Abang Tukang Galon Mari Mari Sini

Awas, panjang banget, lama tidak update bikin saya lupa caranya nulis pendek.

Jadi gini…

Lakon saya sekarang sedang jadi warga komplek perumahan, sekaligus menjalani profesi sebagai tukang galon, jual air minum isi ulang. Mungkin ini profesi yang paling nggak keren diantara para blogger, tapi cuma soal waktu, karena profesi apapun kalau saya yang mengerjakan bakal ikut jadi keren juga.

Kesempatan update ini, selain saya pakai curcol seperti biasa, juga akan saya gunakan untuk berbagi rasa. Semoga suatu ketika anda berurusan dengan salah satu dari tukang air, bisa memperlakukan dengan lebih manusiawi.

Sebagai warga komplek, artinya punya tetangga kanan kiri depan belakang, kadang ikut begadang pura-pura ronda (tentunya sambil diracuni asap rokok), dan seminggu sekali harus cari alasan untuk tak ikut pengajian RT. Dinding yang tipis dengan material yang nista (khas rumah BTN) membuat saya tiap malam harus mendengar dengan jelas suara-suara dari para tetangga. Mulai dari pertengkaran rumah tangga, desah ga jelas, tawa tangis sampai suara kompor gas yang susah menyala. Lewat rongga-rongga di atap yang saling berhubungan, saya juga berbagi tikus dan kecoa dengan keluarga yang tinggal di kanan kiri.

Sebagai satu-satunya bujang lapuk se RT, tentu jadi mangsa empuk komentar menyindir. Misal saat saya kelihatan mencuci baju atau piring, ada saja yang komentar dengan tema: “Makanya, cari istri!”. Heh, mending saya cari mesin cuci kalau cuma  buat nyuci, lebih aman. Dalam hati saya penasaran, jika melihat saya bongkar motor, apakah mereka akan ngomong “makanya cari suami!” ?? Tapi sekarang aman, saya menjemur di atap dapur, bisa jemur baju sambil bugil, bebas dari komentar usil.

Menjadi warga komplek itu sebenarnya cuma peran sambilan, alasan utama Tuhan mengutus saya saya kesini adalah untuk dagang air. Mendatangkan air bersih dari sumber “entah dimana” pakai mobil tangki, tampung di tandon, disaring 8 tahap, lalu diradiasi dengan UV sebelum dijual sebagai air siap minum ke warga komplek dan penduduk kampung sekitar.

Kadang saya jaga di depo, bertugas mencuci dan mengisi botol kosong, menerima telpon, melayani pembeli, mencatat sekaligus menyusun urutan pengisian dan pengiriman. Multitasking abis. Ngelamun sedikit maka akan ada air yang terbuang luber, atau pesanan yang tak tercatat.

Kadang jadi bagian keliling. Sekilas tampak lebih simpel, hanya naik motor antar jemput botol. Tapi ini sering dilakukan panas-panasan, kadang basah kuyup kehujanan, sambil bingung cari alamat. Dan mengarahkan laju motor bebek roda dua di perumahan yang berbukit-bukit dengan beban 5-6 botol berisi air plus menaik-turunkan di setiap tujuan adalah siksaan tersendiri bagi otot-otot yang kurang nutrisi akibat belum punya istri koki vegetarian yang paham gizi.

Tapi yang paling melelahkan itu bagian ngurus duit. Memastikan setiap orang mendapatkan upah, urusan maintenance mendapat budget, sambil memandangi spreadsheet yang selalu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ghaib bernada pasrah: “kapan bakal balik modal?”.

Setiap hari toko buka mulai jam 6. Antar jemput mulai jam 7. Tutup jam 9 atau 10 malam. Tidak ada istilah libur, adanya status ijin, atau mbolos yang berkonsekuensi potong gaji. Ini memang kerja rodi, perusahaan baru jalan dan belum mampu membayar cukup orang agar libur bisa gantian. Upah juga masih jauh dibawah UMR, pastinya tanpa asuransi. Kalau nggak tahan ya cepat keluar, karena ada antrian panjang pengangguran yang membutuh penghasilan.

