Hal menarik seputar karakter asinan terhadap Anand Krishna

Perhatian, ini tulisan panjang, subyektif, mengandung curcol, dan menyebut nama. Dengan nekat membaca ini, berarti Anda sudah setuju untuk tidak menuntut dan atau mengutuk saya. :)




——-

Jadi gini, baru-baru ini saya ditanya-tanya begini:

Guh, guru spiritual lu kena kasus cabul ya!” tanya seorang Mbak Cantik.
Guh, Anand Krishna terkait dugaan asusila?” tanya Mbak lain yg lebih cantik.
Nyet, AK kenapa tuh di TV One?” tanya seorang yang pasti temannya lintas spesies.

Yaiks!

Dan saya pun harus kembali bergaul dengan TV. Tadinya saya malas sekali menonton TV, kecuali kalau terhubung dengan PS2. Malas menonton iklan. Tapi demi menonton Mbak TR vs AK ya apa boleh bikin.

Saya berhasil nonton berita itu. Berkali-kali.

Dan baru setelah beberapa kali, saya tersadar kalau pemberitaan di TV itu tidak berimbang. Bagian TR diberitakan dengan mantap dan jelas sekali, diulang-ulang sampai bosan, nah giliran pihak AK bicara, cuma diperlihatkan singkat sekali.

Cara pemberitaan begitu membuat saya teringat pada cerita implisit beberapa teman yang ngakunya bekerja di pabrik PR (bukan Pubic, tapi Public. Public Relations). Secara implisit mereka menyampaikan bahwa “Sebagaimana perusahaan PR dibayar untuk mengatur agar media diisi berita yang menguntungkan klien korporat, sebagai PR kami juga bisa dibayar untuk mengatur agar media diisi berita yang membunuh musuh-musuh klien kami”. Pendapat yang membuat saya berprasangka buruk pada stasiun TV yang saya tonton.

Tapi sore tadi cara TV mulai berubah.

Selepas maghrib saya menonton (lagi) TV One, kali ini wakil pihak tertuduh dimunculkan. Ibu Maya yang baru nongol langsung komplain memperingatkan pembawa acara yang beberapa detik sebelumnya mengatakan “pihak AK sampai sekarang sulit dihubungi” padahal Ibu Maya sudah siap dan menunggu di studio sejak 17.30 (atau 16.30, saya lupa). Tentu saja beliau membantah semua tuduhan dan mengatakan hal yang dituduhkan tidak pernah terjadi.

Siaran langsung itu lumayan vulgar. Ada kalimat dari seorang mas-mas dari pihak TR: “…seperti menggosok vagina“. Mbak SM juga menyebut-nyebut “…tisu berisi cairan sperma“. Semua diucap secara eksplisit. Sevulgar itu, sesore itu, pada jam primetime dimana anak-anak mungkin masih terjaga. TV One ini pasti hanya di stel di TV yang berada di ruangan khusus orang dewasa. Ternyata bukan cuma blog saya saja yang bisa sevulgar itu.

Sekarang saya yakin karakter Anand Krishna memang sedang dibantai oleh media. Dibuat tampak cabul secabul-cabulnya. Pembantaian ini bahkan sudah dimulai sebelum pengadilan direncanakan. Ini mengingatkan saya pada nasib Antasari. Media membuat beliau tampak mesum dengan mengekspos saat-saat dimana pengadilan yang (entah kenapa) sangat tertarik dengan cara Antasari membuka kutang Rani. *….mmm… kutang….*

Lantas?

Ya bagi semua yang berguru pada Anand, baik secara langsung, lewat buku, maupun diam-diam dari jauh, kasus ini jelas sangat amat menggelisahkan. Apalagi trial by press yang sedang dilakukan TVnya Bang One bersama media-media lain. Itu sux!

Trus gimana?

Ya gimana lagi. Kita ikuti saja perkembangannya gimana. Kasus ini jelas akan mengalihkan perhatian sebagian orang dari kasus-kasus besar macam Century, penggelapan pajak dan semacamnya. *berharap jangan ada yg nyebut kasus Freeport atau Aceh atau Kalimantan*.

Kalau nanti TR bersama hipnoterapis, psikolog dan 100 pengacaranya berhasil membuktikan AK bersalah, kamu gimana Guh??

