Hasil ikut #visitDPD

Hasil dari membuat tulisan “Menuju DPD yang Eksis dan Bermanfaat“:

  1. Bertemu langsung dan berjabat tangan dengan orang-orang yang katanya mewakili kepentingan saya, Anda dan seluruh rakyat Indonesia.
  2. Bertemu langsung dengan Ibu Ira K yang cerdas, cerdik, seksi dan wangi.
  3. Menginap 2 malam di hotel yang sangat mewah.
  4. Bisa makan seperti babi, puaaaass bangeettt. Mau apa aja bisa sebanyak apapun, all you can eat. (Untungnya saya vegan wannabe yang menghindari daging dan telur).
  5. Dapat amplop Rp 710.000
  6. Dapat beberapa souvenir berupa kaos, kalender, jam meja, mouse pad, gantungan kunci plus sebuah buku tebal banget, semacam otobiografi dari seseorang yang tampaknya penting. (becanda Pak!).
  7. Tercerahkan, jadi tahu kalau ternyata di dunia ini ada orang secantik dan sengangeni ms N.

Kritik (mungkin saja diwarnai kedengkian akibat tak kebagian gadget):

  1. Masih ada anggota dewan yth yang menghisap rokok dan melakukan pembiaran saat ada orang (kebetulan rekannya sendiri) merokok dalam ruangan ber-AC yang saat itu juga sedang dihuni oleh banyak sekali orang-orang yang tidak merokok. Di situ juga hadir anak sekolah kelas 12(?) yang imutnya masih seperti anak di bawah umur.Jika akibat sakaw kecanduan rokok saja tega menindas kesehatan orang lain (termasuk anak-anak) tanpa berpikir panjang… Apa jadinya jika mereka diberi kekuasaan yang lebih besar? Mungkin yang akan dikorbankan “tanpa pikir panjang go ahead” bakal lebih mengerikan.
  2. Kesan mewah dari kehidupan anggota dewan yang tergambar dalam 2 hari itu mengecewakan. Misal: Makan mewah sepuasnya, pesta-pesta dan nyanyi-nyanyi dan joget-joget. Itu kurang pantas, secara dimana-mana masih banyak yang tidur sambil menahan lapar (emangnya para lapar sial itu tanggung jawab siapa?). Bahkan cara buang air besar di tempat menginap pun “kurang  indonesia”. Basuh pantat kok cuma disediakan tisu sajaaargh!?! Hehe, ya soal boker itu paling cuma sentimen kampungan saya. Mungkin zaman sekarang tinggal saya seorang yang memboroskan air sewaktu cebok, sedangkan yang lain sudah bercebok sambil mendukung penebangan hutan.
  3. Dosis diskusi tak sebanding dengan dosis senang-senang. Dosis yang sudah sedikit itu juga masih terlalu pekat dengan “penyadaran akan perlunya perubahan undang-undang demi kewenangan yang lebih besar”.
  4. Salam yang diucapkan setiap awal bicara cukup ganjil. Bunyinya “Assalamualaikum wr wb, Salam sejahtera, Om Swastiastu, Om Shanti-shanti om.” Bayangkan jika kita sudah mampu menghormati agama-agama yang lain, itu salam mau sepanjang apa?

Saran:

  1. Lain kali akan lebih baik dosis senang-senang dan mewah-mewah dikurangi. Ganti dengan agenda yang lebih mendidik dan mencerdaskan. Brand “hidup mewah sambil berebut kekuasaan, persetan rakyat kelaparan” harusnya jangan dipakai lagi. Branding baru mestinya seperti: “kerja, kerja dan kerja, demi kebahagiaan Rakyat Indonesia Raya”.
  2. Tunjukkan dulu kalau DPD bisa dipercaya, bisa transparan dan bisa dikontrol oleh rakyat. Jika itu sudah dilakukan nanti lebih pantas untuk bicara amandemen dan cari kewenangan yang lebih besar. Kalau sama-sama tidak transparan, sama-sama tidak bisa dikontrol rakyat, bukankah hasilnya juga mengerikan?
  3. Ritual salam panjang itu bisa diganti yang lebih praktis macam “Salam Indonesia” atau “Salam Demokrasi” atau apalah yang lebih mengusung kebersamaan dan bebas dari aroma sektarian. Selain meningkatkan rasa kebersamaan, mereka yang imannya begitu lemah hingga terguncang tiap kali mengucap/mendengar salam agama dicampur-campur akan dapat tidur lebih tenang (atau makin gelisah karena merasa imannya tak dihormati? hehe).

