Indonesia Mencari Solusi, Andai Aku Menjadi

Sebuah ide untuk reality show yang bermanfaat untuk kemajuan manusia di Indonesia.

Indonesia Mencari Solusi

Sekilas akan seperti hibrid antara “Andai Aku Menjadi” dan “Indonesia Mencari Bakat” yang pernah tayang di TV. Hanya saja, acara ini tidak jualan keharuan, kesedihan atau tangisan. Yang diangkat juga bukan “bakat” yang bisa dikomersilkan untuk keuntungan pribadi.

Jadi peserta membayangkan dirinya berada di posisi tertentu dan memiliki kekuasaan untuk mewujudkan sesuatu. Kemudian mempresentasikan pemikiran, ide, kreatifitas dan solusi yang diyakininya bisa diaplikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh manusia. Tentu saja bagian “membayangkan jadi orang lain” bukan harga mati. Dia bisa saja tetap menjadi dirinya sendiri. Yang penting adalah idenya. Ide-ide yang akan muncul bisa jadi belum pernah terbayangkan oleh si pemilik profesi.

Profesi yang dibayangkan tentunya profesi yang punya efek luas, misalnya presiden, menteri, owner korporasi dan lain-lain. Tidak hanya para pengambil keputusan, tapi juru hasut, juru pelintir dan bos-bos media juga bisa,  efek mereka pada kehidupan masyarakat kan luar biasa.

Beberapa profesi yang bisa jadi tema untuk beberapa episode awal:
Andai aku Presiden RI
Andai aku Menteri Agama
Andai aku Pemimpin FPI
Andai aku KAPOLRI
Andai aku Dirut PLN
Andai aku owner Detik.com

Untuk awal, pesertanya diutamakan dari kalangan kritikus, pencela, pencibir dan penghujat kebijakan pemerintah. Dalam acara ini mereka bisa leluasa menjelaskan solusi yang mereka tawarkan. Bayangkan kalau tokoh sekelas Pak Kwik dipersilakan membeberkan idenya dan disiarkan secara nasional. Atau pak siapa itu yang rajin mengkritik dan menggonggongi kebijakan pemerintah, mereka semua boleh membeberkan isi kepalanya.

Selain kritikus dan klupencapir (kelub pencela dan pencibir), kita juga menerima peserta dari kalangan anak muda. Bayangkan, seorang peserta yang masih anak SD, perempuan, ingusan, berandai-andai “Andai saya jadi presiden, saya akan bikin KEPRES untuk mewajibkan setiap warga memisahkan sampahnya. Sampah yang tidak mudah terurai wajib dipisah dari yang mudah terurai. Saya akan suruh pak Menteri Lingkungan Hedop itu supaya mikir dan kerja yang bener, gimana caranya menangani sampah non organik yang susah busuk. Ini harus jadi gerakan nasional dan seluruh warga wajib ikut”. Sederhana, lugu, tapi efeknya akan luar biasa dan manfaatnya akan dinikmati oleh setiap generasi setelah kita.

Bayangkan seorang peserta lain, mahasiswa jurusan entah apa, berandai-andai “Saya sebagai presiden mengultimatum, negara kita harus menguasai teknologi pembangkitan listrik dari tenaga surya dan teknologi penyimpanan listrik dalam bentuk hidrogen, termasuk pembangunan industrinya, penguasaan sumber-sumber daya yang dibutuhkan dari hulu sampai  hilir, semua dalam waktu kurang dari 3 tahun!!” Sambil nunjuk-nunjuk seperti Soekarno. Kedengaran utopis, padahal masuk akal. Ilmuwan lokal yang menguasai ilmunya sudah berlimpah, selama ini masih disia-siakan. Tinggal dukungan masyarakat dan pemerintah saja.

Acara dibuat interaktif dengan pemirsa. Sepanjang acara, pemirsa bisa ikut menyuarakan komentarnya lewat twitter dan fb. Tapi ditayangkan secara fair. Pendapat yang pro maupun kontra ditayangkan bersebelahan secara bersamaan, terdokumentasi secara baik agar tidak seperti stasiun TV penghasut yang suka menayangkan twitter dan FB fiktif yang terarah.

Sekedar wacana tentu tidak berguna, karena itu setiap ide akan disertai forum diskusi online yang terus berlanjut walau acara sudah selesai. Ini untuk memastikan ide yang sudah muncul tidak mati kering, tapi terus berkembang, diperbaiki dan diwujudkan jadi kenyataan.

Ide-ide hot yang urgensinya tinggi akan ditayangkan lagi, bisa seperti acara TED talks. Dibuatkan halaman khusus untuk edukasi masyarakat akan pentingnya ide tersebut, sekaligus untuk menggalang dukungan dan mendorong (kalau perlu memaksa) si pemilik profesi yang dibayangkan untuk menindaklanjutinya.

