Arsip | Perasaan RSS for this section

Papah… Curhat Dong!!!

Walau rasanya bukanlah seorang pendengar yang baik, ada saja teman yang menjadikan saya sebagai “tong sampah”. Tempat berkeluh-desah tentang masalah-masalah pribadi, yang biasanya berkutat seputar asmara.

Yang paling menyebalkan adalah saat menerima curhat lewat telpon atau sms. Sudah kepala kena radiasi, atau jempol pegal, tapi tak ada wujud indah yang bisa dilihat. Tidak ada kemungkinan dipeluk sambil nangis (atau nafsu). Tidak ada kompensasi instan apapun yang bisa saya harapkan.

Beda jika dengar curhat secara langsung. Sambil berjuang mendengarkan dengan khusuk, saya bisa mengagumi keindahan wujudnya sambil merespon dengan suara “ooo…”, “waw!”, “duh…” atau “hmmm…”. Tentunya dengan penuh empati sebagai respon pada bibir-bibir merekah yang sedang berkatarsis. Kadang juga diam-diam bisa latihan kegel sambil menyembunyikan ereksi.

Tapi benar juga sih kata orang tua (entah orang tua siapa), bahwa selalu ada berkah dibalik setiap derita. Begitu juga saat dijadikan tong sampah jarak jauh, ternyata ada juga hikmahnya. Ini baru saya sadari setelah kelamaan bengong. Dua bulan di daerah primitif, memberi saya kesempatan merenungkan hal-hal yang sebelumnya tak terpikir.

Karena tak bisa disambi “ngapa-ngapain”, pikiran saya malah sepertinya jadi kreatif. Terpaksa merespon dengan kata-kata sok tahu yang agak panjang. Cukup panjang sampai jadi kalimat. Walau serasa asal njeplak, sering kalimat yang terucap justru jadi nasihat untuk diri saya sendiri. Tentunya setelah dipikirkan ulang.

Contohnya kemarin, seorang wanita curhat tentang ketiga lelaki yang memperebutkan hati (dan kelaminnya). Salah satu ke-galau-annya adalah bagaimana cara mengetahui keseriusan seorang lelaki. Dan respon ngasal saya berbunyi kurang lebih begini:

“manusia itu mudah berubah, untuk saat ini bisa saja serius dan terbukti serius, tapi nanti atau esok tiada yang bisa jamin”.

Dhueng!!!!… Asal ngomong tapi kok yang kena saya sendiri. Tiba-tiba saya mikir, bener juga tuh. Dulu saya juga pernah merasa bodoh karena merasa dipermainkan sejak awal oleh seorang bidadari jahat. Sekarang jadi terpikir, mungkin saya tidak sebodoh itu, mungkin beliau tidak sejahat itu. Mungkin awalnya memang sungguh serius banget, tapi kemudian beliau berubah, sebagaimana alam yang terus berubah. Dan saya jadi merasa lebih ringan. Si Beliau sudah berubah, semesta sudah berubah, saya kok terus ngotot tidak mau berubah, ya jadinya saya menderita sendirian deh… hehe, jadi inget Pak Husni Mubarak *lho*.

Dari kalimat itu juga jadi terpikir…. mungkin inilah sebabnya mengapa manusia perlu menciptakan ikatan bernama pernikahan. Manusia bisa berubah, rasa bisa sirna atau berganti sasaran. Dengan adanya pernikahan, komitmen bisa terus dipaksakan.

Wanita kedua di hari yang sama juga nyampah dari jarak jauh. Sebut saja namanya S (Seksi). Beliau murka besar karena merasa dipermainkan oleh pasangan aneh. Setelah pacaran sekian bulan dengan pria X, baru ketahuan ternyata Si X sudah punya pacar, sebutlah namanya Y. Mba Y yang juga murka mengajak S untuk sama-sama melabrak X. Setelah repot-repot menemani Y demi melabrak X, tak lama kemudian si Y malah baikan lagi dengan X. Dan S pun gondok segede bwanget, padahal cukup yodium. Tapi gondoknya juga ilusif sih.

*benerin bibir dulu, kusut abis bergosip*

Hasrat Mba Seksi untuk membuat jera si X saya tanggapi dengan:

“Ada orang yang bohong karena terpaksa, ada yang karena sudah dari sononya tukang bohong, genetik yang dia warisi itu genetik tukang tipu. Sampai kapanpun juga dia suka nipu. Berusaha bikin jera cowo kayak gitu adalah perbuatan yang hampir pasti sia-sia. Buang waktu aja.”

