Tag Archive | PLN

PLN dan Tulisan Kejar Tayang

PLN yang hebat itu hari ini mati lagi sejak sore.

Saya yang mulai terbiasa manja dengan listrik terjamin tidak punya persiapan. Baterai netbuk habis entah sejak kapan, baterai handphone tipis. Genset yang harus ditarik-tarik sampai pinggang sakit itu juga kosong tidak ada bensinnya. Senthir/teplok juga kering tanpa minyak tanah. Tidak akan keluar untuk cari lilin, malas mengotori kaki dalam hujan karena sudah terlanjur suci dan wangi setelah mandi. Akhirnya bergelap-gelap lah saya sendirian makan mie, sampai kenyang dan tercerahkan, ternyata saya tidak punya siapapun untuk dipeluk.

Barusan PLN menyala lagi. Tapi sudah mepet tengah malam…

Jadi…

Ya ini cuma alasan saja. Walau semuanya sungguh terjadi, tapi diceritakan sebagai pembenaran, agar saya tidak terlalu merasa bersalah karena menulis posting yang isinya hanya keluhan seperti ini… Demi memenuhi target untuk membuat satu tulisan setiap hari. He… he..

– – –

Ehm, bagaimana ya nasib orang-orang yang termakan tantangan blog31hari? Apakah mereka merasa dikejar-kejar? Apakah tulisannya semakin hari semakin asal-asalan? Akankah jadi tulisan kejar tayang sekualitas sinetron kejar tayang, fatwa kejar tayang, vonis kejar tayang, dan semua kejar tayang- kejar tayang lainnya? Ada berapa kata kejar tayang dalam tulisan ini? Demi Tuhan apapun yang anda yakini, saya tidak sedang ikut kontes manipulasi mesin pencari dengan kata kunci kejar tayang.  Saya tidak sebodoh itu. Di wordpress.com ini, kalau ada yang berani ikut kontes-kontesan, pasti langsung kena suspend tanpa ampun. Karena wordpress.com ini hanya gratis untuk menulis, bukan untuk ngontes apalagi jualan iklan.

Wah, sudah cukup panjang.

Akhir kata… Sepertinya enak kalau ada aggregator untuk membaca RSS semua peserta blog31hari…

Salaam :)

PLN, kemuraman dan harapan

Ternyata…

  • PLN adalah perusahaan yang selalu merugi. 1.5 Triliun pada 2007, 13.1 T pada 2008, entah sekarang berapa
  • Peralatan yang tidak efisien, gampang rusak atau busuk tidak mudah diganti karena terganjal birokrasi yang rumit
  • Biaya untuk perbaikan, perawatan maupun inovasi memang tergantung pada birokrat karena PLN tidak punya uang, sebagai perusahaan merugi PLN harus mengemis terus pada pada negara
  • Sementara biaya pembangkitan energi mahal, TDL tetap rendah, akhirnya besar pasak daripada tiang, ini dituding sebagai biang kerugian
  • Walau kapasitasnya terbatas, PLN harus terus menerima pelanggan baru karena diwajibkan oleh UU
  • Permintaan yang terus membengkak, suplai yang terbatas, menyebabkan ML (Mati Lampu) bergilir

Cukup-cukup… Mau sampai semuram apa? Pesannya sudah dapat, ini Perusahaan Lilin Negara emang jeleek banget nasibnya. Doom. Gloom. Ancurrr. Ngapa ga bubar aja toh?

Eits, apa iya se-kiamat itu?

Baca Lanjutannya…

Demi PLN yang lebih baik

Dulu, saya selalu membayangkan bahwa PLN itu isinya para pegawai negeri yang makan gaji buta. Datang hanya untuk absen, kerjanya asal-asalan, dan entah kenapa negara terus membayar gaji mereka, dengan uang yang diambil dari rakyat.

Saya membayangkan mereka semua, semuanya dan terutama para pimpinannya, selalu kerja seenak udelnya sendiri, tanpa peduli sedikitpun akan kualitas layanan pada pelanggan. Keyakinan akan keburukan mereka diperkuat setiap kali saya menelpon untuk mengadu. Nyambungnya sangat sulit, kalau nyambung jarang diangkat dan ketika berhasil bicara tidak akan menghasilkan apapun. Jawaban selalu klise, ada perbaikan entah dimana, tapi saat ditanya perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perbaikan, dia tidak akan tahu. Gombal. Asli gombal.