Awal-awal memburuh memang luar biasa sibuk. Tidak sempat mikir yang lain. Kalaupun ada kesempatan, energi sudah habis, tak cukup energi bahkan sekedar untuk masturbasi (baik intelektual, spiritual maupun fisik). Tubuh yang lelah membuat jiwa hanya ingin tidur. Dan baru tidur sebentar, belum sempat ngorok, tiba-tiba sudah pagi dan harus mulai lagi.

Seperti neraka, jadi tukang galon itu rasanya lebih boros energi dibanding jadi tukang tidur seharian, tukang sales korporat, tukang nyetir, tukang entry data, tukang tani wannabe, tukang servis, bahkan dari tukang ngeblog sekalipun. Lebih meletihkan dan boros waktu dibanding apapun yang pernah saya alami. Seorang rekan kerja bahkan menderita tipes, hampir mati dan terpaksa pulang kampung, itu akibat gagal memanage stress lahir batin ditambah pola makan yang memang mengerikan. Tapi semua itu tidak seberapa menyesakkan dibanding rasanya dipandang sebelah mata oleh para gadis, seolah-olah tukang galon itu sesuatu yang tak pantas dilirik lama-lama.

Anehnya, pekerjaan macam ini tampak tak terlalu melelahkan bagi mereka yang sudah punya keluarga. Manusia yang sudah punya tanggungan mungkin pikirannya jadi lebih bersih, mungkin isi kepalanya hanya mikir gimana cara menghidupi istri yang terlanjur dikawini dan membiayai anak-anak yang sudah terlanjur dilahirkan. Tujuannya hidupnya bisa fokus untuk cari duit. Lain dengan yang masih perjaka, pikirannya masih dicemari hasrat untuk bermain, bereksperimen, berkreasi, dan revolusi. Keinginan-keinginan yang jika tidak difasilitasi bisa bikin depresi, menumpulkan kreativitas dan mematikan jiwa.

Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama mengasihani diri dengan mengeluhkan beratnya lakon jadi tukang galon. Karena kemudian saya tahu kalau banyak orang disekitar saya berkubang dalam keadaan yang jauh lebih mengerikan. Maklum, tetangga-tetangga sekomplek kebanyakan buruh rendahan dari berbagai pabrik, tetangga kampung sekitar juga banyak yang pengangguran. Sudah miskin lahir batin, terlanjur kawin dan bikin banyak anak, masih kecanduan rokok pula, adalah kasus yang sangat biasa diderita orang sekitar sini. Untung saja mereka punya agama, jadi ada pelarian dengan rajin beribadah dan memimpikan surga.

Jadinya daripada bermanja-manja menyesali nasib, saya mulai mensyukuri dan menikmati hal-hal seksi yang dialami sehari-hari.

Saat kebagian jaga lapak, saya anggap sedang main game. Multitaskingnya memang mirip game semacam Dinner dash. Pernah main? Nah, ini lebih realistis, sayangnya tidak bisa restart sesukanya dan salah-salah bisa sakit pinggang beneran.

Saat kebagian delivery, saya jadikan kesempatan belajar basa-basi dan sosialisasi. Belajar basa-basi dengan kaum ibu (muda), mulai dari yang menyebalkan sampai yang centil abis, juga belajar berurusan dengan mbak-mbak sinting menggairahkan. Diantara pembeli rumahan, ada saja gadis segar wangi yang baru mandi, dengan tubuh hanya berbalut handuk meminta saya masuk rumah, HANYA untuk minta tolong sekalian pasang galon ke dispenser. Tiap ada kejadian begitu, saya punya setidaknya dua prasangka. Pertama, si mbak wangi memang sengaja menggoda saya. Kedua, si mbake menganggap tukang galon itu mahluk semacam kasim yang sudah dikebiri, sejenis budak yang tak punya lagi keinginan seksual. Haha. Selama ini saya memang tidak/belum diapa-apakan sih. Ya setidaknya fenomena macam itu bisa membuat kegiatan naik motor panas-panasan, bercelana pendek tanpa cd jadi lebih sejuk, semilir angin lebih semriwing.