Dhuengg…!!! (lagi). Saya sendiri yang kena juga. Saya pernah ingin merubah orang lain dari perokok menjadi tidak merokok. Baru sadar ternyata saya kurang menghargai diversity, kurang menghayati kebhinekaan. Adalah kenyataan bahwa sebagian manusia tidak bisa diajak menghargai kesehatan (diri sendiri dan orang sekitarnya). Genetik yang mereka warisi dari leluhurnya memang begitu.

Mba Seksi juga super sebal pada si Y yang sudah dibela malah balikan lagi. Katarsis ini saya tanggapi dengan penghakiman super sok tahu…

“Memang ada orang-orang yang begitu. Walau tidak balik lagi ke X, nanti kalau cari ganti pasti dia cari yang brengseknya sama. Bawah sadarnya terlanjur mencandu kesedihan. Akan selalu mencari alasan agar dirinya bisa tersakiti. Masokis najis.”

Lagi-lagi Dhueng…!!! Saya juga yang kena. Tapi untuk yang itu saya cuma ketok-ketok meja sambil merapal mantra amit-amit. Najis, najis, yaa amit amiiiiit. Semoga saya, Anda, dan mereka semua dijauhkan dari mencandu pada kesedihan. Dijauhkan dari suka mencari-cari alasan agar bisa murung dan bermuram durja.

Ya sudah. Ternyata jadi tong sampah jarak jauh ada manfaatnya juga. Bisa buat update blog juga :)

Begitulah.

Selamat Ulang Tahun

Semoga umur kamu cukup panjang hingga cukup untuk menikmati segala kenikmatan dari segala pilihan yang sudah kamu buat selama ini.

Suster Seksiii

Suatu pagi dimana saya sengaja bangun kesiangan…

Dengan cukup perjuangan saya berhasil duduk menemani segelas teh, meramaikan dapur yang sudah berisi dua manusia. Satu berstatus Bude, satunya berstatus Bu tetangga yang biasa datang untuk bantu memasak.

“Assalamualaikuuum…” Kata seorang gadis berjilbab yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.
“Saya disuruh Dr. E untuk membersihkan lukanya Teguh,” tambahnya setelah salam dijawab wajah-wajah bermimik heran.

Hari sebelumnya saya memang jatuh bersama sepeda motor. Kecelakaan tunggal yang dungu.

Sepulang dari ATM BRI satu-satunya, yang sudah jauh-jauh didatangi malah enak-enakan tutup, saya iseng pulang lewat jalan yang berbeda, yang ternyata baru diaspal. Halusnya lebih mulus dari jalan Tol Jakarta-Merak di seberang sana. Menggoda saya untuk tarik gas sambil terbahak-bahak, merayakan peradaban yang sebentar lagi sampai ke desa saya. Setiap beberapa kilo saya melewati bukit irigasi, bagaikan polisi tidur raksasa setinggi 2 meter. Di polisi tidur raksasa kesekian, entah kenapa saya tidak mengurangi kecepatan, malah makin jadi sampai sedikit melayang. Di ketinggian maksimal, baru ketahuan ternyata jalanan dibelakangnya masih busuk, mungkin terakhir diaspal jaman Suharto masih muda. Berlubang sebesar-besar dosa.

Panik, minim pengalaman, saya mendarat dengan kedua rem menyala. Gubrak lah dengan sukses. Dan baru sadar untuk pasrah menggelinding setelah sempat menggesek aspal beberapa meter, hasilnya kulit terkupas lumayan di beberapa bagian. Untung pakai helm full face, jadi tak nambah pitak. Dan untungnya lagi, celana panjang hanya sobek sampai paha, tak perlu mendengar komentar “sudah celaka tak bercelana dalam pula”.

Kharisma 125D, si motor jadul, hanya menderita baret. Tuas rem kaki melipat kebelakang, pecah sein kanan, dan bensin terus menetes dari karburator. Hampir semuanya sembuh dalam beberapa menit di bengkel yang secara mencurigakan hadir tak jauh dari bukit  jebakan. K618i penuh kenangan yang tadinya disimpan kantong paha kanan sempat bubar. Baterai, tutup dan body utama tersebar dalam kondisi baret-baret parah. Untung masihbisa menyala dan berfungsi 100% ketika berhasil disatukan.

Kembali pada mbak Y, seorang suster yang sesaat lagi saya sadari keseksiannya.

Tadinya saya putuskan untuk menyambut kecerobohan bodoh ini dengan sebuah eksperimen pribadi. Mempertaruhkan tubuh demi sebuah teori yang menyatakan bahwa lidah buaya lebih ampuh dari povidone iodine dalam merawat dan menyembuhkan luka. Tapi baru satu malam menikmati sejuknya lidah buaya, paginya seorang gadis datang, jauh-jauh sendirian naik Beat, menggendong peralatan lengkap demi mensterilkan saya. Rencana pun tinggal rencana, saya pilih pasrah dalam jamahnya.

