Pancasilaus Islamus vs Sentimenus Pembencius

Suatu sore, terciptalah dua mahluk dalam sebuah cerita.

Namanya Pa Is (PAncasilaus ISlamus) dan Si Pus (SentImenus pembenciUS). Yang pertama adalah manusia yang Islami dan anehnya juga percaya pada Pancasila. Sedangkan Si Pus kebalikannya, manusia yang sentimen dengan apapun yang berbau Agama (terutama Islam), sekaligus juga benci pada Pancasila.

Pa Is waktu kecil adalah anak kolong yang taat. Ayahnya jarang terlihat karena sibuk mencabuti nyawa para musuh penguasa negara, Ibunya aktif cari penghasilan tambahan dan Pa Is sendiri adalah anak pemberani yang rajin keluar komplek menerobos kawat berduri, masuk kampung untuk ikut mengaji. Walau gelap belum ada listrik, terpaksa pakai “obor” seadanya, dia tetap rajin memburu Tuhan, mengumpulkan pahala, demi surga. Menurutnya, dulu untuk ngaji saja memang harus keluar pagar. Asrama yang dia tinggali masih murni merah putih dan belum “sehijau” sekarang. Sekarang Pa Is hidup nyaman di pinggiran Ibu Kota, menekuni hobi barunya, belajar  berpikir, sambil mengelola buruh-buruh perusahaan warisan.

Si Pus sejak kecil nasibnya kurang beruntung. Suatu malam ayahnya dibantai oleh para tetangganya sendiri yang tiba-tiba jadi sangat benci pada anggota PKI, konon pembantaian itu juga dilakukan sambil berteriak-teriak memuji Tuhan. Setelah traumanya sembuh sial lagi, dibawah todongan senapan aparat negara, rumah dan ladang keluarganya dibeli paksa dengan harga nista oleh sebuah korporasi selingkuhan penguasa. Baru bangkit dari pemiskinan, sial lagi. Beberapa tetangga beragama yang menghargainya sebagai manusia tanpa peduli pada label KTP tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Tersisa hanya rumah-rumah yang rata dengan tanah. Dibumihanguskan oleh sesama kaum beragama yang merasa agamanya lebih benar. Si Pus muak dan minggat, pergi transmigrasi. Hidupnya kini mulai nyaman di tempat yang PLNnya mulai rajin menyala, GPRSnya mulai stabil, tukang sengketa tanah tak muncul lagi dan para jidat hitam bercelana cingkrang tak lagi dakwah di pintu setelah diancam akan dilaporkan ke densus88.

Pa Is menerima keMahaBenaran Agama sedalam keyakinannya pada kemahabenaran guru-guru agamanya, dia juga meyakini kesaktian Pancasila sesuai doktrinasi yang diterimanya sejak masih berbentuk sperma.

Si Pus menganggap Agama (apapun termasuk Islam) dan Pancasila sebagai petaka bagi umat manusia, tak lebih dari senjata sikuat untuk menjajah silemah, sesuai pemahamannya yang simplistik dan penuh dendam akibat apa yang dialami sejak kecil.

. . .

Pada 1 Juni 2010, serangkaian kebetulan mempertemukan kedua tua bangka itu. Benturan pemahaman pun terjadi. Pa Is yang sejak kecil tumbuh diantara pendakwah yang selalu bergaya maha benar tidak bisa menerima sudut pandang Si Pus yang berbeda. “Kesesatan Si Pus” dianggap sebagai ladang amal, kesempatan untuk berdakwah dan mencerahkan seorang manusia.

Tapi tentu saja diskusi jadi mbulet nggak jelas. Ruang kata dipenuhi anggota sekte fallasiyah. Generalisir, ad hominem sampai terasi semua berebut tempat duduk.

Bagaimana cara menghentikan pemborosan energi ini? Menghentikan prematur akan sangat tidak mendidik, tapi dilanjutkan mbulet juga akan membuang usia.

. . . . . . . . .

Menurut saya, sebaiknya masing-masing segera membebaskan diri dari buntelan dulu. Yang dibenci Si Pus dan dipuja Pa Is ini sebenarnya buntelan. Buntelan Agama dan buntelan Pancasila. Dibenci dan dipuja sebagai buntelan tanpa sadar isinya apa.

Memenangkan Pa Is tampaknya tak sulit. Tuduhan bahwa Islam dan Pancasila adalah ajaran petaka bisa dipatahkan dengan membongkar buntelan. Pancasila dan Agama ini kan buntelan-buntelan yang terdiri dari banyak ide yang biasa diterima bulat-bulat, kaffah tanpa mikir. Nah, Pa Is bisa ajak Si Pus untuk membongkar Buntelan-buntelan itu isinya apa, ajarannya gimana dan pikir apa efeknya pada manusia.

Ajak Si Pus untuk menunjuk dengan jelas, bagian mana yang mengajarkan keji. Mana yang membuat penguasa semena-mena memiskinkan rakyatnya, mempersembahkan pengolahan sumberdaya alam pada korporasi penyembah profit, membiarkan rakyat saling bunuh karena agama. Tunjuk yang jelas mana ajaran-ajaran yang mengajarkan korporatokrasi Pancasila, atau yang mengajarkan adu domba, kekejian, kebencian dan perpecahan.

Setelah Si Pus gagal menemukan, dia akan belajar bahwa selama ini dirinya salah sasaran. Ternyata si kambing hitam tak berdosa. Bebas dari memuja kambing hitam yang salah, Si Pus dan Pa Is bisa barengan mencari lagi, menemukan sumber masalah yang sebenarnya dan menemukan cara memperbaikinya.

Tapi kalau ternyata ketemu gimana? Kalau ternyata setelah dibongkar, ternyata buntelan-buntelan ini memang isinya busuk dan mengandung ajaran keji gimana?

Ya itu urusan nanti, hehe. Setidaknya proses desakralisasi dan penghancuran berhala sudah dimulai. Nanti bisa dipikir lagi yang bener. Kalau perlu mengundang orang yang kompeten. Kompeten dalam mengajarkan cara berpikir yang benar. Atau ada ide yang lebih baik?


Catatan: Si Pus dan Pa Is ini harus dianggap sebagai tokoh fiksi. Harus. Semuanya fiktif termasuk latar belakang tokoh juga juga fiktif. Tapi perdebatan konyol itu cukup nyata, benar-benar sering terjadi di antara manusia Indonesia. Jadi kalau ada ide untuk solusi yang oke, itu sungguh akan menolong.

Tag:, , , ,

4 responses to “Pancasilaus Islamus vs Sentimenus Pembencius”

  1. lovepassword says :

    Hi Hi Hi .. Sip dehhh….

  2. Fortynine says :

    Mungkin yang dua itu bisa diajak berbagi dengan orang ini…??

  3. dka says :

    ora mudeng :D ….
    kalo buka buntelan semuanya aja di buka yang berupa buntelan tar juga tau mana buntelan yang anda pilih :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s