Tag Archive | anak

Malas Update Setelah Jadi Orang Tua?

Setelah menikah dan apalagi punya anak, blogger (terutama yang non-profit) biasanya jadi malas update. Sering malah sekalian berhenti. Menurut saya itu bukanlah pilihan yang tepat. Sebaiknya tetap menyempatkan diri untuk menulis, kalau harus dikurangi ya mulai dari dosis curcol dan curhatnya saja.

Kenapa?

Menulis yang agak serius seperti ini mengharuskan kita untuk terus berpikir kritis, terus belajar dan membuka diri terhadap hal-hal baru. Pernah ketemu tua bangka kolot yang hobinya ribut soal sepele? Nah, bertahan tetap menulis dapat menjauhkan kita dari bermutasi jadi mahluk yang seperti itu.

Klise? Ok deh, alasan yang berikut ini bakal lebih menarik dari alasan klise barusan…

Baca Lanjutannya…

Pendidikan Makin Mahal Makin Tak Masuk Akal

Saat ini layanan gratis untuk berbagi, berkolaborasi dan berdiskusi secara online sudah bertebaran di internet. Internet juga sudah mulai terjangkau (yang jelas lebih terjangkau dari bayar kuliah di fakultas termurah di universitas terbesar di Indonesia). Tapi kok belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para maha guru kita ya?

Youtube misalnya. Itu hosting gratisan untuk berbagi video kan bisa dipakai untuk menayangkan rekaman kuliah terbaik. Daripada mengulang-ulang indoktrinasi yang sama berulang-ulang, sehari sekian kali dan setiap tahun diulang-ulang lagi, lebih praktis kalau suruh saja para murid menonton video itu di tongkrongannya masing-masing.

Lha nanti tidak berangkat sekolah/kuliah? Fungsi kelas untuk apa? Baca Lanjutannya…

Diskriminasi HIV Don Bosco dari berbagai sudut

Immi batal sekolah di Don Bosco karena Ayahnya mengidap AIDS/HIV positif.

Dilihat dari pihak keluarga Immi, ini jelas diskriminasi. Yang HIV positif kan hanya Ayah, kenapa Immi yang sehat dan bebas HIV tidak boleh sekolah di situ?

Ini SMS pemecatan yang diberitakan Detik:

Yth Bpk/Ibu orangtua Zipporah Imogen Divine. Setelah rapat dengan Team dan Koord Penerimaan Siswa Baru yayasan kami dengan berat hati memutuskan bahwa kami membatalkan keputusan menerima Imi sebagai calon siswa SDDon Bosco 1 Kelapa Gading. Hal ini disebabkan beberapa calon orangtua siswa lain menolak keberadaan Imi. Mohon maaf dan pengertiannya. Hartanto SD DB 1.

Immi sudah diterima sebagai siswa, sudah siap-siap jadi murid di sekolah yang sepertinya keren. Tapi karena ada beberapa calon orang tua siswa lain menolak, dia pun batal diterima di sekolah impian.

Sebagai orang empatik, saya jelas prihatin…

Tapi saya juga lumayan rasional, karena itu saya juga mencoba melihat (dan menduga-duga) bagaimana jika kasus ini dilihat dari sudut-sudut yang lain.

Pertama, mencoba memahami pikiran orang tua murid yang menolak Immi.

Mungkinkah mereka khawatir anaknya ketularan HIV? Kira-kira apa sih pembenaran penolakan itu?

Kemungkinannya kecil sekali jika anak usia SD bakal ngeseks sembarangan dengan sesamanya. Kemungkinan yang lebih besar mungkin justru dari resiko si anak jadi korban pelecehan seksual bertema agama. Tapi kasus macam itu pelakunya pasti orang yang lebih tua dan lebih ngerti agama, bukan anak seumuran.

