Demi PLN yang lebih baik

Dulu, saya selalu membayangkan bahwa PLN itu isinya para pegawai negeri yang makan gaji buta. Datang hanya untuk absen, kerjanya asal-asalan, dan entah kenapa negara terus membayar gaji mereka, dengan uang yang diambil dari rakyat.

Saya membayangkan mereka semua, semuanya dan terutama para pimpinannya, selalu kerja seenak udelnya sendiri, tanpa peduli sedikitpun akan kualitas layanan pada pelanggan. Keyakinan akan keburukan mereka diperkuat setiap kali saya menelpon untuk mengadu. Nyambungnya sangat sulit, kalau nyambung jarang diangkat dan ketika berhasil bicara tidak akan menghasilkan apapun. Jawaban selalu klise, ada perbaikan entah dimana, tapi saat ditanya perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perbaikan, dia tidak akan tahu. Gombal. Asli gombal.

Tapi prasangka buruk ini mulai berubah saat saya membaca curcol seorang kawan dalam jejaring sosial:

Papa saya orang PLN, jadi saya tahu keadaan mesin-mesin PLTD tua di kota saya yg seringkali byarpet, dan setiap kali terjadi tensi papa saya naik terus memikirkan kapan mesin itu bisa diperbaiki, sehari dua belum tentu jadi.. jd harus sering sering pemadaman bergiliran disana.

Saya terkejut. Jika beliau mengatakan yang sebenarnya, berarti generalisir yang saya lakukan sudah salah dan jahat sekali. Ternyata masih ada orang baik dalam perusahaan aneh itu. Masih ada orang yang punya hati dan merasa tersiksa saat gagal memberikan pelayanan yang baik.

Saya jadi bertanya-tanya,
Kenapa mesin-mesin tua itu tidak juga diganti?
Bagaimana proses pembelian spare parts selama ini, apakah transparan? Apa bisa dipertanggungjawabkan? Apa ada markup?
Dengan kapasitas yang sudah jelas terbatas, apakah mereka terus menerima pelanggan baru?
Kalau penguasa memang tidak mampu membelikan mesin yang lebih baik, bolehkah masyarakat berswadaya?
Kalau rakyat telat bayar tegas didenda, diputus.. Kalau layanan PLN buruk gimana? Leher siapa yang boleh diputus?

Gimana cara memperbaiki layanan PLN? Sejak saya masih belum bisa berpikir sampai sekarang mulai belajar mikir, PLN masih saja suka mematikan semena-mena. Seolah para penguasa di khayangan sana tidak bisa diharapkan untuk perbaikan.

Dan saya mulai membayangkan apa yang dibutuhkan PLN untuk membuatnya jadi lebih baik…

Saya pikir jawabannya adalah transparansi. Semua harus dibuka untuk publik. Saya tidak melihat alasan untuk tidak melakukan itu. Ini perusahaan milik negara, dan negara milik rakyat. Rakyat berhak tahu bagaimana perusahaan aneh ini dijalankan.

Tidak perlu kuatir rahasia mereka untuk cari untung diketahui pesaing, toh dalam dalam bisnis listrik ini PLN melakukan monopoli. Tidak perlu kuatir pasar direbut pesaing.

Semua pengadaan barang harus dibuka. Tendernya, penjual, makelar, semuanya jelas. Jadi bisa segera ketahuan andai yang markup, bisa langsung ditangkap andai ada yang sengaja beli sparepart busuk dan gampang rusak  supaya bisa sering repeat order.

Manajemen dibuka setransparan mungkin. Jadi rakyat bisa ikut memberi masukan untuk perbaikan. Misal, pimpinan di sebuah wilayah punya kelakuan seperti setan, sudah merencanakan pemadaman dengan alasan perbaikan tapi sengaja tidak memberi tahu pelanggan, langsung saja esoknya melakukan pemadaman berjam-jam. Jika ini dibuka, maka ada kemungkinan salah seorang dari “Rakyat” yang melihat kelakuan si setan akan memberi ide: “Gimana kalau kita memanfaatkan teknologi super canggih bin ajaib yang namanya SMS? Sekarang kan SMS sudah murah, apa susahnya sih sehari sebelum pemadaman di SMS satu-persatu? Kan pelanggan bisa mempersiapkan molotov.”

Ya begitulah. Saya yakin memaksakan transparansi akan membuat PLN jadi perusahaan yang lebih baik. Setidaknya rakyat bisa tahu apa saja kebusukan yang terjadi di dalam sana, jadi tidak lagi sembarangan menghakimi dan berburuk sangka. Orientasinya juga kalau bisa dirubah, jangan terlalu menuhankan profit, harus fokus ke pelayanan. Semua sumber pembangkitan harus dikuasai negara. Minyak, batubara, gas, apapun itu jangan diserahkan pada perusahaan asing, harus dibawah kendali perusahaan yang bekerja dibawah pengawasan rakyat dan demi rakyat. Rakyat disini bukan cuma yang elit, tapi semuanya.

Trus gimana sekarang?


Gambar dari thejakartaglobe

Tag:, ,

5 responses to “Demi PLN yang lebih baik”

  1. mbelGedez™ says :

    .
    Indonesia yang goblok Guh…

    Menghasilkan Uranium, tapi ndak punya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

    Semestinya, negri sebesar Indonesia dan sumber daya alam melimpah memiliki Listrik dari Nuklir….

  2. CY says :

    PLN?? Kalo ada yg buka mulut ttg kebusukan ntar di tuntut pencemaran nama baik. Tuntutan pencemaran nama baik itu yg harus di “handle” dulu spy suara2 bisa mengalir keluar. Gimana Guh??

  3. pret says :

    PLN emank udah busuk sampe ke akar”nya…asal ada duit semua beres…!! padahal bisa selesai tanpa duit…tapi yah gitu…khan kita udah bayar biaya bulanan yang gak jelas…penempatan/pengelompokan nya juga gak jelas….malah gw juga baca ada tempat pembayaran PLN yang memeras client na…ckckck…malah di bantu ama kantor pusatnya lagi…!! udah abis kepercayaan gw…!!

Trackbacks / Pingbacks

  1. PLN, kok gitu sih? (I) « Nah. - Mei 15, 2010
  2. Untuk Gubernur Kalimantan Selatan 2010 | Generasi Biru - Juni 2, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s