Mengapa Manusia Pamer Doa?

Kali ini saya ingin berbagi sebuah teori untuk menjawab apa yang ditanyakan judul diatas. Ditujukan untuk dibaca semua umur, terutama anak-anak yang kecanduannya belum permanen.

Jadi gini…

Jika meyakini bahwa Tuhan Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan TelingaNya Lebih Dekat Dari Urat Leher manusia….

Mengapa manusia berdoa keras-keras dengan pengeras suara?
Mengapa manusia berdoa lewat wall facebook, twitter, blog, TV dll?
Mengapa manusia memamerkan doanya?
Kenapa ada doa yang dilakukan beramai-ramai dengan berteriak-teriak?

Ini penjelasannya:

Aksi macam itu didasari oleh kekecewaan. Mungkin bukan berupa kekecewaan yang disadari, tapi semacam awan pekat yang  menyesakkan di bawah sadar.

Manusia kecewa karena doanya tidak ditanggapi Tuhan. Lelah berkali-kali memohon dalam hati, Tuhan tak ada respon. Akhirnya manusia merasa perlu bikin aksi yang lebih menarik perhatian.

Saat kecewa pada layanan sebuah perusahaan, kita menulis curhat terbuka di media massa. Harapannya, setelah curhat diketahui banyak orang, perusahaan yang dikeluhkan memutuskan untuk menanggapi keluhan kita. Maka trik yang sama  kita terapkan dalam menghadapi Tuhan: Jika doa secara personal dari hati tidak ditanggapi, maka dilakukan publikasi doa. Doa dilakukan sedemikian rupa hingga diketahui banyak orang. Dengan harapan Tuhan jadi memperhatikan.

Jika setelah itu pun Tuhan masih tetap membandel tidak ada respon, maka tahapan berikutnya adalah melakukan demonstrasi. Melibatkan banyak orang yang punya keinginan sama.

Mirip rakyat yang mendemo penguasa yang tuli terhadap aspirasi rakyat, manusia ramai-ramai meneriaki Tuhan agar berbuat sesuai tuntutan umat. Bahkan dengan memanfaatkan teknologi terkini, aksi demo dapat disiarkan ke seluruh penjuru semesta agar tuntutan terhadap Tuhan mendapat perhatian dari khalayak yang lebih luas. Dengan publikasi yang dahsyat, diharapkan Tuhan tergerak untuk mengabulkan maunya umat.

Apakah cara-cara tersebut memang segitu ampuhnya? Silakan dibuktikan sendiri dengan eksperimen. Tentunya eksperimen yang jujur, tegas, adil dan tidak mengada-ada.

Ah, begitulah teori saya untuk menjelaskan kenapa manusia pamer doa. Jika anda punya teori yang lebih baik, atau malah trik berdoa yang lebih ampuh, jangan pelit untuk berbagi.

Tag:, , , ,

16 responses to “Mengapa Manusia Pamer Doa?”

  1. Fortynine says :

    Apakah bukan karena justru manusia bisa merasa bangga ketika bisa pamer?

    • Guh says :

      Berdoa itu karena ingin sesuatu. Kalau memang tujuannya sekedar cari kebanggaan manusia bisa pilih jalan yang lebih jelas, misalnya pamer agama baru, atau pamer keahlian menyanyi. Jadi menurut saya teori saya lebih kuat. :P

  2. fxrd says :

    i pray. they hear. so they know i am a religious one. :D

    • Guh says :

      Memamerkan status religius bisa dengan penampilan agamis macam jilbab, jenggot, celana cingkrang, kalung, salib, tasbih dll. Tidak harus dengan menulis doa di tempat umum atau meneriaki tuhan beramai-ramai.

  3. Pak Presiden says :

    Ah, biasa lah… Tuhan itu maunya susah ditebak.
    Tapi saya malah punya asumsi begini. *saya pakai analogi pengamen*

    Konon, Tuhan itu paling senang mendengar suara-suara do’a yang dipanjatkan hamba-hamba-Nya. Konsekuensi logisnya, lirik do’a harus disenandungkan hingga bait terakhir, setuntas mungkin. Ibarat kita mendengar suara musik pengamen yang enak di telinga. Kita tentu tidak akan segera bergegas merogoh uang di saku, tapi akan menikmati dahulu alunan musik yang dibawakan sampai tuntas. Nah, di sinilah awal mula mispersepsi. Si pengamen melihat si empu rumah tak kunjung menghampiri lalu memberi uang sehingga dia bisa segera angkat kaki. Si pengamen lupa, bahwa tujuan dia mengamen sebetulnya adalah untuk menyenangkan pihak lain. Kita akan berpikir, jika kita langsung memberi uang receh kepada si pengamen justru ketika ia belum tuntas menyelesaikan lagunya atau malah sebelum ia sempat memetik senarnya, keenakanlah dia. Persis seperti do’a. Kalau berdo’a secara personal langsung wuuzz dikabulkan, bisa keenakanlah manusia. Di sinilah perlunya kerja keras dahulu, mau susah-susah dahulu, dan payah-payah dahulu.