Oke, kemungkinan tertular lewat aktivitas seks memang kecil. Tapi kan HIV juga menular melalui kontak darah!! Siapa tahu suatu hari ada wabah zombie, lalu Ayah yang sudah jadi zombie menggigit Immi, lalu Immi yang kemudian berubah jadi zombie tetap berangkat sekolah dan menggigit semua guru dan teman-temannya… Darah-darah berceceran dan muncrat kemana-mana… Tuh, bisa ketularan HIV juga kan?

Aih… Alasan gila nan paranoid itu tentu saja bikinan saya  sendiri. Tapi ketakutan memang bisa dimengerti kok.

Namanya orang tua pasti selalu khawatir dengan keselamatan anak-anaknya. Pasti ingin melindungi anaknya dari segala ancaman, mulai dari penyakit hingga api neraka. Bahkan kalau perlu akan melakukan kekerasan dan mengorbankan pihak lain, sebagaimana yang beberapa orang tua lakukan terhadap Immi. Kalau ketakutan sudah terlalu pekat, pasti sulit bikin keputusan menggunakan akal sehat.

Kedua, sekarang lihat coba dari sudut pandang bisnis.

Andaikan saya pedagang yang punya pelanggan cuma sekian ratus. Lalu sebagian konsumen bersepakat untuk memaksa saya berhenti menjual pada seseorang, sebutlah namanya X. Menurut Anda, apa pilihan saya?

Jika saya membela hak X, sekelompok konsumen pemaksa tadi mungkin akan berhenti jadi pelanggan saya dan beralih ke pedagang lain. Lebih parah, mungkin menyebarkan kebenciannya dan memprovokasi konsumen lain untuk beramai-ramai meninggalkan dagangan saya. Bisnis saya terganggu. Dapur saya terganggu. Kelangsungan hidup saya terancam.

Demi kelestarian hidup saya, pasti saya cenderung untuk patuh. Daripada bisnis terancam lebih baik mengorbankan si X.

Segitu tanpa sedikitpun membahas alasan ketidaksukaan pada X lho!

Dan mungkin memang tak perlu alasan. Karena alasan se-rasional atau se-absurd apapun, ancaman yang ditimbulkan terhadap kelangsungan bisnis saya sudah sangat jelas. Dan itu akan jadi pertimbangan utama saya dalam membuat keputusan.

Wajar sih. Lembaga apapun dimanapun, pasti cenderung bikin keputusan yang berpihak pada kelestarian diri. Lembaga agama, sampai negara sekalipun selalu berusaha menjaga kelestarian dirinya. Dengan segala cara.

Mungkin saja pihak yayasan juga merasa seperti itu. Mungkin tak ada gunanya menjelaskan bahwa Immi sehat dan kecil sekali kemungkinannya bakal menularkan HIV pada anak lain. Mungkin malah sudah berusaha menjelaskan, tapi apa daya, orang tua siswa lain sudah terlanjur dikuasai ketakutan hingga tidak mampu lagi menerima penjelasan rasional. Akhirnya mengorbankan Immi jadi satu-satunya pilihan demi keselamatan sebanyak mungkin pihak.

Ketiga dan terakhir deh, sudah mulai terlalu panjang nih.

Ini bagian yang paling saya suka. Dari sudut pandang saya sendiri. Setelah sok adil dan merasa sudah melihat dari beberapa sisi lain, sekarang waktunya bikin opini subyektif yang penuh penghakiman…

Menurut saya Immi sekeluarga tak perlu terlalu kecewa. Toh sekolah yang menolak Immi sepertinya tidak bagus-bagus amat. Paling tidak menurut penilaian saya begitu.

Bisa dicek di situs resminya. Halaman kurikulum agama jauh lebih diperhatikan daripada kurikulum ilmu pengetahuan yang lain. Halaman agama diisi penuh penjelasan, sedangkan halaman ilmu pengetahuan lain, terutama IPA dibiarkan kosong. Jika situs tersebut memang mewakili sekolah, sepertinya terlalu berat pada pelajaran agama. Setidaknya hingga jam 13 WIB, 2 Desember 2011 masih terlihat seperti itu.

