Usulan untuk POLRI tentang RANMOR

  1. SIM digital. Setiap patroli bertugas dilengkapi fingerprint reader, tak lagi basa-basi periksa surat langsung saja minta jempol untuk ditempelkan ke reader. Di layar petugas langsung tampil data lengkap pemilik jempol. Mulai biodata, kapan terakhir ditilang, kenapa ditilang, siapa yang menilang dan berapa rupiah sogokan yang diberikan kalau ada. Untuk orang yang sidik jarinya rusak, bisa input nomor SIM secara manual, kalau lupa ya dibawa ke kantor untuk scan retina atau sekalian DNA.
  2. STNK digital. Cukup masukkan nomor plat atau scan plat dengan kamera khusus. Data lengkap tentang kendaraan terperiksa, merk, jenis, bobot, KIR, status pajak, semuanya sampai siapa pemilik terakhir juga tampil. Instan.
  3. KIR juga digital. Setiap truk bisa dengan mudah diketahui timbangan mana saja yang sudah dilewati dan kalau “ngemel” bisa ketahuan dimana saja.
  4. Bayar pajak kendaraan bisa lewat transfer internet banking atau atm. Kalaupun mau bayar di samsat, cukup berurusan dengan satu loket, tidak dipingpong dan dipermainkan oleh birokrat dan calo jahat.
  5. Aliran uang pajak kendaraan dibuka untuk publik. Jelas mengalirnya kemana dan dihabiskan untuk apa.

Keuntungannya apa?

  • Warga tidak perlu lagi repot membawa-bawa kertas-kertas konyol. Cukup bawa sidik jari, retina, wajah atau DNA saja.
  • Pemalsuan surat-surat akan jauh lebih sulit. Memalsukan SIM akan sesulit memalsukan sidik jari. STNK akan sesulit mengecat dan merubah penampilan mobil. Curanmor jadi jauh lebih menantang.
  • Jembatan timbang jadi lebih mudah dikontrol, overload yang sudah jadi tradisi bisa dihapus, jalanan juga jadi lebih awet.
  • Proses tilang jadi praktis, polantas-polantas bejat bisa dibatasi kebejatannya. Pengemudi bejat juga terkendali karena semua prilaku keji di jalanan akan tercatat selamanya.
  • Bayar pajak lebih mudah dan instan. Uang pajak juga terawasi.
  • Penghematan dana luar biasa, tidak perlu cetak SIM, tidak perlu nebang hutan untuk kertas STNK, tidak perlu kertas untuk surat tilang dan kertas-kertas nggak penting. Dana perawatan jalan juga bisa dihemat karena jalanan lebih awet, tidak dirusak oleh truk-truk yang selalu overload.
  • Supir truk akan dibutuhkan lebih sering, penghasilan mungkin meningkat. Keselamatannya mungkin juga lebih baik, karena muatannya tak lagi berlebih.
  • Jalan bagus, muatan tidak berlebih, semua bisa bergerak lebih lancar, konsumsi energi lebih irit, waktu tempuh lebih singkat.

Kerugiannya?

  • Prilaku nista polantas, pengemudi dan pemilik kendaraan akan terekspos. Ini merugikan bagi yang suka berprilaku nista.
  • Polisi yang suka memberi makan anaknya dengan uang haram akan lebih sulit mendapatkan uang haram.
  • Birokrat korup dan calo di Samsat yang suka menindas orang akan berkurang penghasilannya.
  • Banyak karyawan dan calo Samsat akan kehilangan pekerjaan karena semua jadi jauh lebih efisien dan loket yang dibutuhkan jadi jauh lebih sedikit.
  • Kontraktor pembangunan jalan beserta buruh-buruhnya, koruptor yang suka memotong jatah kontraktor, koruptor di timbangan sampai polisi tukang pungli, semua mungkin akan berkurang pendapatannya.
  • Harga-harga barang akan meningkat karena transportasi jadi sesuai peraturan. Komoditi yang biasanya sampai ke pasar dibawa satu truk overload, sekarang harus dengan dua truk. Kalau tak mau mempengaruhi harga, maka pilihannya adalah mengurangi profit cukong dan para makelar atau menindas pihak petani dengan lebih keji.

– – –

Sekarang… Apa yang diperlukan untuk mewujudkan itu? Berapa lama waktu yang diperlukan? Mampukah pemerintahan saat ini mewujudkan itu? Kalau pemerintah tidak mau/mampu, apa yang bisa dilakukan warga untuk mewujudkannya?

Tag:, , , , ,

9 responses to “Usulan untuk POLRI tentang RANMOR”

  1. Bitch, The says :

    Wah, a damned increase on unemployment rate. nah. that won’t do.

  2. frozzy says :

    *ngebayangin pak pulisi bawa2 nyang beginian –> http://www.ingenico.it/pdf/930/Depliant_930-BIO.pdf

    • Guh says :

      Mantap. Saya baru tahu kalau sudah secanggih itu.
      Tadinya yang saya bayangkan malah modifikasi notebook yang pakai fingerprint reader :P

      Jadi teknologinya sudah ada. Tinggal mau atau tidaknya kan?

      • frozzy says :

        masa belum pernah liat? itu kan mesin EDC yang dgunakan untuk swap or dip kartu kredit/debit di merchant-merchant, salah satunya ya dengan tambahan biometric reader seperti itu. kalau memang mau, apa iya pemerintah mau mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk keperluan pengembangan software dan infrastruktur pendukungnya ? *pesimismodeon mengingat project KTP elektrik aja belum jalan sampe skrg*

        • Guh says :

          Belum. Gesek2 kartu si sering, tapi lihat yang pakai gituan baru ini. Ternyata teknologi malah sudah lebih maju daripada yang saya bayangken, hehe *ketinggalan jaman*

          Kalau teknologinya sudah lama ada, tapi pemerintah tidak mau pakai, memilih membiarkan warga terus repot dengan cara-cara mahal yang kadaluarsa… apa yang bisa dilakukan warga ya?

          • frozzy says :

            se (sok) tau gue sih di india sudah pake mesin ini, jadi semacam bank or koperasi gitu, gue juga lupa, jadi pegawai mereka berkeliling, mendatangi nasabah buat yang pengen setor atau narik duit, koneksinya sih pake GPRS gitu untuk nyambungin data ke server mereka. justru yang mahal itu yang pemerintah suka, kan bisa jadi alasan buat ladang korupsi lagi, dengan dalih bisa mempermudah dan mempermurah *suudzon mode-on, teteup* warga mah lagi2 cuman bisa ngurut dada…tauk dada siapa…

          • Guh says :

            hmm… saya lagi nggak ada dada yang bisa diurut, jadi saya mikir dulu deh nggak ikut urut2. Terimakasih infonya.

  3. Emanuel Setio Dewo says :

    Tambahan kerugian: ketahuan kalau punya mobil lebih dari 1 sehingga bisa diberlakukan pajak progresif. Hiks…

    • Guh says :

      Kan pajaknya jelas alirannya kemana. Ga akan seberat yang dibayangkan lah besarnya.
      Kalau mau ngemplang prosen progresif kan tinggal dibalik nama ke siapa kek. Saya kek :P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s