Kami pun ambil posisi. Saya duduk di kursi, beliau di lantai membelakangi sumber cahaya, langsung sibuk dengan tubuh saya. Merapal aji mumpung, semua luka sampai yang kecil-kecil saya serahkan untuk dibersihkan jari sang perawan. Kecuali yang di pinggang, karena untuk membersihkannya berarti saya harus memelorotkan celana. Bukan karena sungkan terhadap jilbab, tapi lebih karena Bude dan Emak tetangga ada di rumah. Saya rasa tidak bagus untuk membuka celana di depan seorang gadis jika ada saksi mata nenek-nenek. Ah, andai saja saya dirumah sendirian.

Pedih yang menyenangkan. Sambil ngobrol macam-macam dan macem-macem, sambil memperhatikan gerakan jari-jarinya juga mimik wajahnya, saya menahan perih, jaim sok tegar sambil sekali-kali mengadu geraham. Jaim yang sebenarnya sia-sia karena beliau selalu tahu saat saya harusnya teriak.

Mungkin baru kali itu saya dirawat dengan penuh perhatian… oleh jari-jari seorang perawan. Haha, geer nggak penting memang. Mungkin saja beliau profesional yang memberikan pelayanan yang sama baik dan sama mesranya pada setiap manusia yang luka. Namun tetap saja saya mulai menilai bahwa beliau seorang yang seksi.

Dan penilaian saya jadi semakin parah setelah dia bangkit untuk membereskan kantung sampah berisi kapas kotor dan pretelan-pretelan kulit saya, beliau sempat lewat dan membelakangi saya. Saya perhatikan di bagian belakang dari roknya yang panjang, tepat di area itunya, tampak agak basah. Hehe, tapi tentu saja saya yang tidak mesum dan tidak cabul ini tak berpikiran macam-macam. Tidak sedikit. pun.

Singkat cerita, setelah pembersihan luka selesai, saya juga berhasil menahannya untuk tidak cepat-cepat pulang. Sampai ibunya menelpon karena curiga. Sampai tetangga selesai jumatan. Bahkan sampai hampir ashar. Hanya untuk ngobrol kesana kemari. Sambil memperhatikan wujudnya yang semakin lama semakin menarik.

Tapi saat akhirnya berhasil pamit, saat ditanya ongkosnya berapa, dia jawab agar tanya langsung pada Dr. E. Bahkan ongkos bensin pun ditolaknya. Saya mulai berprasangka. Jangan-jangan, setelah saya ge’er seharian, ternyata itu semua beliau lakukan hanya demi memenuhi titah sang Dokter, bukan dari hati. Huh. Atauuu… Positif thinking: mungkin saya dibenamkan dalam hutang budi… Ah, semoga saat jatuh tempo nanti, pembayarannya dengan cara yang menyenangkan. Haha.

Sebenarnya cerita tidak sesederhana itu. Di sekitar kejadian utama banyak kebetulan yang bermunculan, seperti salah satu bapak-bapak sedang nongkrong dekat TKP ternyata adalah lurah yang masih muda, berjenggot religius tapi tanpa jidat menghitam. Beliau ngajak ngobrol ngalor-ngidul sambil menemani saya nunggu servis motor. Topiknya bermacam mulai nafsu untuk punya banyak anak sampai penjualan ladang karet yang hampir sadap. Macam-macam topik yang beberapa puluh jam kemudian membantu saya untuk menyingkirkan suster Y dari bagian otak saya yang spesialisasinya hanya mikir seks dan perempuan. Membuat saya teralih dan bermimpi agar setiap desa bisa segera online tanpa harus menunggu Pak Menteri puas menyensori konten selangkangan. Tapi detilnya untuk update lain kali saja. Teorinya: Sementara saya tak bisa pergi kemana-mana, harusnya jadi punya kesempatan untuk update blog lebih sering.

Sekian dulu update panjang kali ini. Terimakasih untuk anda yang sudah menyimak :)

Abang Tukang Galon Mari Mari Sini

Awas, panjang banget, lama tidak update bikin saya lupa caranya nulis pendek.

Jadi gini…

Lakon saya sekarang sedang jadi warga komplek perumahan, sekaligus menjalani profesi sebagai tukang galon, jual air minum isi ulang. Mungkin ini profesi yang paling nggak keren diantara para blogger, tapi cuma soal waktu, karena profesi apapun kalau saya yang mengerjakan bakal ikut jadi keren juga.