Sekian deh, nanti kurangnya gampang nambah lagi.

Selamat untuk para pemenang, semoga “andai-andainya” dapat segera jadi kenyataan ;)

Tag:, , , , , , , ,

12 responses to “Hasil ikut #visitDPD”

  1. Don Komo says :

    Ya aku juga sependapat dengan masalah salam itu, kenapa ga ngucapin selamat malam, selamat sore,selamat siang aja,toh kita dipersatukan oleh Bahasa Indonesia dari hasil jerih payah sumpah pemuda 28 Oktober, lebih bisa mengakomodir semua peserta dari sabang sampai merauke…

    • Guh says :

      Pemuda sekarang sudah jadi korban indoktrinasi sampah “pikir pendek go ahead” bikinan para kapitalis yang cari nafkah dari jualan candu. Sementara itu para bijaknya sibuk korup dan para agamawannya hobi ngimpor doktrin alien sambil “mengkafirharbikan” kepercayaan lokal.

      Ah, maafkan saya untuk tanggapan yang kelam di minggu yang mendung ini :))

  2. Alex© says :

    Aku malah kepikir macam mana pulak kalau Matt membubuhkan salam perdana di postingan wordpress.com -pada akun perdana dibuat oleh blogger- bukan berjudul “Hello world”, tapi “Assalamualaikum” atau “Jesus bless you”. Heuheuheu. Tak sedap betul. Memang lebih elok salam yang global saja lah kalau depan publik. Hakikatnya sama juga. Kata salam juga berasal dari bahasa Arab, dan bermakna selamat juga.

    Tahu deh ah.

    BTW, iseng ini nanya: Jadi menurutmu DPD itu masih manusia atau sama dengan mereka hewan-hewan yang di DPR? Atau ada berbeda sedikit? Masih layak dipertahankan, atau bagusnya dibubarkan saja? :D

    • Guh says :

      @Alex
      Hmm… DPD itu wewenangnya tidak sebesar DPR, mungkin itu jadi salah satu sebab mereka masih manusia yang sekilas baik-baik saja. Soal dibubarkan atau dipertahankan itu sulit dijawab. Silakan dinilai sendiri. Adapun baik buruknya saya ceritakan sedikit, mungkin bisa membantu menilai *halah*.

      Kebaikan:
      + Non partai. Jadi secara teori mereka bisa mewakili rakyat tanpa diracuni kepentingan para investor partai. Pemimpin yang dihasilkan, harusnya juga lebih keren dan independen dari orang partai yang cuma mewakili partai macam bapak prihatin kita itu. Tapi sebenernya saya juga tidak tahu bagaimana DPD itu bisa tiba-tiba menjabat disana, ngaku2 mewakili saya, tanpa saya pernah tahu siapa mereka sebelumnya. Banyak peserta juga baru tahu DPD setelah ikut visitdpd.
      + Langsung mewakili dari setiap propinsi… sekali lagi tanpa lewat partai. Kesannya sih lebih dekat dengan rakyat. Tapi saya juga tidak tahu dekat versi siapa. Selama ini saya tidak tahu bagaimana kinerjanya. Kita tidak tahu berapa keluhan yang sudah masuk, berapa yang didengar, berapa yang ditindaklanjuti. Form keluhan online juga sama persis seperti form kumham dan instansi-instansi tuli yang lain. Tidak transparan. Saya belum coba mengeluh ke kantor langsung sih.

      Keburukannya:
      — …. hmm…
      Ah, saya sudah dibayari hotel mewah, sudah dikasih makan sekenyang itu itu, masih dikasih amplop pula, masa’ iya saya bakal cerita kejelekan?? Kau cari tahu sendiri saja lah!

      Mode on: #mikulduwurmendemjero #ewuhpakewuh #sungkan #murahan

  3. melly says :

    Ini blognya mas teguh ya?

    wah..saya setuju banget dengan kritik dan sarannya.
    rasanya puas gak puas ikut acara kemarin.

  4. melly says :

    mas–mas..boleh saya copas gak tulisan ini ke blog saya?
    lagi males nulis nih..hehe

  5. jay boana says :

    mantaps euy …slamat yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s