Aku Ikut Sangkaan Hambaku Lho

Suatu pagi di Jumat yang suci sekali, saya dibangunkan sebuah sms berisi keluhan: “Gilak, jam segini ibu-ibu kok udah berisik di ***** ?!” Dikirim oleh seorang teman yang mungkin tinggal dekat rumah ibadah.

Tak saya balas, malah langsung tidur lagi sambil menggerutu, “Sial, pagi-pagi sudah dapat komplen salah alamat. Harusnya keluhan itu disampaikan ke langsung ke Tuhan!”

Beberapa puluh menit kemudian saya terbangun dengan pikiran gelisah, “Jangan-jangan, si salah kirim sudah tahu bahwa sebenarnya saya mampu bicara langsung pada Tuhan???”

Haha, ga penting. Karena sekarang saatnya kita mengaji.

Kali ini kita akan mengaji tentang sebuah pernyataan yang konon dikatakan Tuhan untuk menjelaskan prilaku-Nya, yaitu…

“Aku Sesuai Sangkaan Hamba Ku”

Itu adalah pernyataan ajaib yang sangat ilmiah. Kebenarannya dapat dibuktikan dengan eksperimen. Dapat diuji ulang dimanapun Anda berada, kapan saja.

Misal, Anda sembuh dari penyakit parah yang menahun, Anda cukup menyangka bahwa itu mukjizat dan kemurahan Tuhan, jawaban dari doa-doa Anda. Dan tiba-tiba jadilah seperti itu, Tuhan ternyata sudah menyembuhkan anda!

Atau jika yang terjadi sebaliknya, sudah berdoa dengan bermacam gaya, tapi nestapa bukan sirna malah makin sengsara. Maka Anda dapat berprasangka bahwa Tuhan sedang menguji kekuatan hambanya. Maka terjadilah. Ternyata Tuhan sedang memberi Anda cobaan! Anda akan merasa spesial karena diperhatikan dan disayang Tuhan. Derita juga terasa jadi lebih ringan, andapun jadi lebih tabah.

Nah, sekarang silakan buktikan lewat eksperimen sendiri. Prasangka-prasangka yang nyaman akan menenangkan. Prasangka yang tidak nyaman, akan menggelisahkan.

Gimana? Keren kan? Maha Besar banget memang Tuhan itu.

Namun, pemahaman diatas itu baru untuk konsumsi orang kebanyakan. Baru pemahaman kelas umat. Selanjutnya akan kita coba pahami kalimat yang sama, tapi lewat kacamata yang lebih langka, kacamata yang digunakan segelintir pemimpin tertinggi agama dan para dalang dari sudut tergelap (atau tercerah).

Di kalangan umat, kekuatan prasangka hanya dimanfaatkan sebatas untuk menjelaskan prilaku Tuhan yang misterius. Namun di kalangan pemimpin, kuasa prasangka dieksploitasi sedemikian rupa hingga dapat digunakan untuk mengendalikan Tuhan, memanipulasi takdir, dan menciptakan berbagai kenyataan yang mereka inginkan.

Penjelasannya lumayan sederhana, tapi akan sulit dicerna dan dapat menimbulkan kegelisahan jika Anda sudah terlalu nyaman dengan pemahaman versi umat.

Gini…

Umat yang taat akan selalu patuh pada kemauan Tuhan yang dia sembah.
Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengikuti sangkaan manusia yang menyembahnya.

Perhatikan, kuncinya terletak pada sangkaan: Prasangka manusia.

Jika dengan suatu trik Anda dapat menumbuhkan prasangka dalam benak seorang Ayah (yang beriman kuat) hingga menyangka Tuhan sangat ingin agar si Ayah menyembelih anaknya, maka si Ayah pasti akan berusaha menyembelih anaknya.

Kita juga dapat membuat manusia rela mati meledakkan bom bunuh diri jika kita mampu membuat dia menyangka bahwa Tuhan menyukai hal macam itu. Atau, jika kita ingin menghajar sekte-sekte yang kita benci, kita dapat menebarkan prasangka bahwa Tuhan menganggap sekte-sekte itu adalah sesat dan wajib dibantai.

Sangat tidak penting untuk memperdebatkan apakah suatu bom bunuh diri sukses meledak akibat takdir Tuhan (yang sedang dibawah pengaruh prasangka) atau akibat kegilaan penjihad yang menyangka Tuhan mengharapkan itu terjadi.

