Supaya UUD seajaib Kitab

Supaya seajaib kitab, maka ayat-ayat dalam UUD juga harus dianggap ajaib. Yang boleh menafsirkan hanya segelintir orang, anggota lembaga ajaib yang dibuat dan dilindungi Penguasa.

Terjemahan UUD hasil penafsiran ajaib dari para ajaib ini akan dibubuhi dengan banyak sekali kata-kata dalam kurung. Kata-kata yang sebenarnya tidak ada dalam UUD asli. Ini perlu dilakukan agar pemahaman rakyat terhadap UUD bisa sesuai dengan keinginan Penafsir. Hasilnya nanti juga dipaksakan, harus diamini oleh seluruh warga negara.

Contoh:

Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh (korporasi yang direstui) negara.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran (segelintir) rakyat (elit).

Dengan menambahkan kata-kata dalam kurung dalam semua ayat yang terkait, maka cabang-cabang produksi bisa dieksploitasi oleh pengusaha yang berorientasi profit yang persetan dengan kesejahteraan warga.

Anda kuatir bakal terjadi pemberontakan? Tidak perlu, karena para penafsir ajaib juga bikin penafsirkan seperti ini:

Fakir miskin (lahir maupun batin) dan anak-anak yang terlantar dipelihara (eksistensinya) oleh negara.

Mereka yang menguasai negara memastikan agar fakir miskin dan anak terlantar itu bisa tetap ngeksis di lampu-lampu merah dan dimana-mana. Ini dilakukan dengan memastikan penyebab kemiskinan dan keterlantaran tetap tersedia. Diantaranya dengan melakukan adu domba dan pembodohan sistematis, agar rakyat selalu sibuk berkelahi sendiri.

Salah satu caranya adalah sbb:

Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan (agama, sejak kecil sekali).

Kurang eksplisit memang, tapi kira-kira penerapannya begini, sejak kecil kita kelompokkan anak-anak berdasarkan agama. Pada setiap kelompok kita tumbuhkan keimanan bahwa orang yang beragama lain adalah kafir yang diam-diam pasti selalu memusuhi. Nanti setelah tumbuh jadi fanatik-fanatik yang lucu, mereka mudah diadudomba dengan menggunakan intrik agama. Tentunya masih banyak cara lain untuk mengadu dan menyibukkan warga, bisa lewat partai, suku, olah raga, dan lain-lain.

– – –

Memang, sebagaimana pemelintiran makna terhadap kitab suci apapun, memelintir ayat-ayat UUD pasti mengakibatkan beberapa kata jadi tidak punya makna yang konsisten. Di satu ayat ada kata artinya begini, tapi di ayat lain artinya jadi begitu, di tempat lain artinya malah lain lagi. Kontradiksi anjuran antar ayat juga pasti terjadi, dan ini dapat membuat keseluruh UUD tampak seperti karangan manusia sok suci yang inkonsisten dan menyebalkan.

Tapi kita tidak perlu resah, karena sudah ada lembaga ajaib sebagai satu-satunya yang maha berhak dalam menentukan kapan sebuah kata artinya begini, dan kapan artinya begitu. Makanya itu, demi memudahkan kita, mereka bersusah payah menyisipkan “kata ajaib dalam kurung”. Opini para penafsir resmi yang maha benar itu bisa selalu dijadikan acuan. Jelata-jelata yang tidak “ngerti ilmunya” bisa kembali konsentrasi membantingi tulang demi menafkahi keluarga saja, trus istirahat, tanpa repot mikir macem-macem.

– – –

Sebenarnya ini tulisan untuk apa sih Guh? Untuk mengalihkan perhatian ya? Untuk buang-buang energi ya? Hah? HAH?!?

Tag:, ,

4 responses to “Supaya UUD seajaib Kitab”

  1. tiyok says :

    Ditambahi “front pembela-fanatik UUD”, Guh, biar makin paten, makin dianggap sakral oleh para objeknya.

  2. Bitch, The says :

    gwa tau, gwa tau! ini post untuk memenuhi tantangan 31 hari ngeblog kan?
    *siyul2 jumawa*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s