Malas Update Setelah Jadi Orang Tua?

Setelah menikah dan apalagi punya anak, blogger (terutama yang non-profit) biasanya jadi malas update. Sering malah sekalian berhenti. Menurut saya itu bukanlah pilihan yang tepat. Sebaiknya tetap menyempatkan diri untuk menulis, kalau harus dikurangi ya mulai dari dosis curcol dan curhatnya saja.

Kenapa?

Menulis yang agak serius seperti ini mengharuskan kita untuk terus berpikir kritis, terus belajar dan membuka diri terhadap hal-hal baru. Pernah ketemu tua bangka kolot yang hobinya ribut soal sepele? Nah, bertahan tetap menulis dapat menjauhkan kita dari bermutasi jadi mahluk yang seperti itu.

Klise? Ok deh, alasan yang berikut ini bakal lebih menarik dari alasan klise barusan…

Apa sih yang biasanya diwariskan orang-orang tua? Atau lihat dari sudut pandang kita deh: Apa yang biasanya kita peroleh dari para leluhur kita yang terdekat, seperti dari orang tua, kakek nenek dan buyut?

  • Tubuh, lengkap dengan segala kecantikan dan penyakit turunannya
  • Harta, kalau kaya
  • Tahta, kalau turunan pintar KKN
  • Wanita/Pria, jika dijodohkan
  • Relasi, kalau turunan gaul
  • Beberapa paket indoktrinasi dan sifat buruk yang mungkin diwariskan tanpa sengaja

Nah, segala warisan tersebut dikelola siapa? Menggunakan apa?

Tentu saja dikelola oleh si ahli waris, menggunakan daya pikirnya.

Masalahnya, pikiran yang dipakai untuk mengelola dan menjalani hidup itu warisan dari siapa? Bentukan siapa dan untuk kepentingan apa?

Apakah bentukan indoktrinator cabul dari padang pasir? Apakah “kebijakan leluhur” fiktif warisan penjajah? Ataukah klenikus lokal yang cari nafkah dari  pengkultusan mitos? Atau bentukan masyarakat zombi yang membabibuta menyembah sang hyang motivator?

Apakah kita termasuk orang yang susah payah melahirkan, membesarkan dan melengkapi putra-putri kita dengan segala sumber daya, hanya untuk jadi zombi yang mendukung kepentingan indoktrinator manapun yang berhasil menjajah pikirannya?

Dan demikianlah perilaku kebanyakan orang. Lupa secara turun-temurun. Atau mungkin juga belum pernah kepikiran bagaimana manusia diperlakukan seperti ternak yang beranak-pinak, menghasilkan daging-daging berkualitas, demi kepentingan sang peternak.

Jadi hubungan sama kegiatan menulis apa?

Tulisan tentang pemahaman dan pikiran-pikiran kita bisa diwariskan dan dibaca oleh anak cucu, dan anak cucu mereka. Keturunan berikutnya bisa melihat bagaimana pola pikir dan perkembangan pemahaman leluhurnya. Apalagi jika pikiran tersebut disajikan dalam bentuk blog (atau apapun) yang terbuka untuk diskusi umum. Segala sanggahan dan perdebatan yang terjadi akan membuka pikiran si anak, pertentangan antar berbagai cara berpikir akan membuatnya lebih kritis dan awas dalam memilih.

Kenapa kita lebih mengenal tulisan kafir-kafir barat atau habib-habib ga jelas dari padang pasir? Karena leluhur kita sendiri terlalu sibuk memutar roda kapitalisme sampai tak sempat menulis. Teknologi saat itu memang belum memungkinkan jelata biasa seperti leluhur kita untuk mengabadikan segala pikiran dan bualan sok bijak dalam buku-buku yang luar biasa mahal. Yang punya akses ke penulisan baru segelintir feodal dan mereka yang dekat dengan penjajah (yang menjajah fisik maupun menjajah pikiran).

