyr says :

    Hekkk… *memegang leher sambil berpikir habis menelan buntelan macam apa saya?*

    satire menjelang Ramadhan… :)

  2. jensen99 says :

    sadarkah anda apa saja isi dari buntelan yang terakhir anda telan?

    Larutan antiskeptik? :roll:

    Euh, thread OOT yang di FB Mina blum saya reply. Maaf banget~

  3. The Bitch says :

    haha! nice!
    errr… bariton menenangkan? sounds familiar.

    *njrit! baru kali ini gwa berani komeng dimari!*

    • Guh says :

      hehe… “bariton dan menenangkan” itu memang hasil diskusi bertema “bagaimana membuat cewe mengangkang” yang pembicaranya tak lain adalah sampeyan sendiri ;)
      Please ya, oot jangan disini.

  4. dira says :

    Nice.. :) Tapi jangan sampai kita menghindari buntelan itu, malah menelan buntelan lain yang ditawarkan dg bungkusan yg lebih halus: liberalisme.. :)

    • Guh says :

      Waah, setuju Pak. “Liberalisme” itu juga buntelan, kita yang masih bisa berpikir tidak sepantasnya menerima (atau menolaknya) mentah-mentah. Harus dipreteli dulu dan dikritisi isinya satu-satu. ajaran yang sampah, yang keji, apalagi ajaran yang tolol dan tidak lagi relevan harus diekspos dan disingkirkan jauh-jauh dari umat manusia.

      Dan kalau mau fair, hal yang sama juga bisa kita terapkan pada buntelan-buntelan yang dianggap lebih suci dari liberalisme. Bahkan terhadap buntelan paling suci sekalipun.

  5. CY says :

    Jauh sebelum buntelan2 itu datang sdh ada “Warning” berbunyi Ehi Passiko (datang dan buktikanlah) tapi ternyata masih banyak yg tertelan ya… Mungkin Warning tsb gaungnya ga nyampe ke kota kelahiran “buntelan” tersebut. Atau mungkin ada hal lain.
    :)

  6. lovepassword says :

    Masalahnya gini yah :
    Ada macam-macam manusia, ada yang sok kritis, ada yang baik hati, ada yang anarkis ada juga yang ikhlas. Jadi bukan masalah nggak tahu soal buntelan. Tapi kadang terharu sama yang jual. Gicu lho. Trenyuh juga soalnya. Jadi ini juga tidak bisa digebyah uyah

    • Guh says :

      Nggak ngerti saya maksud anda gimana.
      Apa maksudnya kalo buntelan itu disampaikan oleh penjual yang pinter manipulasi emosi, yang beli trus jadi “ikhlas” belinya?

      Gebyah uyah itu generalisir? Apanya?

  7. lovepassword says :

    Apa maksudnya kalo buntelan itu disampaikan oleh penjual yang pinter manipulasi emosi, yang beli trus jadi “ikhlas” belinya? Yah itu bisa juga. Bukannya karena tidak kritis. Tetapi karena ikhlas saja. :)Gebyah uyah itu generalisir? Apanya? Generalisir bahwa yang menelan seluruh buntelan berarti selalu tidak kritis.

    • Guh says :

      Oh, bener banget tuh.
      Tidak semua yang menelan seluruh isi buntelan pasti tidak kritis, juga tidak semua buntelan pasti diselipi sesuatu yang mengerikan.

      Tulisan diatas hanya memberikan cara alternatif untuk menyikapi buntelan: Selain langsung menelannya mentah-mentah, cari tahu apa isinya dulu dan kalau perlu memilahnya sebelum ditelan juga bisa.

      Saya kira generalisirnya bahwa setiap buntelan pasti untuk meningkatkan nilai jual, supaya lebih mudah diterima. hehe. Kalo itu memang masih generalisir. Mungkin perlu dikoreksi juga ya.

  8. emina says :

    sadarkah buntelan apa aja yang saya telan hari ini?
    saya hanya merasa bahwa buntelan itu membuat sy menjadi lebih baik, ada beberapa buntelan yang saya mentahkan dan saya pilah2 juga, tapi itu tidak mengurangi efeknya, tuh.

    btw, sy ga suka profesi marketing, entah kenapa. ga suka MLM juga..
    *sering jadi korban* :mrgreen:

    • Guh says :

      Syukurlah kalau berani memilah isi buntelan, ga semua orang berani melakukannya.

      MLM? Iiih, kenapa ga sukaaaa??? Itu kan bisa bikin anda kaya raya, bebas finansial, naik kapal pesiar… selain menjerumuskan banyak orang :P

  9. Mbelgedez™ says :

    .
    Sayah pilih-pilih buntelan yang mau sayah telan, Guh…

    Masalahnya, sayah ndak tau juga pilihan yang sayah telen bener apa malah salah…. :P

  10. chiw says :

    “Kalau saya minta nomor HP anda, supaya nanti malam bisa telpon minta penjelasan lebih lengkap, boleh?” Si Mas Bertanya dengan suara yang tiba-tiba jadi bariton menenangkan.

    aha… saya bisa membayangkan yang ini!
    sangat! :))

    ehm… setelah tau isi produk buntelan itu sampah semata, kebanyakan yang dilakuin apa sih, ustat Guh?
    ;))

    • Guh says :

      Kalau semua isinya sampah ya buang sak buntelane toh Siw? Tapi kalau sesuai posting diatas, sesuatu dibuntel2 itu justru untuk menyamarkan, biar sampahnya tersembunyi diantara hal-hal yang baik.

      • chiw says :

        bukan gitu…
        maksutku, kalo ngeliat kelakuan orang2 itu lho…
        kok kayaknya mereka ngerasa lebih nyaman dengan pura2 nggak tau kalo itu buntelan isi sampah… atau… emang kepeksa nganggep itu bukan sampah.

        terlanjur malu… mungkin lho…

  11. Emanuel Setio Dewo says :

    Hihihi…

    BTW, Mas Guh ini sering mendapat terror ngga? Sorry kalo OOT tanyanya. Maklum, penjual buntelan kan seringkali agak sensi kalo buntelannya dipretelin.

    Sekali lagi: hihihi…

  12. Wijaya says :

    Saya males klo dipaksa mbeli barang bundling alias buntelan itu…
    Klo buntelan yg kita telen, saya pilah isinya dong….pake yang perlu…

    *sembunyi2 dari penjual buntelan, hihi*

  13. yos says :

    numpang lewat aje… :-D

Trackbacks / Pingbacks

  1. Tuhan=Pancasila=NKRI=Absurd (repost) « JenSen99's Weblog - Agustus 20, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s