Tentu tidak adil menilai sebuah sekolah hanya dari situs resminya. Tapi tetap saja, pengunjung kurang berpendidikan macam saya bakal tergoda bertanya, bagaimana sikap lulusan SD tersebut terhadap sains? Bagaimana pula opininya terhadap teori evolusi? Hehe.

Sedikit soal agama dan anak-anak. Setahu saya sih, doktrinasi agama tidak baik jika dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur. Penggunaan terror dan ketakutan untuk menguasai dan mengendalikan manusia itu klasik banget, sudah saatnya mulai kita tinggalkan… Kecuali kalau tujuan kita memang ingin membonsai dan memperbudak.

Sudah lah, kembali pada masalah Immi.

Soal Ayah akan menuntut, atau berbagai pemberitaan atau pemelintiran oleh media, atau DPR yang semoga serius dengan sikapnya, biarlah semuanya bergulir. Yang penting jangan lupa untuk segera cari sekolah pengganti.

Buat Immi, kalau bisa cari sekolah tuh yang siswa-siswanya punya orang tua keren, berpikiran terbuka dan tidak diperbudak oleh ketakutan.

Awas lho, anak-anak biasanya cederung mengikuti apapun contoh orang tuanya. Kalau orang tuanya pada baik, empatik, rasional dan apresiatif, mungkin sekali teman-teman kamu juga sifatnya baik hati, sekalipun bukan dari kalangan berduit. Sebaliknya, jika orang tuanya fanatik, kejam, tega atau sakit jiwa seperti dalam sinetron…? Hiiy, seraaam. Biar kaya raya, halus mulus seputih keramik tetep aja amit-amit, alamat buruk buat kesehatan jiwa dan pikiran. Jangan sampai terjebak dalam pergaulan dengan anak-anak seperti itu.

Ups… Barusan itu juga sebuah penghakiman tidak fair terhadap anak berdasarkan sifat orang tua lho… hehe. Sebenarnya hampir sama saja kok. Sebagaimana orang tua HIV belum tentu anaknya HIV,  maka orang tua bersifat jahat, belum pasti juga anaknya bakal mewarisi semua sifat jahatnya. Atau contoh lain: Emaknya matre tukang kawin cere temi harte, belum tentu putrinya yang jelita tumbuh jadi seorang matre yang gampang ganti cowo demi harte… *sumpah ini bukan curcol*. Tapi ya tetep sih, soal prilaku, pandangan hidup, religiusitas, yang namanya anak biasanya mengikuti contoh orang tua. Biasanya lho.

Yang penting jangan terlalu mudah menghakimi dan menggeneralisir, karena bisa saja saat kita dalam kondisi dan latar belakang yang sama, kita akan membuat keputusan yang sama persis dengan orang-orang yang saat ini keputusannya kita benci.

Ok deh. Untuk Immi dan semua Anak Manusia, juga semua Orang Tua, saya ucapkan selamat mencari dan mengusahakan lingkungan yang sehat untuk belajar.

– – –

Oh, gambar diambil tanpa ijin dari swishypunkgirl.

Update, link penting:

  • Twitter Ayah Immi: @fajarjasmin
  • Penjelasan beberapa mitos menakutkan soal HIV
  • Sekolah yang dimaksud: SD Don Bosco I
  • Masalah akhirnya selesai dengan baik, Pihak DB mengakui kesalahpahaman kemarin disebabkan pihak DB kurang memahami soal HIV. Setelah akhirnya mengerti, Immi pun bisa bersekolah di situ. Don Bosco bahkan berencana mengadakan seminar HIV untuk meningkatkan kesadaran para guru dan orang tua. Baguslah, ternyata label Don Bosco itu bukan cuma asal tempel :)

Menemukan Agama Yang Paling Sempurna

Sebuah soal cerita religius untuk adik-adik yang cantik, yang ganteng dan yang yummy:

Baca Lanjutannya…

Anak Brutal Banget, Kenapa?

