Bernista-nista soal Penodaan

gambaran rasanya dinodai

Kenapa ya ada agama yang pemeluknya mudah sekali merasa nista dan ternodai?

Ya ada lah! Apa sih yang ga ada di muka bumi ini? Orang seganteng dan seseksi gw aja ada kok.

Ok, pertanyaannya gw salah. Gini deh: Kenapa orang beragama di kita mudah tersinggung. Sedikit-sedikit merasa agamanya dinistakan, lalu ngamuk, ngebuly terus merusak. Dan apa yang dapat kita lakukan supaya kekonyolan ini ga terus terjadi?

Jangankan yang beragama. Kalau sesuatu yang lu cintai sepenuh hati dinistai, dinistakan, ternistakan, dan apa lah yang nista-nista gitu… lu yang ga beriman dan ga bertitit juga pasti marah.

Ya iya sih. Kalau obyeknya cowo gw, atau anak, atau apapun yang kita anggap sebagai “milik” kita. Jika sesuatu yang berada dalam kepemilikan dan perlindungan kita terancam, naluri kepemilikan bakal tersulut lah, dan kita bakal bangkit membela properti.

Ciee… Emang lu aja brutal kalo lagi cemburu.

Yatapi ini beda. Dalam kasus nista-nistaan agama, yang dinistai kan Allah, Tuhan atau berbagai produk derivatifnya, kenapa malah manusia-manusia pada ngamuk?

Hooo… Iya ya. Kenapa gitu? Padahal Tuhan itu sesembahan tempat kita menghamba, memohon-mohon dan berpasrah diri menyerahkan segalanya… Kenapa ketika Dia yang dinista-nista bersabar, kita bukannya ikut sabar tapi justru ngamuk-ngamuk…?

Nah! Itu dia yang dari tadi mau gw tanyain. Otak lu nista banget sih ga ngerti-ngerti. Gw udah berapa hari mikir itu sampai susah orgasme.

Aaaiiih, jadi ini maksudnya mau minta bantuan atau apa? Gw lagi keren nih, harus jaim dan pura-pura ga ngerti.

Yaah.. Elu, udah nista, mesum pula.

Gw? Kita dong, kan bersama kita nista. Jadi gimana? Gw jadi pengen bantuin ih…

Jadi…. Apa teori lu soal itu? Gw perlu sudut pandang dari orang ga berpendidikan macam lu buat nista-nistaan di diskusi besok.

Lho? Maksudnya gw pengen bantu lu buat dapetin sesuatu yang udah lama ga lu dapet ituuuuhh…… Kok mendadak jadi religius sih.

Serius dong. Jumat lu boleh bantuin gw deh…

Siiip… Jadi gini ya mbak… Dengerin.. hmmm….

Jadi gimana Maaas? Kok malah diem?

Aduh… Kayaknya otak gw kurang oksigen deh… Abis hemoglobinnya terlanjur pada kumpul dibawah semua…

Ya udah… Sini sambil gw urut biar pada balik ke atas.

Hihi… Gini-gini… Supaya ngerti, kita harus ambil posisi enak dulu…

Cepet laah.. keburu sore nih.

Hmmm… Menurut gw, kita sebagai orang beriman jadi gampang ngamuk karena kekecewaan yang sudah terlalu menumpuk.

Kekecewaan numpuk gimana?

Pertama udah jelas, kecewa karena merasa iman kita dinista-nista. Siapa sih yang suka diledek?

Basi. Trus apa?

Sebagai umat yang merasa keyakinannya paling benar sejagat raya dan sepanjang jaman, tentu sering mendakwahkan dan memaksakan keyakinan ke semua kepala. Maunya kita tuh semua manusia ikut meyakini apa yang kita yakini. Sialnya, ada saja kafir-kafir yang membangkang, menganggap kita konyol, malah menganggap bukti yang kita sertakan ga masuk akal. Kegagalan memaksakan keinginan itu jadi kekecewaan kedua.

Teruuus?

Sebenarnya kita sendiri dah tahu kalau bukti-bukti yang tersedia pada ga masuk akal. Tapi sedari kecil kita juga dilatih untuk menistakan akal setiap kali akal mulai mengkritisi agama. Padahal,  sering kontak sama orang-orang skeptis itu bikin konflik batin sendiri. Kalau imannya kuat sih bisa self deception, meyakini sesuatu walau sebenarnya tahu bahwa sesuatu itu ga bener. Tapi tetep, bolak balik konflik batin ini jadi kekecewaan yang ke…. Ehm… Tangan lu alus bangetttt.

Iya dong, hehe… Ayo lanjutin, hubungannya sama nista-nistaan gimana.