Ya… saya akan terus menghormatinya sebagai Guru. Jika guru sekolah yang pernah menampari saya puluhan kali hanya dalam waktu satu hari bisa tetap saya hormati, apalagi AK yang sudah mengajarkan banyak pemahaman baru dan memperluas wawasan saya. Namun saya yakin beliau tidak bersalah.

Apalagi saya sudah mulai melepaskan paham buntelanisme. Sebuah cacat dalam ‘buntelan’ tidak harus membuat saya menganggap seluruh buntelan jadi layak buang. Sebaliknya, adanya beberapa hal yang bagus dalam buntelan, tidak berarti seluruh isi buntelan pasti bagus. Saya masih terus belajar untuk tidak terjebak buntelanisme.

Udah? Gitu aja?

Belum. Kan judulnya diatas itu adalah “hal-hal menarik disekitar karakter asinan terhadap AK”. (Untuk yang belum mengerti, karakter asinan ini maksudnya adalah character assassination atau pembunuhan karakter)

Jadi, inilah hal-hal menarik itu. Semua terkait kasus TR vs AK yang bertema “Hipnotis”, “Brainwash” dan “Cabul yang secabul-cabulnya”:

1. Keberanian yang inspiratif

Inilah sisi baiknya. Keberanian Mbak TR bisa menginspirasi dan menyemangati siapapun yang menjadi korban pelecehan agar berani melapor. Jika Mbak TR berani melaporkan tokoh sebesar AK, masa dilecehkan oleh guru sekolah atau guru ngaji saja takut dan bungkam? Jika Anda atau anak Anda dilecehkan, ya memang harus lapor! Ada komnas perlindungan wanita dan polisi yang akan melindungi korban. Sebesar dan seagung apapun seseorang tidak lantas berhak memperlakukan Anda seenaknya.

Tapi juga perlu hati-hati. Pastikan kejadian itu benar-benar terjadi. Jangan sampai membuat fitnah. Atau lebih mengerikan, diperalat pihak-pihak tertentu untuk memfitnah.

2. Perlunya hati-hati dalam bertingkah laku

Terutama jika Anda publik figur yang sering menyinggung banyak orang. Sekarang ini, sekedar mengatakan “I love you, you are my angel“, merangkul, memberi tepukan persahabatan di punggung atau minta dipijit bisa jadi bukti pelecehan.

Sedikit saja salah langkah, pekerjaan penting yang menumpuk bisa terbengkalai karena Anda sibuk berurusan dengan kasus pelecehan.

Perhatikan dengan siapa Anda berinteraksi. Belum lama ini, segerombol siswi sekolah bertema agama di Jawa Timur bersepakat untuk menganggap foto preweding dan rebonding dapat memicu perbuatan zinah. Dan karenanya harus diharamkan. Beberapa ulama juga meyakini bahwa Ibu-ibu yang berprofesi jadi tukang ojek dapat memicu syahwat. Bayangkan jika Anda dengan segala kecabulan Anda berinteraksi dengan orang-orang ini. Tuntutannya pasti parah sekali.

3. Potensi bahaya “hipnotis” dan “cuci otak

Anda yang pernah nonton TV mungkin pernah melihat bagaimana master-master seperti Kuya atau Rafael bisa membuat orang menceritakan rahasia pribadinya, atau melakukan hal-hal bodoh.

Orang bisa diprogram dengan hanya mendengarkan perintah, misalnya: “Pada hitungan ketiga, Anda akan sadar, kemudian setiap kali Anda mendengar musik X, Anda menari balet dengan gemulai, Anda yakin Anda lah pebalet nomor satu didunia, semua penonton mengagumi Anda“. Selanjutnya setiap kali korban hipnotis mendengar musik X dia akan joget sesuai program. Itu semua dilakukan diluar kesadaran hingga korban dilepas dari program tersebut.

Bayangkan jika ternyata ada tokoh lain yang lebih mahir sekaligus lebih jahat, lalu program yang ditanamkan adalah “…. mendengar kata “X” dari saya lewat telpon, Anda akan menekan gas sedalam-dalamnya, menembus dinding pembatas dan terjun bebas dari parkiran lantai paling atas“.

Atau yang lebih seram lagi “… Anda akan sadar segar bugar, membaca kitab suci sampai tamat tiga kali, kemudian berangkat membawa bom ini untuk diledakkan di pintu kanan belakang istana”.