Kesempatan update ini, selain saya pakai curcol seperti biasa, juga akan saya gunakan untuk berbagi rasa. Semoga suatu ketika anda berurusan dengan salah satu dari tukang air, bisa memperlakukan dengan lebih manusiawi.

Sebagai warga komplek, artinya punya tetangga kanan kiri depan belakang, kadang ikut begadang pura-pura ronda (tentunya sambil diracuni asap rokok), dan seminggu sekali harus cari alasan untuk tak ikut pengajian RT. Dinding yang tipis dengan material yang nista (khas rumah BTN) membuat saya tiap malam harus mendengar dengan jelas suara-suara dari para tetangga. Mulai dari pertengkaran rumah tangga, desah ga jelas, tawa tangis sampai suara kompor gas yang susah menyala. Lewat rongga-rongga di atap yang saling berhubungan, saya juga berbagi tikus dan kecoa dengan keluarga yang tinggal di kanan kiri.

Sebagai satu-satunya bujang lapuk se RT, tentu jadi mangsa empuk komentar menyindir. Misal saat saya kelihatan mencuci baju atau piring, ada saja yang komentar dengan tema: “Makanya, cari istri!”. Heh, mending saya cari mesin cuci kalau cuma  buat nyuci, lebih aman. Dalam hati saya penasaran, jika melihat saya bongkar motor, apakah mereka akan ngomong “makanya cari suami!” ?? Tapi sekarang aman, saya menjemur di atap dapur, bisa jemur baju sambil bugil, bebas dari komentar usil.

Menjadi warga komplek itu sebenarnya cuma peran sambilan, alasan utama Tuhan mengutus saya saya kesini adalah untuk dagang air. Mendatangkan air bersih dari sumber “entah dimana” pakai mobil tangki, tampung di tandon, disaring 8 tahap, lalu diradiasi dengan UV sebelum dijual sebagai air siap minum ke warga komplek dan penduduk kampung sekitar.

Kadang saya jaga di depo, bertugas mencuci dan mengisi botol kosong, menerima telpon, melayani pembeli, mencatat sekaligus menyusun urutan pengisian dan pengiriman. Multitasking abis. Ngelamun sedikit maka akan ada air yang terbuang luber, atau pesanan yang tak tercatat.

Kadang jadi bagian keliling. Sekilas tampak lebih simpel, hanya naik motor antar jemput botol. Tapi ini sering dilakukan panas-panasan, kadang basah kuyup kehujanan, sambil bingung cari alamat. Dan mengarahkan laju motor bebek roda dua di perumahan yang berbukit-bukit dengan beban 5-6 botol berisi air plus menaik-turunkan di setiap tujuan adalah siksaan tersendiri bagi otot-otot yang kurang nutrisi akibat belum punya istri koki vegetarian yang paham gizi.

Tapi yang paling melelahkan itu bagian ngurus duit. Memastikan setiap orang mendapatkan upah, urusan maintenance mendapat budget, sambil memandangi spreadsheet yang selalu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ghaib bernada pasrah: “kapan bakal balik modal?”.

Setiap hari toko buka mulai jam 6. Antar jemput mulai jam 7. Tutup jam 9 atau 10 malam. Tidak ada istilah libur, adanya status ijin, atau mbolos yang berkonsekuensi potong gaji. Ini memang kerja rodi, perusahaan baru jalan dan belum mampu membayar cukup orang agar libur bisa gantian. Upah juga masih jauh dibawah UMR, pastinya tanpa asuransi. Kalau nggak tahan ya cepat keluar, karena ada antrian panjang pengangguran yang membutuh penghasilan.

Awal-awal memburuh memang luar biasa sibuk. Tidak sempat mikir yang lain. Kalaupun ada kesempatan, energi sudah habis, tak cukup energi bahkan sekedar untuk masturbasi (baik intelektual, spiritual maupun fisik). Tubuh yang lelah membuat jiwa hanya ingin tidur. Dan baru tidur sebentar, belum sempat ngorok, tiba-tiba sudah pagi dan harus mulai lagi.

Seperti neraka, jadi tukang galon itu rasanya lebih boros energi dibanding jadi tukang tidur seharian, tukang sales korporat, tukang nyetir, tukang entry data, tukang tani wannabe, tukang servis, bahkan dari tukang ngeblog sekalipun. Lebih meletihkan dan boros waktu dibanding apapun yang pernah saya alami. Seorang rekan kerja bahkan menderita tipes, hampir mati dan terpaksa pulang kampung, itu akibat gagal memanage stress lahir batin ditambah pola makan yang memang mengerikan. Tapi semua itu tidak seberapa menyesakkan dibanding rasanya dipandang sebelah mata oleh para gadis, seolah-olah tukang galon itu sesuatu yang tak pantas dilirik lama-lama.

