Pendidikan Makin Mahal Makin Tak Masuk Akal

Saat ini layanan gratis untuk berbagi, berkolaborasi dan berdiskusi secara online sudah bertebaran di internet. Internet juga sudah mulai terjangkau (yang jelas lebih terjangkau dari bayar kuliah di fakultas termurah di universitas terbesar di Indonesia). Tapi kok belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para maha guru kita ya?

Youtube misalnya. Itu hosting gratisan untuk berbagi video kan bisa dipakai untuk menayangkan rekaman kuliah terbaik. Daripada mengulang-ulang indoktrinasi yang sama berulang-ulang, sehari sekian kali dan setiap tahun diulang-ulang lagi, lebih praktis kalau suruh saja para murid menonton video itu di tongkrongannya masing-masing.

Lha nanti tidak berangkat sekolah/kuliah? Fungsi kelas untuk apa?

Ya tentu saja untuk mendiskusikan indoktrinasi kuliah yang tadi ditonton. Jika indoktrinasi akhirnya didiskusikan, ditelanjangi sampai siswa paham segala fakta fundamentalnya, itu akan jadi edukasi yang sangat baik.

Tapi nanti maha guru juga bakal terjebak dengan kegiatan menjawabi pertanyaan yang sama dan berulang setiap kelas dong?

Ya kan ada teknologi yang namanya wiki atau blog atau google. Apa susahnya bagi guru bikin halaman FAQ di blog pribadinya agar murid tidak mengulang-ulang pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Dengan begitu setiap kelas akan jadi diskusi yang ‘selalu baru’ dan menemukan hal-hal baru. Segala hal baru yang penting malah bisa untuk update video kuliah dan update FAQ. Bayangkan akselerasi ilmu pengetahuan manusia yang akan dihasilkan.

Lha kalau setiap ilmu pengetahuan dibebaskan, semua boleh belajar tanpa bayar, apa gunanya sekolah atau universitas? Cuma buat diskusi? Lha diskusi juga bisa online lho. Bisa kurang makan dong itu para bakul pendidikan.

Kan tidak setiap orang punya laboratorium untuk praktek dan menggelar eksperimen sendiri. Tak setiap murid punya aula nyaman nan sejuk untuk mendiskusikan hal-hal baru dengan moderasi para maha guru kompeten. Nah, para kapitalis pendidikan bisa lebih fokus untuk menyediakan fasilitas-fasilitas keren semacam itu.

Lagi pula fungsi utama sebagai “penjual sertifikat” akan selalu bisa dikomersilkan. Murid-murid mau dapat ijasah dari mana kalau tidak dari sekolah/universitas? Mau kerja dimana kalau tidak punya titel? Tanpa doa restu sertifikasi lembaga pendidikan, mereka pasti susah cari kerja, mungkin terpaksa buka lapangan kerja sendiri, dan itu juga bagus.

Lalu gimana nanti nasib guru dan dosen dan juru dakwah?

Akan baik-baik saja. Fungsi mereka sebagai nara sumber, moderator dan pengawal diskusi murid dalam menemukan hal-hal baru akan selamanya penting. Sedangkan guru, dosen dan jurdak yang selama ini hanya mengulang-ulang materi, yang cuma jadi alat indoktrinasi, yang cuma dakwah satu arah, yang tak bisa ditanya apalagi diajak diskusi… mereka semua bisa kita singkirkan dan diganti dengan ipod kw 11 bikinan RRC, biar cepat rusak dan tidak perlu didengarkan lagi :)

Jadi sebenarnya pendidikan sudah bisa gratis ya?

Untuk banyak materi itu sudah bisa banget. Teknologinya sudah lama tersedia. Hanya para pendidik saja yang belum  memanfaatkannya secara maksimal.

Lha kemendiknas itu ngapain aja? Rektor-rektor dan maha guru universitas bergengsi itu ngapain aja? Pendidikan macam apa yang bisa kita harapkan dari institusi pendidikan yang tidak mampu mendidik dirinya dalam menemukan cara agar pendidikan terjangkau untuk semua… Padahal teknologinya sudah ada dan gratis pula?

Hehe, semoga tidak separah itu. Sebenarnya kemendiknas sudah ke arah sana. Buku-buku sekolah sudah mulai disediakan secara gratis. Semoga sebentar lagi disediakan juga buku-buku dan video perkuliahan.

Amin lah. Tapi sampeyan enak sudah di Jawa, dekat Cikeas pula. Sinyal banyak dan tersedia paket murah, 95 ribu per bulan dah bisa internetan dengan cepat dan unlimited. Lha kita udik luar Jawa gimana dong? Sinyal lemotsel sel aja jarang masuk, tarif internetnya sudah rampok lelet pula.

Ya makanya, kumpulin dong ibu-ibu pengajian gelar istighasah super kubro, minta sama Tuhan supaya menggerakkan hati menkominfo, biar tidak melulu sibuk mengurusi video penetrasi, tapi segera gelar misi tanggap darurat untuk penetrasi internet murah ke kampung-kampung. Di kerangkeng pakai nawala pun ok lah, yang penting pendidikan murah bisa masuk dan terselenggara dulu. Tentunya pendidikan yang edukatif, bukan pendidikan indoktrinatif macam “aku dengar aku patuh”-nya para indoktrinator ;)

Jiaaaaah… amin daah.

