Kenapa saya belum juga punya PIN

Sudah tahun 2012 tapi saya masih juga belum punya jawaban tiap ditanya PIN.

Alasan praktis biasanya “belum ada duit” atau kalau merasa perlu jaga gengsi ya jawabnya: “Belum perlu. Sementara pakai email, dropbox atau gdoc sudah cukup instan kalau hanya untuk kolaborasi dokumen.”

Tapi kadang ada saja tukang ngorek dan tukang kompor yang tidak mau makan jawaban klise begitu, mereka selalu ingin tahu alasan yang sebenarnya…

Inilah jawaban saya untuk golongan sulit itu…

Saya kurang cocok dengan faham komersialisme yang berusaha mengambil keuntungan finansial dari setiap kesempatan. Saya masih saja sinis pada tiap aksi cari untung yang dicapai dengan mendukung kelangkaan, atau malah sengaja melakukan pelangkaan.

Contoh pelangkaan itu begini: Seandainya saya tukang dagang air minum di sebuah planet, saya akan melakukan pelangkaan dengan menguasai dan memagari sumber-sumber air setempat, sedangkan sumber yang tak bisa dibeli saya polusi biar tidak layak minum. Air jadi langka, penduduk tak bisa lagi mendapatkan dengan cara biasa/murah, akhirnya terpaksa beli dari saya. Profit.

Aksi pelangkaan itu ketika teknologi dan sumberdaya yang saya kuasai bukan digunakan untuk mempermudah orang banyak, tapi justru memperumit. Karena makin rumit, makin profit.

Ketika manusia sudah mencapai kemajuan teknologi yang memungkinkan YM, Gtalk, Twitter, Email, whatsapp, dll dapat diakses dari sembarang hardware, lha ini yang pakai PIN justru mundur ke zaman feodal, dia hanya bisa dipakai komunikasi oleh orang yang punya hardware khusus.

Bayangkan jika makin banyak manusia terus mendukung taktik dagang tersebut hingga akhirnya taktik itu diikuti oleh semua korporasi diseluruh dunia, apa efeknya pada arah kemajuan teknologi?

  • Teknologi jadi semakin langka, bukan semakin terjangkau tapi semakin mahal karena ada ketergantungan terhadap hardware khusus yang patennya dikuasai satu pihak tertentu.
  • Manusia terpecah belah berdasarkan hardware yang dimiliki. Mungkin tidak ada lagi email atau IM gratisan yang bisa diakses dari sembarang perangkat, semua akan diharuskan beli perangkat khusus untuk setiap channel.
  • Manusia akan dikuasai oleh perusahaan-perusahaan tertentu saja, karena untuk komunikasi akhirnya akan sangat tergantung pada siapapun yang berhasil memonopoli teknologi.

Kekhawatiran lebay? Mungkin. Anehnya taktik dagang seperti itu terus kita dukung, bahkan oleh kalangan edukator.

Jika yang pakai dari kalangan elitis, sosialista eksklusif yang selalu gaul instan setiap saat itu bisa dimengerti lah. Tapi kalau yang pakai guru, dosen, visioner, dan orang sok proletar yang ngaku revolusioner? Hmm…. hmm…

Ok, penyangkalan biar saya aman:

Saya tidak berusaha menyalahkan perusahaan itu. Dilihat dari kacamata dagang, taktik seperti juga tidak salah. Akademisi waras manapun, terutama yang lulusan bisnis pasti yakin itu baik-baik saja, malah jenius karena jitu menangkap peluang cari uang. Layanan yang diberikan juga sesuai harga, malah tempo hari juga sempat bagi-bagi aplikasi gratis sebagai permintaan maaf atas layanannya yang sempat error.

Penjelaskan mengapa saya belum punya PIN ini semata karena saya kurang pendidikan, jadi masih hidup mengawang-awang, masih memimpikan kelimpahan bagi semua orang dan sinis pada setiap usaha cari profit yang mengusahakan pelangkaan.

Penjelasan ini sekaligus menawarkan solusi bagi semua yang sebenarnya ingin beli tapi belum punya uang… Jadi bisa menjawab dengan keren tiap kali ditanya PIN. Dan nanti setelah punya uang, bisa punya lebih banyak pertimbangan sebelum membelanjakannya. Karena uang juga bentuk lain dari energi yang bisa kita pakai untuk mendukung berbagai perilaku yang ingin kita lestarikan.

Begitulah.

Jadi gimana ceritanya Anda sampai punya PIN? Dipaksa boss, diajak arisan, karena para yayang juga punya, tuntutan bisnis, atau ada alasan lain? Sekarang sudah semendarah daging apa?