Tapi prasangka buruk ini mulai berubah saat saya membaca curcol seorang kawan dalam jejaring sosial:

Papa saya orang PLN, jadi saya tahu keadaan mesin-mesin PLTD tua di kota saya yg seringkali byarpet, dan setiap kali terjadi tensi papa saya naik terus memikirkan kapan mesin itu bisa diperbaiki, sehari dua belum tentu jadi.. jd harus sering sering pemadaman bergiliran disana.

Saya terkejut. Jika beliau mengatakan yang sebenarnya, berarti generalisir yang saya lakukan sudah salah dan jahat sekali. Ternyata masih ada orang baik dalam perusahaan aneh itu. Masih ada orang yang punya hati dan merasa tersiksa saat gagal memberikan pelayanan yang baik.

Saya jadi bertanya-tanya,
Kenapa mesin-mesin tua itu tidak juga diganti?
Bagaimana proses pembelian spare parts selama ini, apakah transparan? Apa bisa dipertanggungjawabkan? Apa ada markup?
Dengan kapasitas yang sudah jelas terbatas, apakah mereka terus menerima pelanggan baru?
Kalau penguasa memang tidak mampu membelikan mesin yang lebih baik, bolehkah masyarakat berswadaya?
Kalau rakyat telat bayar tegas didenda, diputus.. Kalau layanan PLN buruk gimana? Leher siapa yang boleh diputus?

Gimana cara memperbaiki layanan PLN? Sejak saya masih belum bisa berpikir sampai sekarang mulai belajar mikir, PLN masih saja suka mematikan semena-mena. Seolah para penguasa di khayangan sana tidak bisa diharapkan untuk perbaikan.

Dan saya mulai membayangkan apa yang dibutuhkan PLN untuk membuatnya jadi lebih baik…

Saya pikir jawabannya adalah transparansi. Semua harus dibuka untuk publik. Saya tidak melihat alasan untuk tidak melakukan itu. Ini perusahaan milik negara, dan negara milik rakyat. Rakyat berhak tahu bagaimana perusahaan aneh ini dijalankan.

Tidak perlu kuatir rahasia mereka untuk cari untung diketahui pesaing, toh dalam dalam bisnis listrik ini PLN melakukan monopoli. Tidak perlu kuatir pasar direbut pesaing.

Semua pengadaan barang harus dibuka. Tendernya, penjual, makelar, semuanya jelas. Jadi bisa segera ketahuan andai yang markup, bisa langsung ditangkap andai ada yang sengaja beli sparepart busuk dan gampang rusak  supaya bisa sering repeat order.

Manajemen dibuka setransparan mungkin. Jadi rakyat bisa ikut memberi masukan untuk perbaikan. Misal, pimpinan di sebuah wilayah punya kelakuan seperti setan, sudah merencanakan pemadaman dengan alasan perbaikan tapi sengaja tidak memberi tahu pelanggan, langsung saja esoknya melakukan pemadaman berjam-jam. Jika ini dibuka, maka ada kemungkinan salah seorang dari “Rakyat” yang melihat kelakuan si setan akan memberi ide: “Gimana kalau kita memanfaatkan teknologi super canggih bin ajaib yang namanya SMS? Sekarang kan SMS sudah murah, apa susahnya sih sehari sebelum pemadaman di SMS satu-persatu? Kan pelanggan bisa mempersiapkan molotov.”

Ya begitulah. Saya yakin memaksakan transparansi akan membuat PLN jadi perusahaan yang lebih baik. Setidaknya rakyat bisa tahu apa saja kebusukan yang terjadi di dalam sana, jadi tidak lagi sembarangan menghakimi dan berburuk sangka. Orientasinya juga kalau bisa dirubah, jangan terlalu menuhankan profit, harus fokus ke pelayanan. Semua sumber pembangkitan harus dikuasai negara. Minyak, batubara, gas, apapun itu jangan diserahkan pada perusahaan asing, harus dibawah kendali perusahaan yang bekerja dibawah pengawasan rakyat dan demi rakyat. Rakyat disini bukan cuma yang elit, tapi semuanya.

Trus gimana sekarang?


Gambar dari thejakartaglobe