Atau yang paling seram “…. setelah hitungan ke 9, Anda akan bangun seperti tidak terjadi apa-apa. Merasa sangat merdeka. Dan selanjutnya Anda akan mendakwahkan ayat-ayat kebencian dalam setiap ceramah Anda, untuk membuat siapapun yang mendengar ceramah Anda jadi orang pemarah yang mudah memberi cap kafir, merasa paling suci dan suka membakar rumah ibadah agama lain“.

4. Peluang baru untuk ahli-ahli hipnotis dan hipnoterapis yang kreatif

Daripada menjual skill yang dipelajari dengan susah payah untuk memperkaya stasiun TV murahan, lebih menguntungkan kalau terima order dari politisi busuk yang ingin menyingkirkan musuhnya.

Misalnya… Ini hanya contoh lho: Terima pesanan untuk “memberi pelajaran” pada Bu Srimul supaya jangan kurang ajar. Caranya: Menanam ingatan palsu ke dalam pikiran salah satu bodyguard bu Srimul yang gay. Bahwa setiap malam bulan purnama, Bu Srimul selalu memperkosanya dengan sadis, gaya woman on top tanpa pernah mau gantian, berkali-kali sampai mas bodigar bucat pasi.

Setelah repetisi proses hipnotis/brainwash cukup dan “ingatan baru” itu cukup permanen, barulah si mas bodigar yang malang itu diajak baik-baik, dengan penuh empati, untuk berani melapor ke Komnas perlindungan bodigar. Laporkan Bu Srimul karena sudah menzaliminya dengan sangat zalim sekali.

Aksi hitman macam ini lebih cantik daripada menyewa pembunuh bayaran konvensional. Para politisi busuk modern pasti tertarik. Semua juga tahu, membunuh seseorang hanya akan membuatnya jadi pahlawan. Lebih efektif kalau menyingkirkannya dengan jebakan kasus-kasus beraroma selangkangan.

5. Pentingnya kemampuan menangkal dan membatalkan hipnotis, brainwash dan semacamnya

Mengajarkan hal itu ke publik pasti efeknya akan sangat merugikan pihak-pihak yang selama ini diuntungkan. Banyak penguasa/pemuka dan agama akan kehilangan umat, banyak iklan jadi tidak efektif, rekrutmen jumlah perokok muda jadi semakin sulit dan rakyat jadi agak susah diperbudak.

Tapi mereka, para master hipnotis, psikolog dan hipnoterapis itu, punya tanggung jawab moral untuk mengungkapnya. Menurut saya, jika mereka punya nurani, jika mereka mengetahui caranya, mereka harus segera mengungkapnya.

6. Makin murah dan mudah akses internet, makin sulit rakyat dibodohi

Seorang kawan yang sebelumnya tidak tahu siapa AK jadi tertarik dan mencari tahu visi AK setelah browsing lewat Opera Mini di HP murahannya. Kawan yang lain malah mulai membuat komentar-komentar yang berusaha menjelaskan dan membela AK dari trial by press. Itu juga dilakukan dari handphone.

Ini menarik. Saat TV-TV berkomplot meyakinkan pemirsa bahwa Mr. X hanyalah manusia kampret tak berguna, penonton bisa dengan mudah mencari sendiri informasi penyeimbang dari pihak tertuduh.

Biaya internet makin murah, harga telpon seluler yang mampu menjalankan opera mini juga semakin terjangkau oleh banyak kalangan. Orang makin gampang cari info dari Internet.

Tentu saja di internet juga ada media-media besar dan “tokoh” berpengaruh yang satu “misi” dengan TV. Tapi di alam cyber yang sama juga tersedia info-info alternatif yang memperkenalkan sudut pandang lain.

Jika saya adalah penguasa yang terbiasa menggunakan TV dan media-media satu arah untuk membodohi rakyat dengan “informasi resmi” dan “tersaring”, saat ini saya pasti sedang gundah gulana.

Hanya tinggal menunggu waktu sebelum orang-orang dengan HP murahan ini mengikuti langkah seniornya untuk berisik mengomentari pembodohan yang dilakukan penguasa. Jadi, saya akan merasa perlu membuat UU untuk mengatur pengguna internet. Tentunya yang berpasal karet, hingga bisa berfungsi bagai linggis serba guna untuk menusuk, memukul atau mencongkel siapapun yang kurang ajar.