Oh masih banyak kekecewaan lain, yang ini paling parah. Kecewa pada Tuhan. Kita udah banyak kecewa karena harus selalu mengarang sendiri jawaban atas setiap doa-doa kita. Lalu kecewa karena Tuhan selalu diam saja setiap kali orang-orang menyalahgunakan namaNya. Tambah lagi kecewa karena Dia tidak pernah turun menengahi setiap pertikaian dan segala kekejian yang mengatasnamakan diriNya. Nah, setelah sekian banyak kekecewaan, ternyata Tuhan tetap juga diam saat para kafir menistakan produk-produk suci seperti agama, kitab, dongeng, dll yang kita yakini sebagai maha karyaNya. Berbagai kekecewaan mengesalkan itu jelas tak bisa kita lampiaskan pada Tuhan…. Ga sopan. Akhirnya ya para penista itu jadi tempat pelampiasan yang gampang.

Tapi bukankah Tuhan menjanjikan siksa yang pedih di akhirat nanti? Mungkin saja Tuhan memang Maha Penyabar, jadi para kafir dibiarkan puas ngomong semaunya, nanti gampang di neraka mereka semua disate bolak-balik selamanya.

Iya itu kalau kalau kitanya sabar. Tapi kan sepanjang sejarah…. atau ga usah sejarah deh, sejak kita lahir sampai sekarang aja lah. Apa pernah kita lihat Tuhan beraksi? Jaman dulu sebelum berbagai buku suci di tulis, mungkin Tuhan memang tegas dan azabnya cepat, berbagai kaum dihancurleburkan setiap kali Dia murka. Tapi makin ke sini Tuhan berubah jadi terlalu penyabar. Semua kekejaman dibiarkan seolah Dia memang mendukungnya. Sembarang orang bebas menyalahgunakan namaNya untuk kepentingan sekeji apapun. Mau namaNya dipakai adu domba, korupsi, ngoleksi bini, nyabuli anak orang, dipakai ngerusak kuping orang pakai toa, bahkan sampai dipakai bikin perang… Apa pernah Tuhan melakukan sesuatu atau sekedar menyatakan keberatan? Nah, minimnya bukti itu akhirnya membangkitkan keraguan dalam hati orang beriman…. Melunturkan kesabaran dari hati yang luka.

Gw bingung, kalau ragu atau kecewa sama Tuhan, kenapa jadi ngamuk waktu Tuhan dinistakan?

Ya masalahnya kan bukan cuma Tuhan yang dinistakan. Segala usaha, segala jerih payah yang sudah kita lakukan untuk mengimani selama ini juga ikut dinistakan. Seolah sia-sia. Itu lah yang paling menyakitkan. Sudah dicuekin sama Tuhan, eh, sama kafir keparat diledek pula. Emosi dong kitanya. Kesumat ini harus kita balaskan. Ga perlu nunggu akhirat-akhiratan, lama. Ga perlu nunggu Tuhan beraksi, toh sejak dan sampai kapanpun juga Dia cuma berdiam diri. Pokoknya kita mau balas secepatnya!! Secepatnya!!! Eh, cepetin dikit dong…

Hehehe… gini?

Oooowh

Lucu juga teorinya. Jadi menurut lu segala amarah dan amuk-amuk itu bukan sekedar mewakili Tuhan buat membalas dendam ke orang-orang kafir ya? Tapi sekaligus mengambil alih kebiasaan murka dan menghancurkan siapapun yang menyinggung perasaan.

Begitulah, makanya sekilas kelihatan lebay, padahal sebenernya ga lebay kalau lu tahu betapa pedihnya kekecewaan yang telah diderita.

Haha. Sotoy banget lu. Tapi ok deh. Trus apa yang bisa manusia lakukan supaya sifat “gampang merasa ternoda dan ternista” ini tidak terus makan korban?

Ya jangan saling menghina, jangan saling menistakan. Setiap orang bebas meyakini apapun sesuai fetishnya. Tapi ketika ingin mengajak orang lain ikut meyakini apa yang dia yakini ya sertakan bukti ilmiah yang bisa sama-sama diuji kebenarannya. Kalau buktinya cuma sebatas “karena di buku suci tertulis begitu” ya jangan tersinggung kalau orang malah ketawa. Apalagi ketika diminta bukti kesucian buku justru dijawab dengan “ya karena si buku suci mengatakan bahwa dirinya suci”… Kalau gitu jangan merasa ternistakan kalau yang pada ketawa tadi makin guling-gulingan di lantai sambil memohon supaya kamu berhenti melucu.

