Papah… Curhat Dong!!!

Walau rasanya bukanlah seorang pendengar yang baik, ada saja teman yang menjadikan saya sebagai “tong sampah”. Tempat berkeluh-desah tentang masalah-masalah pribadi, yang biasanya berkutat seputar asmara.

Yang paling menyebalkan adalah saat menerima curhat lewat telpon atau sms. Sudah kepala kena radiasi, atau jempol pegal, tapi tak ada wujud indah yang bisa dilihat. Tidak ada kemungkinan dipeluk sambil nangis (atau nafsu). Tidak ada kompensasi instan apapun yang bisa saya harapkan.

Beda jika dengar curhat secara langsung. Sambil berjuang mendengarkan dengan khusuk, saya bisa mengagumi keindahan wujudnya sambil merespon dengan suara “ooo…”, “waw!”, “duh…” atau “hmmm…”. Tentunya dengan penuh empati sebagai respon pada bibir-bibir merekah yang sedang berkatarsis. Kadang juga diam-diam bisa latihan kegel sambil menyembunyikan ereksi.

Tapi benar juga sih kata orang tua (entah orang tua siapa), bahwa selalu ada berkah dibalik setiap derita. Begitu juga saat dijadikan tong sampah jarak jauh, ternyata ada juga hikmahnya. Ini baru saya sadari setelah kelamaan bengong. Dua bulan di daerah primitif, memberi saya kesempatan merenungkan hal-hal yang sebelumnya tak terpikir.

Karena tak bisa disambi “ngapa-ngapain”, pikiran saya malah sepertinya jadi kreatif. Terpaksa merespon dengan kata-kata sok tahu yang agak panjang. Cukup panjang sampai jadi kalimat. Walau serasa asal njeplak, sering kalimat yang terucap justru jadi nasihat untuk diri saya sendiri. Tentunya setelah dipikirkan ulang.

Contohnya kemarin, seorang wanita curhat tentang ketiga lelaki yang memperebutkan hati (dan kelaminnya). Salah satu ke-galau-annya adalah bagaimana cara mengetahui keseriusan seorang lelaki. Dan respon ngasal saya berbunyi kurang lebih begini:

“manusia itu mudah berubah, untuk saat ini bisa saja serius dan terbukti serius, tapi nanti atau esok tiada yang bisa jamin”.

Dhueng!!!!… Asal ngomong tapi kok yang kena saya sendiri. Tiba-tiba saya mikir, bener juga tuh. Dulu saya juga pernah merasa bodoh karena merasa dipermainkan sejak awal oleh seorang bidadari jahat. Sekarang jadi terpikir, mungkin saya tidak sebodoh itu, mungkin beliau tidak sejahat itu. Mungkin awalnya memang sungguh serius banget, tapi kemudian beliau berubah, sebagaimana alam yang terus berubah. Dan saya jadi merasa lebih ringan. Si Beliau sudah berubah, semesta sudah berubah, saya kok terus ngotot tidak mau berubah, ya jadinya saya menderita sendirian deh… hehe, jadi inget Pak Husni Mubarak *lho*.

Dari kalimat itu juga jadi terpikir…. mungkin inilah sebabnya mengapa manusia perlu menciptakan ikatan bernama pernikahan. Manusia bisa berubah, rasa bisa sirna atau berganti sasaran. Dengan adanya pernikahan, komitmen bisa terus dipaksakan.

Wanita kedua di hari yang sama juga nyampah dari jarak jauh. Sebut saja namanya S (Seksi). Beliau murka besar karena merasa dipermainkan oleh pasangan aneh. Setelah pacaran sekian bulan dengan pria X, baru ketahuan ternyata Si X sudah punya pacar, sebutlah namanya Y. Mba Y yang juga murka mengajak S untuk sama-sama melabrak X. Setelah repot-repot menemani Y demi melabrak X, tak lama kemudian si Y malah baikan lagi dengan X. Dan S pun gondok segede bwanget, padahal cukup yodium. Tapi gondoknya juga ilusif sih.