Anehnya, pekerjaan macam ini tampak tak terlalu melelahkan bagi mereka yang sudah punya keluarga. Manusia yang sudah punya tanggungan mungkin pikirannya jadi lebih bersih, mungkin isi kepalanya hanya mikir gimana cara menghidupi istri yang terlanjur dikawini dan membiayai anak-anak yang sudah terlanjur dilahirkan. Tujuannya hidupnya bisa fokus untuk cari duit. Lain dengan yang masih perjaka, pikirannya masih dicemari hasrat untuk bermain, bereksperimen, berkreasi, dan revolusi. Keinginan-keinginan yang jika tidak difasilitasi bisa bikin depresi, menumpulkan kreativitas dan mematikan jiwa.

Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama mengasihani diri dengan mengeluhkan beratnya lakon jadi tukang galon. Karena kemudian saya tahu kalau banyak orang disekitar saya berkubang dalam keadaan yang jauh lebih mengerikan. Maklum, tetangga-tetangga sekomplek kebanyakan buruh rendahan dari berbagai pabrik, tetangga kampung sekitar juga banyak yang pengangguran. Sudah miskin lahir batin, terlanjur kawin dan bikin banyak anak, masih kecanduan rokok pula, adalah kasus yang sangat biasa diderita orang sekitar sini. Untung saja mereka punya agama, jadi ada pelarian dengan rajin beribadah dan memimpikan surga.

Jadinya daripada bermanja-manja menyesali nasib, saya mulai mensyukuri dan menikmati hal-hal seksi yang dialami sehari-hari.

Saat kebagian jaga lapak, saya anggap sedang main game. Multitaskingnya memang mirip game semacam Dinner dash. Pernah main? Nah, ini lebih realistis, sayangnya tidak bisa restart sesukanya dan salah-salah bisa sakit pinggang beneran.

Saat kebagian delivery, saya jadikan kesempatan belajar basa-basi dan sosialisasi. Belajar basa-basi dengan kaum ibu (muda), mulai dari yang menyebalkan sampai yang centil abis, juga belajar berurusan dengan mbak-mbak sinting menggairahkan. Diantara pembeli rumahan, ada saja gadis segar wangi yang baru mandi, dengan tubuh hanya berbalut handuk meminta saya masuk rumah, HANYA untuk minta tolong sekalian pasang galon ke dispenser. Tiap ada kejadian begitu, saya punya setidaknya dua prasangka. Pertama, si mbak wangi memang sengaja menggoda saya. Kedua, si mbake menganggap tukang galon itu mahluk semacam kasim yang sudah dikebiri, sejenis budak yang tak punya lagi keinginan seksual. Haha. Selama ini saya memang tidak/belum diapa-apakan sih. Ya setidaknya fenomena macam itu bisa membuat kegiatan naik motor panas-panasan, bercelana pendek tanpa cd jadi lebih sejuk, semilir angin lebih semriwing.

Ternyata sejak merubah pola pikir menjadi cabul ahli syukur memang hal-hal menarik semakin sering terjadi. Yang paling berkesan dan baru beberapa hari terjadi…

Biasanya kalau ada yang pembeli yang terlalu cantik atau seksi, maksimal efeknya bagi saya cuma bikin grogi. Entah grogi karena ga pede tapi maksa pengen tampak keren, atau sekedar salah tingkah karena menyembunyikan ereksi. Nah, suatu hari muncullah seorang gadis yang sangat lain dari yang lain. Masih abege sih. Tapi daya tariknya lebih dari sekedar sensual. Setiap ketemu, tubuh saya terasa jadi lebih sehat dan penuh semangat. Matahari seolah wattnya nambah karena hari mendadak jadi sangat cerah. Setelah dia pulang pun, hingga malam menjelang tidur seluruh sel dalam tubuh saya masih tetap ceria. Bangun pun saya jadi lebih pagi… Ehm.. Ok lah, kalimat terakhir itu bohong banget, tapi lainnya bener. Padahal… Waktu itu namanya siapa juga saya belum tahu. Ya kebiasaan disini memang mengenal pembeli dari nomor atau alamat rumah, bukan nama orangnya. Kurang nguwongke memang.