Ternyata sejak merubah pola pikir menjadi cabul ahli syukur memang hal-hal menarik semakin sering terjadi. Yang paling berkesan dan baru beberapa hari terjadi…

Biasanya kalau ada yang pembeli yang terlalu cantik atau seksi, maksimal efeknya bagi saya cuma bikin grogi. Entah grogi karena ga pede tapi maksa pengen tampak keren, atau sekedar salah tingkah karena menyembunyikan ereksi. Nah, suatu hari muncullah seorang gadis yang sangat lain dari yang lain. Masih abege sih. Tapi daya tariknya lebih dari sekedar sensual. Setiap ketemu, tubuh saya terasa jadi lebih sehat dan penuh semangat. Matahari seolah wattnya nambah karena hari mendadak jadi sangat cerah. Setelah dia pulang pun, hingga malam menjelang tidur seluruh sel dalam tubuh saya masih tetap ceria. Bangun pun saya jadi lebih pagi… Ehm.. Ok lah, kalimat terakhir itu bohong banget, tapi lainnya bener. Padahal… Waktu itu namanya siapa juga saya belum tahu. Ya kebiasaan disini memang mengenal pembeli dari nomor atau alamat rumah, bukan nama orangnya. Kurang nguwongke memang.

Jadi, setelah beberapa kali transaksi, akhirnya saya penasaran (banget). Kesempatan berikutnya  saya manfaatkan untuk mengenal lebih jauh. Kemampuan sosialisasi saya yang sangat kurang membuat usaha ini tidak mudah, apalagi status saya sebagai “mamang air” dan uban-uban kurang ajar di kepala saya membuat saya merasa agak kaku. Setelah nekat berjuang (agak) keras, mengorbankan ego, sengaja memperlambat proses transaksi demi kesempatan ngobrol sedikit, informasi yang didapat ternyata sangat mengejutkan: Ternyata beliau baru kelas 1 SMP!!! Kelas satu es em peh!!! Bwahaha.. Dalam hati saya mengutuk Siaaalll!!!!. Beruntung tembok BTN itu rapuh dan gampang rubuh, jadi saya tidak tergoda untuk membentur-benturkan kepala atau garuk-garuk tembok.

Tapi ya tetap saja, saya masih terus penasaran karena belum tahu namanya. Saking grogi lupa nanya, malah basa-basi bahas anggora dalam kerangkeng. Jadi selesai mengantar, dari  atas motor yang belum dinyalakan, saya bertanya pada dia yang entah kenapa masih berdiri di gerbang, dengan pose seperti sedang mengantar kekasih *yay!*, saya tanya : “Mbak, boleh tahu namanya siapa?”. Itupun harus diulang sampai dua kali, mungkin tak jelas karena lidah saya kelu, (atau karena gigi saya yang berantakan?). Dengan suaranya yang mmmwah, dia menjawab sambil sedikit mendekat: Nat(sensor). Sudah. Tanpa terlalu lama terpesona dengan muka tolol, saya segera sadar untuk pamit dan tarik gas meneruskan pekerjaan. Saya juga sempat bersyukur motor itu tidak dipasangi cermin spion, jadi seharian itu saya tak perlu melihat wajah tersangka pedophil. Tapi bersyukurnya juga sambil senyam senyum sendiri, masih girang dan terbayang-bayang wajahnya.

Sekarang sudah beberapa hari dan belum bertemu beliau lagi. Ternyata sedikitpun saya tidak merasa rindu. Dan saya sedang berdusta besar, haha. EHmmm… Ketololan seperti ini harusnya tidak ditulis di blog yang kurang anonim gini ya? Nanti lah kapan-kapan diedit lagi.

Weits… Cerita belum berakhir. lanjut dulu ke dagang Air.

