Dari Rakyat untuk MenKOMINFO

Apa kesan Anda terhadap Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia? Apakah seperti yang saya rasakan?

Kominfo itu terlalu banyak membuang waktu dan energi untuk menyensor konten. Juga terlalu rajin menebarkan ancaman atau menakut-nakuti pengguna internet agar tidak sembarangan menulis.

Pelintiran Media

Ah, dengan kesan seburuk itu, patut dicurigai bahwa saya adalah korban media-media kapitalis nan sesat yang sentimen pada Kominfo.

Mungkin benar bahwa saya korban pelintiran media.

Sebenarnya prestasi Kominfo tidak cuma di bidang pornomatika dan menebar ancaman. Pasti banyak prestasi lain yang bisa ditemukan jika kita mau ubek-ubek situsnya. Contoh hasil kerja yang membanggakan: Penutupan Layanan-layanan SMS Perampok Pulsa dan… euh… cari sendiri deh prestasi yang lain. Pokoknya, prestasi lain yang keren pasti ada.

Sayangnya, kesan doyan nyensor dan tebar ancaman itu sudah telanjur melekat. Apalagi ditambahi dengan seringnya menyampaikan pernyataan bernada “Celakalah orang-orang yang… bla bla bla” dalam berbagai cara. Baik berbentuk kutipan katanya-katanya orang suci, maupun berupa pernyataan-pernyataan yang menjanjikan azab pedih menggunakan UU ITE.

Fungsi Kominfo

Sebenernya, ada nggak sih hal-hal yang lebih bermanfaat dari ‘mengancam’ dan ‘menyensor’? Kesannya kok religius banget. Kegiatan menebar ancaman, membungkam dan menyensor itu lebih pantas kalau dilakukan Kementerian Agama. Sedangkan Kementerian Komunikasi dan Informatika harusnya mengerjakan hal-hal yang lebih berguna untuk mencerdaskan manusia Indonesia.

Harusnya menkominfo fokus dalam usaha memudahkan dan membuka akses terhadap informasi, sehingga rakyat tidak lagi mudah dibodohi, diadudomba dan dimanipulasi menggunakan info-info yang sepihak, satu arah yang sulit/tak boleh/haram diverifikasi kebenarannya. Juga harus serius dalam memudahkan kegiatan komunikasi, terutama komunikasi antara rakyat dengan para penyelenggara negara.

Buah duku buah kedondong, terus gimana dong?
Buah nangka memakai peci, masih dapatkah diperbaiki?
Sarung bolong bau kemenyan, Apa dong yang bisa kita lakukan?
Satu dua istri tertawa, ini semua tanggung jawab siapa?

Ya tanggung jawab kita semua dong. Itu kementerian kan punya kita juga. Banyak hal bisa diperbaiki jika ada niat dan ada aksi untuk mewujudkannya. Tapi gimana caranya?

Solusi

Bang Hepi jago poligami, libatkan rakyat? Yuuuk marii…!

Salah satu caranya adalah lebih melibatkan rakyat. Minimal untuk menerima masukkan agar pemerintah lebih tahu apa yang sedang dibutuhkan rakyat.

Dengan mendengar aspirasi rakyat, berbagai kementerian dan instansi yang selama ini seperti “tidak tahu musti ngapain” bakal punya gambaran apa yang mesti dilakukan dengan wewenang dan sumberdaya yang dimiliki.

Selama ini usul rakyat memang sudah bisa disampaikan, baik lewat twitter, email/webform/sms… Atau bisa juga datang langsung dan berteriak-teriak ke kantor terkait sambil bawa spanduk. Sambil bakar ban.

Sayangnya lewat media-media tersebut tidak terdokumentasi dengan baik, juga tidak transparan. Kita sulit mengetahui apakah ide kita sebenarnya sudah pernah diajukan, atau sudah berapa orang yang mendukung ide yang sama. Kita perlu cara baru untuk memperkuat cara-cara yang telah ada.

Kumpulkan Ide, Tentukan Prioritas

Manfaatkan teknologi terkini yang memang dibuat untuk menerima aspirasi user. Contohnya seperti kominfo.uservoice.com.

Dulu layanan itu dipakai para pembuat program dan aplikasi web agar dapat melakukan pengembangan sesuai kebutuhan para penggunanya. Belakangan dipakai juga oleh penyelenggara pemerintahan dan berbagai organisasi untuk lebih mendengar aspirasi anggotanya, seperti Pemkot Vancouver yang memakainya untuk menjaring ide warga demi mencapai target sebagai kota terhijau.

Fitur yang membuatnya menarik adalah: Ide dapat dikumpulkan dan divoting secara lebih mudah dibanding menggunakan forum tradisional.

Agenda Tersembunyi

Psst, sebagaimana halnya semua provokasi, tulisan ini pun punya agenda tersembunyi, yaitu: Menuju  pemerintahan yang lebih bertelinga, dimana rakyat mudah untuk menyuarakan keinginannya, juga mudah untuk monitoring sampai dimana follow up yang telah dilakukan pemerintah. Rakyat yang lebih terlibat dalam pemerintahan bisa jadi langkah awal untuk menghentikan demokrasi ilusi dimana rakyat cuma dilibatkan lima tahun sekali, itupun sekedar untuk memilih siapa yang boleh korupsi sambil berlagak mewakili rakyat.

Begitulah kira-kira.

Tapi itu urusan nanti. Yang penting sekarang kita coba dulu format uservoice ini. Apakah warga kita sudah bisa memanfaatkannya untuk kebaikan sebagaimana orang-orang vancouver menggunakannya? Ayo kita coba koleksi dan voting untuk menentukan prioritas ide-ide mana yang kita anggap perlu untuk segera dikerjakan menkominfo.

Jika ternyata format ini oke. Nanti ramai-ramai kita ajukan ke menkominfo. Kalau perlu sambil menangis dan berpantun-pantun supaya menkominfo mau mengaplikasikannya sebagai halaman kontak di website kementerian yang beliau kepalai. (Halaman kontak resmi itu tidak bisa saya akses, mungkinkah karena saya pakai opendns? Anda bisa?)

Setelahi itu, kita himbau juga agar setiap situs pemerintah juga menerapkannya. Tentu tidak harus produk dari uservoice, bisa saja bikin sendiri dengan server dalam negeri agar lebih murah dan terawasi. Tapi itu nanti. Sekarang yang penting suarakan dulu ide Anda untuk menkominfo di:

“kominfo.uservoice.com”

— – – – – – – –

Demi pemerintahan yang lebih bertelinga,
Salam Indonesia!!

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s