Yang penting adalah bagaimana caranya untuk sukses menumbuhkan prasangka di benak umat demi mencapai kenyataan yang kita mau.

Salah satu syarat utama untuk menumbuhkan dan menularkan prasangka adalah pencitraan yang baik. Pencitraan dapat dicapai lewat banyak cara, misalnya:

  • Menjadi pemuka agama yang diakui. Syukur kalau bisa dilegitimasi dan dibackup juga oleh negara. Jika negara saja mengakui kedekatan saya dengan Tuhan, kamu mau apa?
  • Menjadi calo surga, semacam perantara antara manusia dengan Tuhan. Sebagai guru atau pembimbing spiritual. Self proclaimed pun tak apa. Yang penting kita terkesan lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang biasa, jadi omongan kita bakal lebih dipercaya.
  • Menggunakan kostum-kostum religius. Perhatikan saja dr OZ yang diputar ulang ditipi-tipi, bayangkan jika dia pakai jas biasa atau malah sarungan dan pakai topi FPI, pasti shownya tak semeyakinkan dibanding mengenakan kostum bedah. Salah kostum bisa-bisa dia dianggap dukun atau tukang obat alternatif.
  • Menggunakan makeup yang mendukung. Misalnya menghitamkan dahi. Selain membuat awam terkagum-kagum pada ke-dahsyat-an sujud kita, hitamnya jidat juga mendorong orang agar lebih percaya pada kita.

Dan pencitraan saja jelas tidak cukup. Anda masih perlu berbagai skill komunikasi, skill menukil ayat suci, sampai membuat dan memaksimalkan network, dll, dll. Untuk lebih jelas, sering-seringlah menyimak para pendakwah agama, terutama yang garis keras, yang provokatif dan yang dekat dengan politik. Perhatikan betapa lihainya mereka mempengaruhi umat..

Jika sukses menguasai menguasai dan mengaplikasikan seni berprasangka terhadap Tuhan, maka keberhasilan yang anda raih tak akan terbatas dalam bidang keagamaan saja. Beberapa bidang lain yang pasti Anda nikmati:

  • Politik: Anda memiliki senjata ampuh untuk mengumpulkan massa pendukung bagi partai Anda (akan jauh lebih mudah jika partai Anda juga berjualan agama/Tuhan).
  • Seks: Anda akan mampu membuat wanita rela dipoligami, dikawin siri atau diapa-apakan selama sejalan dengan keinginan Tuhan (tentunya Tuhan yang sudah sesuai dengan prasangka yang anda ciptakan).
  • Ekonomi: Anda bisa membuat buruh-buruh lebih disiplin dan jujur dalam bekerja. Dengan menciptakan prasangka yang sesuai, Anda juga dapat membuat mereka rela bekerja dengan bayaran minim tapi tetap sabar dan penuh semangat.

Demikianlah pengajian kali ini. Silakan Anda renungkan, kritisi dan dalami lebih lanjut. Semoga dengan meningkatnya keimanan, kita dapat meraih harta, tahta, wanita dan kemenangan di segala bidang, dunia maupun akhirat.

Tag:, ,

11 responses to “Aku Ikut Sangkaan Hambaku Lho”

  1. mr.urip says :

    Terimakasih atas pengajiannya pak guh-pras. Sepertinya ini… Pernah sy baca deh… Di… Yah di blog seperti ini… Di wadehel???

  2. Bitch, The says :

    orang gilaaaa!!! itu yg sms kesian amat malah ditidurin!
    *keplak botak*
    ergh.

  3. Xaliber von Reginhild says :

    Saya lama ngga blogging… begitu ke blog mas guh dan baca ini langsung teringat gaya postingan di blog “yang dulu”! :mrgreen:

    Soal prasangka, ada hubungannya sama seni menakut-nakuti diri ngga ya? :P

  4. Rainny Drupadi says :

    Guh, sumpah, tulisan-tulisan lo menarik dan keren. Mbok ikut meramaikan Kompasiana. Atau sudah?

    • Guh says :

      Hehe, makasih, kayaknya baru beberapa hari lalu berhasil bikin member disitu.

      Saya masih agak kurang sreg kalau numpang nulis dibawah kuasa admin yg berhak ngeremove tulisan yang dianggap melanggar, rasanya agak terbelengu gimana gitu.

  5. Jaka Tarub says :

    what the he…??

Trackbacks / Pingbacks

  1. Aku Ikut Sangkaan Hambaku Lho… « echalogy "The Journey" - Agustus 24, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s