Sekarang soal kompetisi. Tergiur uang, banyak saja yang ikut-ikutan mendirikan usaha yang sama persis, di lokasi yang berdekatan pula. Rebutan pelanggan tak terhindarkan. Memang ada bagusnya, pembeli jadi punya pilihan, dan masing-masing pedagang dipaksa untuk memberikan yang terbaik agar pelanggannya setia. Namun ada juga buruknya, jenuhnya pasar membuat setiap depo berusaha menekan ongkos produksi secara tidak wajar. Ada banyak cara, tapi yang pertama terpikir biasanya menekan upah buruh, membeli air baku yang lebih murah sambil mencekik biaya perawatan. Masing-masing punya keburukannya sendiri.

Pertama, buruh yang bekerja dengan upah minim akan cenderung lebih stress. Anda yang percaya teori “keajaiban air” tentu segera mengendus keburukan dari hal ini. Air yang diolah dan dibawa oleh orang-orang stress akan merekam kegelisahan mereka dan menyebarkannya pada siapapun yang meminum air tersebut. Kalaupun itu hoax, orang-orang stress juga cenderung tak peduli dengan kesehatan orang lain. Bisa saja mereka jadi cuek ngupil sambil ngisi galon, lalu upil yang tercungkil masuk ke air minum dan pelanggan jadi lebih sehat karena minum air bervitamin U… Upil. Yaiks. Atau dengan lugunya merokok sambil ngisi galon, karena stress bikin mereka tidak puas meracuni paru-paru sendiri, air untuk banyak orang harus dicemari juga.

Kedua, menekan biaya perawatan mesin. Ini bisa dilakukan dengan banyak hal buruk, mulai dari mencuci dan memakai berulang-ulang filter yang seharusnya sudah diganti (yang jadi cepat mampet karena beli air dari sumber murahan), sampai tidak mengganti lampu Ultra Violet yang mati. Bagi konsumen yang peka, mungkin akan segera merasakan dan berpindah depo, tapi bagaimana konsumen yang sudah stress berat? Dengan sensitifitas indera yang sudah dirusak rokok dan polusi di tempat kerja, mereka akan terus minum tanpa pernah sadar ada sesuatu yang sangat salah.

Itu baru mencekik diri karena kompetisi, belum sikut-sikutan yang sebenarnya biasa dalam dagang. Dalam kompetisi, biasanya yang menang ya yang paling bermodal. Lantas bagaimana dengan kesadaran manusia? Gimana kaitannya dengan kelestarian bumi?

Dagang air bisa laku karena banyak sebab. Dua yang saya angkat disini. Pertama, jaman instan banyak orang malas masak air sumur, pilih yang praktis walau agak mahal. Kedua, karena air sumurnya memang terlalu buruk. Seperti disini, air tanahnya memang rusak banget. Jangankan layak untuk minum, untuk ngepel saja tidak. Baunya busuk sangat, kena kuku bisa hitam, kena keramik juga jadi noda. Kecuali beberapa orang nekat, semua orang yang waras pilih beli saja. Yang ekonominya pas-pasan minum isi ulang, yang banyak duit minum air produk perusahaan asing. Semua dibeli lewat saya.

Jadi mau tak mau saya harus mensyukuri busuknya air tanah. Semakin buruk air tanah, semakin jaya usaha saya. Sekarang bayangkan, gimana kalau suatu pagi saya jadi maha besar? Bermutasi dari kuli menjadi kapitalis multinasional yang hobinya menguasai sumber air di negeri manapun yang saya kunjungi? Setiap sumber saya beli dan pagari tinggi, anda butuh harus beli. Sesuatu yang ketersediaannya berlimpah itu tidak ada harganya, jadi demi profit lebih besar lagi, air tanah saya rusak, misalnya dengan limbah dan produk pestisida dari pabrik-pabrik saya yang lain, atau bisa juga sekedar mendukung prilaku yang merusak dan pendidikan yang tidak mencerahkan. Semakin air langka dan sulit didapat, akan semakin bisa dijual, dan semakin membuat kaya.

Hehe. Tentu saya tidak serakus itu. Belum.

Menurut saya, adalah kurang baik jika segelintir pihak terus menerus mengambil keuntungan dari sebuah “kelangkaan”, baik kelangkaan yang alami apalagi kelangkaan yang disengaja. Siapapun yang mendapat untung dari kelangkaan akan cenderung mensyukuri kelangkaan itu dan bisa saja tergoda untuk melestarikannya… atau malah memperparah.

