Dakwah Jumat: 4 Penyebab Rumah Ibadah jadi KORUP

Tadinya saya ingin menulis tentang langkah berani para anggota dewan perwakilan yang mulai ngeblog. Tapi karena blog mereka masih saja kosong (sekosong apa hayo?), maka saya yang religius, berbau agama dan memancarkan cahaya iman ini memilih topik lain yang lebih bermanfaat untuk umat di hari jumat. Sebuah dakwah.

Dan inilah dakwah Jumat kali ini:

4 Sebab Rumah Ibadah jadi KORUP

Pertama, dibangun pakai uang haram.

Uang haram bukanlah uang yang tidak tempeli label halal dari MUI. Tapi uang yang didapat dari aktivitas-aktivitas yang zalim, menganiaya orang lain, atau uang yang diraup secara tidak etis.

Uang hasil penyelewengan jabatan, seperti sumbangan dari para koruptor tentu saja haram. Termasuk uang haram adalah uang yang didapat dari menjerumuskan orang lain ke dalam kerusakan, misalnya jualan candu.

Lebih parah lagi jika candu yang dijual tidak cuma merusak individu beserta keluarganya, tapi juga menyebabkan kemelaratan holistik yang menyakitkan badan, membodohkan pikiran, memiskinkan secara ekonomi dan mengadudomba rakyat serta memecah belah negara sekaligus. Uang dari situ adalah uang yang haram sangat, mungkin saat dipegangpun bakal terasa hangat.

Uang dari mafia tukang palak dan tukang pungli juga haram. Jadi misalnya di kampung kita ada rumah ibadah super megah yang dibangun dari uang sumbangan mafia tukang palak, berarti itu rumah ibadah korup yang dibangun dengan uang haram.

Kedua, dibangun tanpa ijin

Membangun rumah untuk manusia saja perlu IMB, apa lagi bangun rumah untuk Tuhan.

Tuhan sendiri sebenarnya tak butuh rumah, apalagi dirumahkan. Sebagai entitas yang maha ada dan maha mendengar, siapapun bisa dan boleh bicara denganNya dari manapun dan kapanpun, tidak harus dari lokasi atau waktu tertentu.

Pembangunan rumah ibadah hanyalah untuk kepentingan manusia, urusannya lebih banyak dengan sesama manusia, makanya perlu diatur dengan perijinan supaya tertib, untuk mengurangi kemungkinan adanya pihak-pihak yang terzalimi.

Membangun tanpa ijin, berarti menyepelekan hubungan antara sesama manusia. Membangun rumah untuk beribadah pada Tuhan tanpa ijin, berarti menggunakan Tuhan untuk menyepelekan hubungan antara sesama manusia. Yang seperti itu adalah aktivitas berbahaya yang perlu diwaspadai.

Ketiga, mengganggu lingkungan

Apakah rumah ibadah mengganggu ketentraman orang-orang sekitar? Apakah menimbulkan polusi suara? Apakah menyebabkan kemacetan? Apakah menterror warga sekitar karena dipakai meneriakkan ancaman? Apakah AMDAL-nya begitu buruk hingga menyebabkan banjir, bencana alam atau malah kiamat?

Jika rumah ibadah mengkorupsi ketentraman atau keselamatan hidup masyarakat, maka itu rumah ibadah korup, karena menggunakan Tuhan untuk menzalimi orang banyak.

Jika rumah ibadah ber-AMDAL busuk dan pengganggu lingkungan ternyata punya ijin lengkap, maka kita perlu bertanya, apakah orang/institusi yang memberi ijin sudah terinfeksi virus korupsi? Itu bahaya, karena jika orang/instusi/regulator korup dibiarkan terus beroperasi,  mungkin dia juga akan beri ijin pada pabrik-pabrik atau kegiatan-kegiatan yang ber-AMDAL korup yang merusak lingkungan dan kehidupan manusia.

Keempat, menentang anjuran kitab suci

Misalnya masjid, rumah ibadah agama Islam, kitab yang dianut semestinya adalah Quran. Dalam Quran 7:55 dan 7:205 dianjurkan untuk menyebut nama Allah dengan rendah hati, dan dengan privasi. (Silakan periksa kitab tersebut, karena bisa saja hanya berdusta dan menebar fitnah).

Nah, jika ternyata masjid tersebut justru menggunakan TOA (semacam pengeras suara yang kualitas suaranya mengerikan) untuk meneriaki Allah mulai dari setengah jam sebelum adzan dan sekian jam setelahnya, bahkan sampai mengganggu kenyamanan manusia yang tinggal di sekitarnya, maka harus dipertanyakan sebenarnya kitab apa yang diikuti oleh masjid tersebut?

Meneriaki Tuhan seperti itu tidak cuma menodai agama dan menistakan kitab suci, tapi juga mengorupsi kenyamanan dan kesehatan manusia dan setiap mahluk yang masih hidup dan masih bertelinga yang tinggal di sekitarnya. Perlu dipertanyakan juga apakah umat masjid tersebut masih percaya bahwa Allah maha Mendengar.