Jadi, setelah beberapa kali transaksi, akhirnya saya penasaran (banget). Kesempatan berikutnya  saya manfaatkan untuk mengenal lebih jauh. Kemampuan sosialisasi saya yang sangat kurang membuat usaha ini tidak mudah, apalagi status saya sebagai “mamang air” dan uban-uban kurang ajar di kepala saya membuat saya merasa agak kaku. Setelah nekat berjuang (agak) keras, mengorbankan ego, sengaja memperlambat proses transaksi demi kesempatan ngobrol sedikit, informasi yang didapat ternyata sangat mengejutkan: Ternyata beliau baru kelas 1 SMP!!! Kelas satu es em peh!!! Bwahaha.. Dalam hati saya mengutuk Siaaalll!!!!. Beruntung tembok BTN itu rapuh dan gampang rubuh, jadi saya tidak tergoda untuk membentur-benturkan kepala atau garuk-garuk tembok.

Tapi ya tetap saja, saya masih terus penasaran karena belum tahu namanya. Saking grogi lupa nanya, malah basa-basi bahas anggora dalam kerangkeng. Jadi selesai mengantar, dari  atas motor yang belum dinyalakan, saya bertanya pada dia yang entah kenapa masih berdiri di gerbang, dengan pose seperti sedang mengantar kekasih *yay!*, saya tanya : “Mbak, boleh tahu namanya siapa?”. Itupun harus diulang sampai dua kali, mungkin tak jelas karena lidah saya kelu, (atau karena gigi saya yang berantakan?). Dengan suaranya yang mmmwah, dia menjawab sambil sedikit mendekat: Nat(sensor). Sudah. Tanpa terlalu lama terpesona dengan muka tolol, saya segera sadar untuk pamit dan tarik gas meneruskan pekerjaan. Saya juga sempat bersyukur motor itu tidak dipasangi cermin spion, jadi seharian itu saya tak perlu melihat wajah tersangka pedophil. Tapi bersyukurnya juga sambil senyam senyum sendiri, masih girang dan terbayang-bayang wajahnya.

Sekarang sudah beberapa hari dan belum bertemu beliau lagi. Ternyata sedikitpun saya tidak merasa rindu. Dan saya sedang berdusta besar, haha. EHmmm… Ketololan seperti ini harusnya tidak ditulis di blog yang kurang anonim gini ya? Nanti lah kapan-kapan diedit lagi.

Weits… Cerita belum berakhir. lanjut dulu ke dagang Air.

Sekarang soal kompetisi. Tergiur uang, banyak saja yang ikut-ikutan mendirikan usaha yang sama persis, di lokasi yang berdekatan pula. Rebutan pelanggan tak terhindarkan. Memang ada bagusnya, pembeli jadi punya pilihan, dan masing-masing pedagang dipaksa untuk memberikan yang terbaik agar pelanggannya setia. Namun ada juga buruknya, jenuhnya pasar membuat setiap depo berusaha menekan ongkos produksi secara tidak wajar. Ada banyak cara, tapi yang pertama terpikir biasanya menekan upah buruh, membeli air baku yang lebih murah sambil mencekik biaya perawatan. Masing-masing punya keburukannya sendiri.

Pertama, buruh yang bekerja dengan upah minim akan cenderung lebih stress. Anda yang percaya teori “keajaiban air” tentu segera mengendus keburukan dari hal ini. Air yang diolah dan dibawa oleh orang-orang stress akan merekam kegelisahan mereka dan menyebarkannya pada siapapun yang meminum air tersebut. Kalaupun itu hoax, orang-orang stress juga cenderung tak peduli dengan kesehatan orang lain. Bisa saja mereka jadi cuek ngupil sambil ngisi galon, lalu upil yang tercungkil masuk ke air minum dan pelanggan jadi lebih sehat karena minum air bervitamin U… Upil. Yaiks. Atau dengan lugunya merokok sambil ngisi galon, karena stress bikin mereka tidak puas meracuni paru-paru sendiri, air untuk banyak orang harus dicemari juga.

Kedua, menekan biaya perawatan mesin. Ini bisa dilakukan dengan banyak hal buruk, mulai dari mencuci dan memakai berulang-ulang filter yang seharusnya sudah diganti (yang jadi cepat mampet karena beli air dari sumber murahan), sampai tidak mengganti lampu Ultra Violet yang mati. Bagi konsumen yang peka, mungkin akan segera merasakan dan berpindah depo, tapi bagaimana konsumen yang sudah stress berat? Dengan sensitifitas indera yang sudah dirusak rokok dan polusi di tempat kerja, mereka akan terus minum tanpa pernah sadar ada sesuatu yang sangat salah.

Itu baru mencekik diri karena kompetisi, belum sikut-sikutan yang sebenarnya biasa dalam dagang. Dalam kompetisi, biasanya yang menang ya yang paling bermodal. Lantas bagaimana dengan kesadaran manusia? Gimana kaitannya dengan kelestarian bumi?