Sepertinya rating acara ini akan bagus. Kasta penonton terdidik yang berdaya beli lumayan pasti tertarik nonton dan terlibat dalam diskusi. Kalangan muda terdidik juga pasti tertarik, buat mereka ini peluang untuk revolusi. Iklan produk-produk keuangan, komunikasi maupun barang-barang konsumtif bakal rebutan slot. Dan untuk melindungi pemirsa, supaya tidak jadi santapan yang terlalu empuk bagi para advertiser, maka divisi online kita perlu kampanyekan media literasi :)

Gimana?

Tag:, , , ,

13 responses to “Indonesia Mencari Solusi, Andai Aku Menjadi”

  1. Bitch, The says :

    orang2 yg seneng nonton reality show itu males diajak mikir. mereka mengidentifikasi diri dengan orang yg ada di layar, berandai-andai jadi salah satu dari mereka, masuk tipi, bisa dadah2 sama mamah, papah dan pacar di kampung.
    no fucking way. this would never sell.

    NEXT!

    *pura2nya jadi produser*

    • Guh says :

      Bu Produser yang baik, ini justru tujuannya untuk merubah. Warga yang sibuk berandai-andai itu pelan-pelan dibikin bermutasi jadi warga yang berpikir, yang terlibat, tidak lagi sebatas korban yang pasif.

      *test reply by email*

      • Bitch, The says :

        ya tapi gimana mau survive, Pak Teguh? tu acara bisa jalan dari duit yang didapet dari iklan. dan pengiklan cuma mau pasang kalo rating bagus, dan rating bagus itu kalo yg nonton banyak. nah, kebayang kan skema lingkaran setannya?
        atau gini… gimana kalo dibikin kek The Apprentice-nya Trump? walaupun amat sangat segmented, kan asik tu? kita pasang prominent figure yg jagoan komentar kek komentator olahraga. lumayan buat latihan mental para pesertanya. terus kita pasang juga satu-dua orang commoner dengan saringan masuk yg lebih ketat dari PNS tapi kompensasi setara kursi panas terakhir di Who Wants To Be Millionaire. kalo kek gini, orang bakal bisa mimpi. tiap kam tayang, orang pada sibuk di depan tipi geregetan, gemes, atau sebel sama peserta program.

        ini hal biasa, Pak Teguh. udah sering program pilot melenceng jauh dari outlinenya, ga cuma di shitnetron doang.

        bijimana?

        *udah pantes yak gwa jadi produser nyinyir?*

  2. Arshintadewi says :

    Kayaknya kebanyakan mengandaikan diri ikut kuis untung-untungan yang slalu diakhiri kata DEAL ituh ;)
    Kalo hoki dapet mobil ataw junk buat yang apes, coba hare gene siapa yang ngak tergoda ketiban rejeki instant?
    Bahkan ‘balita’ku pun ngak mau ganti channel, seru lihat wajah senang & kecewa para peserta katanya… waduh!

    • Guh says :

      Bu Shinta, kalau dibaca sampai akhir, mestinya akan terlihat kalau kuis ini beda dari yang biasa di tipi2. – “Deal” yang dikejar bukan dari peserta, tapi dari si obyek yang ingin kita ubah supaya lebih baik kerjanya. – Disini tidak ada rejeki instan/Hadiah. Isentif yang didapat ya ‘perubahan’ itu sendiri, jika ide yang dicetuskan menghasilkan perubahan, itu akan jadi hadiah yang lebih berharga daripada uang “puluhan juta belum dipotong pajak.”

      Dan.. Gimana dibikin tampak seru untuk balita, ini sepertinya perlu konsultasi sama ahli manipulasi anak :P

      Uhm… sepertinya saya memang masih harus belajar menulis yang bener supaya gampang dimengerti.

      *test reply via mail*

      • Arshintadewi says :

        Guh, maksudku awam kebanyakan masih merasa perubahan itu baru terasa kalo berupa uang keras di depan mata karena dengan uang mereka baru bisa berubah… iya ngak sih?

        Tulisanmu ok cuma mungkin saya yang butuh baca berulang ;)

  3. eMina says :

    klo kuis ini jadi dibeli rumah produksi dan dibikin, mas guh mau jadi peserta ga?
    apa nanti pesertanya dibayar ?

  4. yulianti says :

    saya kira IMB… :D

  5. junita sihombing says :

    terus maju untuk berfikir karena dari pikiran lah kita dapat mengetahui tentang apa tujuan hidup kita didunia ini

    kita telah sama2 menjalani hidup ni takkan ada kehidupan tanpa berfikir dan menyadarinya bahkan kita tidak akan bisa hidup tanpa berfikir maka untuk itu teruslah untuk berfikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s