*benerin bibir dulu, kusut abis bergosip*

Hasrat Mba Seksi untuk membuat jera si X saya tanggapi dengan:

“Ada orang yang bohong karena terpaksa, ada yang karena sudah dari sononya tukang bohong, genetik yang dia warisi itu genetik tukang tipu. Sampai kapanpun juga dia suka nipu. Berusaha bikin jera cowo kayak gitu adalah perbuatan yang hampir pasti sia-sia. Buang waktu aja.”

Dhuengg…!!! (lagi). Saya sendiri yang kena juga. Saya pernah ingin merubah orang lain dari perokok menjadi tidak merokok. Baru sadar ternyata saya kurang menghargai diversity, kurang menghayati kebhinekaan. Adalah kenyataan bahwa sebagian manusia tidak bisa diajak menghargai kesehatan (diri sendiri dan orang sekitarnya). Genetik yang mereka warisi dari leluhurnya memang begitu.

Mba Seksi juga super sebal pada si Y yang sudah dibela malah balikan lagi. Katarsis ini saya tanggapi dengan penghakiman super sok tahu…

“Memang ada orang-orang yang begitu. Walau tidak balik lagi ke X, nanti kalau cari ganti pasti dia cari yang brengseknya sama. Bawah sadarnya terlanjur mencandu kesedihan. Akan selalu mencari alasan agar dirinya bisa tersakiti. Masokis najis.”

Lagi-lagi Dhueng…!!! Saya juga yang kena. Tapi untuk yang itu saya cuma ketok-ketok meja sambil merapal mantra amit-amit. Najis, najis, yaa amit amiiiiit. Semoga saya, Anda, dan mereka semua dijauhkan dari mencandu pada kesedihan. Dijauhkan dari suka mencari-cari alasan agar bisa murung dan bermuram durja.

Ya sudah. Ternyata jadi tong sampah jarak jauh ada manfaatnya juga. Bisa buat update blog juga :)

Begitulah.

Tag:, , ,

9 responses to “Papah… Curhat Dong!!!”

  1. Ms. Plaida says :

    Saya jadi kepikiran apa orang yang saya curhatin ngerasa begini juga.. :mrgreen:
    Ngomong2, cowok yang dicurhatin cewek-cewek itu populer.. Biasanya sih ada satu atau dua yang suka curhat malah jadi naksir.
    Kalo emang belum ada yang ketahuan naksir, mungkin karena ngga bilang2 aja.. :lol:
    *curcol* <- ngga diitung curhat

    • Guh says :

      Sepertinya bakal sama. lelaki normal kalau tak terpaksa banget (atau mengharap insentif tertentu) pasti males dengerin cewe curhat. Karena setelah cape dengerin, cape ngarang solusi, cape menjelaskan solusi itu, pasti solusinya ga bakal didenger dan sia2 saja. Karena memang orang curhat itu biasanya cuma untuk “buang sampah”, sekedar ingin didengar dan bukan cari solusi :P
      Soal naksir hasil curhat, itu riskan. cederung cuma pelarian saja. Seperti tong sampah, skoci penyelamat juga akan ditinggal begitu saja setelah masalah selesai.
      *dicoretdaridaftartongsampah*

  2. ulan says :

    curhat donk mas.. #alesan

  3. Bitch, The says :

    gwa ga pernah curhat kan ya, nyet? cuma nagih terjemahan doang yg dari milenium berapa itu ga kelar2 dan ga jelas2.

  4. jerry says :

    haha, curhat kena cegat…
    semoga next time dapat model curhat yang pas…

  5. Guh says :

    @Bitch, seingat saya tidak pernah, nek… Kalausoal terjemahan… umm… ngg… *memilin ujung kaos*

    @Jerry, cegat? amin aja deh :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s