Dari sisi konsumen, beli air (atau apapun) tanpa kesadaran sebagai solusi kelangkaan juga tidak mendidik. Setiap kali butuh, ya beli,tapi cuma sebatas beli tanpa peduli sebabnya air susah itu kenapa. Tanpa peduli airnya diambil dari kampung mana. Tanpa peduli apakah proses produksinya merusak atau tidak. Akhirnya prilakunya tetap semena-mena, tanpa kepedulian.  Selalu ada banyak cerita dibalik setiap produk yang kita konsumsi, yang jika kita sadari, bisa mengubah prilaku kita jadi lebih mikir. Nonton “story of stuff” bisa jadi awal yang baik.

Jadi baiknya gimana?

Sebaiknya, semua pihak berkepentingan bisa terlibat dalam mengusahakan kelimpahan. Dengan sadar, supaya ngerti jadi nggak sembarangan lagi. Trus untungnya juga tidak melulu masuk kantong individu tertentu, tapi dibagi untuk semua. Tujuan utamanya juga jangan akumulasi duit, tapi menciptakan kelimpahan bagi semua, jadi harganya semakin murah, kalau perlu bisa gratis, tis.

Caranya?

Itu dia… Saya belum terbayang. Mungkin dengan koperasi? Tapi koperasi yang seperti apa?

Ah, saya pikirkan dulu sambil memburuh. Ini topik bagus supaya pikiran sibuk dan terhindar dari nonstop merindu pada nona N. Mikir cara mengatasi kelangkaan, sambil panas-panasan, sambil sekali-kali menghayal setiap nona di penjuru komplek bersenandung dalam hati: “Abang tukang galon, mari-mari sini, aku lagi horni….” Yay!

Ehm… Kalau anda punya ide terkait mengatasi kelangkaan, air, atau apapun terkait tulisan ini, mohon sudi berbagi. Terimakasih.

Tag:, , , ,

19 responses to “Abang Tukang Galon Mari Mari Sini”

  1. bangaiptop says :

    Saya sedang meriset ini buat tulisan pula, Mas Teguh. Tapi memang repot, sebab risetnya lama dan butuh banyak sumber. Air itu masalah serius. Privatisasi air lebih serius lagi. Saya sudah memulai riset ini sejak awal tahun ini, masih saja tetap butuh banyak data (hanya sekedar buat nulis blog, wew). Tiga minggu lalu, sempat dapat laporan internal PDAM JKT, isinya cukup mengejutkan. Semakin mengejutkan ketika laporan itu pun dikonfirmasi oleh cikal bakal tesis salah seorang peneliti air. Bisnis air di JKT ternyata merugi. Ajaib kan. Walau rugi namun masih dikuasai oleh korporat.

    Saya kebetulan juga bekerja di (salah satu industri yang bergerak pula) perairan untuk publik. Untung saja berlindung di balik anonimitas, jadi bisa komen dan berencana menulis begini. Hehehe…

    Sepengetahuan saya, kelangkaan air itu umumnya bukan gara-gara susahnya mata air atau menyediakan air bersih. Namun lebih menjurus ke politis. Di Namibia, kami membawa alat sebesar botol air mineral (bentuknya juga seperti botol 600cc) yang dapat digunakan untuk mendeteksi E.coli secara mudah. Jadi air tinggal di masukkan ke dalam botol itu, trus botol diikat di badan selama 24 jam untuk menunjukkan aktifitas bakteri dalam suhu tubuh. Kalau sudah terdeteksi E.coli, maka akan mudah pula dengan alat yang sama untuk mendeteksi Enterococcus dan Cryptosporidium. Sialnya, local.govt (yang uangnya lebih dari cukup untuk mendistribusikan alat ini kepada seluruh sumur warganya) tidak mengijinkan project ini terlaksana. Sebab kalau terlaksana, maka tidak ada lagi ketergantungan air dari warga lokal kepada pemerintah. Mirip dengan apa yang terjadi di Sudan sana. Kalau di negara Arab, minyak jadi komoditi politis, maka di Afrika… bukan hanya minyak namun juga yaa Air.