Dagang air bisa laku karena banyak sebab. Dua yang saya angkat disini. Pertama, jaman instan banyak orang malas masak air sumur, pilih yang praktis walau agak mahal. Kedua, karena air sumurnya memang terlalu buruk. Seperti disini, air tanahnya memang rusak banget. Jangankan layak untuk minum, untuk ngepel saja tidak. Baunya busuk sangat, kena kuku bisa hitam, kena keramik juga jadi noda. Kecuali beberapa orang nekat, semua orang yang waras pilih beli saja. Yang ekonominya pas-pasan minum isi ulang, yang banyak duit minum air produk perusahaan asing. Semua dibeli lewat saya.

Jadi mau tak mau saya harus mensyukuri busuknya air tanah. Semakin buruk air tanah, semakin jaya usaha saya. Sekarang bayangkan, gimana kalau suatu pagi saya jadi maha besar? Bermutasi dari kuli menjadi kapitalis multinasional yang hobinya menguasai sumber air di negeri manapun yang saya kunjungi? Setiap sumber saya beli dan pagari tinggi, anda butuh harus beli. Sesuatu yang ketersediaannya berlimpah itu tidak ada harganya, jadi demi profit lebih besar lagi, air tanah saya rusak, misalnya dengan limbah dan produk pestisida dari pabrik-pabrik saya yang lain, atau bisa juga sekedar mendukung prilaku yang merusak dan pendidikan yang tidak mencerahkan. Semakin air langka dan sulit didapat, akan semakin bisa dijual, dan semakin membuat kaya.

Hehe. Tentu saya tidak serakus itu. Belum.

Menurut saya, adalah kurang baik jika segelintir pihak terus menerus mengambil keuntungan dari sebuah “kelangkaan”, baik kelangkaan yang alami apalagi kelangkaan yang disengaja. Siapapun yang mendapat untung dari kelangkaan akan cenderung mensyukuri kelangkaan itu dan bisa saja tergoda untuk melestarikannya… atau malah memperparah.

Dari sisi konsumen, beli air (atau apapun) tanpa kesadaran sebagai solusi kelangkaan juga tidak mendidik. Setiap kali butuh, ya beli,tapi cuma sebatas beli tanpa peduli sebabnya air susah itu kenapa. Tanpa peduli airnya diambil dari kampung mana. Tanpa peduli apakah proses produksinya merusak atau tidak. Akhirnya prilakunya tetap semena-mena, tanpa kepedulian.  Selalu ada banyak cerita dibalik setiap produk yang kita konsumsi, yang jika kita sadari, bisa mengubah prilaku kita jadi lebih mikir. Nonton “story of stuff” bisa jadi awal yang baik.

Jadi baiknya gimana?

Sebaiknya, semua pihak berkepentingan bisa terlibat dalam mengusahakan kelimpahan. Dengan sadar, supaya ngerti jadi nggak sembarangan lagi. Trus untungnya juga tidak melulu masuk kantong individu tertentu, tapi dibagi untuk semua. Tujuan utamanya juga jangan akumulasi duit, tapi menciptakan kelimpahan bagi semua, jadi harganya semakin murah, kalau perlu bisa gratis, tis.

Caranya?

Itu dia… Saya belum terbayang. Mungkin dengan koperasi? Tapi koperasi yang seperti apa?

Ah, saya pikirkan dulu sambil memburuh. Ini topik bagus supaya pikiran sibuk dan terhindar dari nonstop merindu pada nona N. Mikir cara mengatasi kelangkaan, sambil panas-panasan, sambil sekali-kali menghayal setiap nona di penjuru komplek bersenandung dalam hati: “Abang tukang galon, mari-mari sini, aku lagi horni….” Yay!

Ehm… Kalau anda punya ide terkait mengatasi kelangkaan, air, atau apapun terkait tulisan ini, mohon sudi berbagi. Terimakasih.

konspirasi dibalik kematian kruget

Kematian Kruget yang misterius mulai terungkap. Terduga penyebab kematian sekarang bukan lagi depresi ataupun kurangnya oksigen. Tapi racun.

RACUN!

Jadi gini…

Tadi saat cari info tentang pestisida organik, saya teringat pada seorang Ibu guru yang saya temui saat jalan-jalan ke beberapa RS. Beliau sempat bercerita tentang beberapa jenis pestisida, ada kontak dan ada sistemik. Cerita beliau tak bisa saya simak serius karena kecantikan putrinya mengganggu konsentrasi. Tapi masih ada yang saya tangkap, pestisida kontak itu masih bisa dicuci sedangkan yang sistemik tidak, racunnya menjalar ke seluruh sistem tanaman.