Yak! Sudah terlalu panjang.

Sebagai penutup, saya sarankan agar Anda yang baru tahu AK dari berita-berita TV, silakan browsing ke situs resminya. Lihat wiki. Pelajari apa saja kegiatannya. Apa mimpi beliau dan sempatkan juga baca-baca tulisan-tulisanya.

– – – – – – – – –

Catatan:

Saya memang berguru pada AK. Maksud kata “berguru” disini memang saya menganggapnya sebagai guru. Saya belajar banyak sekali dari beliau. Tapi ini bukan berarti saya sudah diakui atau sudah diangkat sebagai murid, apalagi murid yang baik dan berbakti, hehe. Sama sekali tidak. Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan saya dengan guru-guru yang lain, termasuk Krishnamurti, Master Ching Hai, Gandhi, Gus Dur, Paulo Coelho, Pak Subuh, Peter Joseph, J Fresco, Bangaip, Mbah Mbel, Alex, Sora, Bang Leo, Difo cs dll. Mungkin sekali tokoh yang saya anggap guru malah tidak pernah ngeh kalau dirinya dianggap guru dan tidak bakalan menganggap saya murid. Dan itu bukan masalah. Jadi…. tidak perlu ada yang menuduh saya ngaku-ngaku jadi murid ya? :)

———

*Prufrid by The Bitch via Google Doc yg keren sekali itu.

Tag:, , , , ,

32 responses to “Hal menarik seputar karakter asinan terhadap Anand Krishna”

  1. ManusiaSuper says :

    Tumben, saya menemukan emosi penulis di posting blog ini…

    Sakit ya Guh, kalau orang yang kita hormati dicela macam sosok paling bejad sedunia..

    Media (berita) dari dulu memang dianalogikan bak burung pemakan bangkai. Di mana ada aroma busuk, di situ mereka berkumpul. Itu sisi yang memang selalu ada, menggiring sisi baiknya.

    Kebenaran kadang menyakitkan. Dan proses mencari kebenaran kadang jauh lebih menyakitkan…

    N.B: Saya suka Anand K. Salah satu Obituari Gus Dur terbaik yang saya baca datang dari dia, ditulis di Jakarta Post. Itu saja.

    • Guh says :

      Tidak semua media berita seperti burung pemakan bangkai. Ada juga koran-koran yang beritanya lumayan, ya macam yg anda sebut itu. The Jakarta Post.

  2. restlessangel says :

    huks… saya sempet terluka waktu nonton/baca berita ttg pelecehan AK. belum pas denger komentar orang2, malah kemudian ada yg berkomentar bhw dia (dari dulu) ga percaya dg orang2 yg tipe spiritualis gitu. katanya, orang2 spiritualis (yg ga terbungkus agama) itu kok cabul2 dan ga bener kelakuannya.

    tapi lagi2, ya sudahlah. saya harus melepas ego saya yg melekat pd AK. dan menanti hingga semua terungkap.

    • Guh says :

      Siapapun yang ngomong itu, ada benernya juga.
      Jangankan tokoh spiritual, blogger yang ga terbungkus agama juga pastinya cabul-cabul banget… kalau dilihat dari kacamata agamais yang syahwatnya bisa bangkit hanya dengan melihat cewe rebonding, foto preweding atau ibu2 tukang ojek.

      Terimakasih sudah mengingatkan agar tidak terjebak kemelekatan. Itu pesan terbijak yg saya terima sejak pagi tadi.

  3. chiw says :

    Mantab, Pak Guru!
    Saya tunggu tulisan berikutnya tentang om om yang bisa merubah statemen secara luaar biasa hanya dalam selisih waktu 2 hari
    Btw, ngga ada plugin share ke wp yak?

  4. mpit says :

    hah! QCnya payah! masih banyak missed-nya tuuuuh! tau gitu gwa aja yg QC-in =P

    btw, postingnya ‘imbang’ sekali. seperti biasa. tapi saya paling suka bagian ‘bucat‘ pasi. hihi.

  5. bangaip says :

    Masalah pelecehan seksual (entah karakter asinan atau bukan) termasuk masalah yang cukup serius. Walaupun sebenarnya tidak mudah dibuktikan.