    Sori, tidak hanya di Afrika… di Manila dan di JKT juga loh :)

    • Guh says :

      Maksudnya merugi gimana bang? Soale disini juga udah dari lebaran belum dapet stok lagi dari Dan***. Kalau dilihat dari jumlah konsumen yang nanyain sepertinya aneh kalo korporasi yg satu itu bakal ikut merugi…

      Botol 600cc diikat ke badan itu kok mengingatkan saya pada nabi yang katanya suka mengikat batu ke perut, hehe. Apa rasanya ga menyebalkan ya. Tapi kok aneh ya, pemerintah ingin rakyat tergantung. Bukankah lebih bagus kalau rakyat bisa mandiri?

  2. Arshintadewi says :

    Air memang ajaib ya, Guh :D

  3. bangaiptop says :

    Merugi maksudnya margin keuntungannya pertahun turun terus. Ini saya juga bingung. Bukankah mereka sebagai pemain utama (eufimisme monopoli) di bisnis air JKT, kok bisa rugi? (*Sebenernya nggak enak sih, tapi kok yaa saya jadi buruk sangka terhadap paparan angka laporan internalnya*)

    Soal ketergantungan terhadap air, wah ini sih udah masalah global, Mas Teguh. Kalau cari dengan kata kunci ‘water privatization’ akan banyak ketemu masalah air di dunia ini. Lebih banyak lagi issue yang akan ketemu kalau di akhir kata kunci itu diembel-embeli ‘conflict’. Semoga hasil pencariannya bisa menjawab pertanyaan Mas Teguh soal kelangkaan dan kelimpahan air di perbukitan sana :)

    Lebih lanjut. Ketergantungan vertikal dari bawah ke atas, dalam kasus ini dari rakyat ke pemerintah adalah amat perlu apabila negara tersebut berkategori Machiavellian penganut asas L’etat, C’est Moi. Jadi kekuatan rakyat dapat dimobilisir demi kepentingan penguasa dengan bargain fasilitas publik (dalam hal ini, air). Dalam konflik (baik di area remote atau di negara yang sudah establish), penguasa biasanya memiliki akses-akses ke sumber daya alam rakyat lokal (terutama: air) demi keuntungan politis/ekonomi/whatever yang mereka inginkan. Biasanya, kasus ini ada di negara-negara yang baru merdeka atau negara yang sedang dalam kondisi darurat
    (*untuk kondisi darurat; contohnya administrasi Bush pasca 9/11 yang menggunakan dana rakyat demi perang. Untuk kasus negara yang baru merdeka, ehmmm… pasal 33 ayat 3…ehmm… “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara…”, hahaha*).

    Soal nabi, no comment. Lebih baik saya konsen ke Nat…eh, itu siapa namanya? Ahh kok lupa yaah. Siapa?…ehmmhh… Hehehe…

    • Guh says :

      Jangan suka buruk sangka bang, walaupun ngaku rugi bisa untuk menghindari pajak, tekanan dari yang minta naik gaji, dan dari pungliman sekitar, tidak mungkinlah itu dilakukan (eh, apa aja sih manfaat dari ngaku rugi?). Kayaknya cuma permainan bahasa aja itu, keuntungan menurun dibilang rugi.

      Kekayaan alam dikuasai oleh oleh Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran pejabat dan korporat ya. Pasal yang aneh.

      Trus kapan beres itu penelitian? Saya penasaran gimana privatisasi cairan dimata Bangaip :D

  4. Arshintadewi says :

    Yoi. Ikut penasaran menanti kelanjutan kisah Natalia *asal nebak* hehe.

  5. Emanuel Setio Dewo says :

    Kayaknya pembahasan Nat perlu didetailkan lebih lanjut. Hihihi…

    *penasaran*

  6. Bitch, The says :

    Natas… ga jadi. udah dipelototin kakek botak penggerutu.

    guh, guh…

    KAWIN! KAWIN! KAWIN!

  7. abenk says :

    nice story….salam kenal….