Jadi saya pun tanya Google lagi. Dan dari situlah saya kebetulan menemukan tulisan Pak Nurtjahjadi. Beliau cerita tentang piaraan mahasiswanya yang punya nasib sesial Kruget.

Kenapa ulatnya mati semua? Mungkinkah ada perbedaan suhu dengan tempat nya semula ketika ulat itu diambil ? Mungkin juga ada faktor2 lain, kelembaban, cahaya, dsb ?

Selidik punya selidik, bayam yang dijadikan pakan ulat itu ternyata masih mengandung pestisida yang dosisnya cukup tinggi. Memang pestisidanya tidak meninggalkan bau. Tetapi, dengan kematian ulat2 tadi secara merata, maka dapat dipastikan, bahwa bayam yang segar tanpa lubang bekas gigitan serangga, itu sudah merupakan indikasi yang kuat bahwa sayuran itu masih mengandung bahan aktif pestisida yang berbahaya.

Maksudnya mulia memberikan makanan yang terbaik, ternyata malah meracuni sampai mati. Diduga kuat, tewasnya Kruget karena sebab yang sama. Keracunan pestisida.

Lalu konspirasinya dimana Guh?

Konspirasinya adalah… *NgarangModeOn*  Para produsen pestisida, dengan ijin penguasa negara yang sama-sama berorientasi profit, menjual pestisida berbahaya pada para petani. Para petani yang nasibnya tidak dipedulikan oleh pemerintah, ditindas tengkulak dan ditekan pasar juga, terpaksa menambahkan racun ke sayuran mereka supaya panennya kelihatan bagus dan bisa dijual.

Berbahaya? Yang jelas berbahaya bagi bangsa ulat. Terbukti setelah dipetik, dibawa ke pasar, dipajang pedagang, dibeli dan dibawa pulang, sayur masih saja bersifat racun dan mematikan. Entah semengerikan apa efeknya bagi manusia. Yang pasti sekarang saya harus belajar menanam sayuran sendiri secara organik.

Sementara belajar, sebaiknya saya mengikuti saran pak N,

…ada beberapa sayuran yang tidak pernah memakai pestisida sama sekali pada waktu penanamannya, dan sayuran ini sangat aman untuk dimakan. Sayuran tersebut misalnya, daun singkong, daun pepaya, daun katuk, daun ubi jalar.

Selain itu, kalau beli sayuran pilihlah yang masih ada bekas gigitan serangganya. Karena, hal itu membuktikan bahwa penanaman sayuran tersebut tidak menggunakan pestisida yang sangat tinggi konsentrasinya.

Sedangkan, sayuran yang sudah pasti banyak mengandung pestisida adalah kubis, kembang kol, brokoli. Tanaman2 ini tidak akan tumbuh sempurna tanpa perlakuan pestisida.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, para ibu di Jawa 8arat, ASI nya sudah mengandung pestisida. Mungkin karena mereka senang lalapan kubis dll. Sayuran yang dimasak juga dapat mengurangi kandungan pestisida yang ada di dalamnya. Selain itu, air minum mereka juga mungkin sudah tercemar pestisida.

Yaiks… Itu alinea terakhir apa? Payudara beracun!? Tulisan Pak N itu benar-benar mengerikan.

Kruget mungkin cuma “korban kolateral” yang mampus akibat ketamakan manusia-manusia pemuja profit. Ibu-ibu pemakan sayur dan anak-anaknya yang terjangkiti kelainan gara-gara pestisida mungkin juga senasib dengan Kruget, hanya korban kolateral. Yang harus saya lakukan sekarang adalah belajar untuk menanam secara sehat.

resep mengobati rasa sakit akibat cinta ditolak

Untuk Anda yang sedang merasa cintanya ditolak.

Baca Lanjutannya…

Si Seksi Bukan Bagasi

cintaTanpaHelm

Wahai pejantan nan gagah perkasa,
Dindamu itu bukan sekedar bagasi,
Wujud seksi itu adalah manusia.
Seperti dirimu, diapun layak dihormati.

Wahai betina seksi nan mengundang berahi,
selaput daramu bukan satu-satunya yang berharga,
kepalamu yang konon isinya otak pun pantas dilindungi.

Tak perlu ancaman tilang dari aparat gila,
cinta menyediakan helm ter-aman yang bisa terbeli.

Pria yang punya selera, punya hormat untuk setiap kepala.

– – – – – – – – –
Agustus 2009

Dari seseorang yang belum menemukan cinta partner untuk seks
Ditulis setelah berjuang menyingkirkan iri dengki keki
Untuk para keparat yang bermesraan di atas motor, tanpa helm.


Direvisi 6 September setelah membaca sebuah pencerahan