Klise ah. Idealnya memang gitu. Tapi kenyataan kan mereka terus memaksakan imajinasinya yang tak masuk akal, tak cuma ke anak-anak yang akalnya belum berkembang lho, tapi juga ke orang-orang yang udah bisa mikir lewat berbagai peraturan konyol yang memaksa. Sedangkan pemerintah sepertinya malah menunggangi mereka untuk bikin berbagai konflik pembodohan demi melestarikan kuasanya yang korup. Kalau kita harus diam tanpa melakukan kritik, apa itu tindakan tepat?

Yang mengkritik perlu belajar membedakan mana kritik membangun dan mana cemooh murahan. Hujatan melibatkan kepala babi, bakar-bakar kitab, mencemooh orang-orang yang dianggap/mengaku suci, itu semua aksi murahan dan tidak mendidik.

Ya tapi kan maksudnya untuk menguncyang kesakralan. Dekontruksi iman biar orang belajar melek.

Ya untuk itu kan bisa lewat diskusi, sodorkan argumen yang sehat. Yang jelas maksudnya gimana. Bukan lewat cemooh ga jelas yang multitafsir. Ayat suci, puisi ga jelas dan sejenisnya boleh saja multitafsir, biar romantis dan menyentuh perasaan, plus mudah dipelintir sesuai kebutuhan politik. Tapi kalau tujuannya argumentasi sehat demi pendidikan, semua harus sejelas dan selugas mungkin.

Cieeee…. Muluk banget sih lu? Sementara lu cape-cape berargumen runtun mengikuti aturan logika, apa iya mereka pakai aturan yang sama? Lu pake akal, mereka pakai iman. Lu mau argumen logis sampe ubanan juga ga bakal konek. Semua argumen, semasuk akal apapun, sudah dibantah duluan bahkan sebelum lu buka mulut. Lu macam belum pernah jadi orang beriman aja ih? Gitu aja ga nyadar.

Duh… iya sih… jadi gimana dong?

Kan gw yang nanya duluan dari tadi, kok malah balik nanya.

Ya udah, kencengin dikit lagi deh… udah hampir nih…

Ayo… Mikir… Ayo… Mikir….

Hmmh… Oohh…. Anu… Berarti undang-undang yang melindungi kebebasan warga untuk meyakini agama dan kepercayaan apapun perlu dilengkapi dengan aturan untuk melindungi warga dari segala pemaksaan yang mengatasnamakan Tuhan, agama dan semua produk derivatifnya.

Ok, tapi mengubah undang-undang berarti harus mengharapkan pemerintah beraksi. Mengharapkan DPR untuk mengubah UU… Walaupun tidak sekosong mengharapkan Tuhan beraksi, tapi judulnya tetep “alon-alon ora kelakon”. Apa dong yang bisa dilakukan warga mulai saat ini juga, biar ga kelamaan mengharapkan pemerintah yang korup dan lamban?

Aduh… Apa ya… Beresin ini dulu yuk……. Kentang banget nih…. Please….

Ga mau ah. Ayo dong mikir dulu… tar baru dikeluarin…

Arrrgh…. kamu kejaaaammm….!!!

– – – – – – – – –

Dapatkah Anda berbagi ide supaya solusinya cepat keluar? Kasian tuh.

___

Gambar diculik dari tupai.com.my

Tag:, , , , , , , , , , , ,

6 responses to “Bernista-nista soal Penodaan”

  1. capi says :

    Hehe kok kerasa aneh ya, mau komeng tapi mas-nya lagi asik gini.

    Kalo menurut saya kedewasaan beragama juga ngaruh. Banyak orang yang ngaku beragama tapi aslinya masih dalam level pemahaman anak-anak, yang merasa apa yang dia yakini paling benar dan paling sempurna. Sama kaya anak-anak, kompetitif banget soal “barang-barang” kesukaannya. Mau temennya yang lain ngakuin betapa bagusnya “barang” dia, dan bakal tersinggung berat, kalo ternyata temennya berpendapat barangnya biasa aja. Sayangnya, religion is about turning untested belief into unshakeable truth (bukan kata-kata mutiara karangan saya). Agama bukan sains yang bisa di uji kebenarannya, jadi kepercayaan yang membabi buta bisa leading anyone yang merasa beriman to do anything yang anehnya justru bikin mereka merasa makin beriman. Orang-orang yang tidak dewasa dalam beragama ini yang sangat vulnerable terhadap provokasi. Senggol dikit bacok. Orang nggak nyenggol dia aja ego-nya udah merasa ternistakan kok.

    *Btw, menguncyang itu apa sih? Belum pernah denger blas.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Dongeng absurd awal pekan « earth cruiser - Januari 30, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s