Tag:, , ,

17 responses to “Pendidikan Makin Mahal Makin Tak Masuk Akal”

  1. Bitch, The says :

    “istighasah super kubro” terdengar seperti paket kombo di rumah makan cepat saji…

    • Guh says :

      huss, jangan blasphemy kamu. kubro itu gede. Super kubro = super gede. Makin gede, makin besar potensi kemakbulannya, dan semoga makin cepat terwujudlah itu pendidikan gratis yang terjangkau untuk semua.

  2. Bitch, The says :

    tapi kalo kata merriam-webster.com, yang lebih guwede-seguwede-guwedenya-guwede-ngalahin-super itu namanya ultra, mas. kalah tuh kalo cuma “istighasah-super-kubro” ngelawan “kepentingan-ultra-duit-dan-kekuasaan”. piye kui?

    • Guh says :

      Ya nanti kalau sudah pada tersadar bahwa doa saja ternyata tidak ada kekuatannya untuk melawan orang-orang yang menyembah duit… Lama-lama rakyat juga bakal muak sendiri, semoga saja ledakan kemuakan itu tidak terlalu merusak.

  3. sora9n says :

    IMHO sih, kalau sekadar *materi* belajar, pendidikan gratis itu udah relatif siap banget. Toh banyak juga situs — di luar wikipe, youtube dsb — yang dedicated ke situ. Cuma ya, itu… harus modal internet. :P

    Granted, materi Bahasa Indonesia masih belum makmur, tapi zaman sekarang masa sih (pengguna internet) gak bisa bahasa Inggris. :-?

    Yang agak repot itu cuma satu, sebenarnya: textbook kuliah yang bagus & murah. Padahal itu sangat penting. Tapi kita sama-sama tahulah solusi alternatifnya. :mrgreen: *uhuk*mbajak*uhuk*

    • Guh says :

      Tentang bahasa inggris, saya tidak tahu Anda hidup di internet sebelah mana, yang jelas di internet sebelah sini banyak yang belum bisa bahasa inggris dan sangat mengandalkan konten berbahasa indonesia, termasuk saya.

      Menghadapi hukum lisensi/paten yang terlalu menghambat penyebaran ilmu pengetahuan, memeluk kopimi sebagai agama kedua memang bisa jadi solusi :))

  4. eMina says :

    yang diluar jawa juga perlu diingat hal pentingnya: sering mati lampu. Jadi selain melibatkan menkominfo untuk segera penetrasi internet ke seluruh pelosok indonesia dengan sama ratanya, kelancaran listrik dari PLN juga mesti lancar jaya :mrgreen:

    • Guh says :

      Teh, kalau kita mau berpikiran positif dan memandang dengan hati yang bersih, sebenarnya ada juga manfaat baik dari seringnya mati lampu di luar jawa:
      Mereka jadi istirahat nonton TV yang isinya aksi korupsi para wakil rakyat di Jakarta. Lampu mati juga biasanya diiringi hilang sinyal, jangankan internetan, telpon dan sms saja susah.

      Dengan mati lampu, polusi informasi bisa dikurangi, hati mereka (terutama mereka yang kurang menikmati hasil pembangunan sementara sumber daya alamnya terus dikeruk) akan jadi lebih sejuk, kepercayaan pada jakarta (dan aparatnya) pun bisa terus dilestarikan. Demikian. :P

      • eMina says :

        Kan repot juga kalau sedang kuliah tiba-tiba mati lampu melulu. Nanti kalau ada program seperti ini dan penerapannya tidak merata (lagi), piye…? diprotes juga ujung-ujungnya. Tapi yah, menarik sekali kalau hal begini bisa diuji coba. Mungkin bisa setengah dulu, sisanya seperti biasa belajar di kelas, terutama kalau ada beberapa mata kuliah/pelajaran praktek (dulu sih saya ada prakter sholat, wudhu, dagang, presentasi, dll). Eh..mungkin itu juga bisa pakai video streaming secara online ya? :D

  5. Jerry Gogapasha says :

    Jika koneksi internet terputus, pakai back up MMS gratis. Modal hape bisa buat menyerap materi. :D

    kalo buku bisa diganti ebook, selain file kecil, juga menghemat kertas dan pohon.

    seneng baca blog ini, cara pikirnya GUH merangsang saya berpikir juga. :D

    • Guh says :

      He, hati-hati nyebut terangsang, nanti kena UU itu.

      semoga rangsangannya juga merangsang piko biar dia juga bisa merangsang yang lain.

    • eMina says :

      ta-tapi…e book juga tidak bisa selamanya bikin betah. Bisa rusak mata lama-lama di depan kompie sambil baca, apalagi bacaannya yang serius kayak pelajaran :shock:
      saya ga kuat sama ebook mah

      • Guh says :

        Kalau sekedar baca buku, selain ebook sekarang sudah banyak audiobook. Bisa didengar sambil melakukan aktivitas lain yang perlu mata. Malah lebih terjangkau karena bisa diputar pakai mp3 player murahan.

        Kalau nekat baca ebook ya enaknya pakai gadget yang layarnya nyaman untuk dipelototi lama-lama.

      • Alex© says :

        Kalau malas baca kan bisa diprint juga? Habis itu malah bisa difotokopi dan disebarkan, seperti buletin jumatan yang penuh propaganda sering beredar kala khutbah itu :P

        • Guh says :

          kalau malas baca ya mending serahkan orang lain untuk dibaca, minta dia rangkum sekalian lalu cerita apa saja poin2nya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s