Tag:, ,

20 responses to “Kenapa saya belum juga punya PIN”

  1. Kimi says :

    Kalau nomor Whatsapp ada

  2. Bitch, The says :

    gw dooong. udah dua bulang lebih ga pake hapeee
    *congkak*

  3. Alex© says :

    Aku sangat setuju dengan postinganmu ini. Sesungguhnya tiadalah guna mengikat-ikat diri dengan para kompeni yang mencoba menjerat leher sedemikian itu. Dipasung kok ya bangga. Haha.

    *komen orang pengguna hape java biasa yang syirik karena tak mampu*

    • Guh says :

      Tapi, Lex… konon orang Indonesia itu memang gemar dipasung :D Secara genetik kita butuh dijajah, haus belengu. Mungkin karena kemerdekaan itu sebenarnya sangat menakutkan. Merdeka berarti kita harus bertanggung jawab penuh atas setiap pilihan dan konsekuensinya… tak bisa lagi menyalahkan pihak lain atas setiap ketidaknyamanan yang kita derita.

  4. warm says :

    saya ndak punya juga
    *ndak ditanya*
    :|

  5. Ahli Smartphone says :

    Hallo Mas Guh,

    SETUJU!!!!!
    saya juga paling tidak suka sama BB karena mereka close platform dalam chatting. Tetapi mas tau ngak, ini ada plus dan minusnya.

    Plusnya bagi BB, pada saat dia lagi mulai naik daun, orang yang sudah punya BB akan serasa dapat morfin ketika ternyata temannya pake BB (tambah orang yang punya pin). hal ini menyebabkan pemakai BB mereka adalah orang eksklusif…

    minusnya…
    pada saat orang BERALIH dari BB menjadi yang lain… domino effectnya terlalu besar… sebagai gambaran… di AMERICA
    tahun 2009… 30% pemakai BB
    tahun 2010…. 21% pemakai BB
    tahun 2011…. 6% pemakai BB
    dan tahun 2012 ini diperkirakan hanya tinggal 1% doank pemakai BB.

    mengapa demikian…
    pada saat misalkan pemakai BB tersebut punya 200 teman, lalu 50 hilang…. sebagain akan berasa… ah, semua juga sudah pindah…. ikut ah… hilang lagi deh misalkan 50 lagi… akhirnya…. ketika dari 200 tinggal 10 doank, buat apa pake BB.

    saya setuju dengan MAS bahwa program chatting harus cross platform seperti YM, Goggle, What’s APP, Skype, Nimbuz, MSN, dll.

    salam dan liat blog saya mengenai subject ini:
    http://ponselexpert.wordpress.com/2012/03/20/mengapa-memilih-blackbery-untuk-corporate-merupakan-keputusan-yang-salah-2/

    dan disini adalah mengenai tahun 2012 ini pemakai BB di america akan turun menjadi kurang dari 1%.
    http://ponselexpert.wordpress.com/2012/03/26/kematian-blackberry-di-pemerintahan-america-3-2/

    • Guh says :

      Wow, kalau datanya bener, berarti Obama (yang pakai BB) jadi makin sedikit temen BBMnya dong?

      Kalau saya lihat sih BB laku di Indonesia karena praktis, tidak perlu install/setting macem-macem, cukup bayar, sharing PIN dan langsung BBM-an sepuasnya. Kirim-kirim dokumen dll juga praktis, terutama kalau terima jadi seperti jatah dari kantor yang sudah disetting admin. Selain itu juga eksklusif banget, ibu-ibu arisan belum eksklusif kalau belum punya PIN :) Masalah itu artinya mendukung pelangkaan atau jadi boros karena biaya dobel ya ga bakalan kepikiran, yang peting kan kita kerja cari duit, ibadah yang bener, ntar mati masuk surga.

      • Ahli Smartphone says :

        Mas,

        Sumber yang saya pakai sebagai saduran tersebut adalah THE GLOBE AND MAIL, yang merupakan salah satu majalah/koran terkemuka di Canada. Kalau di Indonesia boleh disetarakan dengan kompas/gramedia-group.

        THE GLOBE AND MAIL sebagai koran Canada sangat membanggakan RIM, artikel2nya pada umumnya berpihak pada RIM. artikel yang menyatakan bahwa pegawai capitol hil ketika di survey hanya 1% yang menjawab akan membeli BB, adalah sebuah artikel yang sangat mengejutkan orang2 kanada (wake up call).

        Untuk Indonesia.
        Market Indonesia itu unik, orang Indonesia suka gadget, tapi arah gadget nya simpang siur. Bagi yang proffesional, yang sudah memiliki Smartphone lebih dari 4-5 (maksudnya dari dulu udah pake semisal Nokia 3650, 6600, N70, dst), dan sekarang pada yang ke 6 atau 7 pasti tidak akan mau memakai BB. Tetapi bagi yang hanya pernah 1-2 generasi hp smartphone akan mencintai BB. Bagi yang ngak ngerti apa2, dan terpengaruh media asing akan selalu berpikir Windows Mobile / Windows Phone yang tercanggih.