Tapi teman-teman dari Front Penyuka Intimidasi dan simpatisannya tidak perlu buru-buru mengambil pentungan apalagi menyerukan kekerasan. Ada solusi damai.

Jika memang ternyata masjid-masjid tersebut dari aliran baru yang meyakini bahwa Allah tidak Maha Mendengar dan memang perlu diteriaki sekian kali sehari, tak perlu lah penganut aliran tersebut diusir-usir atau dipukuli, apalagi dicap sesat dan menyesatkan oleh Pak Menteri. Itu mungkin melanggar hak asasi.

Anjurkan saja secara baik-baik untuk mengganti TOA dengan LCD super besar yang dihadapkan ke langit. Jadi segala doa dan puji tidak diteriakkan, tapi ditayangkan di display tersebut. Walau yakin Allah tidak Maha Mendengar, tapi tetap Maha Melihat kan? Nah, dengan begitu segala doa dan puja puji bisa tetap disampaikan tanpa perlu menzalimi telinga warga sekitar.

Begitu pula dengan rumah-rumah ibadah dari agama yang lain. Jika aktivitasnya tidak sesuai dengan anjuran kitab sucinya, itu berarti rumah ibadah korup. Misalnya: Kitab sucinya mengajarkan perdamaian, musyawarah dan gotong royong untuk memperjuangkan rahmat bagi semesta alam, tapi rumah ibadah itu malah dipakai provokasi, pecah belah, adudomba dan menebar kebencian. Yang seperti itu adalah rumah ibadah yang korup dan menistakan ajaran kitab sucinya sendiri.

Demikianlah 4 hal yang membuat korup rumah ibadah. Mari kita peduli, karena kelaknatan rumah ibadah yang korup sangatlah mengerikan. Anda belum tahu? Silakan baca berbagai horor yang diakibatkan rumah ibadah korup dalam dakwah sebelumnya.

Oh, satu lagi yang perlu Anda sadari, walaupun saya orangnya sok suci dan suka merasa paling benar sendiri sepanjang jaman dan sedunia akhirat, dalam dakwah kali ini saya belajar membuka pikiran dan membuat dakwah ini bukan cuma dakwah satu arah.

Dalam dakwah ini Anda bukan lagi sekedar korban indoktrinasi yang hanya boleh mengamini tanpa boleh bertanya dan mengkritisi. Malahan di sini Anda juga boleh mengoreksi kesalahan dari fakta dan argumen yang saya sampaikan. Silahkan lakukan  dengan gembira melalui kolom komentar.

Jika komentar tidak langsung muncul itu bukanlah karena saya munafik yang mengaku membuka diri padahal sebenarnya menutup komentar, itu hanya karena akismet,  Jangan kuatir, pasti saya periksa setiap kali login.

Sekian dulu saudara-saudaraku sesama umat manusia.

Silakan sebarkan dakwah ini, agar dapat diketahui mulai dari kemenag dampai pemuka agama di dekat rumah, terutama para juru kunci dan para operator di berbagai rumah ibadah.

Wassalam.

Tag:, , , , , , , , , , , ,

9 responses to “Dakwah Jumat: 4 Penyebab Rumah Ibadah jadi KORUP”

  1. celo says :

    Idealnya rumah ibadah buat Tuhan yang anu itu panggilan untuk ibadahnya sesuai waktunya saja ya, bukan dari setengah jam sampai beberapa jam setelahnya. Cukup sekali woro-woro dan kelar… gitu bukan sih?

    • Guh says :

      Menurut yang saya pahami sih begitu :)

      Dan tidak berlebih-lebihan. Contoh berlebih-lebihan itu seperti pakai TOA super keras, padahal jarak antara rumah ibadah satu dengan yang lain sangat dekat, akhirnya warga situ mendapat teriakan plus bonus berkali-kali.

  2. celo says :

    Wogh, di theme yang ini gravatar-nya jadi besar… suka deh *merencanakan untuk beriman kepada WooThemes*

  3. dodo says :

    Guh, mungkin sudah puluhan ato bahkan ratusan kali kita membahas tentang ributnya pengeras suara itu. Adakah memunculkan perubahan pada apa yang terjadi di lapangan?

    Terus terang aku sendiri juga masih kesusahan mengkritisi hal ini di lapangan.

    • Guh says :

      Do, memang tujuan utama pembahasan seperti macam ini bukanlah untuk ‘mengubah’ manusia yang hobinya meneriaki Tuhan.

      Sebagaimana debat dengan penyembah “berhala”, bakal sia-sia dan makan ati jika tujuannya untuk “menyadarkan” atau “mengubah” lawan bicara. Tujuan sesungguhnya adalah menyajikan tontonan yang “mendidik” bagi pihak ketiga. Menginfeksi penonton/pembaca dengan ide-ide alternatif, menyemangati dan menemani mereka yang masih bisa berpikir dan bertanya :D

  4. yusufalmahdali says :

    jawaban saya, bagaimana kita membuat kurikulum manajemen masjid dengan berbasis kearifan lokal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s