Suatu hari saya mengenal seorang anak perempuan kelas dua SD. Dia suka memaksakan keinginannya. Jika ingin sesuatu, harus dapat. Pokoknya harus dapat. Atau dia akan menangis dan sekencang-kencangnya, menghantam apapun yang ada, memukul dengan gagang sapu sampai patah, terus mengamuk sampai keinginannya terpenuhi atau capai sendiri. Dia tidak peduli jika amukannya membuat orang-orang yang tidak ada urusan jadi tersakiti dan dirugikan.

Saya sempat bertanya-tanya. Kenapa anak sekecil itu bisa sebrutal itu? Dari mana sifat itu dia dapatkan? Pergaulan dengan anak-anak bengal? Tentu tidak, karena pulang sekolah langsung pulang. Guru di sekolah tak mungkin sebejat itu ngajarin nggak bener. Trus darimana?

Belakangan, setelah saya mengenal orang tuanya dengan lebih dekat, saya bisa mengarang sendiri penjelasannya.

Berikut ini saya temukan pengaruh-pengaruh nggak bener yang ditransfer secara tak sadar oleh orang tua pada anak perempuannya:

  1. Orang tua yang ultra tegas dan tidak kenal kompromi. Misal saat menyuruh anaknya mandi, saat itu juga si anak harus berangkat atau diancam akan dipukul. Saya melihat sendiri saat si anak sedang nonton kartun di TV swasta, tanggung sedikit lagi ending tapi orang tua ngotot. Pokoknya harus meninggalkan TV, langsung mandi dan kehilangan akhir cerita demi memenuhi keinginan orang tua. Ini mungkin membuat si anak juga tidak kenal kompromi dan tak peduli dengan kepentingan orang lain.
  2. Orang tua yang pedagang keji mungkin terbiasa bohong. Kecil-kecilan tapi sangat sering sampai jadi kebiasaan. Saya sendiri korban kebohongan besar yang dilakukan si Ayah. Parahnya, dusta-dusta itu sering dilakukan di depan anak. Misalnya demi mendapat untung  lebih besar, dengan tega membahayakan kesehatan konsumen. Berkoar ngaku taat pajak sambil ngejek orang, padahal PLNnya nunggak, telpon ngemplang, pajak STNK dah bolong 4 tahun dll. Ini mendidik anak untuk menghalalkan segala cara demi mendapat keinginannya.
  3. Orang tua sepertinya darah tinggi, suka sekali membentak dan memaki anak. Untuk poin ini saya tidak melihat bagaimana efeknya pada anak perempuan. Tapi saya lihat, makian melecehkan hanya ditujukan pada kakak-kakak lelakinya, bukan pada si anak perempuan.

Begitulah. Dengan semena-mena, si anak ini saya vonis sebagai hasil karya orang tuanya. Dia hanya belajar dari prilaku orang-orang stress di sekitarnya.

Deadly Persuasion

Kenapa banyak Perokok dan Peminum alkohol cenderung defensif dan merasa kebebasannya diserang setiap ada yang membahas efek rokok dan alkohol?

Anda bisa coba temukan jawabannya dalam video ini:

Judul Film: Deadly Persuasion
Bahasa: Inggris (bersyukurlah pada Allah kalau tidak mengerti inggris, kita bisa tetap jadi ignoranus)

Taut:
– Bisa lihat trailernya dan beli kalau mau.
– Kalau kemahalan bisa tonton streaming full previewnya
– Kalau putus-putus karena koneksi lambat, bisa download dulu, format FLV ukuran 192MB, sekalian bisa dipinjamkan untuk dikritik-kritik.
– Jangan lupa download PDF study guide, siapa tahu mau putar film ini di kelas atau untuk bekal acara nonton bareng.

Saya rekomendasikan untuk:
– Para spiritualis yang masih aktif merokok atau rajin minum alkohol ;)
– Para aktivis sok proletar dan sok anti kapitalis tapi prorokok
– Para orang tua yang ingin anaknya dapat imunisasi virus iklan
– Para guru yang butuh film untuk acara nonton bareng


*post tanpa scheduled, langsung setelah nonton satu kali*

Cara ngudang dan efeknya pada Anak

Ngudang itu, mungkin padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya adalah aksi menimang anak.