    Saya juga gitu. Ada pengamen di depan rumah, saya biarkan sampai lagunya tuntas, dan saya nikmati, baru nanti saya bayar—tak peduli si pengamen responnya bagaimana. Bahkan saya kadang suka request lagu, jika lagunya tak sesuai suasana hati. Persis seperti Tuhan, yang lewat sikap-Nya tidak segera mengabulkan do’a hamba-Nya, bisa jadi tak lain adalah sebuah silent-message, “Pulanglah, baru nanti datang lagi kepada-Ku dengan suara dan lagu yang lebih merdu”.

    Eh, ini hanya share-pengalaman pribadi saja lho, jadi mohon dimaklumi kalau terkesan subjektif. *grin*

    • Guh says :

      Pak Presiden gimana, saya berteori tentang sebab manusia pamer doa, kok ditanggapi dengan bikin teori baru kenapa tuhan tidak mengabulkan doa…

      Btw, pengamen disini, dan mungkin banyak tempat yang lain, kebanyakan motifnya adalah cari duit, bukan sekedar menghibur orang. Dan mereka tidak lupa pada tujuannya itu. Coba dipastikan lagi dengan bertanya pada pengamen terdekat.

      Mengatakan bahwa Tuhan memperlakukan manusia yang berdoa seperti anda mempermainkan pengamen adalah tuduhan keji yang serius. Berani nuduh gitu pasti karena Anda merasa bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apapun walau anda tuduh macam-macam ya? :P

  4. nonadita says :

    Seperti mancing, umpan bisa disebar di beberapa tempat supaya peluang lebih besar. Siapa tau ada pihak lain yg berkenan membantu mengabulkan doanya atau wishlist 2011-nya gitu lah :mrgreen:

    • endhoenk says :

      namanya juga manusia …

    • Guh says :

      @Nonadita, kalau saya sebagai tuhan yang bersifat maha pencemburu,… saya pasti mencak-mencak: “Ini si Nona yakin sama kemampuan saya atau tidak??? Kalau yakin kenapa berdoanya tidak fokus ke saya…?? berani-beraninya sambil berharap pada pihak lain.” Setelahnya saya vonis nonadita sebagai umat yang musyrik semusyrik musyriknya. Lalu saya murkai semurka-murkanya. Dan tentu saja tidak saya kabulkan.

  5. ulan octavia says :

    #berdoa semoga lampu nggak mati sampai saya selesai ngetik komen ini amiiiieeennn
    ting!
    terkabul

    • Guh says :

      @Ulan, mantap… doanya ampuh!!! Saya ikut coba aah…
      “Semoga Tuhan tidak mencabut nyawa anda (siapapun yang baca komentar ini) sebelum selesai membaca komentar ini… Amin… Amin.. Amin”.
      *Ting*
      Yesss… Terkabuuul!!!

  6. Emanuel Setio Dewo says :

    Mungkin Mas Guh perlu membuat tips & trick agar doa bisa dikabulkan Tuhan? Tentu dgn cara yg berbeda dgn doa yg dilakukan oleh “umat kecewa” tersebut.

    Asyik nih jika Mas Guh bisa memformulasikan doa yg cespleng dan instan dikabulkan.

    Salam

  7. kangarul says :

    Nggak kebayang kalau semua do’a “terkabulkan”

  8. Maria Jackson Sukkie's Eel says :

    saya pernah baca di alkitab, kalau kadang Tuhan tidak mendengarkan doa qt, itu krna keberdosaan kita sendiri,, yang otomatis mengakibatkan doa kita tidak terkabul..
    makanya qt juga sering minta bantuan doa dengan orang2 yg qt kenal,, sapa tau Tuhan mendengar doa mereka yang ditujukan kpd qt.
    dan Tuhan memang senang kalau anak-anakNya berseru kepadaNya.

    saya mempelajari 3 jenis jawaban doa.
    1. Iya : sesuai dengan kehendak Tuhan yang memang sudah rencananya
    2. Nanti : belum saatnya keinginanmu itu terjadi dalam kehidupanmu. kalau dikabulkan sekarang, mgkin akan mengakibatkan iman qt menurun..
    3. Tidak : jelas Tuhan tidak berkehendak atas keinginanmu itu..

    dan 4 unsur2 doa:
    1. Penyembahan
    2. Ucapan syukur
    3. Pengampunan dosa
    4. Permohonan

    saya suka teori Pak President.. ancungin jempol.

    pamer doa?
    -maksudnya berdoa ditempat umum?.. menurut saya itu bagus,, menunjukkan keimanannya kepada orang disekitarnya, yg berarti dy sangat berserah diri atas apapun yang sudah dan akan terjadi padanya. seprti doa makan, ucapan syukur, keinginan yang terkabul, mau ujian, interview, dll

    semoga ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s