  8. rotyyu says :

    Panjang banget artikelnya, saya ga baca sampe selesai..
    Cukup tinggal komen aja dah…

  9. almascatie says :

    Jadi teringat omongan bapak beberapa hari lalu.. tinggal dikota ini mahal, apa saja butuh uang,.. air setiap 3 hari sekali mesti 10 ribuan.. coba kalo dikampung, mau air, mo mandi, tinggal nimba aja..

    btw slogan “save water” itu hanya hiasan bibir semata.. tanpa ada bukti yg jelas, pemerintah mendukung gerakan itu tapi disatu sisi pemerintah terus memberi izin untuk perusakan lingkungan.. apapun yng dilakukan rakyat kadang hanya akan mentok dibawah saja, mungkin yg harus dibenahi adalah kesadaran bersama tentang lingkugnan.

    • Guh says :

      Karena “pemerintah” itu terdiri dari banyak manusia yang tidak kompak. Banyak penghianatnya juga. Leadership pemimpinnya perlu dipertanyakan. :P
      Kesadaran warganya (kita) apalagi :))

  10. semendo says :

    begitulah di kota besar. lebih enak tinggal di kampung kayak gue, kagak ada air yebur ke kali…

  11. Legend Wannabe says :

    nice story mas guh,
    apalagi tentang dik natasha itu :mrgreen:

  12. CY says :

    Guh, Kalo kami disini solusinya begini. Beberapa “orang mampu” ngumpulin dana (misal 10 org) ngebor sedalam 300 meter mencari mata air bersih. Setelah selesai, dibuat sebuah bak mirip bak mandi namun ditutup besi dan digembok. Mata air yg terus mengalir itu akan mengisi bak sampai penuh dan dibawah bak dipasang pipa2 air yg mengarah ke rumah 10 org “pemegang saham” tersebut. Di sisi atas bak dibuat sebuah lobang dgn pipa PVC sehingga air bak yg sudah penuh bisa mengalir keluar. Saat bak air di rumah ke sepuluh “pemegang saham” sudah penuh, tentu mereka matikan kran-nya. Nah, bisa dipastikan saat itu mata air bersih di dalam bak akan tumpah ruah keluar melalui lobang PVC tadi. Dan penduduk sekitar (bahkan sekitar kampung seberang) yg kurang mampu bisa menampung mata air tumpahan tersebut utk di minum.
    Catatan : Mata air tersebut harus dibiarkan mengalir terus supaya tidak keruh.

    Semoga memberikan ide dan bukan malah merusak bisnis air sampeyan hahaha…
    Satu hal, bisnis air minum isi ulang tetap saja berjaya disini walau ada sistem spt di atas. :)

    • Guh says :

      Ide yang brilian, untungnya di tempat saya itu tidak ada sumur yang bagus. Sudah beberapa orang berduit bikin sumur bor, tetep airnya tidak layak minum. Akhirnya beli juga :P *mensyukuri kelangkaan*

      Tapi ide CY itu harusnya juga bisa dipakai untuk bikin macam2 yang lain, openBTS, pembangkit listrik, atau apapun…. Mungkin kelas menengah atas yang mulai punya duit lebih perlu dihasut ya… *menghayal*

      • CY says :

        Kurang dalem kali ngebornya. Kalo cuman seratus dua ratus meter pun tetep jelek airnya. Disini ngebornya aja sampe hampir seminggu baru dapet tuh air bersih, mungkin Inul akan kaget ngebor selama itu hehe…
        Biaya total kalo ga salah terakhir saya dengar kira2 30 jt. Ada 10 rumah jadi per rumah sahamnya 3 jt.

        • Guh says :

          Sepertinya dalam sekali. Ga takut keluar lumpur seperti sidoarjo tuh?
          Etapi, sekalian aja ngebor super dalem sampai dapet yang panas2 trus bikin geothermal ya? Bikin energi murah untuk seluruh komplek/desa, dan merdeka selamanya dari kutukan PLN :D
          Inspiratif! hihi. Semoga orang-orang kaya segera kepikiran buat patungan bikin gituan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s