    Untuk menjamin bahwa pelecehan seksual adalah sebenarnya pelecehan, maka dibuat beberapa batasan oleh aparat hukum. Minimal setahu saya di UK batasannya adalah sebagai berikut;

    1. Korban disengaja menderita akibat diskriminasi yang tidak diinginkan karena seks atau penampilan fisiknya (contohnya abuse pada transeksual atau gay. Atau malah bisa jadi karena ganteng atau cantik atau bagian vital tubuhnya makjang, jadi membuat si pelaku terdorong hasratnya).

    2. Pelecehan itu parah atau meluas.

    3. Pelecehan tersebut masuk ke dalam terminologi hukum mengenai pelecehan seksual di lingkungan di mana korban dan pelaku ada. Contoh, cium tangan lawan jenis adalah hal yang biasa jika dilakukan oleh pria perancis untuk menghormati wanita di depannya. Namun di beberapa daerah Philipina, ini masalah besar sekali. (*Kasus ini pernah menimpa teman sekelas saya dulu yang beda bangsa*)

    4. Menimbulkan luka atau lecet atau memar atau tanda fisik dari pelecehan.

    5. Korban sadar ada yang mengetahui bahwa ini adalah kasus pelecehan. Namun orang yang mengetahui hal tersebut diam saja.

    Biasanya korban harus bisa membuktikan lima prinsip di atas. Untuk bisa menyebut pelecehan yang dialaminya adalah pelecehan seksual.

    Untuk membuktikan hal ini adalah masalah yang berat. Cukup berat memang. Namun kasus pembuktian ini menjadi mudah di tangan aparat berwenang (diantaranya para Polisi Wanita yang ahli dan kerap menangani kasus KDRT) karena mereka terlatih dengan baik mengenali tanda-tanda fisik pelecehan seksual.

    Untuk kasus pelecehan ini, saya tidak bisa berkata banyak. Kredibilitas Anand Khrisna amat tinggi di mata saya. Namun untuk jelas-jelas membela beliau, saya tidak mampu. Ilmu saya belum cukup. Saya pikir harus saya akui bahwa saya lebih percaya polisi dan pengadilan dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik. Walaupun banyak sekali kritik terhadap kinerja dua lembaga hukum tersebut, saya berdoa semoga kasus ini dapat diselesaikan dengan baik dan sejujur-jujurnya.

  6. Guh says :

    @Anandkrishna palsu, maaf, setelah link dan IP saya catat, komentar anda saya mark masukkan kotak spam.

  7. Emanuel Setio Dewo says :

    Semakin tinggi pohon semakin keras angin menerpa.

  8. Red says :

    kasus AK juga menyinggung-nyingung hipnosis. padahal hipnosis itu ilmu yang keberadaannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bukan ‘ilmu’ yang didapat dari ngelmu :D

    apa yang diperlihatkan uya kuya dan rommy rafael di tivi2 itu adalah stage hypnosis yang ‘korbannya’ sudah dipilih dulu (amat sangat sugestif), sudah diberikan induksi awal, dan dimintai kesediaan dia mengikuti event tsb (semua ini kan tideak diperlihatkan di tivi demi kepentingan entertain dan rating). kalau seseorang sedari awal sudah menolak di hipnosis maka dia tidak bisa dihipnosis karena kesadarannya sudah menolak. ini yang tidak diketahui oleh banyak orang.

    • Guh says :

      Kalau “gendam” yang katanya sering terjadi di jalanan itu gimana mas? Kan tidak dipersiapkan dulu, tapi tetap saja korban mau melakukan hal-hal yang diinginkan pelaku.

  9. mahage says :

    Pa Anand kan seperti Teratai, gak akan ternodai walau berkubang ditengah lumpur.

    Semoga yang lainnya juga gitu, gak ikut tercemari walaupun banyak berita miring tentang beliau.

    Tapi saya yakin, yang kenal AK, pasti tau banget gimana akhlaknya.

    very nice post!