Saya biasa melihat ibu-ibu di sekitar saya melakukan itu pada bayi-bayi mereka. Ada yang membuat bunyi-bunyi aneh seperti “nang ning ning nang ning nung” sampai yang suara brutal seperti… Duh, saking brutalnya sampai sulit dituliskan. Yang jelas ada banyak variasi, yang biasanya selalu tanpa arti. Tanpa makna. Setidaknya di telinga saya seperti itu, hanya kumpulan nada aneh.

Semuanya itu tampak wajar saja sampai serangkaian kebetulan membuat saya terpaksa memperhatikan tiga manusia menarik. Manusia pertama adalah seorang calon janda muda yang super sibuk. Yang kedua adalah bayi perempuan si Ibu, lucu tapi sering dititipkan kemana-mana. Dan terakhir adalah seorang mantan supir taksi yang aneh, supir kok tidak merokok dan maniak pingpong.

Suatu hari, tak lama setelah si ibu mampir menitipkan bayi dan langsung menghilang lagi entah kemana, muncul pak mantan supir, berkoar cari musuh untuk diajak main pingpong. Karena para pemalas masih terlalu sibuk bersantai, akhirnya pak supir akrab dengan si bayi terlantar. Tak sampai beberapa menit, si bapak mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Saya pikir itu akan seperti biasa, seperti yang dilakukan orang lain.

Ternyata sangat tidak sama.

Yang dia nyanyikan itu seperti mantra berbahasa jawa, semacam gending berisi nasehat. Merdu dan khusuk sekali. Si bayi juga kelihatannya takjub, memperhatikan dengan sorot mata tajam seperti bertanya-tanya, “mahluk apa ini aneh sekali”, haha. Tapi lagu itu memang aneh. Sepertinya punya efek misterius, seisi rumah jadi terasa “beda”. Ya mungkin saja karena saya baru bangun jadi kepala masih cukup hening dan reseptif. Sayang saya tidak mengerti hampir semuanya :p

Beberapa hari setelahnya saya sempat tanya-tanya ke orang sekitar. Ternyata kebiasaan “ngudang” seperti itu sudah banyak ditinggalkan orang. Dulu masih banyak orang tua menyanyikan berbagai nasihat dan cerita untuk bayi-bayi mereka. Mungkin generasi orang tua saya adalah yang terakhir menerima, tapi entah kenapa tidak lagi meneruskannya pada anak-anak mereka.

Dari situ saya mulai ngeh, ternyata ada cara lain yang lebih beradab dalam memperlakukan bayi.

Sayangnya, banyak orang tua sekarang (yang saya lihat) cuma ngudang dengan nada-nada aneh tanpa makna. Atau ngajak ngomong dengan cara tolol, dimana orang tua berbicara seperti idiot yang pura-pura tidak bisa mengucap dengan baik. Atau menjelek-jelekkan si bayi dengan berbagai afirmasi keji. Itupun kalau si orang tua sempat, karena kebanyakan orang tua selalu sibuk mengais uang yang tidak akan pernah cukup. Semiskin atau sekaya apapun, semuanya selalu sibuk. Bayinya dititipkan untuk diiumbar didepan TV, disuruh melongo nonton Naruto, diajak menyimak Sinetron dan Gosip, atau distelkan handphone yang memutar MP3 cengeng.

Gila kan? Bayi manusia itu, konon, mempunyai reseptifitas luar biasa. Informasi apa saja akan diserap tanpa memilah baik buruk. Jika informasi yang sama diterima berulang-ulang, mungkin saja akan jadi program yang berjalan otomatis untuk seumur hidupnya. Iya kalau programnya bagus, lha kalau programnya cuma sekelas infotainment yang menjual iklan-iklan penyeru komersialisme? Untung saya nggak punya bayi.

Gimana dengan nasib bayi manusia di sekitar anda?

Trus?