        Mengenai masalah ibu2 arisan / kantoran, sebenarnya itu masalah prestige, yaitu “sudah pakai BB”. Disinilah kekuatan BB, yang artinya apabila The COOL GUY/GAL udah pake, akan menarik yang lainnya. Semisal cewek cantik yang pake BB, cowok2 bakalan beli BB untuk menjadi keren. Bagi RIM untungnya effect ini di Indonesia adalah upward trending. artinya tidak tekor. Jadi seperti MLM (multi level marketing).

        Tetapi itu tidak akan bisa lama. sekarang saja sudah mulai goyang. Karena di America/Australia/Singgapore/HK penjualan BB sudah hancur menyentuh titik di bawah 10% (dari yang peak nya sampai ampir 30%). Dan sekarang yang terjadi adalah REVERSE EFFECT dari BBM. karena COOL GUY/GAL udah ngak pake, domino effectnya menghancurkan prestigenya.

        Di Indonesia, emang sepertinya BB masih kuat,
        tapi bedasarkan data penjualan (liat detik atau kompas) terlihat bahwa penjual2 mulai mengatakan android sekarang lebih laku dari BB. Hal ini membuat RIM gerah, dan yang tadinya bermain pasif karena berasa rakyat indonesia pasti beli, menjadi bermain aktif, promo gede2an, buka show room dimana2.

        tetapi dari graphic/statistic bisa di baca.
        indonesia itu bukan leading tetapi trailing.
        maksudnya pada saat bb mulai naik dan peak, indonesia baru mulai.
        pada saat yang lain jatoh, indonesia peak
        pada saat yang lain hampir menyentuh botoom, indonesia baru mulai turun.
        jadi di indonesia mungkin akhir tahun ini, atau awal taun depan, akan baru mulai tiba2 sepertinya semua orang yang tadi nya pake bb tiba2 pindah ke android/iphone.

  6. Zalxd85 says :

    BB tu sebenarnya ponsel java, jadi Tanpa BIS BB jadi kayak hp cina. Buang2 duit aja kalo beli BB.
    Seperti kata teman saya di kaskus. “BB tu bukan smartphone tapi goblokphone”. Hehehe
    :D

  7. tunas says :

    diajak boz brengzecc & tuntutan bisnis!!!
    dasar org2 gaptek!!!
    《♥p200ns♥》

  8. ical says :

    bener banget mas-mas brow…. saya tadinya tertarik sekali sama bb karna punya fitur bbm-an, tapi setelah saya cerita (sharing) banyak sama temen saya yang punya bb jenis st**m 2 dia hanya menggunakannya klo ada wifi, ( dulu langganan data bb, tp katanya karna mahal jadi jarang diisi bahkan dia hanya menggunakan paket harian) , tragisnya menggunakan wifi juga ternyata hanya fitur2 tertentu yang bisa, yaitu opera… wkwkwkwkwk..

    aneh tapi unik. (uniknya tragis)…….ada wifi tapi ko malah makin ga maksimal..
    mungkin karena BIS itu provider to provider x ya… sehingga terasa seperti penjajahan feodal.
    saya dah browsing sana sini.ada yang objectif dan subjectif pernyataannya… tapi itu membuka wawasan saya tentang berbagai fenomena hp.
    kesimpulan saya saat ini :

    – hp itu berarti mobile
    – mobile itu berarti flexible
    – flexible itu berarti sudah mendukung ecosystem
    – ecosystem itu berarti harus cross platform…

    he…… sori kalo berantakan coz baru pertama x nulis komentar di blog orang lain.

    • Guh says :

      Betul Bang Ical, idealnya memang cross platform.

      Tapi kalau belum pernah merasakan nikmatnya terjajah bb ya sebaiknya dicoba saja mas, siapa tahu nanti punya opini lain.

      Bisa bbman sama teman2 yang semuanya pakai BB itu rasanya keren lho, selain lebih diterima kelompok, konon bisa bikin kerjasama team lebih kompak secara kualitas kecepatan broadcast data ke anggota grup diklaim lebih instan dibanding push mail biasa.

      Buat dagang apalagi, wajib itu punya bb, karena konsumen yang pakai BB itu harusnya lebih menggiurkan dan lebih ga neko2 daripada yang tidak :) *sotau*

      • savikovic says :

        ga pake bb karena ga butuh bbm, abis fitur utamanya cuma bbm sih, selebihnya biasa aja
        bbm nya aja ga bisa pake wifi, game over deh buat jadi pilihan

        dan di blog ini saya menemukan kata2 sakti : ga bisa cross platform heheheh

        sekarang alasan saya bertambah :
        RIM kemungkinan hampir bangkrut (kecuali kalo zuckerberg jadi membeli RIM)
        pejabat2 RIM udah pada mundur dari RIM karena ga ada inovasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s