  10. Alex© says :

    Aku jelas bukan pengikut AK, tidak juga tertarik dengan pola ajarannya yang – menurutku – sejenis sinkretisme juga. Ajarannya, sependek yang kupelajari bagus, memang. Tapi … ya itu… tidak tertarik saja :mrgreen:

    Soal pemberitaan terhadap AK itu.. Sayang sekali, Guh… AK memang jadi bulan-bulanan media sekarang. Posisi beliau sama seperti Aa Gym saat “dihakimi media-massa” justru dengan “kejahatan” yang lebih privasi: Poligami. Tak banyak yang cross-check tapi banyak yang percaya pada Cek & Ricek. Dan hal yang sama – atau lebih parah? – terjadi pada Anand Khrisna. Sudah terlalu banyak infotainment, sehingga dakwaan jadi gosipan. Cara pemberitaan di televisi itu seolah-olah kasusnya sudah pasti benar. Nerakalah! Seharusnya segala talkshow dan kupas-kupasan itu masuk dalam lingkup Permen Konten sekalian. :?

    • Guh says :

      Menurut saya permen konten lebih banyak buruknya. Kebanyakan diatur malah pemirsa kehilangan kemampuan memilih.
      Menurut saya sih bebaskan saja sambil sebaik mungkin kasih alternatif yg lebih ok. Nanti lihat apakah pemirsa jadi dewasa, atau jadi semakin dungu.

      Tapi kalo permen konten untuk ngatur iklan, saya ingin setuju :D

  11. isti says :

    Sebenarnya acara hipnotis spt Romi n Kuya, tdk 100% murni dihipnotis para figuran dibayar utk melakukan hal itu, karena kalau mau melakukan hipnotis minimal waktu yg dibutuhkan adl 4 jam, dan belum tentu orang itu berhasil dihipnotis jadi daripada menunggu waktu lama dan TV selalu dikejar deadline maka dibayarlah para figuran tsb, ga percaya tanya saja crew TV itu saya sudah membuktikannnya sendiri

    • Guh says :

      Ooow, gitu ya. Nanti kalau ada kesempatan saya coba deh.

      Kalau ‘gendam’ itu hipnotis juga kah? Apa anda juga mengerti tentang itu? Sepertinya mengerikan.

  12. erander says :

    Suprise .. saya malah baru tahu kalo Teguh ‘simpatisan’nya AK .. turut prihatin ya Guh .. semoga semua bisa diselesaikan dengan baik.

    Saya sependapat dengan Bang Aip .. dan juga Alex soal kasus Aa’ Gym .. mungkin banyak simpatisannya terperangah .. tapi disitulah indahnya kehidupan .. apakah kita ‘menghamba’ pada kebendaan atau sesuatu ??

    Ketika kita mencari² dan meyakini sebuah kebenaran – menurut versi diri kita sendiri tentunya – dan ketika ada sisi lain, maka terkejut lah kita. Tapi apapun .. itu adalah kehidupan sehingga kita akan terus mencari ..

    • Guh says :

      Amin :)

      Tentang Aa Gym itu, hehe.. Begitulah, dulu saya jg termasuk yang sangat misuh-misuh tak terima saat beliau mengunakan Islam sebagai pembenaran dalam aksi penggandaan istri. Saya terkejut dan tidak berani melihat kenyataan.
      Tapi ya mau tidak mau akhirnya kita, saya, harus menerima, ternyata ajaran itu memang ada dan bisa dipakai untuk membenarkan perbuatan itu. Bahkan pembenaran untuk mencambuki manusia seratus kali, membunuhi kafir, sampai perbudakan juga ada.
      Akhirnya sadar, Aa berbuat sesuai kebenaran Islam yang beliau pahami.

      Hikmahnya dari Aa ya… saya harus memilih berhenti menghamba. Tidak menghamba pada AG, tidak pada AK, juga tidak pada Islam :)

      • danalingga says :

        Menjadi bebas ya Guh?

        • Guh says :

          Hehe, nyindir?
          Sebenarnya membanggakan sekali kalau bisa ngaku “bebas” beneran. Sayang, saya sering menghamba pada obyek2 yang saya anggap mulia… seperti… uang ;)

          • Alex© says :

            Ya sama saja itu. Nggak ada beda. :))

            Soal ajaran, dalam UU dan Pancasila itu juga bisa dipakai pembenaran. Enak lho, Guh. Masuk saja jadi aparat, dilatih beberapa bulan di Batu Kosek atau Cijantung, lalu kau pakai logo Garuda Pancasila, kau bisa bunuh orang. Jangan lupa pakai ikat kepala Merah-Putih dan jargon-jargon NKRI. Bunuh siapa saja yang kau suka. TNI dan Kepolisian sudah membuktikannya kok.

