Tradisi, tidak semua harus dipelihara

“Sesungguhnya doa yang segera terkabul adalah doanya kaum yang ikut slametan/tahlilan” ~ Hasil Riwayat Anonim

Sahih banget. Tadi sore pun terbukti masih relevan. Manusia tidak perlu menunggu lama sebelum doa terkabul. Cukup datang, duduk, doa-doa merdu barang sebentar, dan langsung dapat berkah. Berkahnya berupa “berkat” yang nilainya tergantung sang penyelenggara hajat.

Ehem…

Jadi, tadi sore saya ikut berdoa *muka insap*.

Weits… ini bukan cerita pengalaman spiritual kok, ini soal tradisi.

Jadi dalam undangan kali ini saya datang sangat awal. Selain ikut menyeret-nyeret kursi agar menyingkir demi umat, saya juga sempat ke dapur untuk meninjau dan mencicipi makanan yang akan dijadikan berkat. Disinilah saya menemukan sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang jarang saya temui di acara slametan/tahlilan yang lain *emang jarang ikut juga sih*.

Ada beberapa ibu yang sibuk membungkus batang-batang rokok untuk disertakan dalam boks paket berkat. Jadi setiap boks berkat yang diterima umat akan disertai satu batang rokok. Supaya tidak terpapar minyak dari makanan yang lain, batang-batang rokok ini pun dibungkus plastik. Repot sekali.

“Memang adatnya disini gitu!” Jawaban yang saya terima saat menanyakan kenapa harus disertai rokok.

“Ya tapi udah tradisinya seperti itu!” Ini jawaban yang saya terima saat mencoba berargumen bahwa rokok itu tidak sehat, dan menyelipkan rokok ini bisa dianggap sebagai dukungan untuk terus merokok bagi perokok, dan agar mencoba rokok bagi yang belum.

Akhirnya sambil maklum saya bertanya untuk terakhir kali, “Gimana kalau tradisi ini tidak usah kita hormati saja? Nggak usah dijalankan?”

Dan jawabannya tentu saja tegas, “Nggak bisa, pokoknya tradisi harus dihormati!”

Rokoknya mungkin ngerusak paru-paru. Bungkus plastiknya juga mungkin merusak bumi. Tapi tradisi tetap harus dihormati. Mungkin pikir sang penyelenggara ini bukan masalah besar, toh bikin acara macam ini juga jarang, tidak pasti setahun sekali. Sekali-kali mendukung prilaku merusak tidak akan berpengaruh besar.

Kalau ibu-ibunya begitu, anak-anaknya akan tumbuh jadi gimana?

Tag:, , , , ,

7 responses to “Tradisi, tidak semua harus dipelihara”

  1. ulan says :

    sayang kalo gitu, saya ndak pernah ikut tahlilan, jadi saya ndak pernah dapet berkah donk yak

  2. S™J says :

    mengikuti tradisi tanpa tahu atau setidaknya bertanya “kenapa?” kok rasanya seperti anak-anak sahaja.. :D

    • Guh says :

      Setahu saya, “anak” tidak seperti itu. Justru orang tualah yang terkenal punya kemampuan untuk mengikuti tradisi dan memaksakannya pada anak2 tanpa dia sendiri ngerti alasan sebenarnya apa.

      Yang namanya anak itu selalu tanya apa dan kenapa. Kecuali mungkin kurang gizi, kelainan otak, atau orangtua dan guru-gurunya sukses menumpulkan keingintahuan si anak sejak awal sekali.

      Kalau bayi memang akan menerima informasi apapun tanpa memilih, dia cuma pasrah bin reseptif.

  3. Bitch, The says :

    tempat2 dimana gwa naro pantad ga pernah ada tradisi bagi2 rokok tiap selametan. lha wong rokoknya ditaro di gelas kok =P

  4. Arshintadewi says :

    Trus tamunya berlebih dan pembagian berkat kurang, si ibu bersegera menyuruh anak beli rokok ke warung…

Trackbacks / Pingbacks

  1. Untuk Gubernur Kalimantan Selatan 2010 | Generasi Biru - Juni 2, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s