Berterimakasihlah

Ada segolongan manusia yang berangkat kerja sejak pagi, pulang malam malam sekali, langsung nonton ovj/idol2an/shitnetron, ngantuk, tidur dan esoknya restart lagi. Hidupnya monoton, gajinya pas-pasan. Cari jodoh seadanya yang penting laku, yang penting mapan. Yang dipikirkan, diimpikan, dikerjakan sebatas  bertahan hidup, memuaskan lidah, perut, tuhan/dewa imajiner dan nafsu berkembang biak… lalu mewariskan lifestyle itu pada generasi selanjutnya.

Merekalah para pahlawan yg perlu dipertahankan eksistensi dan gaya hidupnya. Pada mereka anda berhutang jasa. Andai mereka punah, gaya hidup yang anda nikmati mungkin tak akan bertahan.

Tag:,

11 responses to “Berterimakasihlah”

  1. arshintadewi says :

    Supaya tidak terjebak life style kapitalis, ada saran apa yang sebaiknya dipikirkan, diimpikan dan dikerjakan, Guh?

    • Guh says :

      @Bu Ang, pertanyaannya sulit dimengerti, saya tak tahu jawabannya.
      Kalau pertanyaannya: “gimana membuat kaum buruh terus terjebak dalam lifestyle heroik seperti diatas, hingga para kapitalis bisa tetap menikmati lifestylenya”… itu saya masih bisa jawab dengan sok tahu :D

  2. Endut says :

    Lalu Anda sendiri, memilih lifestyle yg gimana mas Guh? :)

  3. dodo says :

    sering kali kita dihargai atas konsistensi kita. tapi ketika konsistensi itu sudah bergeser ke ke-monoton-an apakah masih bisa dihargai?

  4. bangaip says :

    Jadi inget lagu working class hero – John Lennon

    As soon as your born they make you feel small,
    By giving you no time instead of it all,
    Till the pain is so big you feel nothing at all,
    A working class hero is something to be,
    ….
    Keep you doped with religion and sex and TV,
    And you think you’re so clever and classless and free
    But you’re still fucking peasents as far as I can see,
    A working class hero is something to be,
    ,…

    Untuk beberapa orang, kadang jadi ‘working class’ bukan opsi Mas Teguh. Tapi memang itu satu-satunya ‘ideologi’ sejak dilahirkan :(

    Saat ini jarang ada orangtua yang memberi pesan ke anaknya ‘Nak kamu jadi filsuf yaa kalau sudah besar, karena…’ atau ‘Nak, belajar astronomi yaah untuk mempelajari rahasia langit, karena…’ . Jarang. Lebih banyak yang encourage, “Cepet lulus biar bisa kerja. Kerja apa aja, yang penting jangan nyusahin orangtua”. Akhirnya si anak cari kerja apa saja (bahkan kadang menggadaikan diri), selain untuk memuaskan harapan orangtua juga untuk ‘balik modal’ sekolahnya.

    Dan yaahh, jadi ‘working class hero’ yaa satu-satunya impian yang paling bisa dicapai. Puncak ekstasi tertinggi dari working class hero yaah

    berangkat kerja sejak pagi, pulang malam malam sekali, langsung nonton ovj/idol2an/shitnetron, ngantuk, tidur dan esoknya restart lagi

    • Guh says :

      Hehe, soal pesan ortu ke anak… Kebetulan kemarin saya nonton 3 Idiot, Bang. Pesan guru dan ortu ke anak ternyata emang kebanyakan bermasalah. Bukan cuma ideologi duit, tapi juga doktrin ‘kompetisi untuk mengalahkan yang lain’ sering jadi sumber petaka.

      Tapi… ya hidup dalam sistem seperti sekarang… kita (yang lebih beruntung) emang perlu “robot2” yang mau mengerjakan apapun yang kita tak mau kerjakan sendiri… yang mau beli produk2 sampah kita…yang mau… gitu deh :P

  5. joesatch yang legendaris says :

    tentu saja. kalo tiada mereka, saya mau nggaya2 ke siapa, coba? :twisted:

  6. kangarul says :

    Betul… nggak ada yang sia-sia di dunia ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s