Sekarang teknologinya sudah terjangkau untuk hampir semua kalangan. Siapa saja bisa  mempublikasikan, mengabadikan dan mewariskan tulisan. Tukang buah jaga dagangan atau kusir bajaj juga bisa ngeblog sambil nunggu penumpang, kalau mau.

Malahan kita sekarang bisa publikasi hasil pikiran dengan cara yang jauh lebih demokratis daripada buku. Buku itu bukan saja bayar, tapi modelnya juga dakwah satu arah dimana penulis bebas membual seenak udelnya tanpa kuatir pembaca akan menganggapinya secara instan. Blog sudah lebih menghargai pembaca karena tanggapan bisa diletakkan sedekat satu klik atau beberapa scroll saja.

Pertimbangan seperti itulah yang membuat saya terus menulis, walaupun belum punya pacar apalagi anak #lho?. Hehe, ya siapa tahu, sekian puluh tahun lagi, mungkin cucu dari cucu mantan pacar saya membaca tulisan ini dan cengar-cengir sendiri melihat mantan calon kakek buyutnya sok bijak dan sok berbagi nasihat walau hidup dalam dunia purba yang penuh korupsi.

Ya begitu deh. Wahai kawan yang sudah bermetamorfosis jadi suami istri dan orang tua, sempatkanlah selalu untuk terus menulis. Jangan cuma untuk mengejar hit atau ketenaran sesaat, tapi juga untuk diwariskan ke anak cucu dan anak cucunya lagi. Agar warisan kita lebih lengkap, tidak cuma membantu tubuh tapi juga membantu pikiran. Agar generasi berikutnya punya lebih banyak pilihan cara berpikir, tidak seperti kita yang cuma terbawa-bawa indoktrinasi dari pergaulan, buku-buku dan tulisan-tulisan para seleb sok bijak kurang ajar seperti saya.

Etapi, gimana ya format blog yang enak dibaca sebagai warisan? :)

Tag:, , , ,

6 responses to “Malas Update Setelah Jadi Orang Tua?”

  1. cp says :

    Merasa tersentil, walaupun sebenarnya jarang update bukan gara-gara (1) menikah terus punya anak dan (2) malas. Buat tukang tulis emosional macam saya waktu ekstra yang tepat itu mutlak adanya. Kalau otak lagi berapi-api tapi kerjaan lain yang masuk priority list numpuk, hasratnya pasti automatically deceased dan cuma jadi onggokan konsep yang nganggur.

    Format blog yang enak dibaca sebagai warisan tergantung target umur sang cucu. Di bawah 12 tahun yang banyak gambar lucu berwarnanya, 12-18 tahun yang banyak konten saru-nya, kalau buat 18 tahun keatas yang berbau pergerakan massa. :D

  2. hoek segirang says :

    “gimana ya format blog yang enak dibaca sebagai warisan?”

    formatnya kalau bisa sudah ada akta notaris, sah secara hukum, dibagi secara adil tiap-tiap kategori dan arsip untuk masing-masing anak,
    Tapi tetap, warisan dengan satuan hektar, kilogram, dan rupiah lebih menarik dibanding warisan dengan satuan megabytes macem begini :P
    *keturunan-kurang-ajar

    ide bagus mbah, saya sendiri ngga bakal ngasih warisan harta benda ke anak cucu, punya harta saja tidak. Kalaupun punya, mendingan dihabisken buat keliling dunia, atau pait-paitnya, keliling kota lah. biar anak cucu suruh usaha sendiri :P
    Tapi dengan ide warisan tulisan ini, bisa jadi excuse yang tepat, agar terhindar dari tuduhan orang tua yang terlalu pelit, kejam, dan durhaka terhadap anak.
    *sungkem

  3. Guh says :

    Ufff… sepertinya saya sudah menulis terlalu panjang hingga maksudnya malah sulit dimengerti.

  4. Jerry says :

    Keren Guh.

    Jadi dapat ide.
    Surat wasiatku nanti aku tulis semua acount dan password ke anak.
    Semoga mereka yang lanjutkan update blognya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s