            Dan sama juga: Ajaran AK kalau sudah mayoritas bukan tak mungkin juga akan melenceng. Ajaran cinta-kasih ala AK membuatnya tidak apa-apa bermesra dengan muridnya. Tentu saja :)

            Oh, ambiguisitas manusia. Membenci apa yang dikira layak benci dan memuja apa yang dikira layak puja. Kegelisahan seorang Guh ketika AK dihujat begitu paradoks dengan kesukaan saat Aa Gym dihujat.

            Keadilan memang cuma utopia, bahkan bagi pro-kebebasan sekalipun. Bukan begitu, Guh? Semoga AK selamat dunia-akhirat. Amin. :))

  13. Arshintadewi says :

    Langsung pada Sang Pencipta, Guh?

  14. Vix Cepot says :

    Artikel yg sangat bagus Mas… Skrg pun Pak Krishna sudah terbukti kalo beliau tak bersalah. Trims atas support’y. Artikel ini sy share d FB sy. http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?ref=profile&id=100000202943376
    Diizinkan ato ga, poko’y ttep akan sy share. Hehe…
    Trims Mas Guh…

  15. Guh says :

    Alex© :

    Ya sama saja itu. Nggak ada beda. :))

    Soal ajaran, dalam UU dan Pancasila itu juga bisa dipakai pembenaran. Enak lho, Guh. Masuk saja jadi aparat, dilatih beberapa bulan di Batu Kosek atau Cijantung, lalu kau pakai logo Garuda Pancasila, kau bisa bunuh orang. Jangan lupa pakai ikat kepala Merah-Putih dan jargon-jargon NKRI. Bunuh siapa saja yang kau suka. TNI dan Kepolisian sudah membuktikannya kok.

    Yang Anda lihat dilapangan mungkin begitu Lex, tapi yang saya lihat dari surga dekat Jakarta sini tidak sekejam itu. Saya kira pendidikan Batu Kosek atau Cijantung tidak untuk mencetak manusia sebuas itu, tapi ya saya memang belum ngecek sendiri.

    Dan sama juga: Ajaran AK kalau sudah mayoritas bukan tak mungkin juga akan melenceng. Ajaran cinta-kasih ala AK membuatnya tidak apa-apa bermesra dengan muridnya. Tentu saja :)

    Itu mungkin saja terjadi. Setiap manusia dan setiap organisasi bisa melenceng dan jadi egois. Soal foto mesra, sebenarnya dengan sedikit usaha saat ini sudah bisa ditemukan foto-foto mesra, bahkan kalau melihatnya pakai standar polisi syariah situ, mungkin layak dimasukan dalam kriteria foto cabul.

    Oh, ambiguisitas manusia. Membenci apa yang dikira layak benci dan memuja apa yang dikira layak puja. Kegelisahan seorang Guh ketika AK dihujat begitu paradoks dengan kesukaan saat Aa Gym dihujat.

    Cinta memang bikin buta Lex. Itulah bahayanya.

    Saya jadi buta karena suka dengan visinya AK. Jadi walaupun semua TV bersatupadu menyatakan dia berbuat cabul, saya masih bisa menyangka beliau tidak bersalah, apalagi dia juga menyangkal semua tuduhan.

    Untuk kasus AA Gym, iya dulu saya masih buta. Tidak mengerti ajaran Islam. Saat itu saya masih meyakini bahwa ajaran Islam menentang poligami. Maka saat AA menggunakan Islam sebagai pembenaran beristri dua, saya semena-mena melihatnya sebagai sosok yang hina dina banget. Sekarang setelah wawasan saya sedikit lebih meluas, jadi malu sendiri. Ternyata AA sudah bertindak benar sesuai ajaran Islam.

    Keadilan memang cuma utopia, bahkan bagi pro-kebebasan sekalipun. Bukan begitu, Guh?

    Ya itu kan keyakinan Anda Lex. Mungkin karena saya masih terlalu naif, polos lugu dan tiada berdosa, saya masih merasa keadilan bisa diperjuangkan. Bisa diraih. Makanya saya coba bikin resep aneh-aneh nyoba mikir untuk memperbaiki keadaan.

    Semoga AK selamat dunia-akhirat. Amin. :))

    Amiiiinn. Semoga AA dan semua pendukung poligami juga selalu gembira dan sejahtera dalam Iman dan Islamnya. Semoga semua mahluk juga berbahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s